
"Tahan sebentar, mungkin ini agak sakit," ucap Gilang yang duduk di hadapan Keyla sebelum mulai memberi penanganan pada lengan cewek itu yang berdarah.
Beberapa menit yang laku, Aby mengamuk, melampiaskan amarahnya pada Keyla. Setelah memaki-maki gadis polos itu dengan habis-habisan, Aby menarik rambut panjang Keyla kuat-kuat. Kuku-kuku panjangnya pun ikut mengambil peran, meninggalkan jejak cakaran memanjang dilengan kiri. Aby benar-benar seperti orang kesetanan karena Keyla tidak mau pergi saat diminta baik-baik. Alih-alih pergi, Keyla terus mengatakan sesuatu yang Aby anggap hanya omong kosong tak berguna. Aby tak butuh penjelasan apapun, ia hanya ingin Keyla enyah dari hadapannya.
Baik Gilang, Satria, dan bahkan Bima sudah mengondisikan Aby, namun cewek itu tetap saja menyerang Keyla yang hanya diam saja tanpa melakukan perlawanan atau sekedar melindungi diri. Beberapa kali mereka yang mencoba menghentikan Aby, diserang juga. Satria dan Gilang mundur setelah Bima yang meminta.
Aby baru saja berhenti ketika tidak sengaja memukul dada Bima yang berdiri untuk melindungi Keyla yang baru saja didorong kuat hingga tersungkur. Saat itu Bima tak mengatakan apapun, hanya menatap Aby dengan sorot berbeda namun hal itu cukup membuat Aby ketar-ketir. Hingga berakhir tunduk pada kekasihnya. Memang hanya Bima yang bisa menaklukan Aby.
"Key?" panggil Satria yang baru saja mengisi sisi kiri Keyla yang kosong.
Keyla mendongak menatap Satria lalu tersenyum tipis. "iya kak?"
"Gue sama Gilang minta maaf soal tadi. Secara nggak langsung kejadian tadi itu gara-gara gue yang maksa lo buat ikut. Kita beneran nggak tau apa yang terjadi antara lo sama Aby." sesal Satria. Harusnya ia bisa lebih peka pada Keyla yang menolak untuk ikut menjemput Aby. Padahal dari awal juga Keyla sudah menunjukkan sinyal-sinyal aneh, sayangnya ia tidak bisa menangkap maksud sinyal yang cewek itu kirimkan.
"kalau aja kita tau dari awal, kita nggak bakal maksa lo ikut."sambung Gilang. "Kita beneran minta maaf,Key. Gue sama Satria pun baru tau soal kalian."
Meski tidak ada yang memberitahu hubungan seperti apa antara Keyla dan Aby, tapi dari apa yang baru saja mereka saksikan, sudah cukup untuk menjelaskan semua jika hubungan mereka tidak baik.
"Gue nyesel udah maksa lo, Key. Karena kita lo jadi kayak gini."
Singkat cerita Gilang dan Satria yang melihat Keyla sedang menunggu jemputan didepan pos satpam, menghampirinya. Lalu saat ia memberitahu rencananya menjemput Aby, Keyla meminta tolong menitipkan sesuatu agar diberikan kepada Aby. Satria yang belum tahu apa-apa, memaksa Keyla untuk ikut agar bisa menyerahkan langsung pada yang bersangkutan. Dalam benak Satria, Keyla dinilai cocok untuk bergabung ke dalam persahabatannya dengan Aby.
Ia pikir Keyla bisa menjadi seseorang yang bisa merubah sedikit pandangan Keyla soal orang-orang, jika tidak semuanya berniat buruk padanya. Pengalaman kurang mengenakan yang Keyla alami memang membuat cewek itu menutup diri dan sulit bersosialisasi. Akibatnya Keyla selalu sendirian di tengah keramaian. Satria kira, Aby yang seru dan mudah bergaul dengan siapapun, bisa memberikan pengalaman positif soal pertemanan untuk Keyla.
Di awal, Keyla memang sudah berusaha menolak dengan berbagai alasan dan hanya ingin menitipkan sesuatu tanpa harus bertemu langsung. Namun Gilang dan Satria selalu mempunyai kalimat untuk mematahkan alasan itu, mereka juga menjanjikan momen seru. Keyla yang pada dasarnya tidak enakan dan sungkan menolak pun memilih mengambil resiko bertemu dengan Aby, dari pada harus menceritakan bagaimana rumitnya hubungannya dengan calon kakaknya itu.
"Nggak papa,kak. Salahku juga yang bandel. Padahal kak Aby udah sering ngasih tau aku buat nggak muncul di hadapan kak Aby. Ini udah resikonya." balas Keyla berusaha tenang meski masih menyimpan ketakutan yang besar. Tindakan Aby jauh lebih mengerikan dari pada kakak kelasnya yang sempat membullynya dikamar mandi untuk alasan yang tidak pernah Keyla mengerti.
"minum dulu, biar agak mendingan." tawar Gilang merasakan ketakutan yang Keyla simpan. Cowok itu mengangsurkan botol mineral yang sudah dibuka segelnya.
"terimakasih,kak." ucap Keyla tulus. Saat kepalanya bergerak ke samping. Keyla tidak sengaja menemukan keberadaan Bintang tak jauh darinya. Sontak itu membuatnya tersedak hebat.
"pelan-pelan,Key." ujar Satria seraya mengusap tengkuk Keyla, tindakan yang refleks membuat Keyla terkejut bukan main. Keyla tau, Bintang paling tidak bisa melihat orang lain terlebih lawan jenis menyentuhnya. Keyla pun bangkit menjauhi Satria dan Gilang. Lengannya yang baru saja diobati, berusaha disembunyikan agar Bintang tidak mengetahuinya.
"Key?" interupsi Satria yang merasa aneh pada reaksi Keyla yang terlalu berlebihan. Cowok itu mengikuti ke mana arah Keyla memandang. Tidak ada hal-hal mencurigakan, tapi mengapa Keyla terlihat setakut itu.
"Lo nggak papa kan,Key?" khawatir Gilang.
Keyla menggeleng cepat lalu kembali mencuri pandang kempat dimana Bintang berada. Cowok itu masih berdiri disana, mengawasinya. Tak mau melibatkan Gilang dan juga Satria, Keyla pun mempercepat urusannya dengan mereka.
"Kak, boleh minta tolong? Tolong kasih ini ke kak Aby. Sampein permintaan maafku juga. Nanti tolong bilang ke kak Aby kalau aku nggak dateng, jadi kak Aby bisa menikmati semuanya tanpa terganggu sama kehadiran aku."
"ada lagi?" tanya Satria setelah menerima paperbag yang Keyla angsurkan.
"itu aja, kak. Sebelumnya terimakasih dan maaf kayaknya aku harus pulang sekarang. Aku duluan,kak." pamit Keyla buru-buru masuk mobil.
"aneh nggak sih?" Gilang meminta pendapat pada Satria atas sikap Keyla.
"padahal nggak ada siapa-siapa." gumam Satria menyapu pandangan ke sekitar.
Keyla yang sudah berada dimobil langsung meminta sopir pribadinya untuk melanjukan mobil dengan kecepatan menuh. Terlihat jelas sekali jika Keyla ketakutan. Tiba-tiba ditengah perjalanan. Sopirnya mengerem mendadak. Pengendara sepeda motor berpakaian serba hitam berhenti ditengah jalan. Meski posisi pengendara itu memunggungi, tapi Keyla tahu siapa pengendara itu, Bintang.
Tak mau memperumit situasi, Keyla pun meminta sopirnya untuk pulang tanpa dirinya. Tak lupa ia juga mewanti-wanti sopirnya agar tidak buka suara soal apapun. "nanti kalau papa tanya, bilang aja aku main ke tempat nenek." pesan Keyla sebelum turun dan menghampiri Bintang yang sudah menunggunya.
"kak....."
"Key, naik." pinta Bintang dingin tanpa menatap lawan bicaranya.
"kak, soal----"
"aku minta kamu naik,Key! Cukup lakuin apa yang aku minta." protes Bintang tak suka. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Key-Nya diperlakukan dengan begitu buruk. Omong kosong Keyla untuk membela Aby tidak ada gunanya. Apa yang akan Keyla katakan tidak akan menghentikan langkah yang akan diambilnya nanti.
"kak Aby nggak salah,aku yang---"
"DIEM!"
...*****...
"Jalannya jangan ke tengah, By. Bahaya!"
"Hey! Nggak usah lari-lari. Ngejar apa,sih? Jalan aja, pelan-pelan."
"Aby... Astaga nih bocah! Gandengan aja sini. Ngeri liat lo jalan sendirian. Pecicilan banget! Nggak bisa diem ini bocah! Lama-lama gue banting juga biar diem."
Melihat pergerakan Aby yang menantang maut, Bima menambah kecepatan langkahnya untuk bisa menyamai Aby. Ditariknya lengan cewek itu agar berjalan di tempat yang seharusnya, bukan malah semakin ke tengah jalan dan mendapat makin dari pengguna jalan.
"Lo berisik banget sumpah, Ma. Ngomel mulu," cibir Aby lalu melepaskan diri. Berjalan mundur ia menjulurkan lidah dan memasang ekspresi dibuat semenyebalkan mungkin untuk meledek kekasihnya yang memiliki kesabaran tipis. Cewek itu terbahak saat Bima melepaskan ransel siap dilempar. Buru-buru Aby balik badan dan melangkah lebih cepat untuk menghindar.
"Liat-liat kalau jalan,Aby." tegur Bima saat Aby kurang memperhatikan langkah hingga nyaris saja menubruk tiang listrik. Untung Bima sigap menarik tas gendong cewek itu hingga Aby ikut tertarik kebelakang sebelum menabrak tiang listrik. Dahi gadisnya terselamatkan.
Usai memisahkan Aby dan Keyla, Bima memang membawa kekasihnya pergi tanpa tujuan. Keduanya berjalan kaki atas permintaan Aby sendiri, sesekali berhenti untuk membeli apa saja yang Aby inginkan.
Namanya Aby dan hobi jajannya. Melihat jajanan apa saja pasti mengaku kelaparan dan merengek minta dibelikan. Bukan Bima namanya kalau tidak mengabulkan keinginan Aby walaupun harus diawali dengan penolakan dan berujung pada pengajuan syarat yang bisa menguntungkannya. Saat Aby merengek meminta jajan adalah peluang terbaik. Bima harus pandai-pandai memanfaatkannya.
"Aby, berhenti!" perintah Bima. Awalnya cewek itu mengabaikan ucapannya, namun saat ia mengancam tidak akan membelikan jajan lagi, Aby langsung berhenti bergerak dan cosplay menjadi patung.
Begitu Aby berhenti, Bima langsung bertekuk lutut dihadapan cewek itu. Simpulan tali sepatu Aby yang terlepas, langsung diperbaiki. Jika tidak, akan sangat berbahaya mengingat bagaimana pecicilannya Aby. Selesai dengan urusan tali sepatu, ia membuka ransel. Dari sana Bima mengeluarkan topi dan langsung dipakaikan dikepala Aby.
"Hallo! Ini gue nggak bisa liat, pinter. Emang nggak pernah beres lo" protes Aby lalu menyeruduk dada Bima. Cewek itu pun mendongak, menatap galak ke arah kekasihnya sebelum memperbaiki letak topi yang Bima pakaikan agar tak menghalangi pandangannya.
Bima terkekeh pelan lalu mengusap dada yang baru saja diseruduk kucing garong-nya . Setelahnya ia membimbing cewek itu untuk duduk di bangku taman agar bisa istirahat. Satu jam lebih berjalan kaki bukan waktu yang singkat, ditambah matahari yang kurang bersahabat. Dari wajah yang memerah dan dibanjiri keringat, Bima tahu jika kekasihnya kelelahan.
Begitu duduk, Bima membuka ransel dan mengeluarkan kantong plastik putih. Semula kantong itu berisi banyak sekali jenis jajanan, tapi sekarang sisa satu jenis. "jajanannya tinggal ini, mau?" tawar Bima.
Plastik bening berisi lima tahu bulat diangsurkan pada cewek disebelahnya. Melihat Aby kesulitan membuka jaket yang ia pinjamkan, Bima pun meletakkan plastik ke pangkuan sebelum membantu. Begitu jaket lolos dari tubuh Aby, segera dilipat rapi dan disimpan di dalam tas.
Aby yang menginginkan jajanan lain, memeriksa kantong plastik putih dipangkuan Bima yang sudah tidak ada isinya. "telor gulungnya kok habis? Lo makan,ya?" tuduh Aby. Wajahnya mulai cemberut karena tidak ada sajen.
"Telor gulu, batagor, cimol, es doger, cireng, es kopi, pentol, siomay, cilok, bakso tusuk, tahu gejrot ... Itu lo yang makan semuanya. Gue cuma minta batagor sama es kopi dikit doang juga udah kena tabok." protes Bima. Aby kalau makan memang sering lupa.
Mata Aby menyipit, menyelidiki Bima. "Masa,sih? Kok gue nggak inget. Kalau udah makan segitu banyaknya, harusnya kan udah kenyang. Ini masih laper." elak Aby.
Perutnya yang sedikit membuncit diusap. Ia nyengir lebar dan memasang ekspresi sepolos mungkin saat Bima melempar tatapan mengejek usai melirik perut buncitnya. "hehehe. Tapi, beneran masih laper,Ma." keluh Aby.
"Pulang aja gimana? Nanti minta bibi buatin telor gulung dan ... Lo pengen makan pake apa? Biar nanti dibuatin sekalian. Lo kalau belum makan nasi, rese banget perutnya."
Aby menggeleng. "Nggak mau pulang dulu, belum capek. Mau bikin capek diri sendiri biar pas pulang langsung tepar dan nggak keinget Anjing." gumam Aby lalu memalingkan wajah.
Tahu bulat kini sudah masuk ke mulut dan mulai dikunyah dengan santai. Kepala langsung digelengkan saat anak pungut yang sering dibully, mengeong menggemaskan dalam imajinasinya.
Telapak tangan Aby diraih oleh Bima lalu ditiup agar cabai bubuk tahu bulat menyingkir dari luka yang ada ditelapak tangan cewek itu. "Anjing baik-baik aja, By. Lo nggak perlu khawatir."
Membersihkan sisa-sisa cabai bubuk yang masih menempel, Bima mengalirkan air mineral ke telapak tangan Aby sampai tidak ada sisa cabai bubuk yang pasti mengundang perih.
"nggak percaya kalau belum liat sendiri."
Bima menghela nafas. Sampai saat ini ia memang belum bisa menemukan keberadaan anak pungutnya. Keyla yang diberi tugas untuk mencari jejak keberadaan Anjing ditempat Bintang pun tak kunjung memberi kabar baik.
"sebelum ada anjing, gue sering sendiri. Tapi semenjak ada Anjing gue nggak pernah sendiri lagi. Ya walaupun cuma bisa ngeong-ngeong sama nyakar kalau gue curhat. Tapi seengaknya cuma Anjing yang paham kalau gue lagi cerita tuh cukup didengerin aja. Nggak perlu dikasih nasihat macem-macem." kata Aby.
"Gue bakalan usahain Anjing ketemu secepatnya. Lo yakin, kan kalau gue bisa?" tanya Bima serius. Ia harus bisa menepis keraguan dengan dukungan dan kepercayaan dari satu-satunya cewek yang berhasil membuat ia bertekuk lutut.
Kini Aby nyengir lebar. Memang secepat itulah ekspresinya berubah. "Nggak pernah ragu,sih sama bapaknya Anjing primadona."
"Jadi? Mau pulang sekarang? Mendung,nih. Keburu hujan."
Bergerak cepat, Aby bangkit dari duduk. Diraihnya pergelangan tangan Bima agar cowok itu ikut berdiri. "Gimana kalau kita lari sampe ke rumah lo?"
Bukan Aby kalau permintaannya tidak aneh.
Otak Bima langsung bekerja memperkirakan jarak tempatnya berdiri sampai kerumah. Kurang lebih 3 kilometer. Jarak segitu tidak jauh jika ditempuh dengan kendaraan, tapi masalahnya Aby mengajaknya berlari. Lari 2,3 kilometer untuk tes kebugaran jasmani disekolah saja sering menjadi momok yang paling dikeluhkan.
"Lo yakin? Jauh loh." Bima menyambar tas punggungnya juga tas punggung Aby. Akan ia bawakan tas milik kekasihnya itu.
"Yakin kan ada lo yang bakalan gendong gue sambil lari. Iya,kan sayang? Katanya pengin pacaran kayak orang normal yang nggak cakar-cakaran atau gigit-gigitan. Gendong-gendongan normal,kan ya? Terus nanti kehujanan, kesamber petir deh. Romantis banget nggak sih,Ma?"
"Gue makin penasaran dan pengen cepet-cepet bongkar kepala lo. Kayaknya beneran nggak ada otaknya deh." greget Bima dengan senyum menyimpan kesal seraya mengelus kepala Aby.
"Baperan banget sih. Jadi pengen cakar lehernya."
Saat hendak menimpali ucapan Aby, bunyi notifikasi dari ponsel Bima terdengar. Cowok itu segera memeriksa ponsel dan tersenyum membaca pesan dari calon ibu Aby. Bima senang setiap kali wanita itu menunjukkan sisi pedulinya. Sejak pagi, Tiara memang rutin menanyakan keberadaan Aby padanya karena gadis itu tak pernah merespon jika ditanya.
"Kecuali tante Tari, biarin aja. Paling kayak gini cuma sesaat doang. Percaya deh sama gue, nanti juga bakalan balik lagi kayak yang udah-udah. Gue udah pengalaman sama yang kayak gituan. Hehehe"
"Aby ...."
"Lari,Ma!" seru Aby lalu berlari meninggalkan Bima yang hendak memberi wejangan padanya. Untuk saat ini Aby enggan memikirkan hal-hal yang bisa saja mengusik ketenangannya. Kehidupan yang ditata tanpa melibatkan mereka sudah cukup baik dan membuatnya nyaman serta terbiasa. Justru jika mereka kembali hadir, Aby harus beradaptasi lagi dan merasa tak nyaman.
Aby menoleh saat Bima menyusul dan kini sudah berhasil sejajar dengannya.
"Ma?" panggil Aby saat merasakan nyeri diperut kembali menyapa. Saat-saat menahan sakit adalah saat dimana ia terlihat lebih berani dalam hal apapun, termasuk mengikuti kesalahan.
"Apa? Mau jajan lagi? Duitnya udah tipis, katanya mau malmingan."
Masih berlari, Aby menggeleng. "Soal Keyla, kenapa lo nggak belain Keyla tadi? Padahal kan gue yang salah. Lain kali jangan kayak gitu,ya? Kalau gue salah, jangan dibela."
"Nggak belian juga,sih. Lain kali lo jangan kayak gitu lagi. Buat nggak suka atau sampai benci sama Keyla, itu hak lo. Satu yang harus lo inget, jangan pernah minta Satria,Gilang atau bahkan gue sekalipun buat benci Keyla juga sebagaimana lo benci dia."
"... Kenapa Keyla nggak ditakdirin buat jahat aja, sih? Kenapa harus baik ke kalian dan bahkan ke gue yang selalu jahatin dia? Kalau baik gini, gue jadi makin takut. Gue yang nggak bisa baik kayak dia pasti bakalan ditinggalin terus. Orang-orang nggak bakal betah sama gue." kesal Aby lalu menambah kecepatan larinya.
"Lo nggak tau aja gimana Satria, Gilang, dan bahkan Bayu yang paling males sama yang namanya cewek, tiba-tiba pengin temenan sama lo."
Aby menoleh cepat ke arah Bima. "kok Arion nggak sih? Gue kan ngincernya Arion. Ini pasti lo belum promosiin gue ke Arion! Dipromosiin dong, Ma! Kalau laku,kan lumayan." ucapnya melucu untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Bima memutar bola mata malas. Aby yang melihatnya semakin bersemangat untuk memancing keributan. "kosong delapan berapa nomor WhatsApp-nya Arion? Mau gue godain. Kalau nggak mempan, terpaksa nih pasang susuk pemikat."
Mood Bima langsung Anjlok ketika Aby menyebut nama Arion. Cowok lain, bukan masalah. Tapi, ini Arion Adjatama. Ia merasa kurang percaya diri jika nantinya bersaing dengan good money seperti Arion. Jual diri setiap hari pun tidak akan bisa menyamai kekayaan cowok itu.
"Mau dipromosiin model apa aja, nggak bakal bikin Arion minat sama cewek nggak jelas kayak lo. Doyan makan, nggak punya malu, berisik, tukang pukul, mana bego lagi. Arion sukanya yang kalem-kalem, pinter, nggak banyak gaya. Pokoknya yang bukan modelan lo."
"Emang cuma lo yang doyan sama gue." Aby nyengir lebar lalu berlari ke bekalang Bima. Ia pun mengambil ancang-ancang sebelum melompat ke punggung Bima agar digendong. Satu kali percobaan langsung berhasil.
"Nanti kalau gue banting, jangan nangis." sinis Bima seraya mengambil posisi agar Aby nyaman di punggungnya dan memastikan cewek itu tidak terjatuh. Di mulut boleh sok marah, tapi lain dengan di hati. Tanpa sepengetahuan Aby juga diam-diam senyumannya terbit saat cewek itu mengalungkan tangan di lehernya.
"Banting aja kalau bisa. Bulol kayak lo bisa apa,sih?" ejek Aby lalu mengacak rambut Bima sebelum dicabutinya satu persatu.
"Cabut semua sampai botak,By." Ketus Bima pasrah pada tingkah Aby yang tidak ada habisnya.
"hehehe, nanti Tante Tari nggak ngenalin lo. Eeh, lo nyium bau permen karet nggak,sih Ma?"
"Hm. Punya gue, tadi beli dikantin belum dimakan semua. Mau?"
"mau lah! Mana?"
"Ambil sendiri di saku seragam, gue agak susah ngambilnya." intruksi Bima.
Tangan Aby pun langsung meraba-raba dada Bima membuat cowok itu menelan saliva susah payah. Ia berusaha fokus begitu tangan Aby masuk ke saku seragamnya.
"Aby! Jangan diremes, goblok!" kesal Bima saat dadanya sengaja diremas kuat oleh Aby yang sudah berhasil mengambil permen karet. Ingin banting, tapi sayang. Sementara Aby terbahak keras, puas dengan apa yang baru saja dilakukannya.
...*****...
Sebelum Bima dan Aby sampai rumah, hujan deras turun. Sebenarnya Bima sudah mengajak Aby untuk berteduh, tapi si keras kepala Aby malah menyeretnya untuk hujan-hujanan. Saat itu Bima bahkan sempat curiga kalau kekasihnya itu kesurupan reog. Pasalnya cewek itu menari dengan gerakan brutal yang justru terlihat menyeramkan.
Karena hujan-hujanan itulah, Aby diserang flu. Cewek itu juga sempat menggigil dan untungnya sekarang sudah membaik setelah menghabiskan telor gulung hangat.
"Banyak gaya sih lo. Udah tau gampang sakit." cibir Bima yang tengah belajar diruang keluarga ditemani Aby yang digulung selimut sampai hanya kepalanya saja yang terlihat. "udah kayak telor gulung lo."
Menggulung buku tulis, Bima menjadikannya itu sebagai amunisi untuk memukul bahu Aby yang kembali bersin. "Makanya nurut sama gue. Keras kepalanya dari dulu nggak ilang-ilang. Kalau lusa belum sembuh, nggak jadi malem mingguan."
"hidung mempet, kepala pusing, kedinginan ... Udah parah sakitnya. Masih aja diomelin."
"Lebay. Gitu doang padahal udah kayak orang sekarat. Perasaan tadi pas makan telor gulung nggak ngeluh apa-apa tuh."
"Ish! Pijitin,Ma. Pusing kepala gue."
Bima pun menutup dan meletakkan buku dimeja sebelum kini jari-jarinya memijat dahi Aby. Baru ditekan sekali, cewek itu sudah protes karena kesakitan.
"Apa-apa pake tenaga dalem! Untung kepala gue ciptaan tuhan coba aja ciptaan orang udah hancur nih pala gue" omel Aby lalu bangkit dari posisi baringnya. Kini cewek itu duduk bersandar di sofa masih dengan mempertahankan selimut.
"Tidur dikamar, sana! Istirahat biar besok pulih jadi nggak ngerepotin. Soalnya lo kalau sakit suka manfaatin keadaan."
"Kalau ngomong jujur banget!" erang Aby. Memangnya apa sih yang tidak Bima ketahui soal kebiasaannya, apalagi kebiasaannya yang kurang baik. Pacarnya paling jago menemukan soal itu.
Tak mau Aby banyak mengoceh dan ujungnya tidak menuruti perkataanya, Bima pun bangkit. Tubuh Aby yang digulung selimut langsung dibopong, diantar kekamar agar bisa segera istirahat.
"Tidur!" titahnya mutlak begitu membaringkan Aby dikamar tamu.
"Belum ngantuk."
"Mau ditidurin?"
Sepasang lengan berotot Bima yang memerangkap di sisi kanan kiri membuat Aby kesulitan mengeluarkan tangan dari dalam selimut. Kalau saja berhasil, mulut Bima yang terus saja mengucapkan kalimat menyebalkan, sudah mendapat bogeman darinya.
"Iya, iya, ini juga mau tidur. Keluar sana!"
"Hmm, kalau ada apa-apa, panggil gue."
"Jangan lupa malam minggu besok ajak gue kencan!" ucap Aby mengingatkan.
"Bisa diatur. Pastiin lo sembuh sebelum malam minggu. Kalau masih sakit,jangan harap."
"iya bawel!"
Usai mengacak-acak rambut Aby dan meninggalkan kecupan malu-malu dikening. Bima pun mengayunkan kaki ke luar. Sampai diruang keluarga, ia kembali sibuk mempelajari makalah yang harus dipresentasikan. Meski itu tugas kelompok, bima memilih untuk tidak mengandalkan anggota kelompok yang memang tidak bisa diandalkan.
"Bima, Aby mana?"
Kepala Bima menoleh dan terkejut mendapati Tiara yang nampak panik. Koper yang wanita itu bawa dibiarkan begitu saja.
"Tante Tiara kok udah pulang?"
"Aby mana,Ma? Mamamu bilang Aby sakit. Sekarang di mana Aby? Tante mau ketemu Aby."
"Aby ada dikamar tamu, Tante---" sebelum menyelesaikan kalimatnya, Tiara sudah meninggalkan Bima.
Begitu masuk ke kamar tamu, Tiara disambut oleh Aby yang meringkuk dalam balutan selimut tebal memunggunginya. Wanita itu pun melangkah pelan dan duduk di tepi ranjang. Ia terus memberi ciuman di kepala Aby sampai calon anak tirinya terusik dan membuka kelopak mata.
"Tante? Ngapain tante di sini? Bukannya... Papa mana?"
"Papa masih ada urusan, sayang. Senin baru bisa pulang . Mamanya Bima bilang kamu sakit, makanya tante langsung pulang."
Aby tak merespon lagi. Saat Tiara mengusap kepalanya, ia pun tidak protes. Ia hanya sibuk memegangi perut yang terasa nyeri. Sejujurnya, tubuh yang dibungkus selimut adalah sebuah pengalihan agar saat ia meremas kuat perutnya yang nyeri, Bima tidak menyadarinya.
"Aby kalau sakit emang nggak bilang siapa-siapa, Tante. Soalnya pernah bilang ke mama, ke papa juga kalau aku lagi sakit. Tapi malah tetap dibiarin. Makanya habis itu nggak mau bilang lagi, percuma juga,kan?"
Usai berhasil membantu Aby melepas gulungan selimut, Tiara langsung memeluk Aby erat-erat. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Ia tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang sudah Aby lalu seorang diri.
"Aby, mungkin Aby sudah nerima Tante setelah apa yang udah Aby lewatin sendirian. Tante paham sama ketakutan Aby soal kepedulian orang lain ke Aby. Tante cuma mau bilang kalau Tante sayang sama Aby, bukan karena Tante mau sama papanya Aby. Tante beneran peduli dan mau terlibat sama urusan Aby."
"Nggak perlu,Tante."
"Itu perlu, By. Tante siap nemenin Aby kalau sendirian. Tante siap jagain Aby kalau sakit. Tante juga siap urus semua keperluan Aby."
Aby mengurai pelukan Tiara, menatap wanita itu dengan senyuman tipis. "Apa tante juga siap bikinin Aby telor gulung setiap hari? Aby doyan banget sama telor gulung."
Mendegar itu, senyum Tiara mengembang sempurna. "Telor gulung aja,nih? Kalau cuma itumah siap banget. Tante bakal siapin bekal kalau Aby mau sekolah. Menu wajibnya telor gulung, gimana?"
Diraihnya ponsel yang ia simpan dibantal. "Mau telfon papa, suruh cepet-cepet nikah sama tante." gumam Aby membuat Tiara terbahak.
Ia tidak menyangka jika semudah ini. Bima benar, jika ingin memenangkan hati Aby, maka libatkanlah telor gulung.
...*****...
...Tbc...
...Selamat membaca love...
...Khusus malming dipanjangin nih satu episodenya...
...See u next episode babeh...