
"Coba sekarang bilang mama, jangan meong-meong mulu. Gak ada akhlak kamu, masa ama orangtua gak sopan."
Meoong
Setelah mengeluarkan suaranya,kucing itu lalu mendusel dalam pangkuan Aby. Ekornya yang berbulu lebat serta panjang itu bergerak menyapu wajah.
Aby terkekeh pelan saat bulu halus kucing pemberian Bima membuatnya bersin. Bima menepati janjinya. Saat pulang dari rumah sakit tadi, kucing itu sudah sampai dirumahnya. Aby tidak peduli tentang kucing siapa yang Bima culik. Yang terpenting sekarang ia memiliki teman yang bisa menemaninya dua puluh empat jam. Tidak tanggung-tanggung, Bima juga telah menyiapkan segala peralatan anak angkatnya itu.
"mama sayang. Ma-ma bukan meong. Yuk bisa yuk, pelan-pelan aja,bismilah yuk. Ma-ma."
Aby tidak berhenti untuk mengajarkan anak angkatnya itu belajar memanggilnya,mama. Mama Aby. suara meong terlalu mainstream. Aby ingin sesuatu yang tidak biasa.
meong
lagi.kucing itu hanya mampu mengeong,tidak sesuai harapan Aby.
"Anak pungut ngajak ribut,nih." kesal Aby menatap berang kepada kucing yang bertengger manis dipangkuannya. Seperti tahu apa yang terjadi, kucing itu melompat dari pangkuannya berlari menghampiri Bima yang sudah mengulurkan tangan menyambut kedatangannya.
"Ini kucing,Aby. kalau yang namanya kucing ya cuma bisa meong-meong doang. Sampai lo jadi monyet juga ini kucing tetap bilang meong. ini kucing gak bakalan bisa manggil lo mama. Tolong kalau goblok jangan diperjelas. semua orang juga tau kalau lo goblok... banget malahan." Cibir Bima yang sudah meraih tubuh gempal kucing itu gedalam gendongannya.
gemas dengan kucing Aby, bima mengangkat kucing itu lebih tinggi hingga mencapai wajahnya. Senyum cowok itu terbit saat kucing Aby menyerangnya dengan ciuman.
Aby melihat kedekatan antara papa dan anak pungut itu mendengus. Bisa-bisanya ia iri dengan anak angkatnya yang diperlakukan lembut oleh Bima. Aby pun bangkit, merebut paksa kucingnya dari Bima.
"Sama mama Aby aja, papa kamu pisikopat. nanti kamu di satein lagi." bisiknya pada telinga kucing.
Tangan Aby tak berhenti mengelus halus bulu kucing barunya. Cewek itu berjalan menjauhi Bima. lalu duduk sambil memangku sang kucing.
"Besok kalau udah gede,kamu harus jadi maung ya,nak. aum-aum gitu,biar gentle. meong-meong mah cupu. anak mama Aby harus paling keren."
"Mama beli kamu gak gratis. jadi,kamu harus balas budi dengan jadi bodygroudnya mama."
Mendengar itu,Bima rasanya menyesal telah menguras tabungannya senilai delapan juta untuk membeli kucing dengan segala keperluannya. Bima tentu jauh berbeda dari Arion. Yang katanya tidak sempat miskin itu. Uang delapan juga tentu nominal yang besar menurutnya. Apa lagi untuk suatu yang memang bukan kebutuhan. Tentu itu sangat disayangkan. Mungkin jika ia adalah Arion, recehan delapan juta tidak ada artinya. Sekali makan saja mungkin lebih dari itu.
Kucing yang ia fikir akan membawa dampak baik untuk Aby, nyatanya semakin memperburuk. Tidak hanya Pada Aby, Bima juga sangat prihatin pada kesehatan mental kucing itu.
"Bima,lo kan papanya,nih. Lo udah ada nama belum buat anak pungut kita?" tanya Aby.
"Gak ada, lo aja yang kasih nama." Jawab Bima terdengar malas.
"Yaudah,kalau gitu namanya anjing."
Sudah bisa di prediksi,kesehatan mental si kucing sudah sangat down berat. Sudah dituntut untuk mampu menjadi harimau, dan kini namanya adalah anjing. Tidak hanya Bima, kucing itu pasti sudah lupa akan jadi dirinya. Kucing, harimau, atau anjing.
"Udah lah, gue mau pulang aja. Emosi gue kalau lama-lama disini. bisa-bisa ikutan ketularan goblok kayak lo." Bima menyambar jaketnya pada sofa sebelum berdiri meninggalkan Aby bersama kucing yang tengah di latih mengaum.
Baru sampai di ambang pintu, kaki Bima berhenti melangkah. Aby belum makan. ada obat yang harus di konsumsi hingga habis. serentetan pesan dokter demi pemulihan Aby, memenuhi kepala. Mendadak kakinya sulit untuk meninggalkan Aby.
Berhenti peduli pada Aby adalah suatu hal yang sangat mustahil untuknya.
Memutuskan untuk tetap dirumah Aby, Bimapun menunda kepulangannya. "Lo mau makan apa,by?" tanya nya setelah meletakkan jaket di sofa.
"Nanya doang atau sekalian dimasakin? kalo nanya doang males ah gue jawabnya."
"Sekalian dimasakin,puas?"
"Bikinin nasi goreng aja gapapa,ma. kalau gak ngerepotin tambahin telor ceplok. biar gak nanggung. tambahin irisan mentimun sama kerupuknya juga,ya.Sekalian bikinin buat lo ya ma. Anjing biar gue yang jagain."
Bima mengacungkan jari tengah sebelum pergi dari hadapan Aby.
"Nyesel gue nanya. emang gak tau diri banget."
Aby nyengir lebar.
"Kalau di depan anjing. jangan kasar-kasar gitu ma, Kasihan mental anak kita."
"Kita? lo kalau sinting jangan ngajak-ngajak gue."
"Biarpun anjing anak pungut, lo gak boleh begitu ma."
...*****...
"Bima masak? emangnya bisa?"
"Bima sering masak buat aku,tante. masakannya enak. maaf ya tante, kalau anak tante disini jadi baby-sisternya Aby. Nanti tante makan disini aja,ya. Bima masak nasi goreng. Buatan Bima itu juara satu. Tante pasti bangga. Bima gak jadi beban keluarga."
"Hah."
Tari terkejut bukan main saat tahu putra bungsunya kini tengah memasak didapur. Setahunya, Bima tidak bisa memasak. saat ia di rumah. Bima lebih banyak merengek meminta dimasakkan ini dan itu dengan dalih tidak bisa memasak sendiri. Bahkan memasak mie instan sendiri putranya itu mengaku tidak bisa. Bagaimana bisa kini putranya bisa memasak?
Tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Aby. Tari pergi ke dapur untuk memastikan. Benar. Putra bungsunya yang sering bermanja-manja padanya, kini sibuk berkutat dengan alat-alat dapur. Sulit dipercaya Bima bisa seperti itu. Ia kira kebutuhan perut Bima dan Aby dipenuhi oleh asisten rumah tangga yang dipekerjakan untuk mengurus mereka.
Sepertinya Bima menjadi sosok yang lain, setelah memilih untuk tidak tinggal serumah dengannya. Sejak Bima SMA, Putranya itu memilih tinggal di rumah yang seharusnya sudah ia jual. Saat menjual rumah itu, Bima merengek serta melakukan serangkaian aksi protes padanya. Hingga Tari tidak tega serta memberikan kesempatan pada Bima yang katanya ingin hidup mandiri. Tak sepenuhnya membiarkan putranya hidup sendirian. Tari mempekerjakan satu ART dan rutin berkunjung. Kakak-kakak Bima juga rutin ia suruh untuk mengunjungi si bungsu kesayangan mereka.
Tari tersenyum penuh arti. Sebelum bima menyadari keberadaanya. Tari kembali keruang keluarga untuk bergabung dengan Aby lagi.
"Aby, kayaknya tante mau pulang dulu."
Aby mengalihkan perhatiannya dari kucing yang tengah ia ajak bermain. "kok pulang? gak mau ikut makan bareng,tante? Ini cucu tante pengen makan bareng sama omanya juga loh."
Tari tertawa pelan. Aby memang gadis ajaib dan sangat unik. Anak itu memiliki kepribadian bermacam-macam yang membuat orang didekatnya tidak akan bosan. "tante mau nginap, mau beres-beres kamar sebentar. nanti Aby main aja kerumah."
"Oh gitu, yaudah deh."
Aby bangkit dan mengantar Tari sampai depan pintu.
"Padahal Aby gak perlu anter tante. orang rumah Bima deket sama rumah Aby." ujar tari.
"Gak papa tante, biar aman aja. Tante gapapakan,kalau anaknya kelamaan disini?"
"Iya gapapa kok, malahan tante seneng kalau Bima bisa jagain Aby dengan baik."
"Tante....aku boleh peluk?"
"Boleh banget."
sedetik setelah mendapat persetujuan. Aby langsung memeluk erat tubuh Tari. Kelopak matanya mulai menutup saat merasakan ada elusan di punggungnya.
"Kalau Aby mau, Aby bisa anggep tante ini mamanya Aby."
"Nanti Bima ngamuk. kata Bima,aku boleh ambil apapun punya dia. yang penting jangan kasih sayang tante."balas Aby saat pelukannya di urai.
"Anjing, kamu dimana.sayang."
Mendengar suara kucingnya, Aby memeriksa kolong meja dan tersenyum sumbringah saat melihat kucingnya disana. Ia menggendong kucing itu, membawanya kedapur untuk merusuhi bapaknya Anjing yang tengah memasak.
mengabaikan peringatan Bima untuk tidak memasuki dapur, Ia berdiri di belakang cowok itu. Dengan usil, ia meletakkan kucing diatas punggung Bima.
"Njing gigit aja leher papamu. Gak perlu mama ajarin cara gigit leher,kan? sekalian di cakar-cakar. Sebelum mama pungut kamu,papa itu sering banget dzolim ke mama. ingat njing surga terletak di bawah telapak kaki mamamu ini."
Tangan Bima terangkat untuk meraih kucing yang kini bertengger di pundaknya. Cowok itu berputar seratus delapan puluh derajat yang kini mampu berhadapan dengan Aby.
"Becanda,tadi bercanda. jangan baperan." ujar Aby.
"Lanjutin masaknya, gue udah gak mood."
"Tapi gue kan,gak bisa."
"Gue bisa jadi tutor masak lo."
setelah menurunkan kucing dalam gendongannya, Bima mendorong Aby untuk menggantikannya. Tahu jika cewek itu berencana ingin kabur, Bima sudah sigap untuk mengantisipasi. Tubuh Aby dikurung dari belakang oleh tubuhnya yang merapat ketubuh Aby. Lengan-lengan berototnya menjadi benteng di kanan kiri.
Bima pun mulai mengintruksikan apa yang harus Aby lakukan. Walaupun awalnya Aby menolak namun pada akhirnya menurut setelah di ancam. Bima tersenyum penuh kemenangan saat Aby mulai memotong dengan gerakan kaku dan terus mengoceh.
Mendadak semuanya kacau stelah Bima melihat leher jenjang Aby. Fokusnya hilang dan cowok itu mulai membasahi bibirnya yang terasa kering.
"Udah, terus apa lagi yang gue potong?"
"Leher lo " jawab.
Hah?"
Bima tersadar. Ia pun melangkah mundur menjauhi Aby. "mending lo pergi dari sini, biar gue yang masak sendiri.".
"kok gitu? labil banget jadi cowok. Tadi-------"
"Gue udah bilang. pergi lo! lo gak tuli kan?" Bentak Bima.
"Anjing, papamu kesurupan." Teriak Aby lalu berlari mencari anak angkatnya. Ia tidak mau mengambil resiko jika berada di dekat Bima yang kumat.
...*****...
Bima mengupat dalam hati saat mengantri di depan tukang martabak yang begitu ramai di malam minggu. Seharusnya ia tidak melihat status Aby di WhatsApp. Postingan status Aby itu lah yang membuat Bima kini menunggu hampir stengah jam untuk mengambil pesanannya selesai. Aby menuliskan jika cewek itu menginginkan martabak.
Selalu tidak bisa mengabaikan Aby begitu saja, Bima memutuskan membeli apa yang Aby inginkan, sekalipun cewek itu tidak meminta kepadanya. Bima pun terkadang tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang selalu bersikap seperti ini.
Begitu pesanan sudah di tangan. Bima bergegas tancap gas menuju kerumah Aby. Butuh waktu hampir setengah jam ia sampai disana. Turun dari motor, Bima mengumpulkan kerikil.
Cowok itu berdiri mengambil ancang-ancang untuk melempar jendela kamar Aby dengan kerikir yang sudah ada di genggamannya. Ia baru akan berhenti jika cewek itu muncul.
"Kayaknya emang bener ya, kalo lo hidup di zaman batu kerikil. Manusia purba jenis apa lo." teriak Aby dari balkon.
Di tempatnya, Bima menyunggingkan senyum tipis. ia menengok kanan kiri dan menemukan tangga. Seolah tidak mengerti apa gunanya pintu, Bima memilih menggunakan tangga untuk bisa sampai di balkon kamar Aby.
Aby menatap tidak percaya melihat Bima bisa sampai di balkon kamarnya berkat bantuan tangga.
"Ada bakat ngerampok juga ternyata. Lo gak mau gabung di paguyuban perampok ter-keyen ,ma? lumayan dari pada open Bo. Ngerampok rumah temen lo yang katanya kaya banget itu, gue sering lihat di story ig nya dia, rampok-able banget gubuknya." ujar Aby.
Tidak menanggapi perkataan cewek itu, Bima lebih memilih menerobos masuk ke dalam kamar Aby. Martabak yang ia bawa langsung ia letakkan di atas meja sebelum bergabung membaringkan badannya bersama kucingnya Aby.
"Nah gini, baru namanya temen. peka, tanpa perlu gue minta." puji Aby melihat box martabak yang Bima bawa. Cewek itu tersenyum puas melihat isinya. sesuai dengan apa yang ia inginkan, coklat kacang.
"Habisin sekalian kotak sama plastiknya biar lo kenyang."
"Sekalian sama yang beliin, gua telen hidup-hidup." Balas Aby setelah menelan makanannya. Ia beranjak menuju tepi kasur, duduk di dekat bima untuk berbagi martabak dengan Bima yang tengah berbaring bersebelahan dengan Anjing.
Bima membuka mulutnya begitu martabak di tangan Aby berada di hadapan mulutnya.
"Btw....lo gak sekalian beli minum gitu, masa beli martabak doang. kayak gak ikhlas gitu beliinnya. Gue mau bilang makasih juga jadinya agak males."
Gerakan mengunyah Bima berhenti. Cowok itu menatap intes kearah Aby. Dengan gerakan secepat kita, Ia merai tangan Aby. Jari telunjuk cewek itu yang berlumuran coklat, ia kulum dan ia mainkan dengan lidahnya. sebelum akhirnya digigit oleh Bima.
Aby menjerit dengan cepat ia memukul-mukul Bima, pukulan pada kepala cowok itu baru mampu menghentikan tindakan sinting cowok yang sedang berbaring di kasurnya. "Sinting ya lo,ma!"
"Mau gue gigit lagi?" tawaran yang sangat mampu membuat Aby kesal.
"Mending lo pulang aja sana! bahaya lo disini. mainnya udah gigit-gigitan."
Bima menarik guling Abu untuk ia peluk. "gue mau nginap di sini, males pulang."
"Yaelah deket banget,tinggal pulang. mau gue tendang?bisa sampe rumah lo dengan selamat."
"Gak denger, gue udah tidur."
"Bimaaaaa! pulang sana! gue juga udah ngantuk mau tidur. lo kalau mau nginep, cari kamar yang lain. Jangan kamar gue, ini daerah tutorial gue."
"Teritorial,goblok!"
"ya itu maksud gue. sana pergi! jangan tidur disini."
Bima menepuk sisi disebelahnya. "Sini tidur bareng. gue ngantuk, sumpah. tenang aja! lo bukan selera gue, lo telanjang di depan gue, gue tetap gak minat sama lo. Apa lagi kalau cuma tidur bareng. Gue suka produk jumbo, bukannya mini kayak punya lo."
...*****...
...Tbc...
...Akhirnya aku update lagi,huhuhu...
...makasih banget buat yang udah tinggalin jempolnya...
...semoga gak bosen dan selalu suka sama novelku....
...yuk bisa yuk tinggalin like and comment...
...see you next episode...