Sad Ending

Sad Ending
SAD ENDING# *BAB 25*



Saat ini Raina sedang ada didalam mobil Raiga, mereka menuju pulang kerumah mereka. Tak ada pembicaraan diantara mereka, Raina diam sunyi mempergatikan jalanan dan bangunan melalui jendela mobil disebelahnya. Sedangkan Raiga juga terdiam dengan raut wajah yang tak bisa lagi ditebak, ia terlihat fokus menyetir padahal didalam pikiran nya sedang berkecamuk.


Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai dirumah mereka, rumah minimalis dengan halaman rumahnya yang ditumbuhi bunga Daisy. Dan ditengah-tengah halaman terdapan ayunan besi. Sangat indah dan tenang.


Raiga langsung masuk kedalam rumahnya setalah ia memarkirkan mobilnya. Raiga langsung menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tamu, ia terduduk menyandarkan tubuhnya di punggung sofanya sambil memijat kepalanya dengan satu tanganya. Sesaat kemudian Raina pun masuk kedalam rumahnya melewati Raiga yang sedang duduk diruang tamu.


"Na" panggil Raiga, saat Raina melewatinya.


Raina menghentikan langkahnya, ia terdiam sesaat dan kemudian membalikan badannya menghadap Raiga, yang masih belum mengubah posisinya.


"Kenapa na?, Kenapa?" Tanya Raiga lirih, yang kini sudah menatap Raina dengan pandangan sendu. Raina hanya terdiam, terdiam bisu tidak mampu menjawab pertanyaan Raiga yang rapuh.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami Na?, apa kamu benar-benar ingin segera tiada?" Teriak Raiga frustasi dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya. Raina masih tak mampu menjawab dan tak mampu membendung air matanya, ia hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan air mata yang perlahan keluar dari pelupuk matanya.


Raiga mendekat kearah Raina, memegang lebut tangan adiknya. Menatap dengan pandangan sendu, begitu pula dengan Raina. Raiga langsung memeluk tubuh kurus Raina, tangis mereka pecah didalam dekapan mereka.


"Abang menyayangi mu Na, sangat menyayangi mu" ucap lirih Raiga didalam dekapan nya.


"Raina juga sayang dengan abang, Raina juga sayang dengan Raisa, Raina juga sayang Bunda, dan ayah, Raina sayang kalian semua, sangat menyayangi kalian" ucap Raina dengan suara bergetar dengan air mata yang tak ingin berhenti.


"Raina selalu ingin terus bersama kalian, raina ingin terus menghabiskan waktu dengan kalian"jeda raina sambil menarik nafas dalam, mengatur suaranya yang parau " tapi tuhan tak memberikan waktu panjang untuk raina berada dikalian." Lanjut Raina dengan isak tangis yang semakin dalam dan terdengar sangat rapuh nan pilu.


Raiga langsung kembali memeluk Raina, mengelus rambut Raina. "Kita bisa melakukan segala cara agar kau benar-benar sembuh Na, abang yakin kamu pasti bisa sembuh" ucap Raiga. Ia melepaskan pelukannya dan kemudian memegang kedua pundak raina," kita akan melakukan pengobatan untuk kamu lagi, jadi kali ini kamu tidak akan bisa menolaknya, abang sudah memberitahu Bunda. Bunda dan Ayah akan datang besok kemari, mengurus segala kebutuhan kamu selama dirumah sakit" lanjut tegas Raiga.


Raina menggelengkan kepalanya" Tidak, Raina tidak akan melakukannya" jawab tak kalah Tegas dari Raina, ia langsung meninggalkan Raiga diruang tamu, ia berlari menuju kamarnya dengan masih menangis. Raiga menghela nafasnya, menatap punggung rapuh raina.


Bagi seorang laki-laki anak tertua, adik perempuan adalah tanggung jawabnya, ia akan melindungi adiknya dari segala hal yang akan mencelakai adik perempuan nya, selalu menyayangi adik perempuannya, memberikan kasih sayang tulus seorang kakak laki-laki, selalu menganggap adik perempuan nya adalah bayi kecil yang harus ia lindungi walau pun ia sudah dewasa.


Begitupun dengan Raiga, ia begitu menyayangi adik-adik perempuannya, selalu berusaha menjaga air mata kedua adiknya agar tidak tumpah, selalu memberikan kasih sayang penuh kepada Raina dan Raisa. Dan sejak perselisihan Raiga dan ayahnya Naufal. Raiga selalu menganggap ia adalah tumpuan kedua adiknya, dan ia yang akan melindungi ketiga bidadarinya.


Dan kini salah satu bidadarinya sedang berada diujung jurang kematian, keluarganya sedang berada diambang kerapuhan, sebagai anak tertua ia merasa gagal menjaga keharmonisan keluarganya, gagal dalam menjaga kebahagian keluarganya dan kini ia merasa gagal melindungi salah satu bidadarinya.


'Ya tuhan lindungi adik hamba, jangan kau ambil ia dari kami, izinkanlah kami mengurusnya, izinkanlah kami menjaganya, izinkan lah ia selalu bersama kami, dan izinkanlah kami membahagiakannya. Ambillah aku ya tuhan, tapi jangan kau ambil Raina kami, biarkanlah ia menikmati hidupnya, hatiku pilu melihat air matanya, hatiku hancur mendengar isak tangisnya, dan hatiku sakit saat ia pasrah akan waktu kehidupannya. Aku berjanji akan menjaganya, melindunginya,dan membahagiakannya. Maka dari itu jangan kau ambil ia dari kami, aku rela menukar nyawaku untuknya. Kumohon ya tuhanku, ku mohon padamu. Dengarkanlah ratapan hati manusia lemah ini, dengar kanlah haarapan manusia hina ini. Dan kabulkanlah doa hambamu yang belum sempurna ini' Raiga mengangkat kedua tanganya memandang langit-langit rumahnya, memohon kepada Tuhannya (Allah SWT).