
Brakkk suara pintu terbuka kasar, tampak Raina dan Emi terngos-ngosan mengatur nafasnya yang meburu detang jantung yang berju cepat, seakan ingin keluar dari sarangnya.
"kalian, kalau masuk ruangan seseorang harus ketuk pintu dulu, udah telat 2 menit lagi" teriak pak andi yang terkejut saat pintu ruangan nya terbuka keras oleh raina dan emi.
"maaf pak maaf, pintunya gak tau diri nih pak bunyinya nyaring banget waktu kebukak" jelas Raina sambil terhengos hengossan mengatus nafasnya. Emi dan raina langsung saja menuju 2 kursi kosong yang dihadapan pak andi.
"udah salah nyalahin pintu lagi, yang nyuruh kalian duduk siapa" omel pak andi.
"bapak gak izinin kita duduk nih" tanya Emi dengan mata memelas.
"Sudah sudah duduk saja" jawab pak andi dengan tampang kesalnya.
"Oh iy kenapa bapak manggil kita kesini, dusuruh cepat lagi, bapak kangen ya dengan Emi, padahal perasaan baru dua hari yang lalu Emi duduk disini". Raina terkekeh geli mendengar ucapan Emi yang huh terlalu sering berada diruang bk.
"Emi Emi apa kamu senang sekali terus terus san membuat onar ha, apa kamu tidak bisa untuk tidak bertengkar, kamu tau orang tua andika tadi kemari gara gara kalian hajar, aduh kalian memang senang sekali membuat onar. padahal hari ini hari terahir kalian di semester ini tapi kalian masih saja membuat onar" omel pak andi kepada Raina dan Emi.
Raina hanya menunduk sambil tersenyum geli mendengar ocehan pak andi, sedangkan Emi menyandarkan tubuhnya dikursi dan memangku dagunya menggunakan satu tanyannya, ia menatap pak andi dengan senyuman manis dibibirnya.
"Sudah selesai pak, bapak tau bapak kok ngomel sangat tampan, bibir bapak sungguh seksi" Emi bebicara seakan menggoda.
"Emi" bentak pak andi.
seketika Raina mendongakan kepalanya dan menatap pak andi dan langsung tertawa, sedangkan emi dia hanya tersenyum kecut.
"Hahahah mi, sepertinya pak andi lagi gak mood deh, kita gak bisa bergurau mi, ayo serius" mendengar ucapan Raina, Emi menatap Raina dan Raina mengedipkan satu matanya kepada Emi. Pak andi hanya menghela nafas panjang melihat interaksi kedua gadis gila dihadapan nya saat ini.
"Kalian memang benar benar bikin saya gila" ucap pak andi dengan frustasi menghadapi tingkah kedua siswi yang menurutnya gila ini.
"Bapak tau bapak sudah bikin saya gila pak, karna terlalu mencintai bapak" saut raina santai sambil tersenyum menggoda.
"Raina saya sedang tidak bercanda" geram pak andi dengan menekan setiap kalimatnya ia tampak menahan amarahnya.
"Saya juga gak bercanda pak, kok bapak gak percaya, belah aja nih pak hati Raina bapak liahat pasti ada nama bapak dihati raina, tapi nanti langsung dijahit ya pak biar gak kebuka heheh" jawab raina sambil terkekeh geli, Emi juga tertawa geli mendenga ucapan Raina.
"Sudah sudah, diam" teriak pak andi yang sudah tidak tahan menghadapi dua siswi gila ini.
"Jawab dengan serius, kenapa Andika bisa bonyok sepeeti tadi, dan Mita sampai histeris seperti tadi, apa yang kalian lakukan ha, orang tua mereka sampai datang kemari dan meminta pertanggung jawaban, untung Andika tidak ingin permasalahan ini dilanjutkan, sebenarnya ada apa ini" tanya tegas pak andi.
"Apa andika tidak menjelaskannya" tanya Rmi datar dan dingin. Pak andi pun langsung terheran melihat Emi bisa seserius itu dan sangan dingin, tapi sesaat kemudian ia menghilangkan wajah herannya menjadi normal.
"Tidak, kami sudah menanyainya tapi ia tetap bungkam, bahkan saat orang tua nya bertanya." jelas pak andi.
"cih, sepertinya dia takut Mi, takut kena semprot maknya kali ya Mi" saut Raina sambil terkekeh.
"Sebenarnya apa permasalahan ini sampai andika sampai seperti itu" tanya lagi pak andi dengan serius.
"Tidak ada masalah apa-apa pak hanya permasalahan anak muda" jawab Enteng Raina.
"Emi" panggil pak andi melirik Emi meminta penjelasan pada Emi agar ia menjelaskan permasalahan ini.
"separti kata Raina pak gak hanya masalah kecil" jawab Emi dengan wajah yang tidak bisa diartikan, apakah lagi marah, kecewa, sedih, atau ia sedang tidak mood.
Raina menyadari kalau Emi sedang dalam mode yang tidak bagus untuk diajak bercanda karna ia tau Emi masih sangat marah, kesal, kecewa, dan sedih.
"Sudah lah pak tidak usah dibahas toh Andika tidak mempermasalahkannya, lebih baik kita membahas masa depan kita nanti" ucap Raina menggoda pak andi. Pak andi melirik Emi yang menatap luar jendela dalam ruangan itu dengan tatapan kosong, dan pak andi juga melirik raina yang tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.
"Huh Raina apa kau tak lelah selalu menggoda saya" ucap pak andi setengah kesal dan malas meladeni Raina, ia masih ingin mencari tau tentang permasalahan sebenarnya tapi melihat keadaan Emi, ia mengurungkan niatnya.
"bapak guru ku yang tampan, calon imam raina, calon ayah untuk anak-anak raina nanti, tidak ada kata lelah pak untuk mencintai" saut Raina santai.
Emi yang dari tadi diam menatap luar dengan tatapan kosong, namun saat mendengar ucapan raina barusan ia seakan sadar dalam lamunannya dan menatap raina Raina tersenyum sambil mengelus pundak Emi, seketika Emi tersenyum membalas senyuman Raina. pak andi yang melihatnya pun ikut tersenyum tipis sangat tipis saat melihat senyum Emi kembali, entah apa yang ia rasaakan saat melihat senyum Emi yang sempat hilang beberapa menit tadi sudah kembali lagi.
"Hey, Emitali asal kau tahu pak andi itu milikku dan hanya diciptakan untuk ku" jawab Raina dengan wajah yang juga seolah-olah marah.
"Wah wah, sungguh pd sekali kau Raina, pak andi itu milikku, calon suami ku" Saut Emi juga tidak terima.
pak andi menggeleng kepalanya, memijit pangkal hidungnya, ia menghela nafas panjang dan kasar. Ia seakan benar-benar frustasi menghadapi sikap konyol kedua siswinya itu.
"Wah kau yang kepd an mi mengakui calon sua..."
"Siapa calon suami kalian ha, sana keluar, huh saya benar benar akan gila jika terus menghadapi kalian berdua. Sudah sana keluar" teriak frustasi pak andi.
Raina dan Emi langsung terdiam seketika.
1 detik
2 detik
3 detik
dan tawa Raina dan Emi langsung pecah menertawai pak andi yang sudah benar-benar kesal.
Mendengar tawa Raina dan Emi yang gelegar heboh diruangannya pak Andi hanya bisa mengelus dadanya berharap kedua dedemit ini segera menghilang dari hadapannya.
"Sudah puas ketawanya" tanya pak andi geram saat tawa Raina dan Emi seakan mereda.
"Kalau sudah cepat keluar sana" printah pak andi sambil menunjuk pintu keluar.
"Bukan kah bapak ingin menyidang kami pak, kok gak jadi sih" tanya Emi yang seolah-olah kesal.
"Sudah saya sudah tidak tahan menghadapi sikap kalian berdua, keluar saja sana nikmati liburan kalian" ucap pak andi sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, dan memijit batang hidungnya.
"hahaha sudah lah mi, ku rasa kali ini cukup kita membuat guru tampan kita ini menjadi kesal disemester ini, kita akan melanjutkannya nanti disemester berikutnya" saut Raina berdiri dari dudungnya dan menepuk pundak emi dengan gersenyum jahil menatap emi dan Emi juga membalas senyuman jahil itu.
"Ok pak, selamat pada bapak karna pada semester ini bapak tidak gila, dan saat pertemuan kita kembalinya akan saya pastikan bapak akan gila, ups maksud saya tergila-gila terhadap saya" ucap Emi dengan tersenyum jahil. pak andi hanya bisa melongo ternyengan mendengar ucapan Emi. sungguh ini gila benar-benar gila ' batin pak andi.
Emi dan Raina pun keluar dari ruangan pak andi dan tawa mereka pun pecah saat sudah keluar dari ruangan yang menurut para siswa siswi lain adalah ruangan horor tapi tidak bagi Emi dan Raina.
"aakkeghh" teriak pak andi frustasi sambil mengacak rambutnya. ia merasa kesal karna sudah dikerjai oleh muridnya. tapi sesaat kemudian ia tersenyum saat mendengar tawa Raina dan Emi diluar ruangannya. ada perasaan lega dalam dirinya saat Emi sudah kemabali tersenyum dan tertawa. sungguh ia tak bisa memungkiri bahwa ia sangan sedih saat melihat Ada kesedihan dalam mata emi tadi.
Apakah ini cinta?
Apa pak andi siguru kiler luluh oleh seorang bad girl Emi?
Apakah mereka akan bersama?
Apakah Emi juga memiliki perasaan yang sama pada pak andi?
semua masih MISTERI.....
...........
JANGAN LUPA ‼️
LIKE
KOMEN
VOTE
‼️⭕