
Saat Bima tiba di kamar Aby, waktu sudah menunjukkan pukul 07.25 dan gadis pemalas itu masih terlelap dengan posisi yang membuktikan bahwa saat tidur pun Aby masih pecicilan. Selimut merosot sampai mata kaki dengan sebagian sudah dilantai, guling dan boneka yang diculik dari rumah Bayu saja sudah terpental jauh dari ranjang. Bima yakin jika Bayu tahu anak angkatnya diperlakukan buruk seperti ini, dipastikan saja Aby sudah diajak perang bom.
Bicara soal kedekatan Aby dan Bayu, Bima merasa menyesal sudah membawa Aby ke rumah Bayu malam itu. Ini bukan soal cemburu karena kekasihnya dekat dengan cowok lain. Tapi soal ketenangannya yang selalu diusik saat si emosian dipertemukan dengan si tukang nyari gara-gara.
Sudah tahu Bayu itu sangat tipis kesabaran, bukannya jaga sikap, Aby justru semakin banyak gaya. Giliran diserang balik, cewek itu akan berlari dan bersembunyi dibelakang Bima. Hingga akhirnya yang mendapat semprotan dan tabokan dari Bayu adalah Bima. Kalau bertemu ribut, tidak bertemu selalu merengek agar dipertemukan.
Menghela napas berat, Bima melangkah untuk memunguti barang-barang yang berserakan dilantai lalu membuka semua tirai untuk mengusik tidur kekasihnya. Sinar matahari yang menembus kaca jendela nyatanya hanya mampu membuat Aby merubah posisi, tanpa mau membuka mata. Kini posisi tidurnya menjadi tengkurap diatas guling dengan bantal yang menutupi kepala belakang.
Naik keranjang tempat Aby berbaring, Bima menarik bantal lalu dipukulnya kepantat Aby. Pukulan pertama, tidak ada respon. Pukulan kedua, tangan Aby terulur menutupi pantat. Dan pukulan ketiga, erangan yang sialnya mirip ******* lolos di bibir Aby. Sontak saja itu membuat Bima mengernyit dan mengendalikan otak yang sialnya berfikir terlalu jauh. Otak kotor!
"Bangun,hey. Udah siang."
Alih-alih bangun, Aby malah dengan sengaja mendengkur keras menirukan suara babi hutan untuk memancing keributan dengan Bima. Cewek itu memang tidak mengenal yang namanya jaga imange di depannya. Yang ada malah menggila dengan menunjukkan hal-hal buruk yang diperuntujan hanya padanya.
"bangun,Aby! Nggak tau diri banget lo. Disini lo itu numpang, sadar diri kenapa sih. Mau gue tabok?"
Ngomong-ngomong sudah dua hari Aby tinggal dirumah Tiara. Tiara sendiri yabg memaksa karena merasa berhak mengurus calon anaknya yang sedang sakit. Sempat terjadi cekcok karena Bima sekeluarga juga ingin merawat Aby, tapi akhirnya Aby sendiri yang memutuskan ikut Tiara. Dan karena itu lah kegiatan rutin Bima adalah berkunjung ke rumah calon ibu tiri Aby. Dalam sehari ia bisa datang tiga atau empat kali. Aby seperti sekarang juga karenanya yang tidak becus menjaga cewek itu. Kalau saja ia lebih tegas dan memperhatikan pola makan kekasihnya, Mungkin Aby tidak seperti sekarang.
"Bangun nggak?! Gue hitung sampe tiga. Kalau nggak bangun, jangan salahin gue kalau bakal lempar lo dari balkon. Satu..."
"Iya! Ini udah bangun," erang Aby. Dengan bantuan telunjuk dan ibu jari, kelopak matanya dibuka semakin lebar agar pacarnya yang paling menyebalkan itu puas.
Tahu jika Aby kesal karena tidurnya diganggu, Bima pun mengusap kepala cewek itu penuh sayang sebelum akhirnya dijitak karena Aby menutup kelopak matanya lagi. Keenakan diusap, malah tidur.
"Sakit au! Apa-apa main tangan. Orang mah kalau lagi sakit, disayang-sayang. Gue mah enggak. Boro-boro disayang, yang ada makin disiksa."
"Udah jelek, nambah jelek lo kalau marah-marah."
Kalimat Bima kalau diterjemahkan kurang lebih Aby dalam kondisi apapun cantik, dalam kondisi terburuk sekalipun. Apalagi saat baru bangun tidur dengan wajah tanpa riasan dan langsung marah-marah. Cantik. Ralat, sangat cantik. Ditambah menggemaskan, terutama bibirnya yang mengerucut.
"Tirainya tutup lagi dong, Ma. Silau."
"Biarin, ntar kalau ditutup yang ada lo molor lagi."
Aby yang tidak bisa membuka mata karena cahaya matahari yang menyorot tepat ke wajahnya pun beranjak dan menjadikan paha Bima sebagai bantal. Ditariknya bagian bawah kaus hitam yang dikenakan cowok itu sebelum kepalanya masuk. Dengan begitu Bima tidak tahu kalau diam-diam ia menutup kelopak mata lagi. "gue ngantuk, masih butuh tidur."
Aby menghirup napas dalam-dalam. Ia tidak berbohong jika farfum Bima adalah wewangian favoritnya. Anehnya, saat ia menyemprotkan farfum yang sama ke tubuhnya, aromanya tidak secandu seperti saat digunakan oleh Bima.
"Tidur jam berapa? Pas gue pulang, lo nggak langsung tidur?"
Kepala Aby yang masih berada di dalam kaus Bima, digelengkan. "Telfonan dulu sama Bila, sama yang lain juga. Sampe jam satu."
"Gibah?"
"Nggak kok. Orang diskusi bahas temen." tangan kanan yang sudah menyusul masuk ke kaus Bima, menusuk-nusuk perut Bima. Ini adalah kegiatan yang Aby suka. Apalagi saat telunjuknya menyusuri lekuk otot perut Bima yang mulai terbentuk.
"Apa bedanya? Diskusi yang lo maksud dengan maknanya gibah. Btw, ini masih sakit?" tanya Bima saat telapak tangannya sudah berhasil menyusup masuk ke piama hingga bersentuhan langsung dengan permukaan halus kulit perut kekasihnya. Awalnya diam. Lantaran tak ada larangan, ia pun bergerak. Mengelus di sana dengan gerakan sensual.
Gerakan mengelus belum berhenti membuat Aby mengeluarkan kepala dari balik kaos Bima.
Terlalu ahli, Aby memang tidak sadar jika dua kancing paling bawah piamanya sudah diloloskan oleh lelaki yang tengah menunggu jawabannya. Maraih tangan Bima, Aby menariknya keluar. "Modusnya alus banget,ya?"
"Gue serius nanya, lo bilang modus? Itu namanya peduli, modus dari mana?" Bima tak melepas tatapan dari jejak di perut Aby yang warnanya begitu kontras dengan kulit putih Aby. Jejak itu memang hasil perbuatannya semalam.
Ada satu lagi.
Dibawah tulang selangka.
Disana tempat favoritnya untuk beternak yang aman karena merupakan daerah tertutup.
"Nanya mah nanya aja, nggak pake ngelus kan bisa."
"Biar jelas mana yang gue tanyain. Lo, kan agak telmi."
"Terserah lo."
"Jangan tidur lagi. Lo harus sarapan terus minum obat. Gue bisa gila beneran kalau lo nggak sembuh-sembuh. Mau gue bawain ke sini sarapannya?"
"Lebay. Lagian gue juga udah sembuh."
"Sekedar informasi, ada telor gulung. Yakin nggak mau ..." kalimatnya tidak terselesaikan saat Aby yang berada dipangkuannya tiba-tiba beranjak dan meloncat dari ranjang. Bima bergerak cepat, meraih pinggang Aby untuk ditariknya hingga cewek itu terduduk di ranjang sebelum berhasil kabur.
"Apa lagi,Ma? Tadi nyuruh sarapan?! Ini gue mau ke bawah, malah nggak dibolehin. Maunya apa,sih?"
"Ngomongnya santai aja bisa? Nggak perlu pake urat gini." nasihat Bima seraya mengelus kulit leher bagian samping Aby untuk mengusir ketegangan disana. Tak cukup hanya sekedar elusan Bima memberi kecupan seringan bulu.
Kesempatan tidak boleh dilewatkan. Bima memang harus pandai-pandai mencari peluang.
"Gue merinding, bego" umpat Aby mendorong Bima menjauh dari lehernya.
"Cuci muka sama gosok gigi dulu sebelum kebawah. Ramputnya dirapihin. Kancing piama jangan lupa dimasukin. Di bawah ada mama." Bayangkan Aby dengan kondisi seperti sekarang bertemu dengan mamanya Bima tidak yakin mamanya bisa berfikir positif.
"Ngapain Tante Tari ke sini?"
"Jengukin lo lah. Gue kasih spoiler, mama bawain telor ayam lima kilo. Siap-siap bisulan lo makan telor gulung tiap hari."
"Yes!" pekik Aby kegirangan.
"Nggak gratis, kata mama bayarnya kasih ke gue aja." bisik Bima membuat senyum Aby hilang.
...*****...
"Aku udah kenyang, Tante." ujar Aby yang terus melirik-lirik ke arah telor gulung yang berada dalam penjagaan ketat Bima Antanandra.
"Udah boleh makan yang itu belum?" dagunya menunjuk ke arah piring berisi telor gulung yang dibentangi dua lengan berotot Bima.
Sebelum Aby menghabiskan sarapan, Bima dan Tari emang sepakat untuk tidak memberikam telor gulung pada gadis itu. Kalau tidak ditindak tegas, Aby yang mulai susah makan karena kebanyakan jajan, pasti tidak mau menghabiskan sarapannya.
"Nasinya belum habis." balas Bima berusaha tidak goyah ketika Aby memelas padanya.
"Tanteee." rengek Aby mengharap dukungan dari Tari agar mau berpihak padanya.
"Maaf, Tante nggak bisa bantuin Aby. Nanti kalau anak bontot Tante ngambek, rempong banget. Mending Aby habisin dulu sarapannya. Kalau udah habis juga itu telor gulungnya buat Aby semua."
"Yaaah." Aby menelan salivanya payah. Mau tidak mau ia pun kembali menyuapkan nasi ke mulut. Baru sadar jika cita rasa sayur yang dimakan terlalu enak, Aby makan dengan lahap
"Nah itu habis. Enak,kan lauknya?:
Aby mengangguk lalu menerima segelas air mineral yang Bima sodorkan.
"Habisin. Banyakin minum air putih." titah Bima menahan gelas agar Aby menghabiskan isi dalam gelas itu. Meski sudah diprotes dengan pelototan, Bima tidak peduli.
"Bima." tegur Tari pada anak bungsunya yang terlalu keras pada Aby.
"Kalau nggak diginiin, ini bocah keras kepala susah diatur, Ma. Jangan dibelain terus, entar ngelunjak. Nih telor gulungnya. Nggak usah manyun-manyun."
Melihat apa yang tersaji di hadapannya, bola mata Aby berbinar. Tangan kanan kirinya langsung mencomot telur gulung untuk disantap.
"sekarang gulungnya udah rapi, kemaren-kemaren kan agak gitu hehehe. Mana yang ini lebih gurih."
"Itu Tante Tiara yang bikin, bukan mama. Mama cuma bawain telur mentahnya doang. Semua yang lo makan itu Tante Tiara yang masak." kata Bima.
"Kalau Tante yang bikin nggak mungkin seenak itu, Aby. Tante nggak pinter masak, Aby tau sendiri. Beda banget sama calon mama barunya Aby. Masakannya enak-enak, Tante dulu aja diajarin masaknya sama Tiara. Zaman kuliah, Tante sama papanya Bima aja sering numpang makan. Pokoknya Tante yakin kalau Aby diurus sama mama baru, pasti makmur. Sibuk-sibuk gitu, pinter bagi waktu.
"Biar nggak tinggal kulit sama tulang lo." cemooh Bima mengangkat lengan kecil Aby untuk diamati sebentar lalu diempas pelan.
Aby baru menyadari sesuatu. Sejak sampai diruang makan, Tiara tidak ada. "Tante Tiara mana?"
"Ada didepan. Tante Tiara sengaja pergi, takutnya lo nggak nyaman apalagi sampe nggak nafsu makan kalau ada di sekitar lo."
Detik berikutnya, Aby bangkit. Sepiring telor gulung diraih sebelum dibawa pergi. Bima yang hendak mengejarnya, dilarang oleh Tari.
Wanita yang tengah duduk memandangi air mancur di hadapannya pun menoleh. Senyumannya mengembang melihat siapa yang datang. Ia pun membersihkan sisi kosong disebelahnya dengan telapak tangan sebelum meminta Aby untuk duduk.
"Sarapannya udah dihabisin?"
Aby mengangguk. Satu telor gulung ia bagi pada Tiara. "Aku kasih satu buat Tante."
"Buat Aby aja, Aby kan suka banget."
"Terima. Jarang-jarang loh aku mau berbagi telor gulung."
"Oke, makasih ya buat telor gulungnya."
"Enggak. Harusnya aku yang bilang makasih sama Tante. Tante baik. Akunya yang banyak takut, jadi jahat ke Tante."
Tiara tersenyum hangat lalu memakan telor gulung pemberian Aby. "Tante baru sadar loh kalau telor gulung itu seenak ini."
"Emang enak, Tante! Makanya aku suka! Tiap hari dijajanin ini sama Bima. Mana murah lagi. Kadang juga dijajanin temen! Bima kalau ada maunya juga nyogok pake telor gulung! Terus akunya mau-mau aja disogok telor gulung lima ribu." balas Aby heboh.
Tiara yang belum terbiasa dengan Aby, sedikit terkejut. Ia kira Aby membentaknya karena nada bicaranya yang digunakan terlalu tinggi untuk obrolan santai. Sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mengenal Aby yang ajaib kalau kata Bima. "Terus selain telor gulung, Aby suka apa lagi? Mana tau Tante bisa bikinin itu."
"Banyak! Aku sih doyan apa aja. Yang gurih-gurih terus pedes. Perutku kan perut gembel. Tapi kalau maksa mau bikinin, boleh dong bikinin cireng. Isinya ayam suir yang pedes nampol."
"Tante bikinin, tapi nggak pedes ya. Aby kan kemaren sakit perut. Nggak boleh makan pedes-pedes dulu. Jadi, mau bikin sekarang atau nanti-nanti?" tawar Tiara antusias.
Aby mengerjap
Secepat itu kah permintaannya dikabulkan?
Sulit dipercaya.
"Se-sekarang banget?"
"Kalau Aby maunya sekarang, Tante bikinin sekarang. Cuma cireng,kan? Atau tambah yang lain? Aby bilang aja, takutnya kalau Tante bikin sesuai kehendak sendiri, nanti nggak cocok sama Aby."
Aby sampai merinding karena tawaran Tiara. Terlalu baik ... Ini bukan pertanda buruk,kan?
Aby hanya khawatir ada luka yang harus dibayar untuk menebus kebahagiaan kecil yang didapat.
"Aby?"
Menoleh, aby mendapati ayahnya berdiri tak jauh daru hadapannya. Ia pun tersenyum tipis lalu menyapa singkat. "Halo,Pa."
"Papa nggak disamperin? Nggak kangen? Peluk dong, buat obat kangen. Seminggu lebih loh nggak ketemu. Kasih cium juga biar capeknya papa ilang." ujar Tiara.
Peluk?
Cium?
Itu hal asing yang tidak mungkin ia lakukan untuk menyambut kepulangan ayahnya. Biasanya pun tidak seperti itu. Jadi sekarang pun sama, kan?
"nggak deh, Tante."
"Loh kenapa? Itu papanya, Aby."
"Tapi kan---"
"Mas Ali cuma mau diem di situ? Ini anak gadisnya kangen tapi ngambek, jadi nggak mau peluk. Mas yang peluk coba." usul Tiara.
Detik berikutnya, Ali melangkah tergesa dan berdiri di hadapan putrinya. Kedua tanganya pun direntangkan. Hanya butuh beberapa detik untuk menunggu Aby bangkit dan mengambur ke pelukannya.
"Nyeremin nggak sih kalau Aby bilang kangen ke Papa?" gumam Aby sedikit canggung.
"Nggak dong. Coba bilang, Papa mau denger."
"Nggak jadi. Papa kali yang kangen sama Aby, Aby mah nggak kangen."
Ali terkekeh pelan. "Papa mah jangan ditanya, kangen banget sama Aby. Ngomong-ngomong ini pelukannya boleh bagi dua? Tante Tiara kayaknya pengen ikut juga nih."
"Boleh," balas Aby lalu merenggangkan pelukannya agar bisa menoleh ke belakang. "Tante Tiara sini join!"
Kalau ini hanya bunga tidur, biarkan Aby tidur lebih lama atau kalau perlu jangan dibangunkan lagi. Ini terlalu indah jika dibiarkan berlalu cepat.
"Ada bau aneh nggak,sih? Papa kok mencium bau asem-asem belum mandi ya? Ini yang belum mandi Aby atau Tante Tiara?" kelakar Ali.
"Papaaaa! Garing banget lawaknya." protes Aby. Cewek itu pun menarik kerah piama-nya untuk memastikan baunya tidak meresahkan. "Perasaan nggak bau. Papa kali yang belum mandi. Iya,kan Tan?"
"Aby walaupun belum mandi mah wangi."
"Tuh papa denger sendiri,kan? Papa yang bau."
"Ekhem."
Mendengar deheman keras, ketiganya menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari mereka, Tari berdiri dengan senyuman yang mengembang sempurna. " maaf nih, ganggu. Mau pamit pulang dulu."
"Kok cepetan,Mbak? Di sini aja dulu, biar rame. Aby seneng kalau ada Mbak." ucap Tiara.
Tari pun menunjukkan layar ponselnya yang kembali berdering. "Bapaknya Bima ngajak pacaran lagi. Udah diteror dari tadi. Tau sendiri gimana Mas Dika, ngambekan kayak bontotnya."
"Bima pulang juga,Tan?"
"Iya, tapi nanti ke sini lagi. Mau berantem dulu sama kakaknya. Sekalian mau malak, kakaknya habis gajian katanya."
Ali dan Tiara tergelak. "Bima jadi kriminal gara-gara Aby pasti."
"Nggak masalah mas. Kita sekeluarga dukung. Kan udah jadi tim sukses yang siap kawal Bima Aby sampai pelaminan."
"Iya udah kalau mau pulang. Hati-hati di jalan. Salamin buat Dika."
Tari mengangguk. "Aby, Tante duluan ya. Jangan rewel, nanti mama barunya kena mental. Hehehe."
Setelah mengatakan itu. tari pun bergegas pergi meninggalkan keluarga yang sedang dalam prosea pendekatan. Ia melangkah menuju teras di mana putranya sudah menunggu.
"Aby nggak papa ditinggal,kan Ma?" khawatir Bima.
"Kamu tenang aja. Biar mereka makin deket. Mau naik mobil sama mama? Nanti biar motornya ditinggal sini. Ngeri mama liat kamu sekarang kalau bawa motor."
Baru hendak menjawab, ponsel yang disimpan dalam hoodie berdering. Melihat siapa yang menghubunginya, Bima menjauh.
Raut muka cowok itu berubah total mendengar penuturan seseorang yang menghubunginya.
"Key, lo bisa denger gue, kan? Tenangin diri lo, oke? Semuanya bakal baik-baik aja. Jangan panik, gue ke sana sekarang." ucap Bima lirih sebelum memutuskan panggilan sepihak.
"Ma? Mau kemana? Ini mama di sini main nyelonong aja."
Dikejar waktu yang tidak banyak, Bima mengenakan helmnya dengan buru-buru. "Mama pulang duluan, aku ada urusan."
"Ada apa? Kamu keliatan panik. Mama nggak kasih izin kamu naik motor sendiri kalau kamu kayak sekarang. Bilang ke mama, kamu mau ke mana. Biar mama anter." Tari begitu khawatir.
Tak membalas sepatah katapun, Bima langsung melajukan motor. Keyla membutuhkan dirinya.
......****......
...TBC...
...Selamat membaca...
...Selamat natal juga bagi yang merayakan...