
Keesokan paginya.
"Raina... Bangun nak.." panggil Risa bundanya raina didepan pintu kamar raina.
Tok..tok..tok..
"Aduh ini anak kok dibangunin susah banget" grutu Risa.
"Rainaaaa" teriak risa marah karna dari tadi tidak ada respon dari raina.
Clekk
"Hmm ada apa bun" tanya raina saat pintu terbuka, tampak raina belum mengumpulkan nyawanya saat membuka pintu.
"Kamu ini bentar lagi speednya akan berangkat" omel risa langsung masuk kedalam kamar raina, sedangkan raina masih berdiri diambang pintu.
(Speed adalah kendaraan laut yang untuk mengangkut penumpang, sekitar 20-25 orang yang mampu diangkutnya. Karna desa raian berada disebuh pulau jadi membutuhkan angkutan air untuk sampai ke desanya. Jadi saat warga desa ingin ke kota mereka harus menyembrang menggunakan speed atau motor air. Jika menggunakan speed maka membutuhkan waktu yang lebih singkat yaitu sekitar 2/ 1 ½ jam, jika menggunakan motor air itu membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu sekitar 6/8 jam)
"Bunda raina masih ngantuk, pakek speed sore aja ya bun" pujuk raina dengan muka memelas dan masih belum ada sepenuh nyawanya.
"Sudah jangan banyak alasan, besok itu kamu harus cek up nak, bundu sudah menghubungi dokter mu, dan dia sudah mengatur jadwalnya jadi kamu harus berangkat hari ini jadi bisa istirahat sebelum melakukan berbagai cek up besok" jelas Risa. "Kamu belum ada peking rai" tanya Risa.
"Belum bun, rencananya raina ingin peking tadi malam, tapi penyak__ eh raina nya kecapean abis kumpul-kumpu"kilah cepat raian saat ia akan menyebutkan kata penyakit.
Ada malam-malam tertentu penyakit raina akan kambuh, tapi raina tidak pernah memberitahukan risa bundanya mau pun ayahnya, ia selalu menahan dan menghadapi rasa sakitnya sendiri, ia tak ingin membuat bundanya khawatir. Akhir-akhir ini penyakit raina lebih sering muncul, ada sedikit rasa takut dalam dirinya, tapi ia selalu menepis rasa takut itu dan menyipkan dirinya menerima akan apa yang terjadi didetik kemudian.
"Tidak, tidak kok ya udah ah raina mau mandi" elak cepat raian dan langsung berlari cepat menuju kamar mandi.
Risa bernafas lega, kemudian ia berjalan menuju lemari pakaian raina dan menyiapkan pakaian dan perlengkapan raina lainnya uantuk selama ia berada dikota bersama abangnya.
.........
"Kakak" pekik Raisa saat melihat raina menghampirinya dimeja makan. Tidak hanya ada Raisa tapi juga ada Naufal ayah raina dan juga Risa Bunda raina, lengkap dimeja makan saat sarapan pagi kali ini hanya saja kurang Raiga putra sulung Naufal dan Risa, biasanya naufal jarang ada dirumah karna kesibukanya didunia militer, yang mengharuskannya tugas kebeberapa daerah.
"Hai sayang" Sapa Raina kepada Raisa dan mencium sekilas pipi tembem adiknya dan diapun duduk disamping Raisa.
"Kamu mau apa nak" tanya Risa,
"Hmm roti aja bun" jawab Raina. Risa pun mengambilkan makanan yang diminta oleh Raina, mengoleskan selai kacang diroti raina.
"Ini nak" Risa memberikan roti yang sudah dioleskan selai kacang kepada Raina.
"Terimakasih bun" Raina mengambil Roti pemberian Risa, dan tersenyum hangat dan dibalas tak kalah hangat oleh risa.
Risa kembali duduk dikursinya yang disampingnya ada Naufal suaminya yang duduk diujung meja makan, dan dihadapan risa duduk sikecil Raisa. Selama dimeja makan hening tak ada yang memulai pembicaraan semua sibuk dengan makanannya masing-masing.
"Ayah sudah memesan tiket mu,sebentar lagi akan ada ajudan ayah yang akan mengantar mu". Naufal membuka suaranya saat ia sudah selesai makan. Naufal berbicara sambil fokus mengelap mulutnya dengan sapu tangannya.
Raina memperhatikan ayahnya sekilas dengan wajah datar, dan kembali fokus dengan buah kesukaannya yaitu buah strawberry. yang baru saja ia ambil dari ranjang buah dihadapannya