
Diantara hari-hari yang lain komposisi jadwal pelajaran besok--kamis-- adalah yang paling berat. Dibuka dengan pelajaran Sejarah, dilanjutkan dengan Fisika dan Biologi serta ditutup dengan Matematika peminatan Tiga jam pelajaran menjadi ramuan ampuh penyebab sakit kepala.
Beberapa hari ini ia disibukkan oleh kegiatan OSIS dan beberapa ekstra kurikuler yang diikuti, belum lagi mengurus Aby yang menyita banyak waktu, Bima sampai keteteran mengerjakan tugas dipertemuan sebelumnya yang harus dikumpulkan besok. Menutup buku sejarah, Bima memijat pelipisnya sebelum lanjut mengerjakan tugas lain.
Sejak dua jam yang lalu, lelaki itu sibuk dimeja belajar. Mengerjakan satu persatu tugasnya dengan tetap tenang selagi Aby yang berisik dan petakilan tidak ada disekitarnya. Sebelum belajar, ia sudah memberikan selembar uang dua puluh ribuan untuk mengusir cewek itu. Menyuruhnya berjaga dipintu gerbang bersama anak pungutnya untuk menunggu penjual lewat. Kalau ada sangkut pautnya dengan jajan, Aby pantang menolak.
Sayangnya, ketenangannya terusik sebelum semua tugas terselesaikan saat pintu kamarnya diketuk. Bima memutar kursi menghadap pintu, menyambut kedatangan orang yang ada dibelakang pintu yang mana tentu saja adalah Aby. Sebelah alis Bima terangkat melihat Aby kerepotan membopong kucingnya, sebotol air mineral dan juga dua toples keripik.
Sejak datang Aby memang tidak melakukan apapun padanya. Tapi, suara dari mulut gadis yang kini tengah duduk manis itu sangat mengganggu konsentrasi Bima. Apa lagi suara saat cewek itu membersihkan jarinya sendiri dengan cara menghisapnya.
Materi yang tengah dihafal buyar begitu saja. Kaki Aby juga mengambil peran, mengetuk kursi yang tengah diduduki. Kepala Bima semakin pening mungkin sebentar lagi meledak.
"duitnya udah habis?" tanya Bima dengan suara lirih. "kok kesini?"
"masih utuh, nggak ada yang lewat. Anjing yang minta kesini." balas Aby lalu mengunyah kembali.
"oh."
Baru saja ingin menghafal kembali, tiba-tiba saja Aby bertengkar dengan anak mereka. Marah-marah tidak jelas hanya karena kaki depan kucing itu berusaha merebut kripik yang tengah dinikmati.
"dikasih,By. Pelit banget sama anak sendiri." tegur Bima. Buku paket diletakkan dipangkuan sebelum ia mencomot keripik dan meletakkannya ditelapak tangan. Di bawanya Anjing mendekat hingga hewan yang belakangan ini terlihat tidak baik-baik saja, mengendus dan menjilatinya.
"buat gue aja kurang, masa harus dibagi sama anak pungut ini? Lagian ini anak pungut udah ambil banyak jatah gue."
Ingin marah tapi Bima sudah berjanji pada Aby untuk tidak berkata kasar lagi. Maka, segala makian hanya berani diucapkan di dalam hati. Mana mukanya kelihatan polos, kan Bima jadi lemah.
"yaudah besok Anjing dijual aja biar nggak ada yang ngambil jatah lo lagi. Lagian lo juga nggak becus ngurusnya. Sama aja nyiksa." putus Bima usai membuang kripik yang sempat dijilat oleh anaknya.
"JANGAN." teriak Aby lalu mengambil alih Anjing. "gue udah sayang banget sama anak bontot satu ini, ya walau pun cuma jadi beban buat kita."
Bima geleng kepala melihat Aby yang tengah mengunyel-ngunyel muka Anjing. Meski dirinya hanya sebatas bapak angkat untuk anak manis itu, tapi hati Bima benar-benar tersakiti melihat Anjing diperlakukan seperti itu. Gemasnya Aby ke Anjing itu pake tenaga dalam.
"Anjing kalau dipelihara yang bener terus didik jadi maung, pasti bakalan viral dan banjir endorse. Iya nggak Ma? Siapa tau bisa ngangkat derajat keluarga."
Aby tersenyum puas setelah memeluk erat kucingnya lalu menepuk-nepuk pantat hewan itu. Ekornya yang terus bergerak, dipilin-pilin sebelum akhirnya diraih untuk disapukan ke wajahnya sendiri.
"kenapa sih lo, hela napas mulu? Ngajak adu mekanik apa gimana?" sewot Aby lalu memasukan kripik dan mengunyahnya dengan santai.
Bima menghela nafas lagi sebelum akhirnya menjatuhkan buku paket. Kucing yang ada dipangkuan Aby disingkirkan ke meja. Tanpa meminta izin, Bima merebahkan kepala ke pangkuan gadisnya. "gue capek."
Aby mempercepat kunyahannya.
"lo pikir cuma lo doang yang capek? Gue juga capek nggak ngapa-ngapain dari tadi. Apa-apaan kayak gini? Pacarannya cupu banget. Sia-sia gue manjangin kuku kalau nggak buat nyakar lo. Sia-sia gue punya gigi kalau nggak buat gigit lo."
"gue udah gangguin lo dari tadi, kok lo nggak emosi sih,Ma? Ngegas dong, biar gue bisa ngegas balik dan punya alasan buat cakar sama gigit lo. Kan rame, jadi ada tanda-tanda kehidupan disini. Biasanya juga udah banting gue kekasur."
Mengangkat kepala, Bima menatap Aby yang masih asyik mengunyah. Meraih pergelangan tangan cewek itu, Bima mendahului Aby, menjilat ibu jari dan telunjuk gadis itu untuk membersihkan serbuk bubuk yang menempel di sana, lalu mengulum sebentar sebelum digigit gemas. Ia baru melepaskan gigitan saat Aby menjambak rambutnya disusul omelan yang begitu khas. Bima tersenyum tipis melihat jejak giginya ditelunjuk Aby.
"gue bilangin ke tante Tari loh ya kalau lo sering gigit gue."
"perlu barang bukti buat lapor ke mama? Gue bisa bantu kasih dileher," jawab Bima sekenanya lalu meraih pinggang Aby. Aby ini tipe orang yang banyak makan, tapi berat badannya sulit bertambah. Terbukti, Bima dengan mudahnya memindahkan Aby ke pangkuannya.
"nggak berat emang?"
"badan lo itu cuma tinggal kulit sama tulang. Heran, makanan cuma jadi kotoran doang?"
"bukan itu, maksud gue dengan posisi kita kayak gini lo nggak berat nahannya."
"lumayan, tapi bisa diatur. Kalau mau tinggal tubruk."
Aby memutar bola matanya malas. Hingga getaran ponsel di saku menarik perhatiannya. Merogoh saku, ia mengambil ponsel. Melihat siapa yang mengirim pesan, Aby mengerutkan kening "Ma?"
"hm."
"sebenernya gue gangguin lo dari tadi karna mau nunjukin ini." ujar Aby lalu memberikan ponselnya pada Bima agar cowok itu membaca sendiri pesan yang dikirim dari seseorang sejak kemarin. Tak hanya mengirim pesan, orang itu juga menelponnya beberapa kali namun ia tolak. Aby seperti diteror.
"kenapa?"
"lo baca aja sendiri, gue takut."
Aby baik-baik aja kan disana?
Bima sama yang lain jagain Aby,kan?
Aby makan yang teratur,ya.
Kalau Aby nggak sibuk, boleh minta tolong balas pesan tante? Tante pengen tau keadaan Aby sekarang.
Aby udah makan?
Selamat tidur Aby. Tadi Bima udah kasih soal Aby. Baik-baik terus ya disana.
Aby sebelum berangkat sekolah jangan lupa sarapan. Kapan-kapan tante masakin dan siapin bekal buat Aby. Kalau boleh tau, makanan kesukaan Aby apa,ya? Tante buatin.
"ngeri,kan? Tante Tiara nge-chat gue terus dari kemarin, telfon juga. Gue jadi takut."
Sebelah alis Bima terangkat. "takut?" beonya.
"iya. Maksudnya apa coba gangguin gue kayak gitu? Aneh kan? Mama aja nggak sepeduli dan sebawel itu. Tante Tiara yang bukan siapa-siapa malah kayak caper banget. Mana papa juga bentar-bentar nelfon , katanya disuruh tante Tiara."
"dengerin gue, Tante Tiara itu peduli dan sayang sama lo."
"iya gue tau. Tapi, gue nggak bisa digituin,Ma gue kurang nyaman. Rasanya aneh tau nggak, takutnya ini cuma sementara tapi gue yang nggak tau diri berharap selamanya. Repot kan nantinya."
Bima menyentuh dagu Aby, memaksa gadisnya itu menatapnya. "tante Tiara salah satu orang yang bisa lo percaya. Gue yakin tante Tiara orang yang tepat buat jadi figur ibu buat lo."
Ponsel Aby kembali bergetar, sebuah panggilan masuk dari tante Tiara. Saat cewek itu hendak merebut ponselnya untuk menolak panggilan, Bima mengangkat tinggi-tinggi tangannya.
"biar gue yang angkat." ujar Bima.
"nggak usah, Ma."
Menempelkan telunjuknya di bibir, ia meminta Aby untuk tidak banyak protes. Agar Aby mendengar obrolannya, ia sengaja me-loudspeaker panggilan.
"hallo,tante."
"hal...loh kok ini suara Bima? Aby-nya mana,Ma? Bima, Aby nggak kenapa-kenapa,kan? Semalem kamu bilang Aby baik-baik aja. Ini kenapa kamu yang angkat telfonnya."
"iya tante ini Bima. Aby baik-baik aja, cuma ya itu...pecicilannya belum sembuh. Mana brisik banget. Ini Om Ali suruh cepet-cepet pulang dong,Tan. Anak gadisnya rusuh banget disini, mana tukang makan. Ngehabisin makanan doang kerjaannya." Bima meraih tangan Aby yang hendak mencakarnya.
Suara tawa Tiara diseberang sana perlahan menarik perhatian Aby.
"kamu pasti kerepotan banget ya,Ma. Semalem papanya Aby juga cerita. Emang seaktif itu ya anaknya. Tapi, sama tante kok jutek banget. Dichat cuma diread aja. Ditelfon juga nggak pernah mau angkat. Padahal tante pengin denger suara berisiknya."
"ini Aby baru aja cerita, katanya takut sama tante. Aku pikir Aby cuma takut keranda mayat yang bisa terbang sendiri, ternyata sama tante juga takut ternyata." Bima terkekeh pelan seraya mengusap puncak kepala Aby yang mengerucutkan bibirnya. Seperti kode minta dicium.
Mendengar aduan Bima, Aby reflek meremas kuat dada cowok itu, sangat mampu sekali membuat sang empu meringis kesakitan. Direbutnya ponsel ditangan Bima agar ia bisa memberi klarifikasi. "bohong tante! Mana ada Aby sama tante. Aby nggak takut sama apapun, apa lagi keranda mayat."
Aby memainkan bibirnya dengan tatapan tak lepas dari Bima yang terus memperhatikannya. Bima memang paling suka menatap bibirnya, apalagi saat ia sedang berbicara.
"eh, Ada Aby juga disitu? Tante kira Bima sendirian. Aby maaf ya karena tante udah bikin Aby nggak nyaman. Besok-besok nggak kayak gitu lagi deh ke Aby. Nanti tante bisa tanya Bima aja, biar Aby nggak terganggu. Soalnya tante bawel."
"ih nggak gitu, tante. Gimana,ya ... besok-besok jangan cuma ditanyain udah makan atau belum, langsung dimasakin aja. Aby pemakan segalanya kok, perutnya murahan apa lagi kalau gratisan."
Bima ingin mengaku jika dirinya adalah penggemar berat tawa gadis yang ada dipangkuannya. Meski banyak orang diluar sana menilai Aby buruk, Aby dimatanya tetap yang terbaik. Tidak heran jika ia sejatuh itu ke dalam pesona Aby dengan segala hal ajaibnya.
"oleh-oleh? Tante nggak nyesel nanya itu ke aku? Bima belum ngasih tau tante,ya kalau aku orangnya nggak tau diri? Ini kalau aku jawab tante bakalan nyesel tanya dan nggak bakal tanya semacam itu lagi."
"emang Aby mau dibawain oleh-oleh apa?"
"ngobrol dikasur aja, gerah gue lihat bibir lo gerak mulu, mana jaraknya deket banget." bisik Bima lalu mengecup leher jenjang Aby. Cewek itu mengangguk dan beranjak dari pangkuan Bima. Anjing yang tampak nyaman terlelap di meja belajar, dibangunkan untuk dibawa keranjang bersamanya.
Tiara yang pandai mencairkan suasana membuat Aby mudah akrab. Bima yang melihatnya merasakan kesejukan. Semoga ini menjadi langkah awal untuk kebahagiaan Aby.
Memanfaatkan waktu dengan baik, Bima kembali membuka buku paket dan memasang konsentrasi penuh agar mampu menyerap materi lebih cepat.
Perhatian Bima dicuri oleh sekelebat bayangan yang melintasi jendela kamar. Tanpa memberitahu Aby apa yang ia lihat, Bima meninggalkan kursi belajar dan melangkah menuju balkon kamar. Sudut bibirnya terangkat membentuk smirk saat melihat sosok berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala tergesa-gesa turun dari balkon kamarnya dengan bantuan tali.
Pot bunga diraih saat Bima mulai memperhitungkan semuanya agar tidak salah menyerang. Pot bunganya ditangannya kini meluncur bebas dan jika perhitungannya benar, maka pot itu akan mendarat dikepala orang itu lalu berguling kesamping dan mengenai pundak kanan.
Merogoh saku celana, Bima mengeluarkan ponsel dari sana. Ibu jarinya bergerak mengetik pesan pada seseorang.
Amatir.
Pesan itu ia kirimkan pada Bintang. Sekalipun tidak melihat wajahnya, mata yang memindai sosok itu, cukup membuatnya yakin jika itu adalah Bintang. Ingatannya cukup kuat untuk menyimpan karakteristik postur tubuh Bintang. Dari bahunya yang lebar saja sudah sangat jelas.
...*****...
Aby terkejut saat kandang kucing yang ia letakkan diteras, sudah tidak berpenghuni. Seingatnya, sebelum meninggalkannya untuk mengambil makanan, kucingnya masih ada didalam sana. Rasanya mustahil jika Anjing bisa membuka pintu kandang sendiri.
Bangkit. Aby melangkah menyisiri sekitar dengan terus memanggil nama sang anak namun tetap saja tidak ada sahutan. Tanda-tanda keberadaan hewan itu pun tidak ada. Aby mulai dilipiti cemas saat semua tempat sudah ditelusuri namun belum juga menemukan kucingnya.
"Maaaa, Bima!" teriaknya memanggil Bima untuk meminta bantuan.
Tak lama kemudian Bima muncul dengan wajah kesal. Pemuda itu berada diambang pintu menatap ke arah Aby yang tengah jongkok didekat pot-pot besar disudut halaman.
"apaan sih? Masih pagi udah teriak-teriak. Disuruh sarapan malah pecicila disitu. Itu seragam lo kotor Aby. Ngapain disitu ,sih? Mau masuk sendiri atau gue seret?"
Tidak ada balasan dari Aby. Cewek itu nampak tengah mencari-cari sesuatu. Merangkak memeriksa setiap pot besar. Tingkah gadis itu membuat Bima menghela nafas lalu melangkah cepat mendekati Aby.
"masih pagi, By. Bikin ulahnya entaran aja bisa kan? Udah siang, ntar gue telat. Gue kan nyuruh lo makan, lo-nya malah nggak jelas disini. Kurang apa? Sarapan udah disiapin, tinggal makan doang." oceh Bima yang malah ikutan jongkok seraya membersihkan lutut dan rok Aby dari tanah.
"Anjing mana?"
Saat itu Bima mendongakkan kepala dan baru menyadari jika Aby menangis. Cepat-cepat ia berdiri dan menyentuh bahu Aby. Aby yang ia kenal memang kuat, tapi tidak berlaku jika tengah kehilangan. Mencoba melunak, merendahkan nada bicaranya. "Anjing? Kalau pagi,kan diurus bibi. Lupa?"
Aby menggeleng. "gue yang minta ke bibi kalau mau urus Anjing sendiri. Tadi di sini, di kandang. Pas gue balik, udah nggak ada." tangan Aby menunjuk ke arah teras.
Mengikuti ke arah mana telunjuk Aby menunjuk, pandangan Bima terkunci dikandang kucing sebelum beralih kearah pintu gerbang yang terbuka. Kemungkinan besar, seseorang memang sudah masuk dan mengambil kucing kesayangan Aby.
"Bima, Aby, lagi ngapain disitu? Ayo sarapan keburu siang loh. Nanti telat kesekolahnya." seru Tari yang muncul diteras.
"Maaa, Anjing." rengek Aby.
"mending sarapan dulu, nanti gue suruh bibi buat nyari. Paling cuma main, nggak bakal jauh-jauh."
"pas gue pulang, harus udah ketemu."
"sarapannya agak cepet, udah mepet banget."
"lo berangkat sendiri aja, bawa motor kan?"
"motor gue kan masih dikantor mama. Lo juga belum mau naik motor. Nanti lo sama mama, gue dijemput Gilang."
Bima dan Aby pun melangkah masuk kedalam rumah beriringan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Tari dan Dika yang sudah memukai sarapan.
"Aby kok agak kurang cerah,ya? Kenapa sayang? Bima nakal sama Aby?" tanya Tari perhatian.
Aby menggeleng. "nggak papa kok tante, Bima nggak nakal."
"Bi, telor gulungnya udah beres belum? Minta tolong bawa kesini biar Aby bisa langsung makan telor gulungnya."
Aby melempar tatapan bingung kearah Tari. Sebelum ia bertanya, Tari sudah terlebih dahulu membuka suara.
"semalem Bima yang pesen ke tante suruh buat telor gulung buat Aby. Tadi tante sama Bima udah nyoba bikin bareng, tapi nggak bisa gulungnya. Jadi minta tolong sama bibi."
"bujangnya Om sesayang itu sama Aby. Disayang balik ya,By. Kasian itu." kelakar Dika saat Aby mengunyah telor gulung penuh semangat.
Sayang sekali ada kedua orangtuanya, jika tidak Bima pasti sudah memanfaatkan keadaan dengan baik untuk membersihkan saus yang ada disudut bibir Aby dengan caranya.
"mas Bima, maaf didepan ada temannya."
"Gilang? Suruh masuk aja,Bi. Biar sarapan bareng."
"bukan,Mas. Cewek."
Meraih segelas air putih, Bima meneguknya dengan terburu-buru sebelum melangkah untuk melihat siapa yang datang.
"Om Rehan? Keyla?" heran Bima melihat keduanya duduk dikursi yang ada diteras. "ada apa,ya? Tumbenan pagi-pagi udah kesini?"
"tadi Om sama Key ketemu temenmu, kata Key namanya Gilang. Ban motornya bocor, nah Key minta Om buat ajak Gilang sekalian. Ternyata Gilang mau jemput kamu, makanya Om kesini. Kebetulan ada keperluan juga." balas Rehan setelah Bima melepaskan tangan kanannya.
"keperluan apa,ya Om?"
"Key, kasih undangannya ke Bima."
Bima tidak tahu harus merespons apa saat menerima undangan pernikahan Rehan dan Ayu.
"jangan lupa dateng ya,Ma. Om minta tolong banget sama kamu, temenin Key selama resepsi. Soalnya Om nggak tau lagi mau minta tolong siapa. Om lihat kalian juga cocok."
"maaf Om---"
"itu si Gilang juga dapet, malah seneng banget diundang. Mau makan-makan sepuasnya katanya. Nanti kamu ajak temenmu yang lain juga, ya biar Key tambah seneng kalau banyak temen. Yang penting jangan ajak Aby, Om nggak mau acara penting Om rusak."
"Paaa." sela Keyla.
"kamu udah siap? Mau berangkat sekarang? Itu Gilang udah nungguin. Lagi ngerjain tugas tuh dimobil."
"om sama Keyla duluan aja, papa mau anterin soalnya. Lupa bilang ke Gilang tadi."
"oh iya udah, kita duluan ya."
Sepeninggalan Keyla dan Rehan, Bima masuk ke rumah. Alangkah terkejutnya ia melihat Aby dibelakang pintu.
"gue nggak bakalan dateng kok."
"dateng aja,Ma. Gue yang enggak diundang aja pengen dateng. Ntar pas disana fotoin mama,ya. Mama pasti cantik banget. Oh iya, nanti gue titip kado buat mama boleh?" Aby dengan mudahnya tersenyum. Untung saja ia sudah terbiasa menghadapi situasi semacam ini.
...*****...
...tbc...
...Akhirnya up...
...Setelah berabad-abad hehehe...
...Maaf ya udah jarang banget up...
...Diusahain banget up dikesibukan kuliahku...
...Ada kangen sama anak bontot gak sih?...
...Pap dari kesayangan kita semu nih...
...Lagi mikir duda depan komplek masih single nggak ya......