Sad Ending

Sad Ending
SAD ENDING# *BAB 27*



'Raina kemana ya?, kanapa belum turun-turun lagi.' batin Raiga, saat ini ia sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan memangku leptopnya, karna merasa cemas Raiga pun langsung meletakkan leptonya diatas meja dan beranjak menuju kamar Raina yang di lantai dua ruamahnya.


Tok


"Raina" panggil Raiga sambil mengetok pintu kamar Raina. Tak ada sautan bahkan gerakan didalam kamar Raina.


Tok


"Raina" pangil Raiga lagi dengan suara yang sedikit lebih tinggi, tapi masih tidak ada yang menyahut dari dalam.


Karna sudah sangan khawatir Raiga pun langsung membuka pintu kamar Raina, dan terlihatlah Raina yang tidak sadarkan diri sambil meringkuk disajadahnya dengan bercak darah yang mengotori mukena Raina.


"Raina" pekik Raiga, Langsung berlari menuju posisi Raina, ia mengangkat tubuh lemah Raina membawanya keluar dan menuju mobilnya, Raiga benar-benar sangat khawatir saat ini, pikirannya menjadi semakin kacau, perasaannya diselimuti ketakutan dan kekhwatiran. Ia membawa tubuh lemah Raina kerumah sakit masih dengan mukena Raina yang dinodai darah. Raiga melajukan mobilnya dengan cepat kerumah sakit.


Saat sampai rumah sakit, ia mengangkat tubuh Raina memasuki Rumah sakit. Dan membiarkan mobilnya terparkir asal diluar. Ia berteriak memanggil dokter, untuk menolong Raina, dan pas kebetulan dokter Digho sedang berada di lobi rumah sakit.


Beberapa perawat langsung berlari diikuti Dokter Digho, sambil membawa brankar. Raiga meletakkan tubuh lemah Raina diatas brankar, dan mereka mendorong tubuh Raina menuju ICU.


"Ya Allah, tolong adik ku. Aku mohon pada mu ya Allah tolong bantu ia, jangan kau ambil ia, kumohon, kumohon" ucap Raiga, mengangkat kedua tanganya, memohon kepada sang pencipata (Allah SWT). Ia mendudukan tubuhnya di kursi dapan pintu Ruang ICU.


Tak lama kemudian pintu Ruang ICU keluar Dokter Digho. Raiga segera bangkin berdiri, dan menghampiri dokter Digho.


"Gimana, kabar adik saya dok" tanya Raiga dengan suara yang begetar karna dari tadi menahan tangisnya.


"Raina baik-baik saja, hanya saja tubuhnya melemah, mungkin karna ia terlalu stres." Digho menjawab dengan menggenggam pundak kanan Raiga, menenagkan Raiga yang terlihat kacau, baik penampilan dan batinnya.


"Terimakasih ya Allah terimakasih" syukur Raiga sambil mengusap kedua tanganya diwajahnya, "Terimakasih Dok" lanjut Raiga dan menggenggam tangan Digho dengan kedua tanganya.


"Tenang lah, oh ya usahakan jangan membuatnya terlalu stres itu akan membuat tubuhnya melemah, selalu buat ia senang dan tenang, kalau begitu saya permisi dulu kami akan memindahkannya keruang VIP" Digho melangkah meninggalkan Raiga yang masih berdiri didepan ruang ICU, Digho masuk kembali ke ruang ICU, ia mengintruksikan perawat untuk memindahkan Raina ke kamar Rawat.


......


Saat yang paling menakutkan dalam hidup seorang kakak adalah melihat adiknya terjatuh atau sakit, walaupun kasih sayang seorang kakak itu jarang sekali mereka tampak kan, tapi ketahuilah bahwa mereka sangat mengkhawatirkan kalian dan sangat-sangat menyayangi kalian. Mereka menampakkan kasih sayang mereka dengan cara yang tidak kalian mengerti, bisa dengan mengajak kalian bertengkar, mengejek kalian, mengganggu kalian, dan memarahi kalian, tapi itu lah yang akan mereka rindukan saat kalian sudah jauh dari mereka, dan saat mereka jauh dari kalian.