Sad Ending

Sad Ending
Bab 22



Like....


komen...


Vote...


‼️


...........


#Raina#


Setelah selesai pambagian raport untuk semester genap ini, kami menuju kantin sekolah karna masih belum jam pulang, walau sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi disekolah.


saat sedang berjalan di koridor sekolah kitak sengaja melihat Andika pacar Emi sedang berjalan bergsndengan menuju halaman belakang sekolah.


" We we" cegat ku menghentikan langkah ku dan sahabat-sahabat ku," lihat tuh, itu andika kan, kok dia bergandengan sih dengan si Mita" ucap ku, seketika mereka pun menoleh ke arah pandang ku. yang dimana ada andika yang berjalan bergandengan yang seketika menghilang tertutup tembok ia menuju arah belang sekolah.


"iya tuh andika Mi, wah parah ni andika mau selingkuh tapi disekolah masih ada pacar. kurang pro Rai andika nih, coba deh kamu ajarin andika selingkuh Rai biar gak ke tahuan kek sekarang" celetuk Dela yang tidak menyadari sudah ditatap Emi dengan tatapan membunuh.


"Eh emi, heheheh usah nantap ku gitu napa mi, ngerek dedek" ucap dela tengengesan.


"Huh bakal terjadi berang dunia ketiga ni" Ucap layla, dan kami semua tertawa kecil kecuali Emi yanv sudah memanas.


"Mi mau kemana" teriak Mega yang melihat Emi melangkah pegi meninggalkan kami.


"Mau perang" saut Emi yang terus melangkah menuju halaman belakang sekolah.


"Wah wah bahaya nih" ucap ku


"Eh kalian siapkan surat wasiat takutnya kalian gugur dimedan perang" saut Dinda


"Eh emang kamu pikir kita mau kemedan perang apa" jawab Amelia yang langsung menotor kepala Dinda.


"udah udah yuk kita susul Emi" ucap ku yang langsung bergegas menuju kebelakang sekolah, diikuti sama anak anak dedemit. hehehe.


.......


"oh jadi begini ya kamu, dibelakang aku" ucap Emi yang berdiri dibelkang dua orang pasangan yang sedang duduk berduan. mendengar ada yang berbicara dua pasangan itu pun menoleh kebelakang.


Deg


Dan wajah andika pun seketika pucat dan gugup melihat siapa yang dibelakangnya yang sedang berdiri dengan tatapan membunuh dengan kedua tangan yang dilipat didadanya. Simita hanya diam dan tersenyum tipis melihat Emi yang berdiri dihadapannya saat ini.


plak.. plakkk


Dua kali tamparan keras mengenai sebelah pipi andika dan pipi Mita.


"itu hadiah aku untuk kalian, yang sudah jadi pasangan" ucap Emi dengan nada sinis dan tatapan geram.


"Aduhh sakit tuh" ucap Mega, sambil meringis memegang pipinya. padahal bukan dia yang ditampar malah mega yang kesakitan huh dasar simega. Sedangkan andika hanya diam menunduk tidak berani menatap emi, dan simita hanya diam saja.


plak.. plakkk


dua tamparan lagi melayang di pipi kedua pasangan itu. "ini sebagai ucapan terima kasih aku, atas perbuatan kalian" tamparan dari emi melanyang lagi mengenai pipi yang sudah merah itu.


plak.. plakkk


auuuu ditambah tamparan ketiga dari emi bibir andika berdarah karna targigit oleh giginya, dan pipi kanan Mita sudah lebam. "dan ini sebagai balasan atas perbuatan kalian". ucap emi


"udah puas" ucap mita yang kesal sudah ditampar tiga kali oleh emi.


"wah wah nyolot lu ya, udah salah bukan mau minta maaf ini malah nyolot, dasar wanita gak tau diri, penggoda, pelakor, dan murahan" ucap ku yang sudah kebawa Emosi melihat penghianatan andika kepada emi ditambah wanita murahan ini nyolot lagi.


plakk.


tamparan ke empat kalinya melayang mengenai pipi kanan mita yang semakin lebam, dan kali ini bukan dari Emi melainkan dari ku.


"Masalah sahabat gue maka akan jadi masalah gue dan kini lo kini sudah nyakitin perasaan sahabat gue Emi maka lo bakalan berhadapan dengan gue juga" ucap ku, yangs udah benar benar kebakar api emosi.


"dan lo andika, dari awal gue sudah bilang dengan lo, jangan pernah nyakitin emi, kalo lo nyakitin dia lo bakalan berhadapan dengan gue" lanjut ku dan


brukkk


tubuh andika terpelanting kebelakang, jatuh diatas tanah, karna sekali tendangan ku yang rumayan keras.


" ma-maaf Ra-i" ucap andika terbata karna menahan sakit diperutnya bekas tendangan ku.


sedangkan teman-teman ku yang lain hanya diam saja memperhatikan begitu juga dengan emi yang menatap tajam andika dengan mata yang memerah menahan air matanya agar tak tumpah, sedangkan mita berlari menuju andika yang masih berbaring ditanah dengan satu tangan kirinya menopang tubuhnya agar tak terlalu menyentuh tanah dan tangan kanannya memegang perutnya.


"Sayang" teriak mita yang berlari menghampiri andika.


mendengar panggilan 'sayang' yang keluar dari mulut mita untuk andika makin membuat ku geram.


"cuih" aku membung ludahku dengan tatatapan sinis. " dik, lo sudah janji bukan ke gue, gue biasa bunuh lo jika lo selingkuhin Emi dan sekarang gue nagih janji lo ke gue" ucap ku yang berjalan mendekat ke arah andika.


"Rai gue mohon sama lo, gue gak maksud duain emi rai, gue sudah mau mutusin emi cuman gue gak tega mutusin emi karna dia gak ada salah apapun rai" jawab andika dengan meringis menahan sakit.


"Jadi lo mau jadiin emi kambing hitam agar lo bisa mutusin emi begitu aja ha" teriak ku yang semakin emosi


brukk.. bukkk


karna geram aku memukul andika dengan kekuatan penuh.


tampak darah segar keluar dari mulut andika. Sahabat ku berlari menuju posisi kami yang tak jauh dari posisi mereka,


"andikaa" teriak histeris mita saat melihat darah segar keluar dari mulut andika.


Saat aku hendak memukul kembali andika, sahabat-sahabat ku mengentikan ku dan menarikku mendur beberapa langkah kebelakang.


"Raina sudah cukup, kau ingin jadi pembunuh apa" omel dela kepadaku.


"ia rai sudah lihat andika sudah babak belur gitu" timpa layla.


"iya rai sudah biarkan meraka, aku sudah cukup berterimakasih pada mu yang sudah membelaku" ucap emi yang langsung menangis memeluk tubuhku yang masih menahan emosi. sahabat-sahabat ku pun langsung memeluk tubuk kami dan kami berpelukan bertujuh sesaat dan setelah sedikit tenang mereka melapaskan pelukannya masing masing.


aku mendekat kearah andika yang masih terbaring dengan nafas terengah engah dan darah yang mengotori mulut dan bajunya. keadaan andika cukup tampak parah.


"ingat ya jangan pernah kalian tampakkan wajah kaliam dihadapan gue jika kalian masih mau melihat hari esok, karna gue takut gue gak bisa menahan emosi gue saag melihat kalian berdua" ucap ku sinis kerah andika dan mita yang masih menangis memangku kepala andika dengan pahanya.


Aku dan sahabat ku pun pergi meninggalkan lokasi. dan kini kami sedang berada diantas bangunan sekolah kami tempat yang paling kami senangi karna kami bisa melihat hamparan hijau semak pakis dan bukit di sembrangnya yang tampak sangat sejuk mata memandang dengan udara yang segar jauh dari hirak pikuk perkotaan.


kini kami sedang dudung bertujuh, dengan emi yang masih menangis dipelukan ku...


.......


Like ..


Komen..


Vote...


(‼️)