
Sisi manja Bima muncul karna keberadaan dua kakaknya ditambah subuh tadi ibunya juga datang setelah semalam cowok itu mengadu soal kelakuan dua kakak perempuannya. Bima yang biasanya serba mandiri, menjelma menjadi bayi besar yang serba diladeni. Perkara bangun tidur saja Bima menunggu Tari mengetuk pintu kamar dan membangunkannya. Bima yang sebenarnya sudah bangun sejak subuh, memilih tidur lagi. Padahal biasanya begitu bangun, ia akan menyiapkan sarapan untuk Aby.
Ngomong-ngomong Bima tidur dikamarnya sendiri, sementara Aby tidur di kamar tamu bersama kedua kakaknya. Bima kesal bukan main karena mereka mengambil milik-nya begitu saja. Dan yang lebih mengesalkan lagi , Aby tidak memilih Bima sebagai teman tidur cewek itu saat diberi kebebasan untuk memilih teman tidurnya. Karena itulah Megan dan Laras mengolok-oloknya habis-habisan. Oh tentu saja Aby ikut andil dalam perihal mengata-ngatai Bima.
Suara ketukan pintu terdengar disusul panggilan dari Tari. Bima langsung menutup kedua kelopak matanya dan berakting tidur senatural mungkin. Tak lama kemudian, ia mendengar derap langkah mendekat.
"Bima...kok masih tidur. Nggak sekolah? Ayo bangun." pinta Tari yang duduk ditepi ranjang .
Alih-alih membuka kelopak mata untuk segera memulai aktivitas pagi, Bima memilih memindahkan kepalanya pada pangkuan sang ibu. Sepertinya, si bungsu itu rindu dimanja. Kini jemari Tari sudah mengusap-usap kepala bungsunya.
"Kak Megan sama kak Laras rese,ma." adu Bima dengan kelopak mata yang masih tertutup.
"bukan Bima yang rese? Mama udah denger dari kakak loh soal Bima sama Aby."
Reflek Bima membuka mata dan duduk dengan cepat. "kakak ngadu apa ke mama? Mama percaya gitu aja? Mama tau,kan kakak suka banget jail? Pasti mereka ngarang cerita."
"yaudah kalau gitu, mama mau denger dari Bimanya langsung soal kalian."
"aku sama Aby nggak ngapa-ngapin,ma. Mama tahu kan aku gimana?"
Tari mengulas senyum. "tau banget. Apa lagi kalau lagi bohong. Sekarang Bima lagi bohong kan sama mama?"
"mama" serang Bima kesa sekaligus malu.
"rasanya baru kemaren mama gendong Bima. eh,sekarang udah gede aja. Mana udah punya pacar, Aby pacar pertama kamu kan? Pinter banget anak mama nyarinya."
"Maaa, aku sama Aby nggak pacaran! Aku mau fokus sekolah. Ya kali aku pacaran sama Aby yang nggak jelas itu, mana gob--auu sakit ma." protes Bima saat punggungnya dipukul oleh Tari. Tidak sesakit itu, Bima hanya melebih-lebihkan reaksinya.
Tahu jika putranya akan mengulang kesalahannya lagi, Tari menjewer telinga Bima. "mulutnya dijaga! Mama nggak pernah ajarin Bima ngomong kayak gitu. Janji sama mama, nggak ngerendahin Aby lagi."
"sakit,Ma. Lepasin."
"janji dulu, baru mama lepas."
"iya,iya."
"iya apa? Yang jelas!"
"janji nggak ngomong goblok lagi ke Aby." sedetik kemudian jeweran ditelinganya berakhir. Bima menggosok telinganya yang pasti saat ini memerah. Ingin menyelamatkan diri, Bima bergerak menjauh.
"cuma goblok doang,kan yang nggak boleh? Gobloknya besok diganti bodoh, nggak masalah,kan Ma?" ujar Bima lalu berlari masuk kedalam kamar mandi setelah menyambar handuk. Didalam kamar mandi, tawa remaja laki-laki itu mengudara saat sang ibu meninggikan suara memanggil namanya.
"anaknya mama itu aku. Sayang sama Aby boleh, tapi nggak boleh lebih sayang ke Aby dari pada ke Aku!" seru Bima.
Tari tersenyum tipis. Bima yang ia kira sudah besar, ternyata masih sama saja. Bungsunya masih kekanak-kanakan, tidak mau berbagi kasih sayangnya, dan manja jika bersamanya. Tari sangat tahu sekali seberapa mandiri anak bungsunya itu saat ditinggal. "mama udah bikinin sarapan, agak cepet mandinya." ucap Tari ditengah kesibukannya merapikan kasur Bima yang berantakan.
Setelah merasa rapi, Tari kembali keruang makan untuk mempersiapkan sarapan bersama asisten rumah tangganya. Sebenarnya ia belum selesai memasak. Masih ada menu wajib untuk Bima yang harus ia hidangkan. Kalau tidak, bisa-bisa anak itu merajuk dan melakukan aksi mogok bicara.
"kok tante yang masak? Bima mana? Biasanya Bima yang bikin sarapan." heran Aby yang muncul di dapur sembari menggendong anak pungutnya yang baru saja dikasih makan.
"mumpung tante disini, jadi tante masakin."
"pasti kumat manjanya,yakan tan? Kalau ada tante, Bima udah kayak bocah. Padahal kalau nggak ada tante, paling mandiri. Masuk rumah aja nggak perlu pintu. Panjat balkon, masuk lewat jendela. Tapi nih ya, kalau ada tante, pintu harus dibukain baru mau masuk."
Tari tertawa dibuatnya. Cara Aby menceritakan kelakuan putranya benar-benar menggemaskan. "Aby mau request sesuatu? Barangkali Aby kepengen sarapan pake apa gitu. Biar tante bikinin untuk Aby."
Aby menggeleng. "dikasih makan apa aja udah seneng. Kebetulan perutku, perut murahan. Asal bisa kenyang, pasti mau."
"yaudah aby duduk dulu aja, sebentar lagi selesai. Bima juga bentar lagi turun. Kak Megan sama kak Laras mana?"
"Kak megan udah berangkat,tante. Kalau kak Laras masih bikin alis. Tadi aku bilang alisnya nggak si metris, eh langsung panik."
Tari tidak heran. Tiga anaknya memang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian yang membuat mereka jarang sekali akur, tapi jika persoalan menyayangi mereka sangatlah kompak. Terlebih dalam hal menyayangi si anak bungsu satu satunya itu.
"Aku mau bantu tante aja deh. Mau caper plus carmuk depan calon mertua, hehehe." aku Aby kelewat jujur.
Tawa tari mengudara. Wanita itu tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Aby yang selalu berkata jujur. "Aby emang paling bisa bikin tante makin sayang sama Aby. Aby harus selalu bahagia,ya. Biar tante nggak kehilangan senyumnya Aby."
"pasti,dong tan. Apa lagi kalau di sayang sama tante, bahagianya pasti nambah plus plus plus." kecupan penuh kasih sayang yang mendarat di pipi membuat senyum Aby semakin lebar. "makasih,tante."
Aby menurunkan Anjing dari gendongannya. "Njing, mama mau masak dulu. Kamu mending belajar ngaum atau menggonggong gitu. Biar nggak bosen meong-meong mulu. Jangan ganggu ya, cek vokal dikamar papa aja."
"hus,hus! Pergi!" baru setelah Aby mengacungkan pisau ke anak pungut beban hidupnya, hewan itu berlari meninggalkan dapur."
...*****...
"cuma kenapa pisau,Ma. Bantuin Mama masak tadi." jawab Laras.
Bima menoleh cepat kearah Laras. "kak Laras ke sini ngapain,sih? Kenapa nggak bantuin,Mama masak? Kenapa cuma mau enaknya doang? Kalau aja kak Laras bantuin Mama masak, Aby nggak mungkin luka."
Laras tersendak nasi goreng yang tengah ia santap karena dimarahi adiknya yang sudah bucin stadium akhir pada Aby.
"kak Laras mikir sampe kesitu nggak,sih? Kerja samanya dong,kak!bantuin aku jaga Aby biar nggak terluka lagi." Bima masih belum berhenti memarahi kakaknya.
"heh!" Aby memukul lengan Bima dengan sendok di depan kakak dan ibu cowok itu. "sopan nggak marahin kakak lo kayak tadi? Kayak paling bener aja. ngaca! Lagian lebay banget!"
Sekarang Laras tahu siapa pemegang kasta tertinggi di sini. Abyandra Tahlia. Seorang Bima saja diperlakukan seperti itu.
"kok malah berantem? Udah,ya, kita sarapan. Kasihan tuh Aby udah kelaperan." lerai Tari.
"kak Laras pindah. Gue mau duduk disitu." titah Bima menunjuk kursi yang diduduki Laras. Kursi itu sangat strategis, tepat berada ditengah antara Aby dan Tari.
"Ma, sumpah lo ribet banget. Kursinya sama aja deh."
"beda! Pindah!" pintanya tidak mau kalah. Cowok itu melirik ke arah Tari untuk meminta bantuan. Baru setelah Tari mengangguk lemah, Laras mau menuruti kemauannya. Sudut bibir cowok itu berkedut, ia bersorak dalam hati begitu duduk di kursi Laras. Tari pun memindahkan piring beserta gelas kehadapan cowok itu.
"kayaknya lo udah kena pelet gue. Jadi penasaran kalau gue tinggalin lo, bakalan gila nggak,ya? Atau malah langsung gantung diri? Mau nyoba nggak? Penasaran banget sama reaksi lo." bisik Aby.
Bima mengupat dalam hati. Untung saja ada Tari dan Laras, jika tidak dipastikan Aby sudah habis ditangannya. Ia akan menubruk lalu membanting Aby keatas meja makan untuk dijadian santapan lezat Bima.
...*****...
Pantas saja gadis-gadis centil disekolahnya heboh membicarakan cowok yang katanya ganteng. Ternyata yang dimaksud mereka adalah Bima. Cowok itu menepati janjinya, tadi pagi Bima berjanji akan menjemputnya pulang dan mengajaknya jalan-jalan.
Tidak hanya itu, Bima juga akan membeli apapun yang ia inginkan. Sepertinya usaha kecil-kecilan jual diri Bima,semakin meroket omsetnya. Sebagai pacar, Aby sangat bangga. Baru beberapa hari jual diri, Bima sudah hampir sekasta dengan Arion.
Begitu berada diujung tangga koridor lantai satu, Aby langsung berlari penuh semangat menghampiri Bima.
"nggak usah lari bisa,kan? Pecicilan banget kayak bocah!"
"hehehe,jadi jalan? Jadi jajan, kan?"
"jadi." sahut Bima malas.
"jajan mobil dulu,yuk! Biar nggak gosong kitanya. Naik motor terus."
Bima tidak bisa menahan diri untuk tidak menjitak Aby. Sejak kapan jajan versi Aby adalah membeli mobil? Bukannya itu jajan versi Arion? Jajan versi Aby itu membeli telur gulung, bakso,seblak,sosis bakar, atau pentol. "mobil pala lo! Telor gulung!"
Tadi katanya mau beliin apa aja. Gue udah mikir jauh kalau lo sekarang udah kaya raya. Minimal dibawah Arion dikit gitu. Makanya gue naik level, minta beli mobil. Eh ternyata masih kere." cibir Aby.
"nggak usah banyak gaya! Lo juga nggak cocok jajan mobil. Lo cocoknya jajan telor gulung sama pentol."
Aby nyengir lebar. "iya juga sih. Tambahin boba, lah. Masa nggak ada minumnya. Kalau keselek gimana?"
"iya deh tambah boba."
"seblak sama bakso acinya ketinggalan. Sekalian itu juga,ya?"
Bima mengacak puncak kepala kekasihnya, gemas sekali dengan gadis-nya ini. "apapun gue beliin, tapi jangan lupa. Nggak gratis." gumamnya seraya memperlihatkan smirk pada Aby.
"mau ternak ****** lagi?"
"cuma lo yang tau kesenangan gue,By."
"buruan jalan! Gue udah ngosongin perut dari pagi, spesial buat malak lo! Bilang dadah dulu sama duit yang ada didompet lo! Gue mau kuras habis isinya." Aby tertawa puas. Tawa yang menular sampai Bima juga ikut tertawa.
...*****...
...tbc...
...asiik update lagi nich...
...ekspresi Anjing pas lagi brantem sama Mamaya ngerebutin Papa Bima...
...ada bapak bapak anak satu nih,mana kecek badas lagi...