
"kak, lo pulang aja deh gue anterin sekarang yuk! Rumah kosong,kan? Nggak baik kalau rumah sering dikosongin, kalau ada penghuni lain gimana?"
"siap-siap sana! Kalau lo males, gue mau kok beresin barang-barang lo. Jangan nunggu besok pulangnya, kelamaan. Sekarang aja."
"sekalian jalan gitu, ntar gue beliin apapun yang lo mau deh."
Bima tidak berhenti berusaha mengusir Laras. Waktunya kini tidak banyak mungkin sebentar lagi Aby kembali. Tamatlah riwayatnya jika Laras sampai membeberkan hal-hal bodoh yang pernah ia lakukan untuk Aby.
"Apaan sih,Ma? Orang gue mau nginep sini. Udah janjian juga tadi sama Aby mau tidur bareng buat gibahin lo." Laras mengatakan itu dengan begitu tenang. Sebisa mungkin ia menahan tawa kala melihat ekspresi si bontot kesayangan keluarganya.
"mumpung gue masih baik, mending lo pulang." bermaksud menggertak kakaknya, Bima melakukan peregangan otot. Sayangnya Laras tidak ada takut-takutnya.
"apaan sih, jangan berisik deh lo ganggu konsentrasi gue. Kegilaan lo ke Aby itu udah banyak banget, bingung mau spill yang mana dulu. Menurut lo, bagusan yang mana?"
"kak Laras!" erang Bima. Cowok itu melempar barang-barang yang ada disekitarnya ke arah Laras. Anjing yang tengah tidur nyaman disampingnya saja hampir dilempar untung saja Bima cepat sadar jika itu sampai terjadi bisa Bima prediksikan nasipnya yang didiami Aby sampai tahun depan akan menanti.
"kayaknya pergibahan gue sama Aby paling bagus mulainya dari yang tadi sore aja nggak sih,Ma? Apa lagi pas lo ngadu ke Mama tadi, dijamin Aby bakalan ngamuk sama lo."
"lagian badan doang gede, pake gayaan sok cuek,sok sangar lagi didepan Aby. Diputusin nangis kan lo." sudah sangat jelas dari tawa Laras ia sangat puas akan penderitaan Bima saat ini.
Bima bangkit dan Laras buru-buru kabur dari hadapan adiknya itu sebelum tubuh mungil nan imutnya ini berubah menjadi adonan kue.
"Ma,kak Larasnya, rese!" adu Bima menunjuk Laras yang kini berdiri dibelakang sofa yang diduduki Tari dan Dika.
"kak, jangan tunggu mama marah dulu. Mama kan udah bilang buat nggak ganggu adek kamu. Ntar ngambek lagi kan kita semua juga yang repot." ujar Tari.
"Beresin kerjaanmu aja Ras, jangan gangguin si bontot."
Mendapat pembelaan dari orangtuanya Bima tersenyum puas. Jelas dibela, dikeluarganya tahta tertinggi tentu saja diraih oleh Bima,si bungsu kesayangan dan untuk tahta terendah dikeluarganya ini tentu tidak bukan ditempati oleh kedua kakaknya yang sering ia jahili, dijadikan babu, dan juga dikambing hitamkan.
Saat melangkah mendekati Bima, laras menangkap senyum tanda bahaya. Jika saja tidak ada orangtuanya, ia mana mau meminta maaf. "kakak minta maaf,ya udah gangguin tadi."
Bima mengangguk, senyum yang terbit membuat dua bola matanya nyaris tak terlihat. Tentu Laras semakin curiga, didetik pertama Bima menyambut uluran tangannya , Laras melotot. Tangan besar cowok itu meremas kuat tangan mungilnya dengan tenaga penuh. Laras sampai menghentakkan kaki, ia terus berusaha agar jabatan tangannya dengan Bima segera terlepas sebelum remuk.
"udah gue maafin kok,kak. Gue juga maklum sama lo yang emang rese, nggak bisa dijadiin panutan buat adeknya,...."
"iya, iya Ma. Gue emang bukan kakak yang baik. Bisa dilepas tangannya?" cicit Laras.
Begitu terlepas dengan segera Laras mengibaskan tangannya yang sudah memerah. Ia menatap ngeri kearah adiknya. Dasar psikopat!"
"adeknya nggak dipeluk,kak?" celetuk Tari.
Dipeluk? Yang ada ia beneran jadi adonan kue. "enggak dulu deh,Ma. Aku mau beresin kerjaan. Aku masuk kamar dulu ya Ma,Pa." setelah itu Laras langsung berjalan kabur.
Baru saja ingin hendak bergabung dengan orangtuanya, suara bel terdengar. "Ma, itu pasti Aby, Mama aja yang bukain pintunya,ya."
"ini mama lagi yang maju? Kan Bima yang kepengen Aby disini."
"turutin aja kemauan anak bungsu,Ma." ujar Dika.
"oh iya, mama nggak boleh ngomong macem-macem ke Aby soal tadi sore."
"iya sayang, rahasia kamu aman. Yuk,Pa! Sambut calon mantumu." ajak Tari yang diangguki oleh Dika. Saat keduanya beranjak diekori Bima dari belakang. Jujur, ia bahagia bukan main karna semua rencana yang ia susun berjalan dengan mulus. Tapi, tentu saja Bima harus menjaga ekspresinya, ia tidak boleh menunjukkan kebahagiaannya dihadapan Aby. Ya gensi lah!
"Aby kok sendirian? Papa sama Tante Tiara mana,sayang?" tanya Tari begitu lembut kepada Aby sehabis mencium punggung tangannya.
"tadi aku kesini dianter sopir,tante."
"udah numpang gayanya udah kayak tuan rumah. Apa-apa harus diladenin. Cih." sinis Bima yang tiba-tiba saja muncul lalu menyeret koper Aby dengan terpaksa. Mana tega Bima melihat Aby membawa koper besarnya itu.
Aby tidak menyuruh Bima untuk membawakan kopernya loh, kok Bima.... Dasar bapaknya Anjing!
"Yuk masuk By, jangan sungkan-sungkan ini kan rumah Bima, rumah Aby juga. Nanti kalau udah nikah sama Bima, kamu juga bakalan tinggal disini." ajak Tari.
"idih, siapa juga yang mau nikah sama cewek yang banyak makan, rugi banyak yang ada." cemooh Bima.
Kalau saja tidak ada Tari dan juga Dika disini Aby pastikan telapak tangannya ini akan bertengger manis dikepala dan juga mulut kurang ajar Bima.
"Bima nggak boleh ngomong gitu, nggak baik. Nanti beneran nggak jodoh karna di Aaminin tuhan aja ketar ketir." nasihat Dika.
"sebenernya aku nggak enak nginep disini, tante. Aku pulang aja ya, aku nggak papa kok dirumah sendirian, uda biasa juga jadi aman pokoknya. Dari pada disini juga, kayaknya Bima nggak suka dan kurang nyaman aku disini."
"nggak usah sok tau! Tinggal nginep doang banyak omong." jawab Bima sinis.
"Aby disini aja ya. Biar tante bisa urus Aby, Bima juga nggak masalah kok. Mana mungkin Bima nolak Aby, mana bisa kan?"
Gagal lagi, aby sudah kehabisan akal untuk mencari alasan agar bisa pergi dari rumah Bima. Siapapun tolong selamatkan bibir dan leher Aby dari makhluk soang seperti Bima. Carikan Aby tepat yang aman, angker juga nggak papa.
"Ma? Kok kopernya dibawa kekamar kamu?" heran Dika saat melihat putra bungsunya membuka pintu kamarnya sendiri.
"Aby mau nginep disini,kan?"
"iya, tapi nggak dikamar kamu juga,kan? Aby tidurnya dikamar tamu kan bisa, kayak nggak ada kama lain aja."
Bima langsung melempar koper Aby. "bawa sendiri koper lo! Jangan manja!" setelah mengatakan itu Bima langsung memasuki kamarnya.
"Bima kenapa sih,tante? Aku jadi makin nggak enak."
Tari tersenyum hangat seraya mengusap punggung Aby. "kayak baru kenal sama bujangnya tante aja, kalau sama Aby kan emang gitu aslinya lagi caper tuh anak. Banyakin sabar aja, ya By. Bima adanya kayak gitu tapi soal sayangnya ke Aby boleh diadu."
...*****...
"tante ganggu kamu,ya?" tanya Tari tak enak hati pada Aby yang baru saja membuka pintu kamar.
"nggak kok tante."
"Aby lagi ngapain?"
"lagi ngerjain tugas, Tan. Besok pagi mau dikumpulin."
"kebetulan banget. Tante kesini mau minta tolong."
"Minta tolong apa, ya Tan?"
Sebenarnya Aby sudah mulai curiga jika ini pasti ada hubungannya dengan Mantan soangnya itu.
"Itu, temenin Bima belajar. Belakangan ini nilai Bima turun banget katanya cepet bosen kalau belajar sendirian. Aby bisa temenin Bima? Sekalian belajar bareng gitu, nanti kalau kamu nggak bisa ngerjain soal kan gampang tinggal tanya ke Bima."
Aby ingin menolak tapi ia segan. Tari selalu memperlakukannya dengan baik, dengan terpaksa Aby mengangguk lalu menyiapkan buku yang perlu dibawa untuk belajar bersama Bima. Awalnya ia kira belajar diruang tengah, tapi ternyata dikamar cowok itu. Sampai sini sudah jelas kan jika ini adalah akal busuk si soang kelebihan hormon!
"Ma, belajarnya sama Aby,ya. Nanti kalau Aby nggak bisa ngerjain soal atau nggak ngerti dibantuin."
"Males,ah Ma. Lagian tugas siapa yang repot siapa. Mana Aby tuh brisik nggak bisa anteng. Pasti aku nanti jadi nggak konsentrasi belajarnya." keluh Bima lalu membanting tubuhnya diatas ranjang. Bukan, bukan itu yang sebenarnya mengganggu konsentrasinya. Tapi leher jenjang Aby yang terekspos menggoda. Ditambah bibir Aby. Sepertinya kini Aby tengah menggunakan liptin yang berbeda dari liptin yang biasanya Aby kenakan. Bima kan jadi penasaran rasanya, sialan!
"tapi yaudah deh kalau mama maksa, suruh masuk aja." sambung Bima.
Tari pun mendorong punggung Aby masuk lalu menutup dari luar.
"nggak usah caper,deh. Kan lo sendiri yang minta putus mana sok-sokan minta gue pergi." sinis Bima.
"lo yang caper! Tukang ngadu! Jangan harap gue bakalan kalah dari lo,ya! Tunggu aja pembalesan gue. Bakalan gue bikin lo nggak tenang disini."
Kini giliran Bima yang menggulu buku. Ingin memukuki Aby dengan itu, namun urung karna alasan tak tega dengan mantan kesayangannya. "ada orang numpang yang nggak tau diri modelan lo?"
"bodo amat, gue nggak peduli."
"gue juga nggak peduli."
Aby menatap sinis kearah Bima. Teringat dengan tugas dan juga ambisinya yang ingin menjadi juara kelas, Aby lalu membanting buku-bukunya dilantai lalu mulai mengerjakan tugasnya.
"ya nggak dilantai juga, dingin pindah sini."
"nggak usah brisik bisa nggak sih, Ma. Lagian suka-suka gue dong mau ngerjainnya dimana."
"disitu dingin."
"ya biarin, apa urusannya sama lo?!"
"batu aja minder sama sifat lo. Keras kepala! Ngerepotin terus!" omel Bima lalu membopong tubuh Aby dengan begitu mudahnya lalu dibantingnya diatas kasur.
"Bimaaa!"
"sini tugas lo, gue aja yang kerjain biar lo cepet pindah keasal lo." buku ditangan Aby direbut paksa. Wajah kelelahan gadis itu membuat Bima kasihan. Jadi, biar Bima saja yang mengerjakan tugas Aby.
"nggak, balikin! Gue bisa sendiri!" tolak Aby. Bukunya yang kini berada ditangan Bima berusaha ia rebut kembali hingga terjadi aksi tarik-menarik yang cukup sengit antara dirinya dan Bima. Meskipun sudah tau ujungnya ia akan kalah dari Bima namun ia tetap berusaha, seluruh tenaga ia kerahkan.
Bima tersenyum miring lalu melepaskan Buku secara tiba-tiba hingga Aby terpental kebelakang. Cepat-cepat ia bergerak mengurung Aby yang terlentang diatas ranjang.
"kena lo." seringai tipis kini sudah terbit dibibir Bima saat ibu jari cowok itu menyentuh lembut bibir Aby.
"lo juga kena!" sedetik kemudian ia meremas kuat dada Bima hingga mampu membuat sang empu mengaduh kesakitan. Tak sampai disitu Aby juga setengah bangkit untuk menggigit dagu Bima.
"cewek sarap!" kesal Bima dengan keganasan Aby.
"makanya jangan main-main sama gue!"
"gue gigit balik, nangis lo!" cemooh Bima lalu turun dari ranjang untuk memeriksa dagunya. Jejak gigitan Aby sangat terlihat jelas disana. Mau gigit balik tapi takut keenakkan.
"gue lagi males buat nyakar lo jadi nggak usah ganggu gue. Gue mau lanjutin nugas, lo ada tugas kan? Sono kerjain nggak usah caper ke gue." ucap Aby lalu mulai mengerjakan tugas disamping Bima yang sudah duduk kembali disebelahnya.
Sepakat untuk tidak saling mengganggu, keduanya pun sibuk dengan tugas masing-masing. Aby yang dasarnya memang tidak bisa diam, tidak bisa sefokus Bima. Bentar-bentar cek-HP, ngeluh, guling-guling diatas ranjang, hingga sampai mengusili Bima, untung saja tidak sampai kayang. Kesabaran Bima benar-benar diuji disini. Apa lagi saat kepala Aby berada diatas LKPDnya. Bima sampai membasahi bibirnya melihat tingkah Aby. "ntar gue bales kelakuan lo, nangis."
"dih, serius amat. Nggak bisa becanda nih."
"diem! Nanti brisiknya kalau tugas kita udah selesai. Sekarang tolong diem ya bacotannya. Oh iya, lupa gue ngasih tau lo kalau kamar tamu yang lo pake agak angker apa lagi dibawah kasur, jangan pernah lo lihat kesana. Mukanya nyeremin mana kuku hantunya tajem panjang lagi, terus---"
Dengan segera Aby naik keatas punggung Bima yang sedang tengkurap, gadis itu langsung membungkam mulut Bima agar berhenti berbicara omong kosong yang mana mampu membuat Aby merinding.
"makanya lo tidur sama gue, dijamin aman."
"aman pala lo!" upat Aby. Rambut Bima yang wangi membuat Aby betah berada diposisinya. Hidungnya mengendus kepala Bima lalu dengan iseng meniup leher Bima.
"lo yang mulai,By jangan salahin gue."
...*****...
"kak udah malem, papa pasti nyariin aku. Aku bisa pulang sendiri jadi kakak nggak perlu anterin aku. Yang penting biarin aku pulang." pinta Keyla hati-hati. Tahu dengan baik bagaimana watak seseorang yang sangat ingin ia lupakan, Keyla tidak mau sampai membuat pemuda itu tersulut emosi. "boleh,ya."
Keputusan Bima meminta tolong kepada Bintang untuk mengantarkannya pulang adalah suatu kesalahan besar. Bima tidak tahu saja seberapa mengerikannya Alanda Bintang Nirwana.
"yaah,kok pulang? Aku masih kangen Key. Keyla nggak kangen?" balas Bintang yang masih setia duduk disamping Keyla yang ketakutan. Sangat menggemaskan. Bintang sangat suka jika Keyla ketakutan,apa lagi jika itu karnanya.
"nanti papa khawatir. Besok kan bisa bareng lagi."
"bohong! Key pembohong! Key jauhin aku!" teriak Bintang. Sejak mengakhiri hubungan secara tiba-tiba, gadis-nya ini menjauh darinya. Padahal ia tidak setuju akan hal itu, baginya Keyla masih miliknya. Sampai kapanpun.
"kak Bintang---"
"tetap disini atau aku bakalan lakuin hal sesuatu yang menarik ke kakak tiri kesayangannya Key. Ah, padahal Aby udah sering jahat sama Key, kenapa key masih belain dia sih? Kalau Key minta Aby mati aku pasti bakalan ngelakuinnya dengan senang hati." ujar Bintang lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Keyla. Jemari lentik gadis itu ia mainkan.
"aku muak pura-pura baik sama orang yang seharusnya mati karna jahat sama Key." Bintang membelai lembut pipi Keyla lalu meninggalkan kecupan lembut. Keyla semakin ketakutan.
Dulu, Bintang tidak seperti ini.
Bintang lelaki baik.
Hingga sedikit demi sedikit sifat mengerikannya muncul begitu tahu ia sering dibully oleh kakak kelasnya. Karna itu pula lah Keyla mengakhiri hubungannya dengan Bintang. Namun keputusannya itu mampu membuat Bintang menggila. Aby menjadi sasaran utama cowok sadis itu sekarang. Sebelumnya Keyla memang banyak menceritakan perihal calon kakak tirinya. Bintang juga tahu, bagaimana Keyla menyayangi Aby sekalipun Aby tidak menerima akan hadirnya.
"jangan! Jangan apa-apain kak Aby. Aku mohon!"
"Ah indahnya, memohon lah sekali lagi. Suara memohonmu membuatku candu."
"aku mohon, jangan sakiti kak Aby. Kak Bintang sayang kan sama aku?"
"Key masih raguin soal itu? Aku tersinggung Key. Keyla harus tau kalau aku Bintang orang yang paling sayang sama Key. Inget itu baik-baik."
"maaf."
"dimaafin sayang, key harus inget kalau sekarang Aby deket sama aku. Untuk nyakitin Aby itu perkara mudah. Oh iya, Key suka model sayatan kayak gimana? Bikin gampar? Atau zig zag dilengan? Ah iya, aku bikin nama Key aja. Maunya di punggung, kaki atau lengan Aby?"
Keyla menggelengkan kepalanya dengan tegas. "jangan."
"Aby jaminan untuk Key nggak kabur. Aku pastiin Aby pulang dengan keadaan tubuh terpisah kalau sampai key kabur dari aku. kamu paham,kan honey? Dan kalau Aby jahatin Key berlebihan, Key juga jangan larang aku buat balas itu semua ke Aby. Aku nggak suka sama orang yang nyakitin kesayangannya aku."
"nggak! Kak Aby orang baik. Kak Aby nggak pernah jahat."
"Key bohong lagi, tadi aja Aby dorong Key sampe berdarah. Mau aku bales?"
"jangan!"
"oke. Tapi cium dulu,disini."
...*****...
...tbc...
...ada yang nyangka soal Bintang?...