
...HAI GAISS, SETELAH BACA JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK VOTE SAMA COMMENT BIAR AKU MAKIN SEMANGAT UPDATENYA, TERIMAKASIH....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
"Udah bangun lo?bisa dong lanjut ngerjain tugas."
Aby yang baru saja terjaga,mendudukkan dirinya diatas sofa. Jemari Aby terangkat menyentuh bibir bawahnya. Saat tidur, Ia merasa ada sesuatu dibibirnya. Seperti dikulum dan digigit pelan. Bahkan sekarang saja Aby bisa merasakan bibirnya sedikit membengkak. ngomong-ngomong apa yang terjadi saat ia tidur? mungkin saja nyamuk dengan manisnya menggigit bibir Aby,mungkin.
"Laper,ma. gak bakalan bisa mikir kalo gini."
"Mikir? sok-sokan banget, kayak punya otak aja" cibir Bima. Cowok itu menarik tangan Aby untuk diajak duduk disebelahnya,melanjutkan tugas yang belum selesai.
"Lo kan temen gue nih. Bukannya temen....."
"Gak usah dilanjutin. Gue tebak, lo pasti mau nyusahin gue,kan?Kalo gak mintak ditraktir ya mintak dimasakin ya kan nyet"potong Bima cepat sebelum Aby menyelesaikan kalimatnya. Mendapati semprotan dari cowok itu, membuat Aby mengeluarkan jurus andalannya. cewek itu memasang muka paling imut yang ia miliki. membuat Bima gemas melihatnya.
"yaudah deh, ngerjain tugas aja yang lebih penting. makan mah bisa nanti,palingan gue lima menit lagi kejang-kejang trus pingsan, mana ada yang peduli" gumam Aby lalu mengeluarkan ponselnya untuk membantu menerjemahkan teks bahasa inggris.
Pada dasarnya, Bima sangat tak tega melihat Aby kelaparan. Penolakannya tadi hanya sebagai penutup sisi pedulinya. Cowok itu sangat menjunjung tinggi gengsinya.
"Kerjain yang bener. gue mau kedapur bentar, dari pada lo mati disini gue juga yang disalahin."
"Sekalian masak nasi ya ma. ayamnya jangan digoreng mulu,bosen. sekali-kali dibikin apa gitu biar gue gak bosen makannya. Minumnya gue mau jus mangga. Lo bisa bikin puding,kan?sekalian lo bikinin itu ya. Kalo gak ngerepotin,lauknya bikin yang kuah-kuah biar gak seret pas makan."
Seharusnya Bima tak perlu peduli pada Aby karena pastinya akan berujung seperti ini. Manusia tidak tau diri seperti Aby,dikasih hati minta jantung, ginjal, paru-paru, usus dan lambung. Namun begitu, entah Bima yang bodoh tetap menuruti apa yang diinginkan oleh Aby. Tidak membalas sepatah kata pun, cowok itu melangkah kedapur membuat makan malam seperti yang Aby inginkan.
Berawal dari Aby yang sering kelaparan dan merengek meminta makan padanya, membuat Bima memutuskan untuk belajar memasak. Ia mempelajari ilmu itu dari internet dan memperaktikannya saat Aby tak ada agar kegagalannya tidak dilihat oleh cewek itu. yang Bima tunjukkan hanya bagian sempurnanya. Aby tidak boleh tau kalau ia pernah nyaris membakar isi dapur dan makanan yang dimasak berakhir di tempat sampah.
"Ngapain lo kesini?" tanya Bima ketus saat melihat Aby menghampirinya dengan tangan yang menggaruk-garuk kepala.
"Malu lihat lo masak. Dilihat-lihat lo hot juga ya pas lagi didapur, aura sexy lo nembus sampe jantung."
Bima mendengus lalu melanjutkan kegiatannya memotong-motong wortel, lalu kentang untuk sup ayam. Keberadaan Aby membuat ia sering melirik ke arah cewek itu yang tengah asik bermain ponsel sembari mengunyah keripik kentang dikursi makan.
Saat melihat Aby tersenyum, Bima merasa terancam. dalam hati ia bertanya-tanya siapa yang membuat Aby mampu tersenyum seperti itu? Apa perlu ia jadikan target ke dua puluh yang harus ia singkirkan. Sepertinya iya, tawa Aby membuat ia resah.
"Bima."
"kalau gak penting gak usah ngomong" balas Bima sengit.
"cuma mau ngasih tau aja kalau nanti banyak yang ngechat lo, itu temen gue. Gue baru aja post foto lo dan banyak yang mintak kontak lo."
"Lo kasih?"
"Iya, buat bisnis. Yang mintak nomer lo bakalan traktir gue. Alhamdullilah yang minat banyak."
'By, nih aer buat sup panas banget. Mau gue guyur gak lo?"Geram Bima mengangkat mangkuk berisi sup ayam yang baru saja matang. Cowok itu meletakkan mangkuk diatas meja makan lalu menatap tajam ke arah Aby saat ponselnya yang tergeletak di atas meja tak berhenti bergetar.
"Kita bagi dua deh hasilnya. Besok tulang ayam plus kuahnya gue bungkusin bawa pulang."
"Lo itu goblok atau emang gak punya otak? kenapa kalau ngelakuin sesuatu gak pernah dipikirin dulu?"
Aby terkekeh pelan.
"Uang transferan bokap lo gak cukup buat lo foya-foya? kenapa harus kayak gitu sih by? lo orang kaya. gak perlu ngemis-ngemis minta makan sama orang lain apa lagi ngerugiin gue!"
kemarahan Bima tentu bukanlah masalah buat Aby. Ia masih tersenyum lebar bahkan masih berselera untuk makan. Buktinya saja cewek itu kini sudah mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang Bima masak.
"Bukan soal uang, ma. Tapi apa ya, gue kurang yakin lo bakalan paham apa yang gue maksud." ujar aby setelah menelan suapan pertama.
"Apa?caper?"
"Mungkin Kedengerannya konyol. Setiap ada orang yang traktir gue. Gue selalu mikir kalau ada orang yang masih peduli sama gue. Singkatnya, kayak yang lo bilang. Caper. Tapi orang-orang gak sadar sama maksud gue."
Bima bungkam lalu menyambar ponselnya dan meninggalkan Aby tanpa sepatah katapun. Cowok itu memutuskan untuk pulang.
Kehilangan napsu makan saat Bima pergi, Aby meninggalkan ruang makan. Cewek itu melangkah keruang tamu untuk mengunci jendela dan pintu saat hujan deras turun. Aby duduk di sofa dengan tatapan kosong kedepan. Ruang tamu pernah menjadi tempatnya melihat orangtuanya saling berteriak, menyalahkan, saling melempar tanggung jawab dan tetap egois.
pelanggaran kamu kemarin udah diberesin sama anak buah papa. Kamu gak bakalan di skros ataupun di drop-out.jangan khawatir ya sayang.
"orang tua macam apa kalian ini?" sinis Aby melihat pesan dari ayahnya.
Tiba-tiba semua penerangan mati. Sepertinya terjadi pemadaman listrik mungkin dikarenakan hujan lebat disertai suara petir yang bersahutan. Diselimuti kegelapan, Aby membaringkan tubuhnya di sofa. Bohong jika ia tidak merasa takut saat ini. Namun rasa takut itu ia coba tekan kuat-kuat agar tak muncul. Aby seharusnya sadar diri bahwa orang lain tidak akan ada yang peduli dengan rasa takut yang ia miliki.
Ditengah kegelapan, Aby memeluk dan menenangkan dirinya sendiri sebelum menutup kelopak matanya memasuki alam mimpi. Kehidupannya dialam mimpi jauh lebih indah,wajar saja Aby lebih suka tidur. Bahkan Aby sudah ada rencana untuk tidur selama-lamanya.
"Aby"
Samar-samar Aby mendengar suara Bima. Aby tetap menutup kedua kelopak matanya. Mungkin ia hanya salah dengar. Walaupun Bima memiliki kunci duplikat dirumahnya. Aby ragu sekali bahwa cowok itu datang. Ia bisa melihat Kemarahan yang ditunjukkan Bima sangat jelas tadi.
Merasakan bahwa ada yang menyentuh pipi basahnya. Aby membuka kelopak matanya perlahan dan wajah Bima yang terlihat tidak terlalu jelas, menyambutnya. Meski cahaya lilin diatas meja sangatlah minim,Aby bisa melihat Bima yang kini tengah perapikan anak rambut diwajahnya.
"Lo kenapa disini? kenapa gak di kamar? Nunggu gue buat ngurus lo?" gumam Bima.
Baru saja hendak bangkit untuk duduk,Bima menahan pundaknya agar tetap berada ditempat. Aby tidak mengerti dengan situasi saat ini. Mengapa Bima menatapnya dengan sangat lekat sekarang. Bodohnya Aby merasa gugup dan lemah. Sampai-sampai Aby tidak sadar kini Bima sudah berada diatasnya. Menghimpit tubuh mungil Aby dengan tubuh besar cowok itu.
"Ma----"
Bima memanfaatkan momen dengan baik. Bibirnya menyambut bibir Aby saat terbuka dengan lembut.
...*****...
Aby memukul kepalanya sekali lagi, bisa-bisanya cewek itu bermimpi sangat kotor tadi malam. Untuk pertama kalinya ia mimpi berciuman panas dengan Bima di sofa ruang tamu. Mimpi yang terasa begitu nyata sampai jejak bibir Bima kini masih terasa di bibirnya. Aby menggeleng tegas. Mana mungkin Bima menciumnya? Semalam adalah mimpinya yang paling konyol.
"Aby goblok, kenapa di inget terus. Bima tau, lo bisa dipacung!"
Cewek itu pun bangkit cepat dari sofa lalu mengeluh kesakitan disekujur tubuhnya. Harusnya ia tidak bertingkah bodoh semalam dengan tidur di sofa.
Aby melangkah menahan sakit di punggung dan lehernya menuju kamar bersiap-siap ke sekolah. Sudah pukul enam lebih. Selesai mandi dan berpakaian. Aby duduk ditepi ranjang untuk mengecek ponselnya. Suara aneh dari jendela membuat Aby berdiri untuk memeriksa. Cewek itu mendengus malas saat melihat batu-batu kecil berada dilantai balkon kamarnya. Tentu saja pelakunya adalah tentangga Aby yang sudah berdiri dibawah sana.
"Ma. lo hidup dijaman batu. Dideket pintu ada bel woi. pencet aja, bakalan gue bukain kok pintunya. gak udah lempar batu segala!" teriak aby.
Sepertinya Bima tidak menggubris ucapannya. Aby bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Bima kini nampak memilih-milih batu kecil yang pastinya akan dilembar ke arahnya. Hampir saja batu yang dilempar Bima mengenai kepala Aby. Memang kurang ajar sekali tetangganya. Menyusun serangan balik, Aby pun memungut batu-batu kecil yang ada didekatnya.
"Nih gue balikin!" Sejurus kemudian, Aby melempar batu yang ada ditangannya kearah kepala Bima.
Tawanya terdengar saat upatan dari cowok itu terdengar saat batu itu mendarat tepat dikepala Bima.
"Turun lo!sarapan dirumah gue!"
"Lauknya apa dulu? Kalau gak enak gue gak mau!"
Bima mengangkat batu besar. bersiap untuk melemparkannya ke arahnya. Aby tidak bisa menahan tawanya. "Iya,iya gue turun. Baperan lo."
"Bukan baperan. tapi antisipasi. Lo manusia paling gak gau diri, kalau gak di ingetin bisa ngelunjak."
Aby tidak membalasnya lagi. cewek itu memilih masuk kamarnya. kaus kaki dan sepatu dengan cepat ia pasang, sebelum turun kelantai satu. Memastikan tidak ada yang ketinggalan. Aby berlari keluar dari rumah. Diteras Bima sedang menunggunya. "kirain lo marah gara-gara semalam."
"Semalem gue emang marah. Tapi apa pernah gue marah sama lo lama-lama sampai berhenti peduli sama lo"balas Bima.
"hehehe, lo emang temen terbaik. ayo kerumah lo sekarang dan makan-makan." setelah mengatakan itu, Aby berlari mendahului Bima. Berlagak seperti tuan rumah, cewek itu masuk menerobos rumah Bima, tujuannya adalah ruang makan. Aby ter cekat saat melihat banyak sekali makanan disana.
Aby segera duduk dikursi yang baru saja Bima tarik. Duduk dengan tenang, sambil menunggu piringnya di isi oleh Bima.
Makan. Habisin. Piringnya sekalian lo telen."
Baru ingin menyuapi suapan pertamanya. Ponsel Cewek itu berbunyi. Kedua alis Aby menyatu saat melihat siapa pengirimnya. Tidak biasanya ayah dan ibunya mengirim pesan diwaktu hampir bersamaan.
Aby udah bangun?sebelumnya mama mau minta maaf sama Aby. Mama sayang sama Aby. Sayang banget malahan. Tapi mama gak bisa temenin Aby. Aby nanti ikut papa aja, ya. Mama sama papa udah ambil keputusan untuk pisah. Maaf kalau keputusan ini bikin Aby kecewa.
Aby....Papa ini adalah papa yang buruk buat Aby. Papa gak bisa jagain Aby. papa gak bisa nemenin Aby. papa juga gak bisa rawat Aby. Aby nanti ikut mama aja, ya. Mungkin mama udah ngasih tau Aby kalau mama sama papa bakalan cerai. Aby ikut mama, ya. Jangan ikut papa yang gak bisa ngasih apa-apa buat Aby. Tapi, Aby gak perlu khawatir. Walau Aby ikut mama, papa bakalan tanggung semua keperluan Aby.
Aby menyeka air matanya. Betapa menyedihkan dirinya sekarang ini. Aby memiliki teman korban broken home. Saat orangtuanya bercerai, hak asuh temannya itu pun menjadi bahan rebutan ayah dan ibunya. Sementara orangtuanya Aby....berebut melepaskannya.
"By,lo kenapa?"
Tak mengatakan apapun. Aby langsung berlari keluar rumah. Ia akan menemui ayahnya.
...*****...
...TBC...
...MAAF BANGET KALO BANYAK TYPONYA...
...TINGGALIN JEJAK YA BIAR ASIK...
...DADAH...