
"Ngapain kesini? Salah alamat?"
"Lo jangan kepedean ya,ma. Gue kerumah lo buat jemput anak gue. Anjing ada disini kan? bisa panggilin Anjing,bilangin kedia disuruh pulang sama mamanya."
Jawaban itulah yang keluar dari mulut Aby. Sebenarnya bukan itulah tujuannya datang ke rumah Bima. Namun saat Bima menyambutnya dengan sinis, Aby tidak punya pilihan lain. Hanya anak pungutnya yang bisa ia jadikan alasan yang tepat.
Awalnya Aby ingin menanyakan kenapa Bima bersikap tidak seperti biasanya. Saat diantar pulang oleh Bintang tadi, Bima yang awalnya duduk di balkon langsung masuk kedalam kamar. Tingkah aneh lainnya adalah Bima yang tidak datang kerumahnya. Biasanya jika tau ia dirumah, Bima pasti akan menghampirinya. Sekedar ingin memaki, mengajak ribut atau menanya apakah ia sudah makan atau belum. Tapi ditunggu hingga petang, Bima tidak nonggol juga.
Apa Bima marah?tapi mengapa? seharusnya Aby yang patut untuk marah karna Bima selalu bertindak semaunya.
Bima membuka pintu semakin lebar mempersihlakan Aby untuk masuk."Masuk aja, Anjing didalem, baru selesai makan."
begitu dipersihlakan, Aby langsung berlari dan berteriak heboh melihat kucingnya di sofa.
"Anak pungutnya mama Aby!" serunya.
jelas sekali kucing yang tengah santai itu terkejut dengan kehebohannya. Melihat gerak-gerik kucingnya yang ingin kabur, Aby bergerak dengan cepat. Ia tidak memberi kesempatan sang kucing untuk kabur. Tubuh berisi anaknya itu langsung diraih kedalam gendongannya. Aby yang gemas dengan sang anak, *******-***** kepala dan kaki kucing itu.
"Aby"Tegur Bima saat mulut Aby sudah terbuka besar untuk melahap kepala sang kucing.
Aby terkekeh lalu duduk di sofa seraya memangku anak pungutnya. Tangannya tidak henti menepuk pelan pantat kucingnya.
"Bima,gue ini tamukan? ekhem, gak enak ngomongnya, harusnya lo kan inisiatif."
"Lo kesini buat jemput anjingkan, kenapa gak langsung pulang?"
"Sekalian silahturahmi sama lo,ma. Buat mempererat pertemanan kita."
Bima mendengus, lalu melangkah menuju dapur
mengambil sesuatu untuk Aby. Tidak sampai lima menit, Bima sudah kembali keruang tamu dengan napan berisi minuman lengkap dengan nasi dan lauk untuk makan malamnya Aby. Bima tentu tahu, sekarang adalah jam laparnya Aby. Ia sudah pernah bilangkan, kalau ia tidak bisa berhenti peduli pada cewek bar-bar satu itu. Dalam keadaan marah sekalipun ia tetap mempersiapkan makan malam untuk cewek tidak tahu diri satu ini.
"Abisin terus balik ke habitat lo." ucapnya begitu dingin.
Gerakan tangan Aby berhenti, Cewek itu mendongak menatap Bima. ia pikir Bima melupakan kebutuhan perutnya.
"Sama papa dulu sini, mama mau makan." Ujar Bima lalu mengambil alih kucing dipangkuan Aby. Bima mengendong kucing, membawanya menjauh dari aby agar cewek itu bisa menghabiskan makan malamnya tanpa di ganggu oleh anak pungutnya.
Bima menurunkan anjing, mengajaknya bermain dengan bola-bola plastik dan tikus mainan.
Aby melihat kedekatan antara ayah dengan anak pungut itu, tanpa sadar tersenyum. Ia bisa merasakan ketulusan Bima terhadap anak betinanya itu. Saat makan pun, Aby tak hentinya melihat Bima dan anjing.
Tentu saja Bima tau gerak-geriknya sedari tadi diperhatikan oleh Aby. Jujur saja cowok itu geli dengan tingkahnya sendiri. Ia seperti naksir kepada janda anak satu, yang mana ia sedang memperalat sang anak untuk dapat perhatian si janda. Meskipun kucing ini adalah peliharaan baru untuk Aby, tapi Bima tau seberapa rasa sayang Aby untuk kucing yang ia beri nama anjing. Tentu saja Anjing adalah peluang besar untuknya.
"Bima, makananya udah habis. Tamu gak nyuci piring sendiri,kan? jadi gue taro di meja aja ya,piring kotornya."
"Kenapa gak sekalian lo telen aja piringnya? biar gue gak nyuci piring."
"Kumat ya ngeselinnya. Ngomong-ngomong makasih makanannya. enak. kalau besok niat ngasih sarapan, beliin gue nasgor aja biar gak ngerepotin lo banget."
Bima bersiap melempar kandang kucing yang ada di dekatnya ke arah Aby namun ia urungkan. "Besok berangkat?"
"Iya, kita perlu nitipin anjing,ke daycare gak sih, kalau kita sekolah? walau anak tiri, gue sayang kok sama anjing. kalau disana,kan ada yang jagain."
"Sakit jiwa beneran lo" sinis Bima lalu mengembalikan kucing yang ia gendong pada Aby. Lantas cowok itu membereskan piring kotor bekas Aby dan dibawa ke dapur.
"Ada tugas sejarah halaman empat puluh tujuh. Matematika halaman delapan belas nomer lima sama nomer dua belas. Mau dikerjain sekarang?" tanya Bima begitu kembali ke ruang tamu.
"seriusan. gue mending berjemur deh depan tiang bendera dari pada stres ngerjain tugas. gue itu goblok,ma. Otaknya kecil banget, udah gitu gak berfungsi. percuma lo ngajarin gue, gak bakalan nyambung."
Bima meraih tali hoodie yang Aby kenakan. ditariknya tali itu kuat-kuat sampai Aby merasa seperti di cekik. "Goblok lo masih bisa diperbaiki. modal nurut sama gue, gue jamin lo pasti pinter. Bisakan, nurut sama gue?"
"Bima, itu Aby di apain!" Tari yang pulang dari berbelanja langsung paning melihat apa yang dilakukan anaknya pada Aby.
Bima melepaskan tali hoodie Aby, meskipun sudah seperti itu, pantatnya tetap saja kena tabok. Telinganya juga tidak luput dari jeweran mamanya.
"Mamakan udah berkali-kali bilang sama kamu, jangan nakal sama Aby. Bandel banget sih, dibilangin."
"Siapa yang nakal sih Ma? Aby itu gak mau belajar. makanya aku kayak gitu."
"Masih banyak cara lain buat bujuk Aby mau belajar, kamunya aja yang payah. kan bisa dibujuk baik-baik, iya kan By?"
Dengan semangat Aby mengangguk. "Betul tante, Bima emang suka gak peka sama cewek. Mainnya kasar terus."
"Belum puas tadi ngamuknya?" tanya Tari.
"Maaa, jangan bahas itu." Protes Bima tidak mau sampai Aby tahu apa yang terjadi padanya tadi.
"Bima ngamuk kenapa tante?"
"Gak tau, tadi keluar sebentar. Pulang-pulang malah ngamuk sambil gendong kucing. Tante mau marah,malah jadi gemes."
"Mamaaaaa."
Tawa Aby lepas. padahal ia sudah berusaha menahannya, namun mendengar rengekkan manja dari Bima, tawa Aby tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Seharusnya tadi ia rekam bagai mana bentuk Bima merengek agar bisa ia perlihatkan pada orang-orang tentang sisi lain seorang Bima Antanandra. Cowok manja!
"Sekarang kamu minta maaf sama Aby, ma." titah Tari.
"Maaf by," ucap Bima malas.
"Mama gak pernah ajarin kamu minta maaf kayak gitu,ya. Ulangin, atau perlu mama ajarin lagi cara minta maaf yang bener gimana?"
Bima mengambil alih anjing dari ibu angkat sang kucing. tak mengatakan apapun, yang mana langsung ia gendong dan langsung ia bawa ke rumah Aby. Tak lama kemudian, Aby menyusul sesuai dugaannya.
"Tungguin,njing."
"Heh mulutnya! ngomong kasar. sekali lagi lo ngomong kasar gue banting badan lo " ujar Bima sambil membesarkan bola matanya.
"Idih, siapa yang ngomong kasar, orang gue lagi manggil anak kita. Namanya kan Anjing."
"Tapi lo ngegas!"
...*****...
Entah sudah berapa kali semalam Bima membentaknya saat ia tidak fokus pada apa yang cowok itu jelaskan. Entah berapa kali Bima memukul meja saat ia kedapatan ketiduran. Semalam Bima benar-benar sedang mode macan galak. Mengerikan. Keberaniannya menciut. Efek belajar semalam sangat luar biasa. Tadi pagi, saat ia bangun kewarasannya sudah hilang. Suara Bima terngiang-ngiang di kepalanya. Sepertinya abis pulang sekolah ia harus mukbang bakso untuk mengembalikan puing-puing kewarasannya.
Turun dari ranjang, kucingnya datang dan mengendus kakinya. Aby tersenyum lalu menggendong kucingnya sebentar. "Mama mandi dulu, Papamu galak banget. Entar kalau kelamaan nunggu terus ngamuk, bisa-bisa kita LDR beda alam,njing. Wafat mama di tangan papamu, kalau ada waktu, kamu ngomong dong sama papa. Bilangin, jangan terlalu galak sama mama,baikin aja mama. Biar mama gak depresot. Mental mama udah break dance nih gara-gara papamu."
Abypun menurunkan kucingnya di sofa sebelum masuk ke kamar mandi.
Aby baru saja selesai berpakaian saat pintu kamarnya diketuk.
"bukain pintunya,njing." titahnya.
Melihat kucingnya masih setia meringkuk di sofa, Aby menghela nafas. Anak pungutnya emang tidak bisa diandalkan.
"Mama?"
Ayu tersenyum lebar melihat putrinya. "Mama kira kamu belum bangun. Tadinya mau bangunin kamu."
"Aby kok ngomongnya gitu? Oh iya, mama udah siapin sarapan. Kalau Aby udah selesai, ke ruang makan ya. Papa udah nunggu kamu disana."
Aby mengangkat alisnya. Bingung. Ia pun mencubit lengannya, barangkali ia sedang bermimpi. Cubitannya terasa sakit, itu membuktikan jika apa yang terjadi memanglah nyata. Orangtuanya pulang. Aby terdiam. Rasa sakit macam apa lagi yang akan ia terima? Pasalnya, Ia selalu dijatuhkan oleh harapan yang ia lambungkan saat orangtuanya bersama.
"Aby?"
"Iya,bentar lagi aku turun. Mama duluan aja."
"Agak cepetan ya, mama masakin makanan kesukaan Aby."
Membuang segala prasangka buruk tentang orangtuanya. Aby melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Pagi ini ia bersiap lebih cepat dari biasanya. Tidak melupakan anak pungutnya, Aby membawa kucing itu keruang makan.
"Kamu melihara kucing?" tanya Ali melihat putrinya muncul sembari mengendong kucing.
Aby tersenyum lebar lalu mengangguk. "Baru beberapa hari,pa. Lumayan buat temen ngobrol. Biar gak takut-takut banget kalau dirumah sendirian."
Ali dan Ayu saling menatap.
Ayu tersenyum hangat. Piring yang sudah ia isi dengan nasi dan lauk kini ia letakkan dihadapan putrinya yang masih sibuk mengelus kucing dipangkuan gadis itu. "Aby sarapan dulu ya. Kucingnya bisa diturunin dulu."
"Mak-----" Aby terpaksa menghentikan ucapannya saat ponsel ayahnya berdering. Cewek itu menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh untuk mengangkat telpon.
Belum ada satu menit berlalu, kini giliran ponsel mamanya yang berbunyi. Aby tersenyum miring saat yang tersisa hanya dirinya saja di meja makan. Napsu makannya menguap begitu saja. Sendok dan garpu kini ia letakkan kembali keatas piring.
Apa orangtuanya pulang hanya ingin pamer kepadanya tentang seberapa sibuk mereka? Sialan! Aby terlalu terbawa suasana. Harusnya ia lebih banyak belajar dari pengalaman. Cewek itu bangkit, membawa kucingnya kerumah Bima.
Baru membuka pintu, ia dikejutkan dengan kehadirian Bima yang sekarang berdiri dihadapannya.
"Lo gak papa kan By?" Tanya Bima.
"Emang gue kenapa?"
Bima menatap dua mobil yang terparkir bersebelahan. Mobil yang ia sangat yakin adalah mobil kedua orangtua Aby. Kekhawatiran Bima selalu dipuncak saat orangtua Aby pulang. Mereka yang seharusnya jadi sumber kebahagiaan Aby, nyatanya adalah orang yang berpotensi sangat besar memberikan Aby rasa sakit.
"Mereka gak nyakitin lo lagi kan?"
"Nggak, btw gue mau nitipin Anjing ke ART lo dulu, tunggu sebentar."
"Lo udah sarapan?"
"Udah. Lo pasti bakalan kaget kalau tau nyokap gue masak makanan kesukaan gue. Terus tadi gue sarapan sama bokap nyokap. Jadi, gak ada yang perlu lo khawatirin."
senyum itu....Apa Aby benar-benar bahagia?
sepertinya tidak.
...*****...
Ketegangan dikelas mulai terasa saat pak Danu guru mapel matematika mulai menulis soal latihan di papan tulis. Murid-murid mulai menundukkan kepala bahkan ada yang berlagak sibuk menulis dibukunya, mata guru itu kini mulai mengintai muridnya.
"Sebelum bapak tunjuk, ada yang sukarela maju kedepan?"
"Saya,pak!"
Helaan nafas penuh kelegaan saat mendengar bintang kelas yang duduk di pojok depan berdiri dengan suka rela. Pak Danu menatap muridnya. "Apa murid dikelas ini cuma Aulia? kenapa setiap saya buat soal selalu Aulia yang jawab."
Hening.
Murid-murid menunduk, kembali merasa terancam.
"Aulia duduk, biar temenmu yang jawab. Selain Aulia ada yang minat menjawab pertanyaan di depan? Tadi saya tanya kalian kompak menjawab sudah mengerti. Kenapa sekarang tidak ada yang berani maju? Perlu Bapak tunjuk?"
Aby semakin menundukkan kepalanya sambil merapalkan doa keselamatan agar dirinya tidak ditunjuk oleh sang guru. Detak jantungnya semakin menggila, perasaan Aby sudah tidak enak.
"Aby silahkan maju. Nilai ulangan kamu kemarin paling bagus dari belakang,kan? Bapak kasih kesempatan untuk memperbaiki nilai."
Firasatnya tidak pernah salah, Cewek itu mengupat dalam hati. Dengan terpaksa ia maju, menerima spidol yang diserahkan Pak Danu. Selama tiga menit, Aby hanya diam didepan papan tulis.
" Bapak nyuruh kamu buat ngerjain soal, bukannya malah tatap-tatapan sama papan tulis. Tadi waktu dijelaskan, kamu itu bengong atau tidur sih, Aby?"
Aby menggigit bibir bawahnya, tangan cewek itu sudah berkeringat dingin. kelopak matanya tertutup saat itulah wajah Bima melintas di ingatannya. Kejadian semalam saat Bima mengajarinya beberapa soal, terputar tanpa ia minta. Aby membuka kelopak matanya tanpa ragu. kini tangannya menjawab soal yang ada. Soal itu sangat mirip dengan soal yang Bima berikan kepadanya tadi malam. Beruntung otaknya mengingat semuanya.
"Apa jawaban saya udah benar,pak?" tanya Aby setelah menutup spidol ditangannya. Ia mengikuti langkah demi langkah yang Bima ajarkan padanya, membuat Aby sangat optimis jika jawabannya benar. Aby tidak pernah menyangka jika mengerjakan soal dengan benar bisa memberikan rasa bahagia dan rasa bangga pada dirinya sendiri.
"Benar. Nah seharusnya begini, Bapak jadi gak perlu ngeluarin tenaga ekstra buat jelasin ke kamu lagi. Sekarang kamu boleh duduk."
"Terimakasih,pak." ucap Aby dengan senyum puas.
Banyak yang melempar senyum ke arahnya. tapi senyum yang paling ngena dihatinya adalah senyum milik Bintang. Aby tidak paham debaran jenis apa saat melihat Bintang tersenyum.
"Gue sempet deg-degan parah lo sampe gak bisa jawab tadi. Gue gak terlalu paham sama materi tadi, nanti ajarin gue ya?" ujar Bintang yang duduk di belakang Aby.
"Tapi gak gratis. Mie ayam sama es teh, deal?" balasnya.
Bintang mengangguk tanpa ragu membuat senyum Aby terbit seketika. Aby mengeluarkan ponsel dari ransel biru lautnya, Ia ingin berterimakasih serta pamer kepada Bima tentang pencapaian kecilnya.
^^^Makasih ya,udah ngajarin semalam^^^
^^^Btw, lo harus tau kalo gue bisa jawab soal yang dikasih guru gue. Berkat lo,ma. Pulang sekolah kerumah gue ya. Mau gue kasih permen buat hadiah lo^^^
^^^heheheh^^^
Gitu doang?
sangat mengecewakan.
^^^Terus gimana dong?^^^
^^^Maunya apa?^^^
Bukain jendela kamar lo nanti malam
gue pengen sesuatu.
...*****...
...Tbc...
...Akhirnya up juga...
...Selamat membaca yaa zhyng...
...dikasih bonus nih dari si beban orangtua...