Relation(Shit)

Relation(Shit)
TIGAPULUH



"hebat!" puji Aby dengan nada sinis pada cowok yang tengah berdiri dihadapannya. Kuku panjangnya sengaja ditekan kuat ke lengan Bima sampai ringisan kesakitan cowok itu keluar.


Aby tidak peduli. Bahkan ia sudah ingin sekali mencakar muka Bima dengan kuku panjangnya.


Ngomong-ngomong Gilang dan Satria sudah berhasil Bima usir. Cowok itu tidak mau masalah rumah tanggannya sampai ditelinga orang lain. Cukup Tuhan, Ia, Anjing dan Aby saja yang tahu. Menggeser duo ember itu memang tidak mudah. Penawaran yang mungkin kedepannnya akan menambah beban terpaksa Bima iyakan. Untuk memastikan mereka tidak koar-koar, Bima juga terpaksa menuruti apa yang mereka inginkan.


"Lucu banget. Cewek lain aja dibaik-baikin. Cewek sendiri malah dicaci maki, dihina, disosor, digrape-grape, dicupang, trus diapain lagi,Ma? Bantu sebutin kelakuan buruk lo,gue lupa." pinta Aby. Mundur beberapa langkah punggungnya bersandar di dinding. Tatapannya tidak lepas dari Bima yang seperti tidak merasa persalah kepadanya. Padahal kelakuan lelaki itu sangatlah fatal kepadanya.


Sedikit malas, Bima menjawab." dibohongin, dikasarin."


"seburuk itu lo ke gue. Gue pikir lo juga lakuin hal yang sama ke cewek lain. Ternyata...caper lo?"


"gue nggak ada maksud buat itu."


"gue tau. Lo cuma pengen kelihatan paling wow dalam segala hal,kan? Emang pencapaian lo selama ini belum cukup,ya? Belum ngerasa cukup sama apa yang ada sekarang? Padahal, lo udah sempurna dimata orang lain,Ma. Pengakuan kayak gimana lagi yang lo cari? Pujian kayak apa lagi yang mau lo denger?"


Bima mulai diliputi rasa bersalah. Meski Aby telah memberi peringatan padanya untuk tidak mendekat, ia tetap nekat. Bahkan Aby yang sudah menggulung lengan baju dan mengepalkan tangan memberi ancaman, tidak membuatnya takut. Dalam satu kali gerakan, Bima berhasil meringkus tangan aby. Sayangnya Bima melupakan kaki gadis itu hingga ia kecolongan. Tulang keringnya ditendang kuat. Tenaga Aby memang tidak bisa diremehkan, Bima saja mengupat kasar disusul merintih kesakitan


"Ngapain lo? Lo mau nyium gue? Trus banting gue kekasur? Atau malah mau lo perkosa? Jangan anggap gue tolol yang bakalan murah maafin lo gitu aja,Ma. Bahkan gue jadi ragu tengang kita yang bakalan lanjut atau udahan sampai disini!" sinis Aby tak peduli dengan Bima yang kesakitan.


Bima yang mendengar itu panik bukan main. "kita bisa bicarain ini dulu. Soal Keyla kita bisa omongin ini baik-baik."


"nggak ada yang perlu di omongin lagi. Gue nggak sedih pas tau lo ngeistimewain cewek lain disaat lo memperlakukan gue dengan buruk. Gue juga nggak kecewa apa lagi cemburu. Mau jelasin kayak apa? Cewek lo ini nggak peduli sama apa yang lo lakuin."


Bohong.


Bima tahu Aby berbohong. Mata gadis-nya berkaca-kaca sudah cukup menjelaskan bagaimana perasaan Aby sekarang. Marah saja rasanya tak cukup untuk melampiaskannya. Mungkin sudah di level kecewa.


"mungkin lo udah bosen dengernya. Tapi gue serius buat minta maaf."


"simpen maaf lo,Lo nggak salah. Lo emang harus jadi orang baik. Guenya aja yang emang terlalu berharap pengen dibaikin sama orang kayak lo. Mending lo gabung sama temen-temen lo. Jangan disini sama gue, gue bawa pengaruh buruk. Nanti citra lo kecoreng lagi kalau sama gue." setelah mengatan itu Aby meraih kandang kucingnya untuk ia bawa.


"Aby, jangan kayak gini."


"Apa,Ma? Nggak usah panik kali. Cewek lo ini bego kok. Modal lima ribuan telor gulung aja lo udah dapetin gue lagi, emang semurahan itu gue. Lo bisa maki-maki gue lagi, bisa sentuh gue semau lo."


"lo mau kemana?" heran Bima melihat Aby meraih hoodie miliknya yang tersampir di kursi belajar lalu dikenakan dengan buru-buru oleh cewek itu.


"gue ini bawa pengaruh buruk, nanti gue ketauan sama temen-temen lo yang lain. Lo pasti bakalan malu ngeakuin gue sebagai pacar lo." setelah menjawab pertanyaan Bima, Aby keluar dari kamar cowok itu melewati jendela menuruni tangga.


"lo jangan gila,By! Balik kekamar gue sekarang!" sebagai upaya untuk menahan gadis itu, Bima meraih mencekal kuat pergelangan tangannya. Tentu saja Aby tidak tinggal diam, Tanpa mampu dicegah ibu harimau yang sedang mode mengamuk itu menggigit kuat tangannya. Sialan! Kenapa Aby harus bar-bar,sih? Coba saja Aby kalem dan penurut. Dipastikan Bima tidak akan sesinting ini sekarang akibat meladeni cewek itu.


"Enggak!" tolak cewek keras kepala itu. Bahkan ia sudah siap-siap menuruni tangga dengan membawa kandang kucingnya.


"gue bilang masuk,ya masuk! Lo denger gue,kan?" nada bicara Bima naik, seperti membentak untuk menggertak Aby. Tapi yang ia lakukan tidak berpengaruh apapun.


"denger. Tapi gue bukan mainan lo yang bisa lo suruh, lo minta ini itu. Byee!" detik itu juga Aby menuruni tangga sehati-hati mungkin agar bisa sampai ke bawah dengan selamat. Senyumnya mengembang sempurna saat kaki kanannya berhasil mendarat diatas rumput disusul kaki kiri. Ia mendongak menatap kearah balkon dimana Bima berdiri melempar tatapan tajam kearahnya.


Aby pun melambaykan tangan setinggi yang ia bisa diiringi senyuman lebar.


"nggak usah cari gue. Gue mau kluyuran dulu, mana tauan bisa jual diri juga."


Begitu balik badan, senyum Aby lenyap. Gadis itu memeluk erat kandang kucing sebelum melangkah menerobos kegelapan. Ia harus melewati halaman belakang yang pencahayaannya begitu minim agar keberadaanya tidak diketahui oleh Arion, seperti yang Bima minta. Menekan rasa takutnya ia terus melangkah ditemani kucingnya yang bergerak tidak nyaman dikandang.


"apa sih, pake nangis segala. Cengeng lo! Lo pikir kalau lo nangis, orang-orang bakalan baik sama lo? Halu!"


"sadar diri dong! Lo itu nggak ada artinya dimata mereka! Lo emang pantes dapetin ini semua dari orang-orang!"


Aby terus mencaci dirinya sendiri yang selalu saja berharap akan hal-hal baik. Nyatanya ia memang tak pantas mendapatkan itu."


...*****...


Bima meruntuki kebodohannya yang membiarkan Aby pergi sendirian malam-malam. Menganggap Aby tangguh dan mampu mengatasi semuanya sendiri diluar, Bima justru lebih peduli dengan keberadaan sahabat-sahabatnya. Alih-alih mengejar Aby, meminta maaf padanya. Ia justru menemui Arion dan yang lainnya. Meladeni mereka hingga tengah malam. Baru setelah mereka berhasil dibujuk pulang, Bima mau menyusul Aby. Tapi, bukankah ini sudah sangat terlambat? Ia sudah membiarkan Aby pergi dalam empat jam. Bahkan ia tak tau kini Aby dimana. Bahkan kini hujan tengah lebat diluar.


Diteras rumahnya, bersama rasa khawatirnya. Ponsel Aby tidak bisa dihubungi. Kesal dengan dirinya sendiri, Bima menendang kuat pot bunga dihadapnya hingga hancur.


Sialan. Bima tidak akan memafkan dirinya sendiri jika terjadi hal buruk pada Aby.


...*****...


Menjelang subuh, Bima masih terjaga seperti orang linglung mendapat kabar dari ayah Aby. Bima memang masih rutin melaporkan keadaan Aby pada pria itu dan semalam ia melaporkan soal Aby yang pergi dari rumahnya. Tentu saja Ali tidak akan tinggal diam. Pria itu memerintah suruhannya untuk segera menemukan putrinya. Diberitahu jika Aby sudah ditemukan dan kini berada dirumah Ali. Bima melompat turun dari ranjang. Berlari kekamar mandi, Bima mandi dengan terburu-buru.


Selesai mandi, Bima segera mengenakan seragam. Meski sedang diburu waktu, cowok itu tetap memperhatikan penampilannya yang harus rapi dan sesuai aturan sekolah. Bagaimanapun ia adalah teladan bagi murid yang lain. Ia tidak mau jika gelarnya itu diambil orang lain hanya karena kecerobohannya.


"eh kok jam segini udah rapi aja? Masih jam lima... Bima nggak kepagian berangkatnya? Gerbangnya belum dibuka,sayang." ujar Tari mendapati putra bungsunya muncul di dapur dan izin berangkat sekolah.


Sejak pulang dan mendapatkan Bima sendirian dirumah tanpa Aby, wanita itu menaruh curiga jika ada yang tida beres. Dan pagi-pagi Bima sudah mau berangkat sekolah menambah kecurigaannya.


"pinjem mobilnya mama. Nanti mama berangkatnya sama kak Laras aja."


"sini gobrol dulu sama mama, kamu ini kenapa? Masa ada apa-apa dipendem, kayak nggak punya siapa-siapa. Ini ada mama loh yang mau dengerin kamu. Abynya kemana?"


"dirumah Om Ali, ini aku mau kesana. Makanya pinjem mobil."


"sarapan dulu, ya? Nanti mama anterin kesana deh."


"kuncinya? Mau berangkat sendiri."


Tari menghela nafas. Wanita itu pun mengangsurkan kunci mobil pada putranya. Setelah mendapatkan kecupan dipipi, Tari melihat putranya berlari menjauh.


...*****...


"Aby dikamar, demamnya belum turun. Semalem kehujanan. Anak buah Om kurang cepet nemuin Aby. Kamu naik aja keatas, kamar Aby lantai dua paling ujung."


Bima mengangguk lalu menaiki tangga usai dipersihlakan oleh tuan rumah. Mengikuti arahan Ali, ia membuka pintu kamar yang letaknya paling ujung. Begitu masuk kamar, Bima melihat Aby yang tengah bermain kejar-kejaran bersama Anjing. Katanya demam?


"salah alamat lo,Ma?" cibir Aby menyadari keberadaan Bima di ambang pintu kamarnya.


Setelah mengunci pintu kamar, Bima melangkah mendekati aby. "Om Ali bilang lo demam. Kok lo malah lari-lari?"


"Gue cuma demam,bukan koma atau meninggal. Masih kuat buat lari, bahkan bikin lo masuk rumah sakit gue mampu."


Dalam satu tarikan, Bima berhasil membawa Aby ke dalam pelukannya. Suhu panas tubuh Aby terasa sampai ke tubuhnya. Benar. Aby-nya demam. "badan lo panas."


"kehujanan. Lo sih nggak nyariin gue. Eh apaan sih, mana mungkin lo ngejar gue, ngarep banget sih gue." ujar Aby sambil tersenyum.


"maaf."


"ya nggak perlu minta maaf juga kali."


Bima membawa Aby ke atas kasur. Meminta Aby untuk duduk disana. "mau sarapan apa? Gue bikinin. Atau mau beli apa?"


Aby menepis lengan Bima yang membingkai wajahnya. "lo udah nggak usah ngasih gue makan lagi. Selamat! Lo bebas dari gue. Sekarang lo udah nggak perlu lagi tanggung kebutuhan gue. Sorry ya, gue nggak tau diri banget kemaren. Gue janji mulai hari ini nggak akan kayak gitu lagi. Oh iya, nanti siang suruhan bokap gue bakalan kerumah lo buat ambil barang-barang gue."


Kedua tangan Bima terulur kearah Aby. "pukul gue sampe lo nggak marah lagi sama gue,By. Tapi jangan kayak gini,nggak lucu."


"siapa yang ngelawak? Btw uang ganti ruginya udah masuk belum? Kurang,nggak? Kalau kurang--"


"Aby!"


"nggak usah betak juga kali, kan bisa diomongin baik-baik. Ternyata disaat kayak gini pun lo masih kasar."


"lo mancing gue buat kasar sama lo. Lo yang nggak bisa dibaikin."


"iya! Gue emang nggak tau diri orangnya. Emang pantes banget untuk dicaci maki. Apapun itu gue pasti salah." setelah mengatakan itu Aby mendorong Bima agar menjauh darinya. Setelah berhasil mengejar kucingnya, Aby keluar dari kamar dan Bima mengekor di belakangnya. Aby pura-pura tidak peduli soal itu.


Sampai diruang makan, Ali yang melihat kedatangan sang putri langsung melipat koran terbaru yang tengah ia baca diletakannya diatas meja. Pria baya itu bangkit, menyiapkan kursi untuk Aby. "papa udah nyuruh Bi Sur sama yang lainnya masak banyak dan kesukaan Aby semua."


"Asiiik!"


"tapi habis sarapan, kita kedokter ya? Demam Aby belum turun." Ali menarik tangannya setelah memeriksa suhu tubuh Aby.


"nggak perlu,Pa. Aku oke kok, demam doang mah nggak ada artinya buat aku. Aku aja pernah bunuh diri nggak mati-mati, kena mental kali pah demamnya,iya kan?" Aby terkekeh sendiri karna merasa perkataannya ada yang lucu. Nyatanya tidak ada yang perlu diketawakan.


"Bima sarapan disini juga,ya? Temenin Aby. Pasti Aby lahap banget makannya kalau ditemenin pacar."


"pacar?" beo Aby. "aku sama Bima nggak pacaran,Pa. Yakali aku mau sama cowok kayak Bima. Bima bukan type aku." sambungnya.


Bima memejamkan mata kuat-kuat. Ternyata begini rasanya tidak diakui. Sakit.


Gerakan Ali berhenti. "Papa fikir kalian berdua pacaran. Eh, Bima juga pernah bilang waktu itu. Iya kan,Ma?"


Aby tertawa. "Papa halu ya? Mana mungkin Bima mau sama aku yang goblok, nggak tahu diri, malu-maluin. Emang aku pantes dipacarin? Nanti jadi beban lagi buat Bima. Bima kan pinter, perfect pasti malu lah akuin aku jadi pacarnya."


...*****...


"Bintang tungguin! Bareng ke kelasnya!"


Tangan Bima menggantung di udara, ia kalah cepat. Sebelum dicegah, Aby sudah terlebih dahulu berlari mengahampiri cowok yang masuk daftar ancaman untuknya. Jika bukan dikeramaian, Bima pasti sudah menyeret Aby yang lancang merangkul cowok di hadapannya. Sialan! Bima ingin mencekik lehernya sendiri mendengar Aby tertawa lepas bersama Bintang.


Muak dengan Aby yang terus menyiksanya, Bima masuk kedalam mobil dan menghantam kepala ke stir kemudi berkali-kali.


Di lain tempat. Aby menoleh kebelakang dan tersenyum geli melihat kelakuan Bima. Ia pun menarik tangannya dari bahu Bintang.


"gue ada koordinasi sama club futsal, lo ke kelas dulu nggak papa? Atau mau gue anterin?" tanya Bintang.


"mau tanding?"


"ntar sore mau taruhan sama Harapan Bangsa. Lusa ada turnamen lawan Harapan Bangsa.


"Harapan Bangsa? Boleh ikut nggak?"


"ini futsal cowok,Aby. Lo nggak boleh ikut."


"cuma nonton doang,Boleh?"


"pulang sekolah ikut gue. Nanti ngumpul diparkiran."


"siap! Gue kekelas duluan, bye!"


...*****...


Sore ini Arion tidak bisa memimpin club futsal karena masalah kesehatan. Mengeluh kepala sakit, cowok itu dijemput ayahnya dan dibawa ke singapure untuk mendapat penanganan terbaik. Karena itulah ia menunjuk Bima menggantikannya sebagai ketua untuk saat ini. Dengan senang hati, Bima melaksanakan amanah dari Arion. Begitu bel pulang sekolah, ia mengumpulkan anggota futsal untuk koordinasi melawan club futsal SMA Tarumajaya. Menggantikan Arion, Bima menunjuk Cakra ikut berlaga sore ini.


"SMA Tarumajaya udah dateng Ma. Parkir didepan." beritahu Bayu yang baru saja tiba diruang ganti. Cowok itu menangkap baik stelan kaos futsal yang Cakra lempar.


Bima mengikat tali sepatu futsalnya dengan cepat sebelum berdiri tegap. "kalian buruan ganti, gue mau temuin mereka."


"eh group rame banget." heboh Gilang yang tak melepas tatapan dari layar ponsel. Cowok itu terus saja sibuk menggulir layar ponselnya untuk memantau group chatnya yang tengah ramai. Tapi itu tidak menarik perhatian Bima.


"Anjir! Ini mah namanya penghinaan! Masa bawa cewek di depan kita yang jomblo-jomblo gini." sambung Satria.


"eh ini bukannya...Ma?" Gilang mendekati Bima. Menurutnya, cewek yang dibonceng salah satu anggota club futsal SMA Tarumajaya, mirip seseorang yang ada dikamar Bima semalam. Ia pun menunjukkan foto cewek yang tengah diperbincangkan.


"ini kok kayak gucing garong yang semalem nyakar lo,ya Ma?"


"brengsek!" upat Bima lalu berlari untuk menemui Aby.


"eh gue nggak salah denger Bima ngomong brengsek?" tanya Gilang.


"kejar Bima woy! Demi konten! Kayaknya ini bakalan viral." seru satria yang berlari disusul Gilang.


Bayu dan Cakra tidak paham, memilih untuk tidak ikut campur.


Nyatanya sampai dihadapan Aby, Bima tidak melakukan apapun. Bahkan sekedar untuk melepas genggaman tangan Bintang pada tangan Aby saja tidak bisa. Yang ia bisa lakukan hanyalah berperang melawan dirinya sendiri agar tidak menyerang Bintang dihadapan banyak orang. Bisa rusak reputasi yang sudah ia bangun selama ini jika itu terjadi.


Menahan ledakan emosi dalam dirinya, Bima berusaha ramah pada lawannya dan mempersilahkan mereka ke lapangan futsal untuk bersiap-siap.


"kayaknya lo beneran nantangin gue." gumam Bima lirih saat Aby melewatinya begitu saja. Bahkan Aby dengan sengaja menubrukkan badan kecilnya ke lengan Bima dan tidak merespon apapun. Cewek itu masih terlihat santai.


Ingatkan Bima untuk memberi Aby pelajaran agar cewek itu paham dan berhenti mengabaikannya.


"Anjir! Gayanya songong banget tuh kucing garong, mana pede banget lagi. Padahal buka diwilayah dia. Tapi dilihat-lihat emang cantik,sih. Unik lagi. Seru tuh kalau garang kayak gue pacaran sama kucing garong. Pasti cakar-cakaran terus dikasur." celetuk Gilang sengaja memanas-manasi Bima. Ngomong-ngomong semalam Gilang dan Satria nguping. Jadi mereka sudah tahu Bima dan Aby pacaran.


Kebenaran yang mereka tahu tentu akan dijadikan senjata ampuh untuk memperalat Bima yang diam-diam meresahkan. Gilang dan Satria sepakat berada di pihak Aby.


"bagi nomer WhatsApp Aby,ya Ma. Mau gue deketin sampe dapet. Kebetulan punya kenalan dukun yang ampuh buat jadi backingan kalau ditolak ntar." sambung Satria.


"Aby cewek gue,goblok!" desis Bima lalu memukuli Gilang dan Satria yang tertawa.


...*****...


"Ayo! ntang semangat!"


"Bintang! Bintang! Bintang!"


"Bintang semangat,sayang!"


"Bintang ya! bukan Bima, yakali gue dukung Bima. Pokoknya Bintang!"


Bima membiarkan bolanya direbut lawan begitu saja. Cowok itu berhenti ditengah lapangan. Tatapannya tertuju pada satu titik yang sukses memporak porandakan hati dan merusak konsentrasinya selama pertandingan. Meskipun tahu jika tengah diberikan peringatan olehnya, nyatanya tidak membuat Aby berhenti bertingkah. Alih-alih diam, cewek itu justru berdiri di tribune penonton dan mengeluarkan suara heboh mendukung Bintang. Aksinya diikuti dengan beberapa gadis yang duduk disebelah Aby.


Kelopak mata Bima menutup. Tangannya terkepal kuat.


Sampai kapan Aby berhenti menguji kesabarannya? Apa sampai semuanya benar-benar habis?


Di sisi lain, murid Harapan Bangsa yang menjadi pengisi tribune, mengikuti kemana arah Bima menatap. Selama menonton, fokus mereka memang hanya tertuju ke arah cowok itu. Jadi setiap gerak gerik Bima mereka pasti tau. Termasuk Bima bermain begitu payah dan terus menatap ke arah salah satu siswi dari sekolah lawan.


"ini bukan cuma perasaan gue aja,kan? Bima liatin kecewek itu terus."


"bener. Gue juga ngerasa gitu. Mana mainnya loyo banget. Kenapa sih, sama tuh cewek? Perasaan biasa aja. Malahan kayak *****. Kalau dia sekolah disini, udah kena sidang Buk Fitri pasti."


"kayaknya sih cewek nggak bener. Penampilannya aja gitu. Kelihatan banget urakan. Apa Bima risih,ya sama tuh cewek? Makanya jadi nggak fokus main. Lagian ngapain tuh cewek caper banget sih?"


"risih banget lah. Gue aja risih lihat dia. Apa lagi Bima yang cowok baik-baik. Eh liat noh, tu cewek juga liatin Bima. Beneran caper kayaknya,sih! Kayak nggak punya kaca aja. Mana mau Bima sama cewek modelan kayak gitu."


Empat siswi Harapan Bangsa itu duduk diparisan paling depan, terus membicarakan Aby yang terus menarik perhatian semua orang dengan segala tingkah tidak jelasnya. Sesekali mereka melirik sinis ke arah Aby yang sering tertangkap basah tengah menatap Bima.


Aby bukannya tidak tahu orang-orang memperhatikannya. Iya tau, hanya saja tidak peduli pada mereka. Hingga akhirnya ia berhenti memberi semangat kepada Bintang saat seseorang memanggilnya. Daat menoleh ke belakang ia mendapati Keyla.


Pluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Tim futsal Tarumajaya menang telak. Cewek itu meninggalkan tribune untuk menyambut Bintang. Meskipun tau jika dirinya terus diawasi oleh Bima, Aby nekat memberikan sebotol air mineral pada Bintang. Melirik kearah kanan, Aby mendapati Bima sibuk dengan ponsel. Jika boleh menebak, Bima pasti tengah memberi pesan untuknya.


LO GILA!


STRES!


SINTING!


NGGAK WARAS!


GUE TANDAIN LO!


Aby menahan senyuman membaca pesan yang Bima kirim. Sengaja mengabaikannya, Aby hanya membaca tanpa membalas pesan cowok itu. Ponselnya kembali ia simpan ke dalam tas. Saat itulah ia melihat Bima melangkah kearahnya dengan tatapan yang membuat nyali Aby menciut.


Bima tidak mungkin menyerangnya didepan umum,kan?


Semakin dekat, detak jantung Aby mulai tidak normal. Ia gugup bukan main apa lagi banyak pasang mata menatapnya dan penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Brengsek! Belum apa-apa Bima sudah membuat kakinya lemas.


Jantung Aby seperti merosot ke perut saat tau ternyata bukan ia tujuan Bima. Bima melewatinya begitu saja dan berhenti beberapa langkah dibelakangnya. Meskipun tidak keras, Aby mendengar suara lembut Bima.


"makasih, ya Key lo udah nonton. Lama,ya?"


"nggak papa,kak."


"makan dulu nggak papa,kan? Sama mereka? Gue kalah taruhan soalnya."


"iya,nggak papa,kak."


"anak manis." puji Bima pada Keyla yang tidak banyak protes disusul usapan lembut dipuncak kepala gadis itu.


Menoleh kebelakang untuk melihat ekspresi Aby, Bima disambut dua jari Tengah cewek itu yang diacungkan kearahnya."


...*****...


...tbc...


...Bima bakalan selingkuh nggak ya?...


...atau malah Aby yang akan selingkuh sama Bintang?...


...kangen nggak sama primadona komplek?...