
Lampu kamar Aby yang menyalah-lah membuat Bima sampai dikamar gadis itu. Mengetuk berkali-kali, melempari dengan kerikil, bahkan sampai menendang jendela kamar Aby, tapi tidak ada hasil. Bima yakin Aby berada didalam kamarnya karena sekarang lampu balkon dimatikan disusul suara musik yang memekakkan telinga.
Menghadapi Aby, Bima mulai kesulitan mengambil nafas. Kenapa Aby harus sekeras ini? Bima kurang berpengalaman soal cewek, juga begitu asing dengan situasi sekarang ini, membuat Bima bingung dalam mengambil langkah. Biasanya Aby tunduk padanya, kalau marah pun gampang dijinakkan. Modal lima puluh ribu untuk membeli telor gulung, seblak dan juga boba itu sudah lebih dari cukup.
Tapi sekarang?
Dari mana Aby bisa belajar hal-hal sulit seperti ini? Dari mana Aby mendapatkan ide untuk dapat meribetkan Bima? Demi apapun, Bima lebih memilih dihajar habis-habisa. Ia rela babak belur dari pada didiami Aby seperti ini. Bima nyaris gila tanpa hadirnya cewek tidak waras yang anehnya selalu ia harapkan kehadirannya. Hari-hari tanpa memarahi, memeluk, bahkan tanpa berciuman dengan Aby rasanya hampa. Bima kehilangan semangat dalam menjalani hidupnya bahkan untuk bangun tidur saja ia rasanya sangat malas. Beberapa hari ini tidur Bima saja tidak nyenyak, Aby selalu menyapa bersama mimpi buruk.
"jangan kekanak-kanakan Aby! kita perbaiki apa yang salah!"
"tingkah lo nggak keren,sumpah." suara Bima terdengar putus asa.
Berharap pada Aby yang keras kepala, Bima hanya mampu menghela nafas.
Dan untuk kesekian kalinya, Bima gagal.
Akan ia coba kembali peruntungan besok.
...*****...
Usai mematikan musik, Aby menggendong Anjing. Membawa anaknya menuju balkon ia ingin memastikan jika Bima sudah tidak lagi mengganggunya. Berdiri dibalkon kamar, Aby bisa melihat motor Bima baru saja melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Usaha Bima beberapa hari ini memang harus diacungi jempol, tapi maaf saja rasanya belum cukup untuk mampu membuat Aby terkesan dan luluh.
Aby masih ingin melihat kegilaan lain dari Bima untuknya.
"siap-siap ya,Njing bapak lo bentar lagi gila. Kalau nanti gila beneran, mau papa baru modelan gimana? Spek dewa atau spek oppa? Mas-mas cindo juga oke kayaknya."
Kucing dalam gendongan Aby menyahut lirih, ekornya menyapu dagu Aby.
"Bismillah bareng-bareng yuk, semoga dapet anak tunggal kaya raya. Nggak dapet Bima temennya juga nggak papa. Baginda raja Arion misalnya, jadi selir juga nggak papa, sumpah nggak papa."
Anjing kembali mengeong,sudah berpengalaman soal Anjing Aby mampu menyelamatkan tangannya dari cakaran anak pungut.
"Anak pungut kurang ajar! Lo pikir gue kegatelan buat siapa? Buat lo! Mikir! Lo anak pungut tapi banyak gaya! Persis bapaknya!"
Hening.
Seperti biasa jika Aby sudah meninggikan suara, Anjing pasti akan diam seperti anak manis. Melihat wajah nelangsa anak pungutnya Aby merasa bersalah. Ia pun memeluk dan menghujani kepala Anjing dengan ciuman.
Ponsel dalam saku piama Aby bergetar membuat perhatiannya teralihkan. Aby langsung melihat notifikasi yang masuk.
Masuk! Jam segini rawan keranda mayat.
Telor gulung sama sosis bakarnya gue taruh diatas meja.
Itu isi dm dari Bima, kontak WhatsApp cowok itu memang ia blokir nantinya akun instagram Bima akan ia blokir juga. Pasalnya ia sudah sangat risih dengan usaha Bima disosmed untuk mendapatkan maaf darinya. Bahkan Bima mendadak menjadi jamet demi konten. Sound yang Bima gunakan dalam mengedit vidio benar-benar menggelikan. Tidak pantas untuk seorang Bima yang sukanya membantingnya kekasur atau menghimpitnya kedinding.
Saat mengambil plastik diatas meja Aby menyadari keberadaan Bima yang berdiri didekat pintu gerbang. Meskipun mencahayaannya begitu minim, tapi Aby mampu melihat dengan jelas bagaimana ekspresi cowok itu sekarang. Memelas, wajah-wajah orang depresi dan putus asa. Jujur saja Aby sebenarnya menyimpan sedikit rasa kasihan, tapi apa boleh buat. Bima harus paham dengan cara mainnya agar tidak semena-mena.
Saat Bima bersiap-siap menghampirinya lagi,Aby mengacungkan jari tengah lalu masuk kedalam kamar bersama Anjing. Meskipun sedang marah tetapi jajanan Bima tetap ia terima.
...*****...
Minggu sore, bangun tidur Bima langsung menuju ruang keluarga. Hanya ada ayahnya yang sedang menonton televisi. Ngomong-ngomong ayahnya baru saja datang tadi pagi. Tuntutan pekerjaan memang membuat beliau menjadi orang yang paling jarang mengunjunginya.
"mama sama kakak mana,Pa?"
"masih belanja. Bima mau makan? Mama tadi chat papa katanya kamu belum makan siang."
Bima masih dengan wajah lesu-nya menggeleng. Ia masih terlalu mengantuk, cowok itu berbaring meringkuk diatas sofa. "belum laper,Pa."
"makan dulu jangan telat-telat makannya, papa cari nafkah biar kamu nggak kelaperan, tapi malah kamunya gini." Dika mengelus puncak kepala anak bungsunya. Meskipun jarang bertemu tetapi pria itu tau persis bagaimana putranya itu sekarang. Dari beberapa sumber ia mengantongi informasi jika pola makan Bima belakangan ini tidak teratur, banyak tidur,malas-malasan dan juga suka mengurung diri. Beberapa kali Bima juga tidak hadir kegiatan OSIS maupun ekskul.
"nanti kalau laper juga makan."
"mau makan diluar? Mau makan dimana hm? Atau mau papa masakin?"
Bima menutup wajahnya dengan bantal sofa. "aku butuhnya tidur bukan makan."
"tuh mama sama kakak pulang, tadi nyariin."
"bangun kebo! Molor mulu." Laras yang gemas dengan adeknya yang biasanya aktif mengusik ketenangannya, menarik bantal yang menutupi wajah Bima namun tidak berhasil. Tenaga Bima bukan tandingannya.
"Laras udah jangan ganggu adeknya mungkin masih ngantuk. Bima lanjut lagi tidurnya, nanti kalau udah cukup langsung mandi terus makan." ujar Tari seperti biasa membela si bungsu kesayangan.
"lo mau denger cerita serunya kakak nggak,Ma?"
"nggak tertarik!"
"yakin?yah sayang banget, eh harusnya tadi lo ikut Aby aja ikut. Seru banget tadi belanja sama Aby, ya walau agak brisik sih."
Bima melempar bantal dan mengenai wajah Laras sontak membuat Gadis yang lebih tua darinya itu misuh-misuh sambil mengurut hidung bangirnya.
"Aby mana?"
"Udah pulang, nggak mau mampir dia."
"yaah mama...kenapa nggak diculik aja terus disekap disini? Mama juga kenapa nggak bilang-bilang kalau mau belanja sama Aby?! Tau gitu aku kan ikut." omel Bima.
"tadi gue ajakin lo nggak mau." protes Laras.
"gimana sih bambang?!"
Dada Bima naik turun menatap jengkel kearah Laras yang kini tengah memakan cookis.
"udah-udah jangan brantem.kamu mandi Ma kamu juga Laras." lerai Dika.
Saat hendak bangkit, lengannya ditahan. Bima menoleh menatap ibunya yang mengangsurkan ponsel.
"udah mama telfonin Aby, Bima boleh ngobrol dulu sama Aby. Tapi, habis itu mandi trus makan,ya?"
Bola mata Bima berbinar.
Cowok itu langsung meraih ponsel milik Tari lalu mendekatkan ketelinga.
Tante? Kok nggak ada suaranya? Tante Tari? Hallo, tante?
Baru mendengar suara Aby saja sudut bibir Bima sudah berkedut.
Senyumnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
"najis, udah jadi bulol. Bucin tolol." cibir Laras.
"hal---"
Tut tut tut.
Mata Bima langsung berkaca-kaca, senyumnya seketika luntur, ia kembali lesu. Mencoba menelfon kembali, tidak diangkat.
Tari yang melihat itu, mengusap punggung lebar putranya. "nanti malem mama telfonin lagi sekarang kamu mandi, mukanya udah kucel banget. Belom mandi dari pagi kan? Mama siapin makan malam."
"janji dulu, telfonin Abynya. Paksa Aby biar mau ngomong sama aku,Ma."
"iya,janji."
"aku pegang janji mama, jangan ingkar janji."
"kapan mama ingkar janji sama Bima?"
"nggak pernah."
Laras yang kesal dengan tingkah adeknya pun melempar bantal kearah wajah cowok itu. "mandi sono, bau! Aby mana doyan sama cowok gembel kumel kayak lo. Gue pap nih, biar Aby ada bahan buat hina lo."
"Bimaaaaaaaaa!" Laras memekik saat kepalanya ditarik kearah ketiak adiknya. "adek nggak ada akhlak!"
...*****...
Ada kejadian langka senin ini. Bima Antanandra yang biasanya terpilih menjadi pemimpin upacara saat OSIS bertugas, kini tengah digiring guru BK saat upacara tengah berlangsung. Bima terlihat lemas seperti darah rendah berdiri diujung kanan. Terlambat, tidak mengenakan topi serta menggunakan kos kaki hitam menjadi poin-poin yang membuatnya berbaris terpisah.
Dalam sejarah, ini adalah kali pertama Bima melanggar aturan. Pelanggaran hari ini membuat Bima bukan lagi murid terdisiplin.
Peserta upacara banyak yang membicarakan soal Bima. Termasuk biang kerok yang pagi ini merasa bangga karena merasa lebih baik dari Bima.
"pelan-pelan anak kalem." Gilang menepuk punggung Arion yang tersendak susu kotak. Jarang-jarang ada kesempatan memukul Arion, Gilang pun sengaja memukul punggung Arion lebih keras lagi. Arion sampai mengaduh kesakitan, susu kotaknya sampai terpental jauh karena ulah Gilang.
Gilang nyengir lebar saat Arion menatap galak padanya. Lengannya yang baru saja ditonjok, diusap-usap. Tinjuan Arion memang pelan, tapi pas sekali mengenai luka memarnya.
"itu beneran Bima bukan sih? Jangan-jangan jin bentuk dia lagi." celetuk Satria yang berdiri dihadapan Arion. Postur tubuhnya yang tinggi besar memang selalu menjadi pelindung untuk anak sultan agar tidak kepanasan saat upacara.
"percuma bokap lo bayar listrik mahal-mahal kalau nggak bisa nyentrum otak lo." sinis Arion lalu mengeluarkan kotak susu baru.
"gue serius, Bima kayak beda mana kucel banget. Jiwa dukun gue jadi pengen ngeramal." Satria melepaskan topinya untuk dijadikan kipas.
"kayak gejala bulol bukan,sih? Bima jadi tolol soalnya. Ntar gue hina-hina sampe lulus SMA."
"join,lang. Ntar gue mau cepuin ini ke kucing garong, pasti rame." sambung Satria.
"kucing garong? Siapa? Bima punya cewek? Bukannya lagi deket sama adek kelas? Si kunci kunci."
Gilang dan Satria kelepasan tertawa.
Hening. Mereka mulai berhitung mundur.
Tiga,dua,...
"Arion, Gilang sama Satria silahkan keluar dari barisan dan bergabung dengan barisan dikanan saya." pembina upacara yang tengah memberi amanat menginterupsi."
Tepat seperti dugaan tak lama kemudian pak Waryono datang. Arion, Gilang, dan Satria kompak nyengir lalu mengekori beliau.
...*****...
"Hasil ulangan dipertemuan sebelumnya, nilai tertinggi diarih oleh.....selamat kepada Bayu Putra Pradana untuk nilai sempurna-nya."
Kelas mendadak hening.
Tebakan seisi kelas meleset jauh.
Bima penasaran,setolol apa dia sekarang ini. Sepertinya bukan tolol lagi tapi sudah idiot.
"Untuk Bima Antanandra bisa temui ibu di jam istirahat nanti untuk perbaikan nilai."
Perbaikan nilai?
Seorang Bima remedi?
Hanya Bima?
Jika ini hanya sebuah bercanda kenapa garing sekali?
Perhatian seisi kelas tertuju pada Bima yang terlihat syok berat. Ini adalah kali pertama ketua OSIS itu remedi. Sebelumnya nilai tertinggi selalu ia kantongi. Nilai-nilainya selalu nyaris sempurna. Lalu sekarang...benar-benar membuat stres.
Bayu duduk tepat dibelakang Bima mencondongkan badan lalu bertanya dengan suara lirih. "lo beneran oke kan,Ma?"
Meski belum sepenuhnya menerima hal-hal bodohnya, Bima memberi anggukan sebagai jawaban.
Kelopak mata Bima menutup sewaktu pelajaran dimulai. Kepalanya dipukul sekali karena ia merasa sangat kesulitan dalam menyerap ilmu yang tengah diterangkan guru. Biasanya tidak seperti ini. Membuka kelopak mata, Bima mencoba kembali membaca materi pada buku paket. Ia memberi sekali lagi kesempatan pada otaknya.
Sialnya otak Bima memang sudah tidak berfungsi. Bukannya paham Bima malah semakin terlihat bodoh. Hasrat ingin mencekik lehernya semakin nyata ia rasakan.
Bima mengangkat tangan, meminta izin untuk pergi ke UKS. Setelah diinterogasi ia pun diizinkan. Awalnya Bayu menawarkan diri mengantar Bima namun cowok itu menolak. Bima masih bisa sendiri.
Seisi kelas menatap kepergian Bima yang sangat terlihat kacau belakangan ini.
Tidak fokus, ceroboh, banyak melakukan kesalahan, dan fatalnya sampai pada nilai yang turun drastis. Seperti bukan Bima.
Lo harus tanggung jawab.
Sekarang gue jadi orang bego.
Tol*l.
Ceroboh.
Nggak guna.
Ini semua karna lo.
Selesain masalah kita sebelum gue beneran nggak waras karna lo!
Setelah mengirim pesan itu pada Aby dengan nomor baru, Bima berbaring diatas ranjang UKS. Ia yang terbiasa sempurna selalu berada dipuncak, rasanya sulit sekali menerima apa yang terjadi belakangan ini.
Pengaruh Aby ternyata sebesar itu.
Baru didiami beberapa hari ini saja Bima sudah sangat kacau.
...*****...
"Bima? Om kira siapa pagi-pagi udah bertamu." ujar Ali membuka pintu.
Bima menurunkan tudung hoodie yang ia kenakan. Pemuda itu tersenyum lebar, akhirnya pagi ini ada yang membukakan pintu setelah lima hari kemarin usahanya tidak membuahkan hasil. "maaf ganggu waktunya om."
"santai aja kayak sama siapa. Mau cari Aby,ya?"
"iya, Aby-nya ada kan om?"
"ada, ayo masuk. Aby belum turun, masih siap-siap."
Begitu dipersihlakan masuk, Bima mengekor dibelakang Ali melangkah menuju ruang makan.
Melihat banyak sekali makanan tersaji diatas meja,Bima terdiam sejenak. Nasi goreng buatannya yang biasanya ia hidangkan untuk Aby, pagi ini mungkin tidak ada artinya. Sepertinya ia tidak perlu memberikan nasi goreng yang sekarang ada dalam ransel ia buat subuh tadi.
"udah sarapan,Ma? Sarapan disini,ya. Aby pasti lahap kalau ada Bima. Sini Ma, biasanya juga nggak pake malu-malu. Jarang kesini bikin kamu canggung,ya?" Ali yang tidak sadar dengan Bima hanya diam saja pun menarik lengan lelaki itu hingga duduk dikursi kosong disebelahnya.
Ketika piring kosong dihadapannya tengah diisi oleh Ali, Bima memeriksa kakinya. Senyum cowok itu mengembang saat melihat anak pungutnya menduselkan kepalanya pada betis Bima. Kucing berbadan gempal itu pun diraih dan di peluk.
Ia merindukannya, terlebih pada ibu angkat anak ini.
"Anjing nggak tau diri,nggak bapak nggak anak sukanya nyakitin gue. Awas aja gue cakar balik tau rasa lo. Dasar anak durhaka, beban dunia, nggak guna, Nyusahin. Kenapa harus ikut gue sih? Ikut bapaknya aja sono biar gue bebas nyari cadangan."
Mendengar suara gerutuan yang sangat ingin ia dengar selama beberapa hari ini, Bima menggendong Anjing bangkit dan menoleh. Aby ada dihadapannya sekarang, cewek itu sibuk menggerutu serta mengupat sambil melangkah dengan fokus tertuju pada lengan kiri yang baru saja mendapat cakaran.
"An-----" Aby tidak melanjutkan upatannya karena begitu mendongakkan kepala sosok Bima berdiri menjulang dihadapan Aby. "kok lo disini?"
"nomer gue diblokir, gue samperin kesekolah lo nggak ada, gue ketok jendela tiap malam nggak pernah lo buka...belom cukup?" tanya Bima dengan lirih agar tidak dicuri dengar oleh Ali yang sudah mulai sarapan.
Mengabaikan Bima, Aby melewatinya begitu saja berjalan menyapa sang ayah dengan riang, memberi kecupan dipipinya lalu mengisi kursi kosong dan mulai menyantap menu sarapan dengan lahap.
"Ma,kok diam disitu? Sini! Sarapan bareng."
"iya om."
Menurunkan kucing dari gendongannya, Bima lantai mencuci tangan sebelum akhirnya duduk dengan membuat jarak sedekat mungkin dengan Aby. Kursinya digeser pelan-pelan agar tidak terlalu kentara modusnya.
"Aby mau nambah yang mana? Biar Papa ambilin." tawar Ali.
"nggak mau sarapan banyak-banyak,Pa. Maunya jajan banyak disekolah. Sekarang banyak yang ngasih jajan, kemaren aku dijajanin Bintang,sama dimas juga."
Ali tertawa pelan. "uang jajan Aby kurang? Papa tambahin uang jajannya, ya? Biar Aby bisa jajan sepuasnya biar nggak minta lagi."
Mulut yang terisi penuh dengan makanan membuat Aby kesulitan untuk menjawab. Ia pun hanya menggeleng lalu mengunyah lebih cepat. "nggak perlu,pa. Lebih enak dijajanin, hehehe."
"pulang sekolah jajan seblak sama boba,ma? " tawar Bima tiba-tiba.
Aby menatap malas kearah Bima. "pulang sekolah gue sibuk, ada les matematika, lusa mau ulangan."
"les matematika?" beo Bima.
Ngomong-ngomong statusnya masih sama,kan? Selain pacar, ia juga merambat sebagai tutor,Aby?
"om jadi keinget sesuatu, dari kemaren om pengen ngasih tau kamu tapi lupa terus,Ma. Sekarang Aby udah punya tutor baru jadi Aby nggak bakalan ngerepotin atau ganggu waktu belajar kamu lagi."
"tutor baru?"
Baru beberapa hari kenapa sudah banyak yang berubah? Bima sangat belum siap dengan semua ini dimana Aby tidak membutuhkan perannya lagi.
"anak temen om baru lulus kuliah kebetulan lagi senggang."
"aku nggak ngerasa direpotin kok om. Biar aku aja yang jadi tutor Aby, aku juga nggak....."
"gue yang nggak mau punya tutor kayak lo."
Sela Aby seraya menepis kuat tangan Bima yang diam-diam berusaha meraih tangan kirinya. Tak cukup dengan itu, kaki Bima yang sedari tadi caper pun ia tendang.
"biar Aby sama tutor barunya aja, Ma. Om juga nggak enak sama kamu kalau Aby ngerepotin kamu terus. Oh iya satu lagi, sekarang Aby udah punya sopir pribadi, jadi kamu nggak perlu nganterin Aby kemana-mana lagi. Pokoknya kamu sekarang bebas dari Aby."
"padahal Aby bisa nyetir sendiri. Papa lebay banget." dumel Aby.
"papa tau gimana kamu kalau bawa mobil sendiri By, papa cari aman."
"ah papa nggak seru! Kayak nggak pernah muda aja."
Tawa Ali mengudara sementara Bima sedari tadi hanya diam ia semakin diliputi ketakutan jika cepat atau lambat, Aby benar-benar sudah tidak membutuhkan hadirnya lagi.
Ponsel Aby bergetar, meski sarapannya belum dihabiskan Aby tetap mengecek ponselnya. Ali sudah menegur tapi Aby hanya cengar-cengir.
"kok udahan? nggak dihabisin dulu?"
"Bintang udah didepan. Aby berangkat sama Bintang,ya pa. Pulangnya juga."
"nggak boleh!"
Bukan Ali yang melarang tapi Bima yang siap meledak.
"nggak butuh persetujuan lo!"
"Aby." geram Bima berusaha kuat mengontrol diri
"Aby berangkat dulu,ya Pah. dadaaah!" sedetik setelah mencium pipi ayahnya, Aby berlari seperti anak kecil
"Aku duluan om." pamit Bima
...*****...
Baru hendak meraih handle pintu utama, Aby dibekap dari belakang tubuhnya melayang. Ia sudah berusaha memberontak namun tidak membuahkan hasil tenaganya kalah jauh dari seseorang yang tengah membawanya kearah kamar tamu. Setiap pergerakan bima terlalu cepat, gadis itu selalu kalah. Kini kamar tamu sudah dikunci dan kuncinya ada dikantong celana abu-abu cowok dihadapannya.
"cukup Aby! Cukup! Lo maunya apa sih?!" erang Bima frustasi. "lo tau gimana,kan kesabaran gue? Apa ini semua belum cukup?"
"mau gue? Gue cuma mau put----" kalimat Aby terendam saat Bima membungkam bibir Aby dengan bibir cowok itu.
Bima terpaksa melakukan itu karena ia tidak ingin mendengar kata putus dari kekasihnya. Setelah itu ia memeluk gadis-nya erat-erat.
"nggak, jangan. Gue nggak mau putus, jangan ngomong kayak gitu. Lanjutin aja marahnya gue tungguin sampe lo mau maafin gue. Tapi...jangan putus." gumam Bima lirih saat kepalanya tenggelem di ceruk leher Aby
Sedetik kemudian Bima memekik. "Aaaabyyyy!"
...*****...
...tbc...
...ada yang kangen mas Bima nggak?...
...atau malah kangen mama Aby?...
...pasti kangen Anjing nih si anak lucu nan bahenol...
...jangan lupa kasih dukungan ya sama kasih vote seninnyaa besok...
...bye bye sayangku...