Sad Ending

Sad Ending
Bab 18



Raina menceritakan cerita panjang tentang alasan ia menutup rapat hatinya, namun bukan hanya tentang itu saja yang membuat gadis cantik itu menutup rapat-rapat hatinya. ada alasan lain yang paling mendasar mengapa ia seakan membenci para pria.


setelah cerita panjang itu tak lama upacara penutupan perkemahan selesai, semua peserta membereskan perlengkapan mereka dan membubarkan diri.


"Wah gak terasa ya kemahnya selesai" ucap rini.


"ia, asik lagi" saut pitri.


"udah yuk pulang, udah siang ni, perut ku lapar" timpa Dela.


"ye Dela mah lapar terus, gak ada waktu, menit, detik tanpa makan" mendengar kata Raina, sontak semua teman-teman nya tertawa.


"hahahh Raina kalau ngomong selalu bener deh" sambung Layla.


pletakkk


"Wei del, santuy dungs jangan maen tampol aja, kan cuma becanda, gitu aja maen tampol, kok tangan lu kenak saraf otak ku terus aku amnesia gimana, kamu bisa kenak tangkap KPK lu" gerutu layla, panjang kali lebar, kali tinggi.yang membuat yang lainnya makin tertawa geli dan geleng-geleng kepala.


"yah lebai kamu La, cuman digituin aja sampe amnesia bah para La berarti saraf otak lu emang kongslet, dan ya apa hubungannya La ngan KPK emang aku korupsi apa?". jawab dela yang tak kalah panjang dengan nada ngegas.


"udah ah, ribut terus pusing dengarnya oon sama oon kok ngomong gak bakal habisnya, yum cus guys pulang" ajak Emi, sambing mengangkat ranselnya.


"is Emi kok ngomong sadis, kata-kata nya tajem lebih tajem dari janji mantan, kan sakit ni" saut Layla sambil mendramatisir keadaan dengan memasang wajah sok kesinggung.


"uluhuluh apa nih bawa-bawa mantan abis putus lu ngan pacar lu tuh" saut Dinda.


"kalian mau pulang atau berdebat sih, kalau ingin debat sana ke gedung DPR." Emi kembali angkat bicara, dan langsung berjalan meninggalkan teman-temannya.


"EMI tunggu dong" teriak Raina, " guys aku duluan ya, ati-ati dijalan jangan sampai nyasar ya" sambung raina sambil terkekeh.


.......


Mereka semua akhirnya pulang kerumah masing-masing.


Saat sampai didepan rumahnya Raina langsung masuk melewati pagar besi rumahnya.


tok


tok


"Assalamualaikum, bunda" panggil Raina didepan puntu rumahnya.


tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka tampak wanita cantik berdiri membuka pintu.


" kak Raina" teriak gadis kecil itu sambil berlari memeluk Raina.


"Hei sayang, kakak masih bau dan kotor, jangan dipeluk" ucap raina sambil melepaskan pelukan adik kecilnya.


" kak, raisa rindu" ucap gadis itu dengan wajah melasnya.


" dengar ya sayang" raina duduk berjongkok menyesuaikan tingginya dengan gadis kecil itu yang masih berumur 5 tahun.


" kalau kata babang dilan, rindu itu berat kamu gak akan kuat biar babang dilan saja" sambung raina sambil tertawa geli diikuti oleh adik kecilnya yang tak kalah cantik dari raina.


" oh ya Bunda mana sayang, apa ayah sudah pulang". tanya raina, sambil menggendong adiknya dan berjalan masuk kerumahnya.


"Kak ayah sama bunda bertengkar lagi, Raisa takut kak" adu Raisa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Raisa gak boleh takut sayang, inget gak kata kakak, kamu itu harus berani, kayak wonder woman yang ngalahin musuhnya. jadi kamu harus berani untuk bujuk ayah sama bunda agar gak berantem lagi" pujuk raina seraya mengelus rambut panjang raisa. dan mencium pipi tembem gadis kecil itu.


"ya udah sayang, kakak ingin kekamar dulu mau mandik, kakak gerah belum mandi soalnya" mendengar kata raina yang belum mandi, sontak gadis kecil itu menutup hidungnya dan merontak turun dari gendongan Raina.


"ih kak raina bau" ucap Raisa yang menggemaskan.


"hehehe baru sadar ya, ya sudah kamu main dulu aja sana" jawab raina sambil mengacak rambut Raisa.


Raina langsung menuju kamar nya, ia mesuk dan meletakkan ranselnya dan langsung menuju kamar mandi, sekitar 20 menit kemudian ia sudah keluar dengan pakaian santai dan handuk kecil yang melilit rambutnya. Raina langsung keluar kamar dan menuju dapur dimana terdapat bundanya yang sedang memasak.


" hai bunda" sapa raina langsung memeluk bundanya dari belakang.


"hai sayang, kami udah pulang" jawab Risa bunda Raina


"ye bunda masa gak tau sih, oh ya bunda masak apa" tanya raina sambil melepaskan pelukannya dan berdiri disamping bundanya.


"bunda lagi masak sayur asem". jawab bundanya sambil tersenyum menoleh raina.


"Bunda abis nangis ya" tanya raina dan ia langsung memegang pipi sang bunda


" gak kok sayang" elak risa sambil tersenyum.


"bunda sayang, perhatiin Raina" raina menarik kedua bahu bindanya menghadap dirinya. "Bunda gak perlu bohong dengan raina, raina tau bunda habis nangis, pasti bunda berantem lagi ya dengan ayah?" sambung raina.


Risa menatap sendu putrinya, ia menunduk sesaat dan air matanya pun menetes. Raina langsung memeluk tubuh sang bunda dan mata raina pun mulai memerah, tampak kehancuran dimata sang bunda yang mengalir dihati raina.


"Raina" panggil risa lirih masih dipelukan raina.


"iya bunda" jawab raina dan melepaskan pelukannya.


" sayang lusa kamu harus kekota, besok kamu nerima raport kan, kamu harus berobat sayang" ucap risa masih dengan mata yang memerah.


"bunda tenang saja, bunda gak perlu cemasin raina bunda sayang, raina gak mau pergi kekota, raina mau disini nemanin bunda, nanti ayah akan buat kasar lagi dengan bunda dan lebih mementingi wanita ****** itu" jawab raina.


"raina bunda gak papa, kamu ingat kamu harus berobat sayang, kamu ingin penyakit kamu makin parah dan kambuh lagi, raina tolong dengerin bunda sayang" pujuk risa sambil memegang kedua pipi raina." bunda sudah bilang ke ke abang kamu raiga, dia akan jemput kamu seperti biasa, dan kamu juga bisa liburan disana, kamu kan sudah libur semester. oh iya sayang bunda rencananya kamu nanti nyambung kelas 12 nya di kota aja ya biar pengobatan kamu bisa lancar." sambung risa


"iya deh raina bakalan kekota lusa, tapi masalah raina tinggal dikota kita kan sudah membicarakan ini bunda, raina gak mau ninggalin bunda dan raisa disini dengan ayah, raina pun gak mau sekolah dikota, raina ingin abisin sisa waktu raina dengan bunda dan raisa, raina ingin selalu berada disamping bunda" raina meneteskan air mata saat ia menjelaskan alasannya dan menangis memeluk risa bundanya.


risa menghembuskan nafasnya kasar."huh kau memang keras kepala raina, bunda lakuin ini demi kebaikan kamu sayang"


"huh bunda memang keras kepala, raina ngelakuin ini demi kebaikan bunda" balas raina mengulang perkataan risa, sambil tersenyum.


"ya sudah raina mau main sama raisa, bunda lanjut aja masaknya, masak yang enak ya bun" sambung raina sambil mencium pipi risa dan berlalu pergi meninggalkan dapur.


risa hanya bisa menggelengkan kepala menatap punggung putrinya yang keras kepala, walupun menurun dari dirinya.