Sad Ending

Sad Ending
SAD ENDING# *BAB 6*



"udah puas" ucap mita yang kesal sudah ditampar tiga kali oleh emi.


"wah wah nyolot lu ya, udah salah bukan mau minta maaf ini malah nyolot, dasar wanita gak tau diri, penggoda, pelakor, dan murahan" ucap ku yang sudah kebawa Emosi melihat penghianatan andika kepada emi ditambah wanita murahan ini nyolot lagi.


"lo jangan ikut campur ya ini masalah kami" jawab mita yang tak kalah menantang ku.


plakk.


tamparan ke empat kalinya melayang mengenai pipi kanan mita yang semakin lebam, dan kali ini bukan dari Emi melainkan dari ku.


"Masalah sahabat gue maka akan jadi masalah gue dan kini lo sudah nyakitin perasaan sahabat gue Emi maka lo bakalan berhadapan dengan gue juga" ucap ku, yangs udah benar benar kebakar api emosi.


"dan lo andika, dari awal gue sudah bilang dengan lo, jangan pernah nyakitin emi, kalo lo nyakitin dia lo bakalan berhadapan dengan gue" lanjut ku dan


brukkk


tubuh andika terpelanting kebelakang, jatuh diatas tanah, karna sekali tendangan ku yang rumayan keras.


" ma-maaf Ra-i" ucap andika terbata karna menahan sakit diperutnya bekas tendangan ku.


sedangkan teman-teman ku yang lain hanya diam saja memperhatikan begitu juga dengan emi yang menatap tajam andika dengan mata yang memerah menahan air matanya agar tak tumpah, sedangkan mita berlari menuju andika yang masih berbaring ditanah dengan satu tangan kirinya menopang tubuhnya agar tak terlalu menyentuh tanah dan tangan kanannya memegang perutnya.


Sahabat-sahabat ku diam bukan berarti mereka membiarkan ku melakukan kejahatan ya, tapi mereka membiarkan ku menghukum seorang penghianat dalam hubungan yaitu ANDIKA pacar Emi, sahabat kami. Jadi sebagai hukumannya maka mereka membiarkan ku menghukun si playboy cap kapak ini.


"Sayang" teriak mita yang berlari menghampiri andika.


mendengar panggilan 'sayang' yang keluar dari mulut mita untuk andika makin membuat ku geram.


"cuih" aku membung ludahku dengan tatatapan sinis. " dik, lo sudah janji bukan ke gue, gue biasa bunuh lo jika lo selingkuhin Emi dan sekarang gue nagih janji lo ke gue" ucap ku yang berjalan mendekat ke arah andika.


"Rai gue mohon sama lo, gue gak maksud duain emi rai, gue sudah mau mutusin emi cuman gue gak tega mutusin emi karna dia gak ada salah apapun rai" jawab andika dengan meringis menahan sakit.


"Jadi lo mau jadiin emi kambing hitam agar lo bisa mutusin emi begitu aja ha, dan lo mendapatkan simpati dari semua orang karna menjadi pihak yang tersakiti, enak benar jalan pikir lo ya." teriak ku yang semakin emosi


karna geram aku memukul andika dengan kekuatan penuh.


tampak darah segar keluar dari mulut andika. Sahabat ku berlari menuju posisi kami yang tak jauh dari posisi mereka,


"andikaa" teriak histeris mita saat melihat darah segar keluar dari mulut andika.


Saat aku hendak memukul kembali andika, sahabat-sahabat ku mengentikan ku dan menarikku mendur beberapa langkah kebelakang.


"Raina sudah cukup, kau ingin jadi pembunuh apa" omel dela kepadaku.


"ia rai sudah lihat andika sudah babak belur gitu" timpa layla.


"iya rai sudah biarkan meraka, aku sudah cukup berterimakasih pada mu yang sudah membelaku" ucap emi yang langsung menangis memeluk tubuhku yang masih menahan emosi. sahabat-sahabat ku pun langsung memeluk tubuk kami dan kami berpelukan bertujuh sesaat dan setelah sedikit tenang mereka melapaskan pelukannya masing masing.


aku mendekat kearah andika yang masih terbaring dengan nafas terengah engah dan darah yang mengotori mulut dan bajunya. keadaan andika cukup tampak parah.


"ingat ya jangan pernah kalian tampakkan wajah kalian dihadapan gue jika kalian masih mau melihat hari esok, karna gue takut gue gak bisa menahan emosi gue saat melihat kalian berdua" ucap ku sinis kerah andika dan mita yang masih menangis memangku kepala andika dengan pahanya.


Aku dan sahabat ku pun pergi meninggalkan lokasi. dan kini kami sedang berada diantas bangunan sekolah kami tempat yang paling kami senangi karna kami bisa melihat hamparan hijau semak pakis dan bukit di sembrangnya yang tampak sangat sejuk mata memandang dengan udara yang segar jauh dari hirak pikuk perkotaan.


kini kami sedang duduk bertujuh, dengan emi yang masih menangis dipelukan ku...


.......


**Salut deh dengan Raina, bener bener sahabat terbaik gitu mah, melindungi sahabatnya dari orang-orang yang bakalan menyakiti sahabatnya. Semoga sahabat seperti neng Raina tidak punah ya, karna sahabat sekarang ada karna uang aja. ya walaupun gak semuanya sih.


Beri Like dan komenya ya man-teman di Bab kali ini.


LIKE ‼️


KOMEN‼️**