
Sejak kejadian tadi malam Raina tidak keluar dari tendanya, bahkan waktu upacara penutupan parkemahan. Ia merasa tidak enak telah menolak Anggara, namun ia tidak bisa menerima Anggara tuk jadi pacarnya, ia masih trauma akan lelaki, hatinya masih belum siap untuk mencintai, atau memberi hatinya kepada pria.
Selama ditenda pagi ini, ia hanya bersama dengan layla untuk menjaga tenda dan yang lainnya pada ikut acara penutupan perkemahan. Layla meminta Raina menceritakan kelanjutan tentang cerita masalalu Raina dengan Toni.
" Toni adalah cinta pertamaku, Toni lah yang mengajariku cara menggombal. Toni juga lah yang mampu memberiku kebahagian saat aku sedih.
awalnya aku tidak menyukai Toni, karna waktu aku kelas 7, Toni selalu menggangguku, menggodaku, dan selalu membutku kesel. Kami selalu bertengkar, berlari, bermain bersama. ha..ha..ha.. ya kadang-kadang kok diingat kami terlalu konyol seperti anak TK yang selalu bertengkar kemudian baikkan. Saat aku tidak masuk sekolah ia biasanya nyariin aku, saat dia gak masuk sekolah aku kadang kesepian karna gak ada yang gangguin aku. tapi saat ketemu pasti bertengkar, seperti Tom and Jerry.
Setalah kalas 8, kami sudah berhenti bertengkar, malahan hubungan kami lebih terlihat seperti sepasang kekasih, ia perhatian banget dengan aku, kebetulan kita satu kelas lagi. jadi dia selalu saja memperhatikan aku saat sedang dikelas dan selalu mengikuti aku kemanapun saat jam istirahat. banyak yang iri akan kedekatan aku dengan Toni, kebetulan Toni cukup terkenal disekolah karna ia termasuk siswa tertampan, jadi banyak para wanita yang menggoda nya, dan banyak yang iri kepada ku yang bisa deket banget dengan Toni. Toni selalu menempel dengan ku, saat pulang sekolah ia selalu menghubungiku, membicarakan masalah yang gak penting-penting amat tapi selalu saja mampu membuat ku nyaman. aku merasa bahagia banget ada Toni yang selalu membuat ku tersenyum, ia selalu mengerti aku. setiap malam ia datang kerumahku mengantarkan martabak, atau pun kadang ia mengantarkan coklat, atau pun makanan lainnya. walaupun gak sampe masuk kerumah, ia hanya mengantar didepan rumah ku tanpa sepengetahuan orang tua ku, bukan karna ia takut bertemu orang tua ku tapi aku yang gak berani kalo orang tua ku tahu aku dekat dengan seorang pria. Hubungan kami sangat baik, benar-benar baik kami gak pernah lagi bertengkar, hanya saling mengejek, kami gak pacaran hanya dekat aja, tapi sangat dekat bahkan lebih romantis dibandingkan orang yang pacaran. Hampir dua tahun kami selalu bersama.
Namun hubungan kami kandas saat kami naik kelas 9. waktu seminggu kami baru masuk sekolah lagi diajaran baru, aku mendengar kabar bahwa Toni telah jadian dengan Eva, ya dulu Eva pernah menyukai Toni tapi kabarnya Toni menolak Eva. Saat mendengar kabar Toni telah jadian dengan Eva jantungku seakan berhenti, nafasku sesak, hati ku hancur, air mata ku tanpa kusadari tumpah. padahal selama aku sekolah disana aku tidak pernah menangis dan kali ini teman-temanku melihat ku menangis.
Sejak pagi itu hubungan ku dan toni merenggang aku menganggap ia sebagai temanku aku menghapus nama Toni dari hatiku walau hati ku terasa sakit saat melihat Toni dan Eva selalu romantis, mereka selalu bersama, bahkan hubungan mereka menjadi topik yang selalu hangat bagi siswa yang lainnya.
Hampir selama 3 bulan aku selalu meresa tersiksa melihat keromantisan mereka yang selalu diumbar baik dimedsos maupun didunia nyata. hampir tiap hari aku melihat mereka bersama dan selama 3 bulan aku menderita. setelah itu, aku mencoba melupakan Toni aku menjadi orang yang berbeda, aku menjadi playgirl yang terkenal disekolah itu, aku mendekati pria menggodanya dengan kata-kata gombalku membuat mereka baper saat mereka mulai mencintaiku, aku pun meninggalkan mereka.
Sudah berapa banyak pria yang sakit hati kepadaku, aku menjadi wanita kejam yang tak pernah memikirkan prasaan pria yang telah aku sakiti. tapi anehnya banyak pria yang selalu mengantri untuk menaklukkan hatiku padahal mereka tahu aku playgirl yang selalu mempermainkan perasaan seseorang.
Hampir setahun aku menjadi playgirl. suatu ketika ada saat dimana Emi menyadarkan ku, Emi selalu marah kepadaku saat ia tau bahwa aku baru saja menyakiti hati orang lain. Emi menasehatiku, Emi tau alasan aku mengapa menjadi wanita yang selalu mempermainkan hati para pria. Sampai akhirnya aku sadar percuma aku membalaskan rasa sakit hati ku dengan mempermainkan perasan orang yang tak bersalah. jadi akhirnya aku berhenti mempermainkan perasaan orang lain. dan aku juga menutup rapat diriku untuk dekat dengan pria.
bagaimana aku tidak teroma, kau pikirlah. saat seorang gadis kecil yang baru berusia 13 tahun untuk pertama kalinya ia merasa jatuh cinta dan cintanya kandas dengan cara yang tidak adil baginya. Tapi aku berusaha menerima semuanya dengan lapang dada, aku tidak membenci Toni, aku bersikap seperti tidak tarjadi apa-apa diantara kami, aku menganggap Toni sebagai temanku, kami masih sering bercanda. hanya saja ada jarak yang sangat jauh sehingga hubungan kami tidak sedekat dulu lagi."