
Disentrum pake raket nyamuk?
Dicambuk pake sabuk?
Dibanting atau di-smackdown?
Dilempar dari balkon kamarnya?
Aby yang duduk diranjang sembari memangku anak pungutnya terus menerka-nerka hukuman seperti apa yang akan ia terima dari Bima. Perawakan Bima yang tinggi besar berotot, sangat memungkinkan jika dirinya dibanting-banting sampai tulang belulangnya rontok,kan? Pasti bukan perkara sulit untuk seorang Bima untuk meleburkan tubuhnya. Aby mengidik ngeri. Apa mungkin Bima setega itu padanya? Tapi dilihat dari sepak terjang cowok itu, kemungkinannya sangat besar.
Tapi, apa Bima sudah siap dengan konsekuensinya jika melakukan itu? Menjadi single parent untuk Anjing anak pungut mereka si beban keluarga itu bukanlah perkara mudah. Aby tidak yakin Bima bisa melewati itu semua sendirian.
"Njing,kamu mau jadi penghuni surga,kan? Tolongin mama,dong. Papamu mau hukun mama. Bisikin mama harus ngapain."
Aby mendekatkan telinga kemulut kucingnya. Berlagak seolah ia mendengar bisikan jawaban dari kucingnya.
"Anjing!" teriakan Aby membuat hewan itu kaget dan reflek melompat turun. Sementara Aby berkacak pinggang di tempatnya.
"Kebanyakan gaul sama papa, kamu ketularan mesum!"
"Mau jadi apa kamu kalo besar nanti,hah? *****? Masa nyuruh mama ngerayu papamu pake cara yang iya-iya."
"Kamu pasti sekongkol sama papa,kan?"
"Sialan anak gadis gue udah rusak otak polosnya!"
Aby turun dari ranjang dan terus mendumel tidak jelas.
Seperti biasa saat diasuh oleh Aby, kucing itu hanya diam menunduk dipojokan. Hewan itu tidak mau mencari perkara dan lebih memilih merenungi nasib memiliki orangtua angkat seperti Aby. Capek. Itu sudah pasti, belum lagi tekanan yang membuatnya terpuruk.
Mendengar suara grasak-grusuk dari balkon kamarnya, Aby sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan jendela kamarnya. Dalam hati, ia menghitung mundur dan tepat dihitungan terakhir Bima muncul dari sana.
Pintu sudah tidak ada harga dirinya lagi dimata Bima Antanandra pengidap penyakit sindrom soang akut.
Kalau ada yang susah, kenapa harus yang mudah? Bima kang panjang balkon 2022.
"Kamu apain anak kita?"
Melihat wajah nelangsa kucing Aby disudut kamar, membuat pertanyaan itulah yang pertama kali lolos dari bibir Bima. Cowok itu meletakkan barang-barang yang ia bawa di meja sebelum melangkah mendekati kucing kesayangannya. Bima tersenyum lalu mendekap kucing itu penuh sayang. Tak butuh waktu lama, ekspresi kucingnya sudah berubah. Sekarang saja kucing itu sudah mengendus-endus leher dan wajahnya.
Aby yang melihatnya, mengupat dalam hati. Anjing kegatelan!
"Beridiri dipojok kamar, tunggu gue tidurin Anjing," titah Bima dengan suara dingin dan ekspresi wajah yang berubah drastis. Menyeramkan.
Aby yang masih ingin hidup lebih lama lagi pun patuh pada cowok itu. Meskipun dalam hati ia mendumel dan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Bima. Ia menyandarkan punggungnya ditembok dan menunggu apa yang akan dilakukan Bima. Tangannya yang tidak bisa diam, menggaruk-garuk tembok
Sialan!
Rupanya Bima menyuruh Aby berdiri dipojok kamar supaya tubuh besar cowok itu lebih mudah mengurungnya. Bima tidak perlu repot-repot mendorongnya, karena ia sudah memojokkan dirinya sendiri.
Lihat saja sekarang Bima sudah berdiri dengan jarak selangkah darinya. Aby sampai kesulitan bernafas saat jantungnya berdetak lebih kencang sewaktu tangan Bima yang memiliki otot-otot menonjol memerangkapnya di sisi kanan dan kiri.
"Bima..."
"Kemana aja lo sama Bintang?"
"Nggak kemana-mana kok,ma. Orang kita habis ngerjain tugas. Gue sama Bintang,kan sekelas."
Bima menyeringai seraya memangkas jarak. Tubuhnya merunduk agar bibirnya bisa menjangkau telinga Aby. "Udah berani bohong ternyatan" bisiknya dengan suara serak lalu menghembuskan napas didekat telinga Aby.
Hembusan yang mampu membuat Aby merinding.
"Cuma jajan kok,ma." ucap Aby saat Bima kembali mundur selangkah dan menatapnya begitu intens.
"Jaga sikap lo ke cowok lain,paham?"
"Iya paham,daddy." jawab Aby sengaja meledek. Aby lupa memperhitungkan akibat dari ledekannya itu. Belum sempat menyelamatkan diri, Bima sudah menyerangnya.
Sawan soangnya kambuh.
"Gue udah bawain soal-soal persiapan uts lo." ujar Bima setelah menyentuh bibir bawah Aby yang membengkak karena ulahnya.
"Belajar lagi?" wajah Aby langsung lesu.
"Memberantas kegoblokan lo!"
"Ya enggak tiap hari juga. Pelan-pelan aja, jangan disodorin semua gini. Gue laper,ma. Pengen ngunyah. Kalau sama cowok selain lo, gue jaim kalau mau jajan banyak. Bagi duit atau bagi makanan?" tawar Aby.
Bima mengupat dalam hati. Sebelum datang kerumah Aby, ia sudah menyusun strategi modus dengan mengupankan soal-soal yang tidak mungkin bisa Aby kerjakan. Bima sudah membayangkan berapa banyak keuntungan untuknya jika strateginya berhasil. Tapi....belum apa-apa sudah gagal.
Bima perlu banyak belajar cara menolak Aby.
Beruntung setelah ngajukan tawaran itu, perutnya berbunyi. Bima tidak mungkin membiarkannya kelaparan,kan?
"Bisa turun lewat tangga,kan? Kerumah gue sekarang."
"Dirumah gue ada pintunya loh,ma. Nggak bahaya juga kalau keluar lewat sana. Lewat pintu aja,ya. Kaki gue masih sakit loh."
"nggak usah manja! Pintu cuma buat orang-orang lemah dan nggak suka tantangan."
...*****...
Aby menunggu dengan tidak sabaran saat Bima memanaskan kuah bakso dan mempersiapkan beberapa hidangan tambahan. Dianggap terlalu berisik oleh Bima, cowok itu meminjamkan ponselnya agar Aby ada kesibukan dan berhenti teriak. Tapi nyatanya itu keputusan yang salah. Bukannya anteng, Aby semakin menjadi. Cewek itu menyetel musik dengan volume penuh dan melompat-lompat tidak tahu malu.
Bima menghela nafas. Jika nantinya ia berjodoh dengan Aby sepertinya kehidupan cowok itu tidak akan damai. Aby dan segala kebobrokannya itu pasti akan mengubah semuanya.
Mendengar suara benturan, Bima menoleh kebelakang dan mendapati Aby jatuh tersungkur dilantai. "Mampus!" ucapnya lalu kembali fokus kepekerjaannya. Mendengar suara rintihan kesakitan, Bima langsung mematikan kompor dan berlari cepat untuk menolong Aby. Ternyata ia tidak bisa tidak peduli pada cewek yang tengah ia bopong dan didudukan dikursi makan.
"Pecicilan banget sih,mampus kan lo."
"Temboknya aja yang rese, udah tau gue lagi loncat-loncat kenapa nggak mundur tuh tembok. Robohin aja lah temboknya, nggak guna berdiri disitu." gerutu Aby.
"Iya." balas Bima supaya perkara cepat selesai. Bisa panjang urusannya kalau meladeni otak kosong Aby. Cowok itupun kembali ke meja dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Aby tepuk tangan heboh saat Bima menghidangkan makanan dihadapnnya. "Sambalnya nggak lupa,kan Ma? Sama pangsitnya juga dong. Minumannya sekalian, es jeruk aja nggak usah repot-repot bikinin yang ribet."
Kelebihan seorang Aby yang tidak dimiliki orang lain adalah membuat Bima tidak bisa menolak apa yang cewek itu inginkan. Sekesal apapun Bima pada tingkah tidak tahu diri Aby, Bima tetap memenuhi permintaannya. Bima tidak bisa melawan dirinya untuk berhenti mengupayakan yang terbaik untuk cewek itu.
Sudah menyiapkan semua yang Aby butuhkan, Bima pun duduk disebelah gadis remaja itu. Reflek ia memukuli punggung tangan Aby dengan garpu saat cewek itu menuang sambal begitu banyak ke mangkok baksonya sendiri. Aby hanya nyengir lebar menanggapinya. Bima yang tidak mau terjadi sesuatu dengan perut Aby pun menukar mangkoknya dengan punya cewek itu. "Lo makan punya gue."
"Lo bisa mati kalo makan punya gue,ma. Perut lo lemah. Nggak sekuat gue."
"Gue nggak peduli, makan. Perut gue nggak selemah yang lo kira."
Bima dan keras kepalanya itu tidak bisa ditoleransi. Aby pun tidak mau berdebat untuk hal yang sia-sia. Ia mulai memakan bakso dimangkuknya dan melirik kearah Bima. Dalam hati, cewek itu mencibir. Bibir jontor Bima tentu bukan karena ciuman rakus cowok itu sejam yang lalu. Itu pasti karena pedasnya bakso. Keringat yang membanjiri wajahnya yang memerah., membuat Aby menarik paksa dan menjauhkan mangkok itu dari jangkauan Bima.
Tidak peduli dengan protesan Bima, Aby menghabiskan sisa makanan Bima. Ia yang pencinta dan kuat pedas saja kewalahan dengan kepedasannya, pantas saja Bima sampai kayak tadi.
"Gue cuma mau bilang, nyokap gue udah balik kesifat aslinya. Nggak peduli sama gue. Nggak tau deh sekarang dimana." ucap Aby lalu megap-megap kepedasan. Bagi Aby, ia bisa jujur soal keadaanya pada Bima setelah ia menyiksa dirinya sendiri.
"Udah jangan dimakan. Minum."
"Menurut lo,nyokap gue kemana?"
"Gue nggak tau."
"Menurut lo,berapa persen kemungkinan nyokap gue punya keluarga baru?"
"Gue nggak tau. Aby. Jangan tanya sesuatu yang gue nggak tau jawabannya."
"Menurut lo....."
"Cukup! Nggak ada gunanya lo tanya ini ke gue. Gue nggak tau apa-apa,by. Sia-sia lo tanya ke gue."
"Gue cuma mau bilang. Waktu itu ada yang telfon mama, cewek. Manggil mama. Habis itu mama pergi, lo inget,kan? Waktu itu gue sekarat, gue minta mama dateng. Tapi nggak dateng." Aby menghirup nafas dalam-dalam lalu meneguk es jeruk buatan Bima.
Tidak mau tanggung-tanggung soal menyakiti dirinya, Aby pun kembali melahap bakso pedasnya. Sambal yang tersisa bahkan kembali dituang. Aby ingin menghancurkan perutnya dengan makanan pedas yang tidak bisa ditoleransi oleh perutnya. Melihat itu Bima murka dan melempar mangkok bakso yang tengah Aby nikmati ke tembok hingga hancur.
"Lo goblok boleh. Tapi jangan siksa diri lo kayak gini! Apa sih yang ada difikiran lo? Dapet apa lo selain rasa sakit?"
Bima bangkit lalu pergi keruangan lain karena Aby menanggapinya dengan bercanda. Bima muak dengan Aby. Melampiaskan rasa muaknya, Bima memukul dinding berkali-kali. Pukulan baru berhenti saat ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
Orang itu Aby.
"Jangan ngamuk terus, gue takut sama lo."
"Gue nggak bakalan kayak gini,kalo lo waras By. Lo nggak ngerti,kan gimana takutnya gue setiap kali lo sakit tapi pura-pura baik-baik aja. Lo nggak paham apa-apa karena lo selalu anggep perasaan gue ke lo cuma bercanda. Gue nggak ada waktu buat bercanda,Aby."
"Lo terlalu goblok buat peka sama apa yang gue rasain ke lo."
Aby tidak merespon kalimat Bima. Ia hanya mengeratkan pelukannya dipinggang cowok itu.
Beberapa saat kemudian Aby bertanya. "emang lo ada rasa apa ke gue,ma?"
Bima melepas pelukan Aby secara paksa lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan cewek itu. "Lo pengen tau apa yang gue rasain ke lo,kan? Gue benci sama lo! Lo Goblok,nggak tau diri! Nyusahin! Stres!"
Tawa Aby mengudara. "Tapi lo suka,kan?"
"BANGET!" teriak Bima membuat tawa aby semakin keras.
"Jadi?" pancing Aby.
"Ya pacaran lah goblok banget pake nanya!"
...*****...
...tbc...
...AWW ADA YANG JADIAN NIH KAYAKNYA...
...LUCU BANGET KALO MEREKA SAMPE JADIAN...
...ADA PAP NIH DARI ANAK MAMA ABY SAMA PAPA BIMA...
...(ekspersi Anjing pas tau mama papanya jadian)...