
Otak Aby blank. Belasan kali berpacaran, bibirnya belum pernah diserang begitu rakus oleh mantan-mantannya seperti yang tengah Bima Lakukan. Aby tidak sepolos itu sampai tidak tahu situasi semacam ini. Walaupun pengalamannya hanya sebatas menonton adegan sekilas dari drama korea yang ia tonton, namun Aby cukup berani untuk menyerang balik.
Disela kenikmatannya, Bima tersenyum miring. Mengejek cara Aby membalasnya, terkesan terlalu tergesa-gesa. Sangat amatir.
Aby butuh tutorial darinya. Sebagai tutor yang baik, sepertinya ia harus menambah jadwal bimbingannya dengan Aby untuk hari ini. Agar kedepannya Aby bisa lebih menikmatinya. Ia juga yang akan diuntungkan nantinya jika Aby handal dalam hal ini.
"Jangan digigit, Aby." erang Bima. Benar-benar payah , bisa-bisanya Aby menggigit bibirnya.
Meeoooong
suara jeritan kucing saat Aby tidak sengajak menginjak ekornya, membuat Bima mengupat karena harus menyudahi kegiatannya di bibir Aby. Anaknya benar-benar mengacau kesenangannya. Bima pun menegakkan punggungnya lalu menyalakan lampu. Saat itulah ia bisa melihat luka cakar disepanjang betis Aby.
"Anjing!" Bima tidak tahu makna kata 'anjing' yang lolos dari bibir Aby itu. Memanggil kucing atau mengupat.
Tak mengatakan apapun, Bima mengendong Aby membawanya duduk ketepi ranjang. Cowok itu bergerak cekatan membereskan luka Aby.
"Bima....lo titisan soang,ya? Pro banget nyosornya." ucap Aby saat Bima bertekuk lutut dihadapannya mulai bembersihkan luka dibetis cewek itu.
Bima mendongak menatap Aby yang tengak mengigit bibir bawah. Sialan! berani-beraninya Aby melakukan itu dihadapannya. Apa gadis itu tengah menantangnya untuk melakukan hal lebih.
"Sakit?" tanya Bima.
"enggak,ginian doang gak berasa ma."
Bima membereskan P3K lalu mengembalikannya ketempat semula. Cowok itu melangkah kearah sofa mendekati kucing yang sedang meringkuk disana. saat mengelus kepalanya, kucing itu melompat ke dada,minta digendong. Cowok itu tersenyum membawa sang anak mendekati Aby.
"Ma...ciuman tadi maksudnya apa,ya? kalau temen kan gak ada cium-cium kayak gitu."
"Lo nembak gue?" tanya Bima.
Aby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang apa yang ia harapkan setelah ciuman tadi?
"Mending lo pulang, gue ngantuk. Mau tidur, sini anjing sama mama." kucing yang berada di gendongan Bima, diambil alih oleh Aby.
Bima tidak mengatakan apapun. Ia pun bangkit dan melangkah keluar dari kamar Aby lewat jendela. Tanpa dikomando, ibu dari anak mereka itu mengekori langkahnya sembari mengendong kucing.
"Ma."
panggilan itu membuat Bima mengurungkan niatnya untuk turun. Cowok itu berbalik badan dan kembali berdiri dihadapan Aby.
Aby merogoh saku piamanya. Permen kaki yang ia janjikan tadi siang, di sodorkan ke cowok itu. "Makasih, ya. Ternyata gue gak goblok-goblok banget, cuma males belajar doang. Ini buat lo buat tanda makasih gue."
Bukannya menerima pemberiannya, Bima justru mendorongnya. Beruntung cowok itu sigap, lengannya menahan tubuh Aby sebelum menubruk dinding.
Tau akan apa yang Bima lakukan. Aby menutup mata anak pungutnya agar tidak melihat kelakuan bapaknya yang terkena sawan soang itu yang bawaannya pengen nyosor aja.
"Papamu sangean,njing."
...*****...
"Beli otak yang merk-nya samaan kayak punyo lo dimana sih,ma?"tanya Arion lalu lanjut menyedot isi susu kotaknya. Belakangan ini cowok itu mengalami gejala stres karena otaknya di cekoki materi yamg tak mampu di proses dengan otaknya. Kekayaan yang dimiliki belum mampu membantunya membuat anak orang kaya satu itu bertambah stres.
"Tuker tambah gimana,ma? Biaya bongkar pasangnya biar gue yang nanggung. plus lo bebas pilih kekayaan gue." sambung Arion lagi setelah susu kotak pertamanya habis.
"Gini amat obrolan manusia yang otaknya jarang di gunain, natural banget." komentar Bayu yang mampu mengundang gelak tawa Satria dan Gilang.
Saat hendak protes ucapan Bayu, makanan yang mereka pesan datang. Arion terpaksa mengurung niatnya. Satria dan Gilang sebagai seksi konsumsi,dengan cekata membagi makanan kemasing-masing sahabatnya. Mereka berlima memang memiliki perannya masing-masing disetiap situasi. Jika tengah dikantin, Satria dan Gilang yang berperan aktif. Arion sebagai penanggung jawab wajib membayar semua tagihan. Bayu dan Bima menjabat sebagai pembantu umum, wajib membantu tugas atau PR Arion, Satria dan Gilang setelah makan.
"Ma, lo orang miskin yang ngaku-ngaku kaya,ya?" tebak Gilang tiba-tiba.
Bima tengah menuang saus ke dalam mangkuk menoleh menatap Gilang. "maksud lo?"
"Lo gak pernah ajak kita main kerumah lo, makanya gue curiga. banyak banget alasan lo kalo kita mau kesana."
"Bener juga si Gilang. Gue baru sadar, njir. Arion yang rumahnya kayak gubuk reyot mau roboh aja gak malu ajak kita main merumahnya. Masa lo malu, sih? Kalau pun lo bukan orang kaya, kita-kita gak bakalan jauhin lo kok,santai aja." sambung Satria.
Benar.
Sampai saat ini, Bima tidak pernah mengajak sahabatnya untuk sekedar mampir ataupun main kerumahnya. Alasannya sudah sangat jelas. Aby. Bima tidak mau jiwa kegatelan aby meronta-ronta melihat Arion dengan segala keroyalan serta kekayaan cowok itu. Bima sadar betul keempat sahabatnya ini masuk kedalam bibit unggul yang mana kriteria Aby inginkan. Ia tidak ingin Aby naksir salah satu dari mereka. Karena jika itu terjadi, Bima tidak yakin bisa menyingkirkannya. Untuk itu, sebisa mungkin Bima menyembunyikan Aby dari mereka.
"Ntar deh kapan-kapan gue ajak kalian." balas Bima malas.
"kapannya itu kapan? gue makin yakin lo miskin" ujar Gilang.
"Lagian ngapain sih, kepo banget sama rumah Bima? penting banget emang rumah dia buat kalian? jangan bikin ribet deh, kalaupun kalian tau rumahnya Bima . Gak bakalan bikin kalian pinter kan?" Sewot Bayu.
"Ya tapikan, kalo gue tau ada untungnya. Mana tau laper, gak ada duit. bisa deh gue bersilahturahmi sekalian makan disana." jawab Satria lalu nyengir lebar.
"Password restoran bokap gue masih sama. Jangan kayak orang susah deh. Tinggal masuk, makan sepuasnya. Bungkus bawa pulang sekalian." celetuk Arion santai.
"Salim dulu sama anak sultan, biar ketularan kaya." ujar Gilang.
"Bima."
Bima menoleh mendapati Citra berdiri tak jauh darinya. "Kenapa cit?"
"Dipanggil sama Bu Fitri, disuruh keruang BK,sekarang."
"Soal Zea?" tebaknya.
Citra mengangguk. "Anaknya gak masuk hari ini.Mungkin Bu Fitri mau minta bantuan lo."
"Gue cabut duluan." pamit Bima lalu meninggalkan kantin bersama Citra.
...*****...
Ketidakhadiran Zea di sekolah tanpa keterangan apapun dikaitkan dengan khasus pembullyan yang terjadi kemarin. Bima dan Buk Fitri sempat mengobrol banyak di ruang BK tentang kemungkinan buruk yang bisa terjadi menimpa cewek itu. Bima sendirilah yang menawarkan diri untuk mendatangi rumah Zea guna mencari informasi tentang ke adaannya. Untuk selanjutnya bisa ditindak lanjuti oleh pihak sekolah.
Sepulang sekolah, Bima mendatangi kediaman gadis itu seorang diri. Kini ia sudah berdiri didepan rumah Zea yang terlihat sepi. Pintu dan jendela dalam keadaan tertutup dan pos satpam juga kosong. ia sudah memencet bel berkali-kali namun tidak ada tanda-tanda yang orang akan membukakan pintu untuknya. Bima kembali mencoba. Hasilnya tetap sama.
"Zea?"
Bima langsung menerobos masuk lewat jendela saat melihat tubuh Zea terkapar tidak sadarkan diri di lantai. Ia berlari mendekat dan membopong Zea. Saat bersentuhan dengan kulit Zea membuat Bima bisa merasakan panasnya tubuh gadis itu. Bima mempercepat langkahnya dan membaringkan Zea di ranjang.
Kelopak mata Zea terbuka di detik pertama ia dibaringkan diatas ranjang. Bibir pucatnya bergerak. "Kak, kok bisa disini?" tanyanya terdengar lemas.
"Itu pertanyaan gak penting, boleh gue ngelakuin sesuatu di rumah lo?"
"Kak Bima mau apa?"
"Mau kompres lo, lo demam. bolehkan?"
Anggukan dari Zea membawa Bima menjelajahi rumah gadis itu. Cowok itu bergerak cepat mengambil peralatan yang sekiranya di butuhkan nantinya untuk mengompres Zea. Ia kembali ke kamar Zea dengan baskom berisi air serta handuk kecil di tangannya.
"Ngomong-bgomong lo tinggal sendirian? rumah lo sepi" tanya Bima begitu mulai mengompres Zea.
"Nggak kak. Kak aku boleh minta tolong ambil hpku? kepalaku pusing rasanya kalau bangun, mau nelfon mama."
Bima melakukan seperti yang Zea minta.Saat cewek itu asik mengobrol dengan ibunya, Bima mencoba untuk tidak peduli. Ia tetap fokus pada kegiatan mengompresnya.
"Makasih ya, kak. Aku hutang banyak banget sama kak Bima."
Senyum bima terbit. "Sama-sama, yokap lo udah otw kesini?"
"Iya. Kok kak Bima bisa dirumahku?"
"Lo nggak berangkat. Buk Fitri minta gue buat cek keadaan lo. Buat sekarang ini gue gak bakalan bahas macem-macem. Gue mau nunggu lo sembuh dulu aja."
"Terimakasih,kak."
setelah selesai mengompres, Bima kembali ke ruang makan untuk mengambil nasi dan lauk. Sepertinya tubuh lemas Zea butuh asupan makanan.
"Lo makan dulu,ya. biar gak lemes-lemes banget badannya. Abis ini gue ke apotek beli obat lo."
"Gak perlu kak, mama bilang mau bawain obat."
melihat Zea kesulitan untuk bangun, Bima pun membantu cewek itu. "Mau gue suapin?" tanyanya.
"Aku bisa sendiri kak,makasih."
"Zizi!"
Tubuh Bima menegang melihat siapa yang muncul dikamar Zea. Ayu. Perempuan yang ia tahu adalah ibu dari sang pujaan hati.
"Mama kok cepet banget nyampenya?"
Mama? Bima rasa ia tak sebodoh itu sampai tidak bisa menebak hubungan seperti apa antara Zea dengan Tante Ayu.
"Bima?" wajah Ayu memucat melihat Bima di dalam kamar calon putrinya.
...*****...
"Tante mohon sama kamu, jangan kasih tau aby soal ini. Biar tante nanti yang kasih tau Aby. Kamu tau sendiri, tante lagi coba deketin Aby biar Aby bisa ngerti nantinya."
"tante sama ayahnya Zea lagi menjalani hubungan, dan setelah tante sama om Ali resmi cerai, tante bakalan menikah sama ayahnya Zea. Tante harap kamu bisa jaga rahasia ini dari aby. Aby belum cukup kuat untum tau semuanya ini, ma. Kasih tante waktu buat nyiapin semuanya."
Kalimat Ayu saat dirumah Zea tadi mampu mengusik pikirannya. Bima merasa sesak didada saat aby memamerkan masakan ibu-nya di status whatsApp gadis itu. Aby tidak tau saja kebahagian-kebahagian kecil yang ia terima adalah jalan untuk luka dihatinya.
Ma, Besok gue ulangan sejarah. Pengen dapet nilai 7. Buruan kerumah gue. Bantuin gue melawan kegoblokan ini.
Pesan yang Aby kirim membuat Bima bangkit dan melangkah tergesa-gesa kerumah cewek itu. Tentu saja ia tidak akan repot-repot masuk dengan mengetuk pintu. Tangga masih menjadi favoritnya untuk sampai dikamar Aby.
Bima mengetuk jendela kamar Aby dan beberapa detik kemudian jendela terbuka untuknya. Melihat Aby membuka mulut, Bima langsung mendahuluinya.
"Gubernur jendral VOC yang berhasil mengadakan perjanjian dengan penguasa Jayakarta untuk pembelian sebidang tanah yang ada di tepi sungai Ciliwung adalah?"
Aby mematung dengan pertanyaan dadakan yang Bima layangkan padannya. Bisa-bisanya cowok itu baru datang langsung memberikannya pertanyaan..
"Jawab! gimana mau dapet nilai 7 lo kalau soal gampang begituan doang gak tau jawabannya." cibir Bima lalu memasuki kamat Aby. Cowok itu duduk bersandar dikepala ranjang sembari bermanja-manja dengan anak semata wayangnya.
Aby sendiri masih nge-bug di depan jendela membuat Bima tersenyum geli.
"Mau sampe kapan disitu,Aby?"
Aby tersadar dan langsung berlari berniat memukul Bima yang hampir membuatnya serangan jantung. Belum sempat niatnya terwujud, pinggangnya direngkuh. Dalam satu kali tarikan, tubuhnya jatuh dan mendarat disebelah bima. Saat hendak kabur, lengan berotot Bima menahannya.
"Baca, setengah jam lagi gue kasih lo pertanyaan. kalo salah,siapin ini baik-baik." pesan Bima dengan senyum mencurigakan saat ibu jarinya menekan bibir bawah Aby.
...*****...
...Tbc...
...S E L A M A T M E M B A C A...
...Semoga suka yaaa...
...jangan lupa tinggalin jejak...
...dapet pap nih dari papanya si primadona...
Lagi liatin tetangga brantem sama lakinya guys