
"Mau jadi apa pake baju kayak gitu,hm?"
"cakep lo?" lanjutnya.
Bima yang menyandarkan punggung di dinding, melipat tangan di dada dengan tatapan tidak lepas dari sosok gadis gila dihadapannya. Sepertinya Aby memang sengajak menguji kesabaran Bima dengan memakai baju tidak layak pakai itu. Rok yang gadis itu kenakan bahkan tidak becus menutupi paha mulu Aby.
Belum lagi kaus ketat yang mencetak lekuk tubuh Aby yang berisi dibeberapa titik.
Jakun Bima sampai bergerak naik turun. Bima tidak menyalahkan hormonnya. Memang Aby-nya saja yang suka mancing-mancing! Kalau saja Aby type cewek waras, mungkin Bima bisa mode soft di depan gadis itu.
Mengusap leher sebentar, Bima mengambil langkah mendekati Aby. Mencoba mengintimidasi kekasih tidak warasnya. Bima berjalan memutari Aby dengan tatapan liar.
Bima berhenti bergerak tepat di hadapan Aby. Matanya bergerak menyusuri tubuh Aby dari atas hingga bawah.
Sial!kekasihnya ini terlihat cantik dari sudut pandang manapun!
"cantik,kan? Mana sexy lagi. Pantes aja lo tergila-gila sama gue. Orang bentukannya kayak gini." Aby tersenyum bangga lalu memutar tubuh sampai rok yang ia kenakan mengembang.
Bima reflek menarik tubuhnya kebelakang saat Aby mulai menggila dengan menjinjit serta membusungkan dada padanya. Cewek tidak normal itu benar-benar membuatnya ingin merubah rencana hidup seperti menikah di usia muda. Tidak buruk juga, terlebih yang akan ia nikahi adalah Aby.
"Cupu banget sih,Ma." ejek Aby.
Bima melempar tatapan tajam ke arah Aby. Sayangnya ia melupakan jika kekasihnya itu tidak waras. Alih-alih terintimidasi, kepercayaan diri kekasihnya ini semakin melambung tinggi. Ia salah langkah. Harusnya langsung saja ia maki-maki cewek itu sampai kena mental. Kalimat kasarnya lebih cepat menjinakan.
"ganti!" bisik Bima dengan nada serak. Jika keindahan Aby hanya bisa dinikmati olehnya, ia pasti tidak perlu repot-repot menyuruh cewek sinting itu untuk berganti pakaian. Pasalnya, ia akan keluar. Sudah pasti Aby akan menjadi pusat perhatian sialnya lagi mungkin dijadikan objek fantasi cowok selain dirinya.
"nggak mau. Nyaman pake ini, ayo berangkat! Udah janji loh mau bahagiain gue."
"nggak mau nurut?"
Aby tidak protes saat tangan Bima mencengkram kuat pergelangan tangannya. Bahkan rasa sakit yang tercipta membuatnya bisa tersenyum senang. Aby menyukai rasa sakit fisik dalam bentuk apapun.
Tatapan Bima yang semakin menggelap pun nyatanya belum membuatnya tunduk.
"lo nggak semurahan itu,By. Nggak usah caper!"
"ah,nggak seru, lo selalu tau modusnya gue. Iya gue caper. Pengen dinotice sama lo hehehe."
Gerakan Bima terlalu cepat sehingga Aby tidak bisa kabur lagi. Kini Bima sudah mengurung tubuh Aby. Tidak ada celah untuknya kabur. Sisi kanan kirinya dibentengi lengan berotot Bima yang membuatnya menelan saliva susah payah saat melihat otot-otot yang menonjol.
"tegang amat,pak." komentar Aby seraya mengelus rahang Bima yang mengeras.
Aby melotot nyaris menjerit jika saja cowok di hadapannya terlambat membungkam bibirnya. Gerakan tangannya pun terlalu lambat sehingga Bima lebih dulu menguncinya diatas.
"masih nggak mau nurut sama gue?" Bima tersenyum miring dan semakin menekan tubuhnya ke tubuh Aby.
Pada dasarnya Aby belum seberani seperti yang cewek itu tunjukkan. Baru digertak sedikit saja sudah ketar-ketir. Salah besar jika Aby mengajaknya bermain-main.
"iya gue nurut. Rese banget sih. Kalau nyerang balik nggak nanggung-nanggung."
"mukanya melas banget. Kek orang depresi." Bima menahan senyum melihat ekspresi cewek di hadapannya. Gemas dengan Aby, Bima mengacak puncak kepala gadisnya.
"nggak lucu!"
"yaudah sana ganti baju!"
"iya! Tapi nanti telor gulungnya sepuluh!"
...*****...
"kok marah?! Kan udah janji nggak marah-marah lagi." protes Aby lalu melahap telur gulung ke limanya. Ia masih mengingat persis janji Bima yang meminta kecupan dibarter dengan janji tidak akan marah. Tapi cowok itu berbohong. Bima marah saat ia merengek minta ditemani ke kelab malam.
"ya lo mikir lah."
"katanya mau nurutin kemauan gue? Gimana,sih? Omong doang." cibir Aby lalu memasukan sosis bakar ke mulutnya.
Berat juga cobaannya mempunyai pacar yang kurang pintar kayak Aby. Tiap-tiap perkataannya harus dijelaskan secara rinci karena otak cewek itu tidak sampai.
Bima menarik tali hoodienya, sengaja ingin mencekik leher. Ia tersenyum paksa menatap gadis remaja yang tengah duduk di jok motornya sambil mengunyah begitu rakus. "iya,tapi syarat dan ketentuan berlaku."
"sayang nggak sih sama gue? Atau lo pura-pura sayang aja sama gue? Pantesan nggak ada niatan bikin gue bahagia." ucap Aby dramatis setelah menelan sosis bakarnya.
"nggak usah drama, gue sayang lo, dan lo tau itu kan?"
"kalau gitu, ayo dugem."
"disana nggak ada yang jualan telor gulung, sosis bakar, apa lagi seblak. Pentol setan juga nggak ada. Lo mau ngapain disana? Bengong? Lo kalau nggak ngunyah kan mukanya kayak orang hilang ingatan."
Aby mengangguk. Benar juga kata Bima. Mau ngapain coba disana? "yaudah ayok yeblak! Ia menarik tali hoodie Bima agar cowok itu cepat-cepat naik motor.
"bentar,gue buang sampah dulu. Sini plastiknya biar sekalian dibuang."
Aby menatap Bima yang semakin menjauh darinya. Tanpa sadar senyum Aby mengembang sempurna. Semakin hari cowok itu semakin mengagumkan. Hal-hal kecil yang dilakukan selalu membuatnya tersentuh. Walaupun galak dan juga pedas saat berbicara.
"cewek sukanya kalau dikasih boneka apa,sih?" tanya Bima begitu kembali. Sebelum memutuskan untuk jalan jalan yang ia maknai sebagai kencan perdana secara sembunyi-sembunyi, Bima sudah menggali info tentang kencan romantis seperti yang Aby inginkan. Aby adalah kekasih pertamanya dan wajar jika ia masih sangat amatir soal ini. Salah satu informasi yang ia dapat dan sesuai budget adalah memberikan hadiah. Boneka misalnya.
"tumben nanyain itu?" Aby menatap penuh selidik pada Bima yang nampak salah tingkah.
"tinggal jawab aja sih,susah amat!"
"kalau gue sih dari dulu sukanya boneka santet. Soalnya cita-cita gue jadi dukun santet yang punya cabang dimana-mana."
Salah besar ternyata. Bima menyesal bertanya pada Aby. Tak mengatakan apapun ia segera naik dan menyalakan motor.
Tahu jika sang kekasih jengkel, Aby bersandar dipunggung Bima. Kedua tangannya memeluk dari belakang dan berakhir masuk ke saku hoodie cowok itu. "jelek banget,ngambeknya." ledek Aby.
"dari pada lo...nggak waras" saat mengatakan itu, Bima tersenyum merasakan pelukan Aby. Untung saja Aby itu tidak melihat, bisa dibully habis-habisan Bima dengan cewek itu.
...*****...
Sebagai wujud terimakasih pada Bima yang sudah mengisi penuh perutnya, Aby berniat membelikan sesuatu untuk cowok itu. Ini adalah kali pertama ia akan kembali menggunakan uang dari orangtuanya setelah meminta nafkah dari Bima. Terpaksa. Itu sumber satu-satunya.
Pekan lalu Bima bercerita akan ada pertandingan futsal. Aby pun mengincar sepatu futsal untuk kekasihnya. Terus terang ia menyimpan rasa tidak suka saat Bima mengenakan sepatu futsal pemberian Keyla.
"gimana kalau kita bikin misi? Kita saling ngasih sesuatu?" tawar Aby.
"apa?"
Aby menggedikkan bahu. "ya itu tugas masing-masing buat nyari tau apa yang dibutuhin sama pasangan kita."
"menarik. Tapi, lo sering ngelakuin hal-hal aneh. Gue ngeri sama pilihan lo. Pasti nggak ada yang beres."
"kali ini gue pastiin 100% waras."
"gue nggak yakin."
"nggak asik banget sih, jadi pacar! Tukang ngambek, galak, suuzon mulu sama pacar. Mana sangean pula!" kesal dengan Bima, Aby sampai meninggikan suara.
Bima menunduk dan menutup kepala dengan tudung hoodie-nya sebelum menyeret Aby saat banyak orang mulai menatap ke arahnya. Sialan! Mulut Aby benar-benar berbahaya dan menjatuhkan harga dirinya.
"lo gila?! Nggak sekalian pake toa ngomongnya tadi?!" geram Bima.
"reflek,Ma. Maaf, lo pasti malu banget,ya? Tapi emang bener,kan kalau lo ngambekan,galak, plus sangean. Omongan gue nggak perlu ada yang diklarifikasi,kan? Kalau ada, lumayan bisa buat konten. Mana tau ini viral.
Bima ingin sekali memasukkan Aby ke karung lalu karung itu diikat dan dihanyutkan ke sungai. Pengalaman pertamanya dengan gadis ternyata tidak seindah yang ia bayangkan. Aby merepotkan, menyebalkan, dan kesintingannya menular.
"terserah lo mau ngomong apa."
"iya udah mending kita pencar. Lo kesana, gue kesitu. Jam delapan kita ketemu diparkiran."
"tapi HP harus selalu aktif."
"siap! Gue kasih spoiler dikit kalau gue pengen kalung berlian. Lo pasti paham,kan?bye!"
Aby berlari yang membuat Bima ingin mengejar dan menasehati cewek itu agar tidak pecicilan.
...*****...
Sesampainya dirumah Bima, Aby masih saja heran dengan cowok itu. Ia saja kerepotan membawa barang-barang yang sudah ia beli. Tapi Bima...tidak ada satupun kantong belanjaan yang ditenteng. Apa candaannya soal kalung berlian ditanggapi serius? Imajinasi Aby bekerja jika Bima memang membelikan itu dan menyimpannya di saku hoodie karna sejak pertemu diparkiran, Bima menyembunyikan tangannya di sana.
Tapi apa iya? Dari mana uang untuk membeli kalung berlian?
Harga kalung berlian tentu jauh lebih mahal jika dibandingkan seblak dan juga telor gulung. Teringat sesuatu, Aby menepuk jidatnya, Bima kan sering open BO. Jelas saja uangnya banyak. Visual Bima bukan kaleng-kaleng. Pasti pasang tarifnya tinggi. Yang order pasti juga bukan dari kaum kentang.
Aby senyum-senyum sendiri membayangkannya.
"ke kamar gue." beritahu Bima begitu membukakan pintu untuk Aby.
"harus banget disana nih? Gue jadi mikir kemana-mana."
"biasanya juga kalau ngapa-ngapain disana. Lagian Anjing ada dikamar gue."
"iya juga sih. Kalau sindrom lo kumat juga udah biasa,kan? Malah aneh banget kalau lo nggak nyosor. Itu kan ciri khas lo." kata Aby enteng.
"itu lo paham."
"yaudah bawain. Berat."
Meskipun awalnya mengerutu tidak mau disuruh, tapi Bima akhirnya mau-mau saja. Ya mana tega ia, melihat Aby kesusahan. Lebih baik ia yang susah.
Memasuki kamar Bima, Aby langsung berlari dan mengeluarkan Anjing dari kandang. Dibopongnya hewan yang terusik tidurnya itu dan dibawa keranjang. "tidur terus, malesan banget kamu,Njing. Malem-malem ngelonte kek. Kan lumayan ada kegiatan. Ada pemasukan juga."
"Aby mulutnya!" tegur Bima yang tengah mengunci pintu. Ibu dan kakaknya memang tidak ada dirumah, tapi mereka bisa datang sewaktu-waktu.
"hehehe maaf, udah kebiasaan. Anjing juga maklum kok punya mama modelan kayak gue."
"nggak tega gue liat anjing kalau deket-deket lo. Muka sama mata nggak bisa bohong, kelihatan banget tertekannya." Bima menjadi penyelamat kucing yang sedari tadi bokongnya ditepuk-tepuk pelan dan kepalanya diunyel-unyel sama Aby.
"enak ya,Njing kamu punya papa yang baik. Awas aja kalau cuma sama mama. Siap-siap kena mental pas mama terapin didikan militer ke kamu ya."
"itu bibir kalau nggak di bungkam pake bibir, nyerocos trus kayak petasan."
"hehehe, ada Anjing, Ma. Tahan. Nanti mata Anjing ternodai."
Menyudahi sesi bercandanya, Bima menyandarkan punggung di kepala ranjang. anjing ia dudukkan dipahanya. Jika tidak menahan diri, mungkin Bima sudah memaki-maki Aby yang tiba-tiba loncat ke ranjang dan duduk bersila menghadapnya tanpa rasa bersalah.
"jadi, lo kasih apa ke gue?"
"banyak! ****** spiderman, kolor upin ipin, kaus kutang sama obat kuat." Aby nyengir lebar. Apa yang baru saja ia sebutkan tentu hanya bercanda. Ia sengaja mengatakan itu hanya untuk membuat Bima kesal saja. Bima itu lucu kalau lagi kesal. Muka bayinya yang berubah jutek sangat Aby nantikan.
"hampir lucu, untung gue nggak ketawa."
"ngambek dong,ganteng."
Saat Bima memutar bola mata, Aby tertawa lepas lalu menepuk-nepuk pipi cowok itu. Belanjaannya dikeluarkan. Satu persatu ia berikan pada Bima. "gue beli sepatu futsal buat tanding nanti. Yang dari Keyla buang aja. Sekali-kali ngikutin gaya Arion gapapa kali,yah. Buang-buang barang.
"Club futsal selalu ngasih sepatu gratis sama bokapnya Arion biar kompak."
"tapi gue beliin ini mahal loh,Ma. tiga juta lebih. Lo pake ini aja."
"buset!"
"tapi makasih. Bakalan gue pake setiap sparing."
Aby mengangguk. "trus ini hoodie. Lo,kan ada usaha sampingan yang ekhem-ekhem. Sering kluyuran malem, lo bisa pake ini biar nggak kedinginan. Bilang makasih lagi dong. Mana ada pacar kayak gue. Lo jual diri aja gue dukung."
Bima menerima hoodie itu dengan malas. "hm,makasih."
"nih jam tangan biar lo kelihatan keren,kece,aduhai. Sama ini minyak wangi, punya lo kan hampir habis soalnya gue juga diem-diem make,Jadi gue beliin. Bilang makasih sekali lagi dong, ganteng."
"makasih."
"sama-sama. Kalung berlian gue mana? Kasih cepet!"ucap Aby tak sabaran.
"kalung berlian?"
"lo beliin itu,kan? Kan gue udah kasih spoiler."
"halu!" cemooh Bima lalu turun dari ranjang untuk memasukkan kucing ke kandang. Belajar dari pengalaman, kucing itu sering merusak moment. Kali ini Bima tidak mau hal-hal seperti itu terulang lagi.
Mengeluarkan sesuatu dari saku hoodienya Bima meletakkan sesuatu ditangan Aby yang menampung padanya. "nih buat lo."
Otak Aby berhenti bekerja sejenak. Jiwanya terguncang hebat. Tidak ada kalung berlian seperti imajinasinya yang begitu indah. Apa yang Bima berikan bahkan tidak pernah ia fikirkan.
Tidak ada reaksi dari Aby membuat Bima tersenyum miring. Puas sekali. "biar gue pakein." ujar Bima lalu merobek bungkus plester dan segera membalut luka di telunjuk Aby dengan benda itu sehati-hati mungkin.
"gue udah ngayal tinggi, tapi cuma ini yang gue dapet?!" aby masih tidak percaya.
"Lo lebih butuh itu. Tangan lo luka, bukannya harus dikasih plester?"
"capek gue punya pacar kere. Cuma bisa halu."
"gue masih ada yang lain buat lo."
"semoga kali ini nggak ngecewain. Bismillah dua miliar. Pajero juga nggak papa." jawabnya membuat ia mendapatkan jitakan dari Bima. "jadi, mana hadiah gue?"
"ini."
"mana? Nggak ada duitnya. Kunci pajero juga nggak ada."
"ini."
"belom lucu, coba ngelawak lagi."
"tabungan lo kalau ditotalin bisa beli apapun yang lo mau. Tapi lo nggak beli apapun selama ini karna emang bukan itu yang sebenernya lo butuhin. Yang selama ini lo minta pun gue tau cuma bercanda."
"sok tau banget."
"emang itu kenyataannya,kan? Ngaku aja kali. Gak usah malu-malu sama gue."
"bodo amat. Jadi, mana yang lo kasih ke gue?"
"ya ini,gue. Lo butuh kasih sayang, gue kasih. Lo butuh perhatian, gue juga bakalan kasih, lebih dari yang lo minta. Apa yang lo butuhin, gue punya semua. Tapi...syarat dan ketentuan berlaku." Bima tersenyum seraya mengusap-usap leher jenjang Aby sebelum mendorong cewek itu hingga jatuh. Bergerak cepat, Bima segera menyusul. Memposisikan tubuhnya diatas Aby untuk mengurung gadis-nya sebelum kabur.
"kumat. Kurang-kurangin nyosornya,ya ganteng." nasihat Aby dengan tangan membingkai wajah Bima.
"udah kecanduan." balas Bima tanpa melepas tatapan dari bibir Aby yang sudah menjadi candu untuknya.
Bibirnya baru saja menyentuh bibir Aby, namun dering ponsel dan juga suara klakson yang brisik membuatnya urung untuk melakukan hal lebih. Sialan! Siapa lagi yang mengganggu kesenangannya.
Panggilan dari Satria. Sebelum menjawab Bima mengisyaratkan Aby untuk tetap diam. "ada apa?"
"woi. buka,pintu. Ada kunjungan kehormatan dari anak sultan. Cepetan,Ma! Lo baru dapet bantuan!" teriak Satria heboh di sebrang sana.
"jangan bikin anak sultan nunggu kelamaan,Ma! Ntar lo nggak jadi dapet bedah rumah!" teriak suara lain lebih heboh dari suara sebelumnya. Bima kenal suara itu, suara Gilang.
"kalian kok bisa tau rumah gue?" heran Bima merasa kecolongan.
"lo ngeraguin kekayaan Arion?"
Susah juga berurusan dengan Arion. Sia-sia usahanya menyembunyikan tempat tinggal selama ini. Ujungnya ketauan juga. Itu artinya ia semakin terancam oleh kekayaan Arion yang memiliki pesona luar biasa dimata Aby.
"tunggu sebentar."
"buruan sebelum rumah lo rata sama tanah."
Begitu panggilan terputus, Bima langsung menarik tubuhnya, dan turun dari ranjang. Baru saja memegang hendle pintu, Bima menyadari ada yang mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Aby. "lo ngapain ikut?" serangnya.
"yang dateng Arion,kan? Mau ikut nemuin lah. Sekalian tebar pesona, mana tauan itu anak naksir. Btw, bibir gue udah sexy nggak?"
"nggak! Lo dikamar gue! Jangan keluar!"
"kesempatan emas,Ma. Kita udah sepakat. Gue cuma incer hartanya doang. Ntar kalau Arion miskin, gue balik lagi ke lo."
"kalau lo berani keluar.Anjing gue buang!"
"jangan dong! Jahat banget lo sama anak pungut!"
"yaudah nurut! Gue bakal cari cara buat ngusir mereka biar nggak ada yang tahu lo. Awas kalau lo ngulah!"
"setakut itu gue diambil Arion?"
"banyak bacot! Nih pake, cincin imitasi!" kotak beludru itu dilembar ke arah Aby. Untung saja Aby memiliki kemampuan menangkap yang baik.
Bima pun meninggalkan kamar, ia mengunci pintu dari luar. Cowok itu setengah berlari ke ruang tamu. ART-nya pasti sudah membukakan pintu karena suara berisik di luar sudah tak terdengar. Dugaannya benar. Sahabat-sahabatnya sudah berkeliaran di ruang tamu. Gilang dan Satria saja sudah adu panco. Arion tiduran disofa. Sedangkan Bayu yang waras, tertekan memiliki sahabat seperti Gilang dan yang lain.
"lama banget turunnya? Nggak ada lift? Rumah lo masih manual gitu,ya? Pake tangga?" komentar Gilang menyadari kedatangan Bima. Terus saja kalah panco dari Satria, Gilang menyudahi pertandingan tidak seimbang itu. Lengan Satria terlalu besar jika menjadi lawannya.
"kalian ngapain kesini?"
"Satria ngajak bikin konten. Home tour gitu." balas Gilang mewakili.
"nggak ada kerjaan banget."
"bokapnya Arion itu pengen anaknya ada kegiatan positif. Trus kita kasih ide buat jadi youtuber. Alhamdulillah dibeliin camera. Malam ini kita bikin konten."
Bima memijit pelipis. Cobaan apa lagi ini?
"ini konsepnya mau gimana,sih? Home tour atau grebek rumah?"
"badan boleh L-Man tapi sendalnya hallo kitty. Mana ada bulunya lagi." kelakar Gilang lalu mengenakan sendal yang baru saja ia temukan. Meskipun kekecilan, cowok itu tetap memaksa kakinya masuk.
"punya kak Laras." bohong Bima. Kecemasannya semakin menjadi saat sahabat-sahabatnya mulai tidak tahu diri. Jika dilarang, mereka pasti akan curiga dan semakin tertantang. Sebisa mungkin Bima berusaha tenang.
"ini punya kak Laras juga,Ma? Gemes banget,ya kakak lo." Satria mengangkat tinggi bandana merah muda lalu memasang itu di kepalanya.
Aby kenapa naruh barang sembarangan,sih? Gerutu Bima dalam hati lalu melangkah cepat mengikuti Gilang dan Satria. Arion yang tadinya bermalas-malasan di sofa pun bangkit dan mengikuti kemana Bima dan yang lain pergi.
"hhmm,pantesan kita nggak dibolehin main. Kulkasnya penuh." sinis Gilang.
"Bima kalau dirumah pasti feminim banget. Kulkasnya aja isinya es krim sama coklat." sambung Satria.
"kalian kapan pulang?" Bima yang duduk di kursi ruang makan terlihat begitu frustasi. "bawa aja semua makanannya, tapi langsung pulang." ia benar-benar tidak keberatan jika makanan di kulkas habis tak tersisa. Bima hanya khawatir soal Aby. Jika melihat keberanian mereka, Bima yakin mereka pasti menemukan Aby. Tidak menutup kemungkinan setelah menggasak habis makanan, mereka pasti akan naik kelantai dua dan mengacak-ngacak kamarnya.
"pulang? Kita mau nginep." Satria melahap habis es krim ditangannya.
"kamar lo sebelah mana,Ma?" tanya Gilang.
Bima menghantam dahinya ke meja makan saat Gilang dan Satria berlari tanpa mampu dicegah. Mencoba keberuntungan, Bima mengejar. Baru diujung tangga kakinya berhenti melangkah saat pintu kamar sudah berhasil Gilang buka. Sialnya Aby berdiri disana, tersenyum lebar dan menyapa.
"Hai!"
"lo siapa?"
"Aby. Sugar Baby-nya Daddy."
Satria dan Gilang not responding.
Saat itulah Bima memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk menyeret mereka ke kamar. Sepertinya ia harus memikirkan cara bagaimana untuk membungkam dua mulut ember ini.
"gue mau di kroyok kalian bertiga,apa gimana?" canda Aby sebelum ditarik untuk disembunyikan di belakang tubuh Bima. Cowok itu tidak mau Aby ditatap terlalu lama oleh Gilang dan Satria.
"Ma, diem-diem lo...keep halal, brother! Nyebut lo! Masa ngamar sama cewek? Yang bener aja!" omel Satria.
"soal ini, jangan sampe Arion tau. Gue Bakal kerjain semua PR kalian."
"waah,nggak bener ini. Lo nyogok kita? Nggak beres isi otak lo. Jangan Arion, Pak RT aja mau gue kasih tau soal kalian."
"apapun yang berhubungan dengan pelajaran, serahin ke gue. Ini menawaran terakhir."
Gilang dan Satria saling menatap. Sebagai murid kurang pintar yang selalu terbebani oleh tugas, penawaran Bima sangat menggiurkan.
"yaudah deh kalau lo maksa. Deal,ya?"
"dih,perasaan Bima nggak maksa." cemooh Aby menyembulkan kepala.
"dia pacar lo?" Gilang menunjuk Aby dengan dagu.
Dengan tegas Bima menggeleng. "bukan. Anak tetangga. Gue cuma nolongin kegoblokan dia aja, jadi dia les privat sama gue. Ya kali gue sama dia."
"kalau dari cara ngomongnya sih kayaknya kalian emang nggak pacaran. Lagian lo,kan lagi pedekate sama Keyla, dedek gemes itu. Kelihatan banget kalau Keyla itu type lo. Buktinya aja disekolah lo nempel terus sama dia,mana lembut banget lagi ke Keyla."
"satu sekolah aja udah gosipin kalian. Eh atau lo diem-diem udah jadian sama Keyla?" sambung Satria.
Bima memejamkan mata.
Nyawanya dalam bahaya.
Belum apa-apa Aby sudah menggigit lengannya dan mencakar lengan satunya.
Bima meringis kesakitan.
Kucing garong kalau cemburu nyeremin,nggak sih?
Bima takut mati ditangan Aby!
...*****...
...tbc...
...bakalan ada peranf ke 2 nih kayaknya...
...Bima beneran mati atau koma ya ditangan Aby?...
...nih ada foto Bima sebelum tinggal nama...