
"Pas Bima bilang ke tante kalau Aby dirawat dirumah sakit, tante langsung panik. Mau langsung jengukin Aby,Tapi Bima ngelarang. Malahan Bima minta tolong ke tante minta dibuatin bubur dulu buat Aby. Kata Bima, kamu gak mau makan makanan rumah sakit. Bimanya mau pulang dulu, tapi juga gak mau ninggalin kamu. Makanya minta tolong sama tante."
Aby tersenyum lalu membuka mulut menerima suapan dari mamanya Bima itu. meski Tari---mama Bima hanya ibu dari temannya, tapi wanita itu memperlakukan Aby jauh lebih baik dari pada ibu kandungnya sendiri.
"Aku pasti ngerepotin tante,ya? tante pasti lagi sibuk banget."
"Mana ada Aby ngerepotin tante. Tante gak sesibuk itu kok sampai gak ada waktu buat jengukin Aby."
"Makasih banyak tante."
"Sama-sama,ayo buka mulutnya lagi. Aby harus makan yang banyak biar cepat sembuh. Tante liat sekarang Aby agak kurusan. Apa Bima gak bener urusnya?"
Pintu kamar Aby terbuka, Bima muncul dengan tangan kiri menenteng tas.Tadi, saat Tari datang, Bima pamit pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian Aby. Cowok itu duduk disebelah ibunya setelah menyimpan pakaian Aby dilemari.
"Mau disuapin juga" rengek Bima terdengar manja lalu membuka mulutnya bersiap menerima suapan dari sang ibu.
Aby sudah tak asing lagi dengan sifat manja Bima yang memang hanya muncul saat didekat ibunya. sisi lain yang jarang dipertujukkan didepan umum, hampir semuanya sudah ia ketahui. Orang-orang pastinya tidak akan tahu seberapa bar-barnya Bima yang pembawaannya tenang bahkan tidak pernah neko-neko.
Saat melihat Bima tersenyum, Aby terdiam. Meski senyuman itu bukan untuknya, namun mampu membuat apa merasakan hal aneh. Bima memiliki senyuman yang khas. Tidak hanya bibir, namun mata Bima juga ikutan saat ia tersenyum yang mampu memperdaya siapapun yang melihatnya. Saat tersenyum, Bima terlihat seperti bukan Bima yang kasar dan kejam.Namun,Kesan lembut nan menggemaskan yang akan terasa.
Aby menggelengkan kepala. Apa yang barusan ia fikirkan tentang Bima? Apa ia baru saja mengagumi Bima? sepertinya Aby harus sering bercermin dan mengingat baik-baik perkataan Bima padanya.
"Bima jagain aby,ya. Mama mau balik kantor, masih ada pekerjaan. Inget ya ma.Aby masih sakit, kamu gak boleh marah-marah apa lagi sampe kasar sama Aby." pesan tari begitu mengarahkan suapan terakhirnya pada Bima.
Beralih pada putranya. Kini tari menatap Aby. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Aby. "kalau Bima nakal, Aby bisa langsung kasih tau tante. Biar tante yang kasih pelajaran buat anak bandel itu."
"Sebenernya anak mama itu Aby apa Bima sih mah?"protes Bima.
Aby menjulurkan lidahnya meledek Bima saat Tari memeluknya sebelum pergi. Ia tersenyum puas saat protesan Bima tidak dihiraukan. Sepeninggalan tari, Aby dan Bima hanya diam dengan tatapan saling mengunci mata masing-masing.
"Ma,lo tau gak yang jual anakan binatang buas? kayak anak harimau,ular,atau gak singa atau apa gitu?"
"Mau setor nyawa?"
"Gila lo, mau pelihara lah. Biar ada temennya kalau dirumah sendirian. Sekalian jadi bodyguard. Lo gak bisa diandelin dua puluh empat jam. jadi gue butuh yang lain.
"Pengen banget gue bongkar tu otak lo biar bisa di service. banyak saraf yang putus kayaknya. jadi otak lo gak ada isinya selain jadi pajangan isi kepala doang."
Aby melempar apel yang sedang ia makan ke arah Bima. Tapi dengan santainya Bima tangkap apel itu, lalu dimakannya.
"Temen macam apa lo pelit gini,ayo ih. beli anakan singa gak bakalan bikin lo sampe jual ginjal apa lagi jual diri. Nanti sore beliin ya?" rengek Aby.
"Singa bukan hewan peliharaan."
"Kalau gitu uler deh,lucu kan lilit lilit manja gitu. atau gak macan tutul aja gapapa kok."
"Sama aja goblok." kesal Bima.
"Terus gue harus pelihara apa? burung perkutut? ntar gue inget punya lo yang kecil itu lagi."
Bima menggosok wajahnya frustasi. Kurang ajar sekali Aby mengatakan miliknya kecil. Dulu emang iya,sekarang sudah glow-up.
"Mending lo tidur,gue pusing ngurus lo."
"Gak bisa tidur kalo belum iyain maunya gue."
Menolak permintaan Aby adalah bagian tersulit untuk Bima. "Pilihannya cuma kucing sama kelinci."
"Apaan tuh cupu banget pilihannya."
"kalau gak mau yaudah,gak usah."
"Idih,kucing deh kucing. kalau bisa kucing garong,ya."
"Kalau lo udah keluar dari rumah sakit, gue bawain buat lo. Tapi inget, peliharaan itu bukan cuma dikasih makan doang, lo tau kan cara rawatnya?"
"Jelas enggak lah, lo kan ada. jadi gue bisa minta tolong lo buat urus. mohon bantuannya,ya ma."
"Abyyyyyy."
"anggap aja latihan. Lo latihan jadi bapak nah gue jadi ibu."
"Bener sinting nih cewek."
lebih sinting lagi gue malahan suka sama cewek sinting.
...*****...
Alanda Bintang Nirwana.
Sosok itu menarik perhatian Bima saat pertama kali datang. setiap pergerakan sekecil apapun itu tak luput darinya. Alarm tanda bahayanya sudah berbunyi di detik pertama tawa Aby mengudara karena lelucon garing dari cowok itu lontarkan. Diantara tiga teman Aby yang datang.Hanya Bintang yang perlu diwaspadai.
Bimapun sudah menetapkan Bintang sebagai targetnya ke dua puluh yang harus ia singkirkan dari kehidupan Aby.
"Btw lo disini cuma sama kakak lo?" tanya Bintang. kakak yang di maksud adalah Bima yang tengah menghafal beberapa materi untuk ulangan Biologi besok.
"Bima itu bukan kakak gue, dia itu ..... temen iya, tutor iya, tetangga juga iya. sebentar, Bima! lo disini sebagai apa sih? temen,tetangga apa tutor?" celetuk Aby.
Bintang tertawa.
Bima menutup buku paket di tangannya. Tanpa mengatakan apapun ia pergi meninggalkan kamar rawat inap Aby. Telinganya terganggu oleh suara tawa Bintang yang mudah pecah. sudah menjauhpun, suara tawa itu masih terngiang-ngiang dikepalanya. Ia tidak menyangka jika tawa Bintang memiliki efek seperti ini.
sepeninggalan Bima. Cewek itu turun dari brangkar memilih duduk di sofa. plastik-plastik diatas meja menarik perhatiannya.
"Lo kan doyan makan,apa lagi yang gratisan. Jadi kita bertiga patungan buat beliin lo itu" ujar bagas.
"Kalau gini, gue jadi mau dirawat dirumah sakit terus. Banyak orang baik yang ngasih gue makanan gratis. sebelum lu pada, tadi sore cewek-cewek pada dateng. bawa makanan, ada yang bawa seblak. btw,makasih ya." Aby tersenyum senang melahap corndog berisi mozarela itu.
"Lo yang dipikirin makanan gratis mulu."
Aby terkekeh. "besok kalau gue dirawat lagi bakalan gue kabarin kalian. kalau bisa minumannya jangan air putih. Boba aja."
"kebiasaan nih anak dibaikin malah ngelunjak,suka gak tau diri."
Bintang tertawa.
Nanang dan bagas baru menyadari,bahwa Bintang kelebihan hormon tertawa.
meski tidak tau bagian mananya yang lucu, mendengar tawa bintang. Aby pun ikut tertawa, nanang dan dimaspun ikut tertular.
"kita ketawain apaan sih?" tanya nanang.
keempatnya saling menatap sebelum akhirnya kembali tertawa.
...*****...
Bukan tidak mampu menjaga Aby sendirian. Hanya saja Bima memikirkan perasaan Aby. Meskipun cewek itu sudah mengatakan bahwa ia sudah tak membutuhkan hadir kedua orang tuanya lagi, Bima sangat yakin jika Aby sedang berbohong. jauh dalam hatinya,Aby sangat haus akan kasih sayang kedua orangtuanya. Sejak memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada Aby, Bima sudah bertekad untuk mengupayakan kebahagian Aby,semampunya.
Cowok itu mengupat saat panggilan telfonnya diabaikan oleh kedua orangtua Aby. tidak ingin menyerah,Bima mencoba kembali.
"Lo ngapain sih ma. percuma aja tau gak, gue mati aja dia gak peduli. Apa lagi kayak gini doang."
Bima menoleh kebelakang mendapati Aby berdiri tidak jauh darinya. Cewek itu mendorong tiang infus sembari melangkah lalu duduk di bangku depan ruang pendaftaran.
"Lo kenapa disini? gue kan minta lo untuk didalem aja."
"Gak betah gue didalem. lagian nih ya ma, gue tuh udah sembuh lebay emang masih pake infus. tangan gue gatel, ini infusnya gak bisa dilepas aja gitu?" risih Aby.
Bima duduk disebelah Aby. "Jangan dilepas."
"Lo kenapa masih disini sih,ma.kenapa gak pulang?"
"Kalo gue pulang trus siapa yang ngurus bayi bandel ini hm?" Balas Bima sambil menepun puncak kepala Aby.
"Halah,bilang aja lo dapet lembur dari orangtua gue,iyakan? banyak nih bonus lo. lo harus traktir gue kalau bayarannya udah cair."
Bukan cuma goblok nih cewek juga gak peka ternyata. Apa sih yang gue lihat dari nih cewek.
"mending sekarang lo balik kamar. udah malem,lo perlu instirahat."
"Gue belum ngantuk, biasanya jam segini gue karaukean. loncat-loncat dikasur sambil teriak. udah paling mantep banget itu mah,bahagia gue."
"Ntar gue nina boboin lo biar cepet tidur."
Aby mendongak menatap Bima penuh selidik.
"Maksudnya apa,nih?"
Bima tidak merespon. ia berdiri dari duduknya meraih cairan infus yang menggantung ditiang.
"Pegang" titahnya.
Aby menurut perkataan Bima ia memegang botol cairan infus itu dengan tangan kanannya. saat hendak bertanya, tubuh Aby kini sudah berpindah kedalam gendongan Bima.
"Ma....."
"Mending diem,dari pada gue banting."
"Bima..dada lo brisik. jedag-jedugnya kenceng banget. Mana nular ke gue lagi. Punya gue juga jadi ikutan jedag-jedug gini. lo punya penyakit menular,ya?"
jatuh cinta,goblok!
...*****...
...Tbc...
...makasih udah baca...
...boleh banget nih ninggalin jempolnya sama comment yaa...
...see you di next episode...