Relation(Shit)

Relation(Shit)
TUJUHBELAS



Setelah Aby puas menumpahkan rasa sakit dipelukannya, Bima membawa Aby pulang kerumah cowok itu agar bisa selalu ia awasi. Bima khawatir jika terjadi hal-hal buruk nantinya pada Aby, atau Aby yang nantinya melakukan hal nekat. Selalu saja melukai dirinya sendiri adalah cara Aby melampiaskan segala rasa sakitnya. Tidak mengandalkan peran orang lain, mau tidak mau, Bima membawa cewek itu kerumahnya. Lantaran Aby yang tidak mau meninggalkan kucingnya. Bimapun turut membopong anak pungut itu.


Cowok itu membimbing Aby masuk kekamarnya. Membiarkan ranjangnya ditempati oleh cewek yang tidak mau melepaskan genggaman mereka sejak tadi. Ada ketakutan besar dalam diri Aby. Bima bisa merasakan itu dari cara Aby menggenggamnya. sangat erat.


"Apa mama bakal pergi juga,ma?"


"Kalau mama juga pergi, gue sama siapa?"


"Apa mereka udah punya kebahagiaan diluar sana tanpa mau ngelibatin gue? Kalau iya, kenapa harus gue yang jadi korban?"


aby yang beringkuk berbantalkan paha Bima, terus saja bertanya kepada cowok itu sekalipun pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban apapun. aby menatap keatas hingga wajahnya berhadapan dengan wajah cowok yang menunduk menatapnya.


"Lo nggak perlu khawatir soal apapun,by. Gue yang bakalan pastiin lo nggak bakalan sendirian." tiba-tiba Bima teringat dengan tante Ayu. ia tidak bisa membayangkan seberapa hancurnya perasaan Aby saat tau ibunya membahagiakan orang lain dan melupakan kebahagiaanya.


"Tapi lo galak banget, kadang gue takut. Cuma sok berani aja pas lo marah-marah dan mau pukul gue. Lo lembut ke orang lain, tapi keguenya kasar banget. Setiap kali lo ngomong kasar, marah-marah dan main fisik, gue jadi ngerasa berbeda, lo nggak suka ya gue dideket lo?"


"Aby...."


Nggak papa kok,ma. Gue cuma pengen jujur aja soal itu dan lo nggak perlu ngerubah apapun termasuk sikap lo ke gue, sikap buruk lo bukan masalah." ucap Aby sebelum menutup kelopak matanya. Hari ini sangat melelahkan untuknya. Aby butuh istirahat untuk memulihkan tenaga dan menyiapkan mental.


Mungkin hari esok akan lebih buruk dari hari ini.


"Nggak mau makan dulu? Lo belum makan,kan?" tanya Bima.


"Pengin tidur,ma. Titip anjing,ya. Ajakin dia main. Kalau malem itu anak pungut aktif banget. Tabok aja bokong sexy-nya kalau nanti lo capek ngurusnya. Biasanya langsung diem tuh anak kalo abis ditabok. " balas Aby lalu beranjak dari paha Bima. Cewek itu meringkuk merapat ketembok. Selimut ia tarik sampai sebatas dada.


"ma, ninaboboin anjing,ya. Langsung smackdown aja kalau rewel. Anak pungut beban keluarga harus dapet didikan militer. Jangan dimanja, ntar makin nggak tau diri." pesan Aby.


Bima turun dari ranjang. Cowok itu merain kucing Aby yang berlarian disekitar sofa. Ia tersenyum pada kucing Aby yang selalu anteng saat bersamanya. Dibawanya kucing itu dan dibaringkan disebelah Aby. Memanfaatkan sang anak untuk dijadikan sekat, Bima pun ikut bergabung dengan ibu dan anak itu.


Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Aby yang memunggunginya. Bima tersenyum tanpa alasan sebelum menutup kelopak matanya.


...*****...


Bagian paling mengagumkan dari sosok Aby adalah tentang bagaimana cewek itu membalut luka dengan senyuman. Bima menjadi saksi bagaimana hancur dan kacaunya Aby semalam. Tapi pagi ini apa yang Aby tunjukkan semalam padanya, sudah tidak terlihat lagi. Seolah tidak terjadi apapun, Bima mendengar Aby tertawa lepas diteras bersama kucing peliharaan cewek itu. Kaki yang diperban bahkan tidak membatasi ruang gerak Aby. Cewek itu bahkan tetap berlari mengajak anaknya bermain.


"Anjing,dirumah aja. Jangan keluyuran, nanti kamu diperkosa rame-rame sama kucing garong!"


Teriak Aby yang kembali muncul dengan makanan kucing ditangannya.


Bima yang berdiri dipintu gerbang, membungkuk untuk bisa meraih kucing yang tengah bermain-main dengan tali sepatunya. Cowok tinggi itupun membawa anak pungutnya pada Aby yang sudah mempersiapkan makan anaknya.


"Anak pungut makan dulu,ya. Nanti nggak montok lagi bokongmu kalau nggak makan. Katanya mau jadi primadona komplek ini." ujar Aby lalu mengambil alih Anjing dari sang bapak. Ia pun memposisikan hewan itu didepan tempat makannya.


"Aby juga harus sarapan,dong. Ini mama bawain sarapan buat Aby." Ayu muncul membawa nampan berisi nasi lengkap dengan ayam dan segelas susu. Perempuan itu meletakkan nampan yang ia bawa ke meja sebelum mengajak putrinya untuk duduk.


Ayu terus menerbitkan senyum saat Aby hanya menatapnya tanpa menyentuh menu sarapan yang ia buat.


"Kok nggak dimakan? Mau mama suapin?" tawarnya yang direspon gelengan kepala putrinya.


"Kalo mama baik gini, Aku jadi takut. Mama bisa nggak biasa aja ke aku? Nggak usah sepeduli ini, kayak yang udah-udah. Aku nggak bisa mikir positif lagi,ma. Setelah papa pergi kemaren." terang aby. Ia tidak peduli jika kalimat frontalnya membuat ibunya kecewa.


"Aby kok ngomongnya kayak gitu?"


"Kalian bikin aku trauma. mama sama papa ngasih kebahagiaan ke aku nggak seberapa, tapi rasa sakit setelah itu.... Mungkin kalo aku jelasinpun mama nggak bakal bisa ngerti."


Aby bangkit lalu masuk kerumah dan tidak lama kemudian, cewek itu kembali dengan mengendong tas dan menenteng beberapa peralatan untuk kucingnya. Ia akan kembali menitipkan hewan peliharaannya kerumah Bima.


"Aby..."


Panggil Ayu menghentikan langkah Aby.


"Maaf,ma. Aku udah terbiasa tanpa mama. Jadi, biarin kayak gini terus kalau sewaktu-waktu mama pergi, nggak ada yang perlu aku tangisin lagi." Aby tersenyum dan meminta bantuan Bima untuk membawa beberapa perlengkapan anjingnya. Setelah itu, Aby mengajak Bima pergi tanpa mengatakan apapun.


"Ma, gue udah mutusin buat berhenti make duit yang orangtua gue kirim. Lo mau nafkahin gue,kan?"


"Lo kalo ngomong di pikirin dulu nggak,sih?" tanya Bima. Sudah tau Bima ini masih pelajar. Bagaimana bisa untuk menafkahi anak orang? Kalau sudah punya warisan seperti Arion, mungkin perkara itu bukan jadi masalah. Tapi, sayang sekali kasta masih jauh jika dibandingkan Arion yang kesultanannya sudah dari zaman leluhur.


"Pelit amat sama temen. Atau gini, gue jadi sugar baby lo deh. Lo daddy-nya. Tapi nggak pake acara unboxing. Lo cukup kasih gue duit, beliin ini itu, sama manjain gue, gimana?"


Bima menggosok wajahnya frustasi. Makin hari kelakuan Aby semakin menyimpang jauh dari yang seharusnya. Ia pun merogoh saku celananya dan menunjukkan selembar uang lima puluh ribu. "Gue aja cuma dapet uang jajan segini, gimana ceritanya gue pelihara baby? Mana modelnya manusia nggak tau diri kayak lo. Duit dari mana gue? Jual diri?"


"Gue ini baby yang merakyat kok,ma. Nggak perlu jajanin iphone. Seblak aja nggak papa. Gue juga nggak butuh barang-barang mahal. Cukup kasih gue makanan, makanan rumahan pun gue doyan. Gampang banget,kan?"


"terus, untungnya di gue apaan?"


"ya gue bisa doain lo masuk surga. Bisa nambah pahala juga buat lo. Lo,kan pendosa. Jadi anggap aja gue ladang pahala lo."


Bima mengulurkan tangannya ke arah Aby. "Patuh sama semua ucapan gue dan gue bakalan penuhi semua kebutuhan lo. Deal?" tanyanya dengan senyum mencurigakan. Aby sampai ragu untuk mengiyakan penawaran Bima.


"Lo nggak bakalan macem-macemin gue,kan ma? Gue takut nih."


"Tergantung situasi dan kondisi."


"Ah nggak jadi deh, gue cari om-om aja. Lo nyeremin."


"yakin? Ntar di unboxing sama om-om, lo nangis."


"nggak mau! Tapi lo ada duit,kan? Lo mampu ,kan nafkahin gue? Lo nggak kere-kere banget,kan? Jajanin gue tiap hari masih bisa?"


"kakak gue udah kerja semua, mereka sering ngasih gue duit kalo habis gajian. Itu lebih dari cukup buat jajanin lo."


Ragu-ragu, akhirnya Aby menjabat tangan Bima. Jabatan sebagai tanda ia setuju dengan tawaran cowok yang tengah menujukan smirk-nya. Aby mulai curiga.


"Tugas pertama lo sebagai baby. Jangan pernah kunci jendela kamar. Biar gue bisa masuk kapanpun gue mau."


...*****...


"Lo ada hubungan sama adek kelas yang kemarin di bully itu? Perasaan belakangan ini sibuk banget ngurusin dia," selidik Arion saat Bima baru saja datang.


"Keyla maksud lo?" tanya Bima.


Arion yang tengah menyedot isi susu kotaknya mengangguk. Begitu melepas sedotan dari bibirnya, cowok itu bersuara. "anggota OSIS Bukan lo doang kan? Lucu aja sih kalau anggotanya banyak tapi cuma lo yang kelihatan aktif. Atau emang lo-nya yang carmuk? Pencitraan,mungkin. Jadi apa-apa headle sendiri."


Bima menatap kearah Arion. Bersahabat dengan cowok itu sejak TK, Bima tidak kaget dengan cara cowok itu berbicara. Meskipun banyak bercanda, tapi Arion bisa serius juga. Apa lagi saat sahabatnya keliru. Arion akan menunjukkan sisi lainnya.


Hubungan yang lo maksud itu gimana? Pacaran? Nggak. Gue nggak pacaran sama Keyla."


"pedekate,mungkin. Kelihatan peduli banget soalnya. Lo suka sama keyla-keyla itu?"


"itukan sudut pandang lo, kalo orang yang lo peduliin nganggepnya lain gimana?"


Bima duduk di sebelah Arion. Cowok itu mulai menyimpulkan tali sepatu futsalnya. Begitu selesai, ia menoleh dan menjawab pertanyaan Arion tadi. "itu berarti dia aja yang baperan. Gue peduli ke semua orang. Nggak cuma Keyla. Kalo lo dibully pun gue bantu."


"Dan kalo ternyata emang baperan kayak yang lo omongin,gimana?"


"emang gue harus gimana? Gue nggak ngelakuin kejahatan apapun dan gue juga nggak perlu tanggungjawab apa-apa,kan?"


"gue ketinggalan gosip apa nih? Tegang banget kalo perdua. Perlu dilemesin,nggak?" satria yang baru muncul diruang ganti, disambut dengan lemparan susu kotak kosong dari Arion. Untuk Satria sudah paham gerakan tiba-tiba Arion, cowok itu bisa menyelamatkan diri. Dengan bangga, satria meliukkan tubuhnya meledek Arion.


Bima yang cinta kebersihan, memungut kotak susu itu dan berjalan keluar dari ruang ganti untuk membuang sampah. Tidak kembali keruang ganti, Bima mendahului yang lainnya menuju lapangan indoor dilantai satu.


...*****...


Aby suka berada didekat Bintang.


Bintang sangat menghormatinya.


Bintang selalu berusaha membuatnya agar bisa nyaman. Bintang memperlakukannya dengan lembut.


Dan yang paling penting. Bintang membuatnya merasa terlindungi. Genggaman cowok itu saat di keramaian, membuat Aby tidak bisa berhenti tersenyum. Walaupun genggaman itu tidak sehangat dan senyaman genggaman Bima, namun Aby cukup menyukainya.


"Mau beli yang mana lagi?" tawar Bintang.


"Udah kenyang banget. Lo jajanin gue banyak hari ini." balas Aby seraya mengusap perutnya.


Tawa Bintang mengudara melihat wajah Aby yang terlihat sangat menggemaskan saat mengusap perut. Cowok itu tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengusap puncak kepala Aby. Sepulang sekolah, ia memang mengajak Aby mengunjungi bazar makanan tidak jauh dari sekolahannya. Tentu saja ajakannya tidak mungkin ditolak oleh Aby yang memang doyan makan.


Satu jam berada disana, Aby nyaris tidak berhenti mengunyah. Cara berjalan Aby yang sedikit terpincang, bahkan tidak membuat cewek itu kehilangan semangat untuk berburu kuliner.


"Kaki lo nggak sakit dibawa jalan dari tadi?" tanya Bintang menatap perban dikaki cewek itu.


"nyut-nyutan, sih. Tapi enak, gue malah suka." jawab Aby.


Bintang mengajak Aby duduk dibangku panjang. "istirahat,ya. Kasihan kaki lo."


"Gue nggak suka dikasihanin,tang." aku Aby.


"Sorry, lo keringetan." ujar Bintang lalu mengulurkan tangannya untuk menyeka keringat dari kening hingga pelipis Aby.


"Makasih loh."


"Ngomong-ngomong lo udah ngabarin orangtua lo kalo pulang telat? Gue khawatir kalau pulang nanti lo dimarahin. Ntar gue jadi nggak enak sama lo."


Aby menggeleng pelan. "Orangtua gue nggak peduli apapun yang terjadi sama gue."


"Mereka baik-baik aja,kan?"


"Nggak. Mereka nggak baik-baik aja yang bikin gue kayak gini. Mungkin lo udah denger orang-orang nilai gue gimana. Ya,gitu. Mungkin bukan cuma gue, banyak anak diluaran sana yang hancur karna keegoisan orangtua mereka. Untung aja gue nggak sampe gila atau bunuh diri. Emm mungkin dalam waktu dekat karena gue makin tertekan."


Bintang memberanikan diri untuk merapatkan dudukannya dengan tubuh Aby. Jemari lentik cewek itu ia raih agar bisa digenggam. "Gue ngerti. Maaf, bukan maksud gue menggurui, lo nggak mau gitu bikin gebrakan buat diri lo, buat nunjukin ke orang-orang kalau anak broken home nggak selamanya yang seperti mereka fikirin."


"Apa gue bisa,tang?"


"Kenapa enggak? Tunjukin kalau lo yang pernah dihancurin sama orangtua lo, bisa lebih hebat dari mereka-mereka yang kurang bersyukur masih berada di keluarga yang utuh. Gue akui, gue pun masih jauh dari kata bersyukur. Sering ngeluh ini itu soal orangtua gue yang bawel, marah terus, dan banyak yang bikin gue sebel. Gue nggak pernah lihat gimana beratnya bertahan ditengah kehancuran kayak lo."


Aby menghela nafas lalu menyandarkan kepala dibahu Bintang. "Capek tau,tang. Kalau aja dulu gue bisa milih terlahir dari orang tua yang kayak gimana, gue pasti nggak milih mereka."


"Seburuk apapun mereka memperlakukan lo, sedalam apapun mereka nyakitin lo, itu nggak bakalan ngerubah apapun,by. Mereka tetap jadi orangtua lo. Lo tetap harus hormatin mereka. Lo ngerti,kan? Buat nggak benci mereka emang nggak mudah. Tapi kebencian nggak bikin lo bahagia, itu poinnya."


Aby menatap Bintang lalu tersenyum lebar. "Makasih,ya. Binbin."


Cowok itu menaikkan sebelah alisnya. "kok Binbin sih, mau gue bantu ingetin?"


Aby menggeleng. "Anggap aja itu panggilan sayang gue buat lo." sahut Aby disusul gerlingan mata.


"Kecepetan nggak, sih, Kalau gue ngomong sayang sekarang?" gumam Bintang lirih, tidak terdengar jelas ditelinga Aby.


"Hah?"


"Lupain,mau kemana lagi?"


"Anterin gue pulang."


...*****...


Aby menelan salivanya susah payah begitu turun dari motor Bintang. Bima yang tengah menggendong Anjing, berdiri diteras rumahnya. Cara cowok itu menatapnya membuat Aby merinding. Apa pergi dengan Bintang adalah sebuah kesalahan? Kenapa ekspresi Bima bisa semengerikan itu.


Aby mencoba mengingat-ingat lagi statusnya. Ia dan Bima hanya teman,kan? Jadi sah-sah saja kalau ia pergi dengan Bintang dan Bima juga tidak berhak marah.


"Gue langsung balik,ya. Sampai ketemu besok." pamit Bintang.


Cowok itu menoleh kearah Bima,mengangguk sekali lalu membunyikan klakson sebelum pergi meninggalkan halaman rumah Aby


"eh ada Bima,hai!" sapa Aby canggung.


"Masuk kamar dan tunggu hukuman dari gue." desis Bima.


Rahang cowok itu yang mengeras membuat Aby was-was.


Hukuman seperti apa yang menantinya?


...*****...


...Tbc...


......UP NICH GUSY......


...HAPOY READING SAAY...


...BOLEH KASIH JEMPOLNYA SAMA COMENT YA ...


...ADA YANG MAU NGASIH PAP NIH DARI ANAK BONTOTNYA MAMA ABY...