Relation(Shit)

Relation(Shit)
TIGAPULUHENAM



Begitu mendarat dengan mulus usai melompat dari ujung pagar Bima langsung menegakkan tubuhnya. Berlari secepat mungkin mengejar Aby yang kini sudah memasuki rumah. Pintu yang dibiarkan terbuka memudahkan setiap pergerakan Bima.


"Stop ngelakuin hal tolol! gue tau lo nggak setolol itu!" suara Bima menggelegar saat melihat Aby terus saja melukai dirinya sendiri.


Gerakan brutal Aby melampiaskan segala emosinya pada orang lain dengan menyakiti dirinya terhenti. Aby menoleh, tatapannya tak lepas dari Bima yang terus saja berjalan mendekat.


"emang gue tolol,kan? Bahkan lebih tolol dari apa yang lo kira." jawab Aby begitu tenang sudut bibirnya terangkat. Tersenyum miring mengejek Bima lantas ia kembali bersuara. "iya! Gue paling goblok,tolol, nggak guna beda jauh sama lo yang pinter...paling pinter! Paling bener!"


"berhenti disitu!" perintah Bima kala Aby terus saja membentangkan jarak saat ia berusaha memangkas ruang yang ada.


Bukan Aby namanya jika patuh semudah itu, terlebih pada Bima yang belakangan ini banyak mengecewakannya. "lo ngapain kesini,Ma? Kita udah selesai, jadi kalau lo kesini buat minta maaf itu udah nggak guna. Basi!"


Bima tidak memberi tanggapan apapun cowok itu terus melangkah tak peduli jika Aby sudah memperingatinya untuk tidak mendekat. Kedua tangannya bergerak lebih cepat hingga berhasil mengurung Aby yang terpojok. Senyum Bima terbit kala Aby sudah tidak bisa kemana-mana lagi.


"gue bisa ngelakuin hal yang lebih buruk dari itu!" ancam Aby dengan tatapan tidak lepas dari leher Bima yang kini diplester. Alih-alih mundur Bima justru semakin merapatkan tubuhnya nyaris tanpa jarak.


"apa semuanya harus lo bikin permudah dengan emosi? Lo makin lama makin nggak terkontrol,By. Gue nggak nyinggung Keyla atau siapapun tapi disini tapi lo makin nggak bisa terkendali."


Aby tersenyum telapak tangannya mendarat dipipi Bima, mengelus pelan sebelum akhirnya bersuara. "nyatanya kalau belum ngerasain sendiri emang nggak bakalan tau rasanya dan nggak akan pernah paham. Apa lagi hidup lo sempurna,Ma semuanya serba perfact jadi lo nggak bakalan ngerti dan tau apa yang gue rasain. Gue nggak mau banyak bacot yang bikin lo nantinya mikir kalau gue orang yang sok paling ngerasa tersakiti. Kita bikin semua gampang aja."


"jangan ambil keputusan yang bikin lo nantinya nyesel." peringat Bima.


"kita akhiri semuanya, anggap gue nggak pernah ada dihidup lo dan jangan temui gue lagi."


"lo gila!"


"iya. Makanya lo jauh-jauh dari orang gila kayak gue. Gue nggak mau lo kenapa-napa,Ma. Lo nggak perlu khawatir lagi sama citra lo yang bakalan buruk karna bergaul sama gue. Bener kata lo, gue makin nggak terkontrol hasrat gue buat nyakitin orang lain makin gede, biarin gue sendiri----"


"dan ngebiarin lo nyakitin diri sendiri? Nggak waras!"


"Bima udah,ya. Lo udah nggak guna lagi buat gue. Dari awal kita pacaran juga emang udah nggak jelas,kan? Gue cuma manfaatin lo doang. Selebihnya... Lo sendiri ragu,kan?sama perasaan gue? Iya. Gue emang nggak tau apa-apa soal cinta. Jadi, apa yang lo cari dari cewek yang udah mati rasa ini,Ma?"


"berhenti ngomong..."


"bisa pergi sekarang?"


Bima menelan salivanya susah payah. Kakinya melangkah mundur menjauh dari Aby. Meskipun sulit Bima tetap mencoba untuk mengatakannya. "oke,sesuai keinginan lo. Gue pergi."


Aby memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "jangan kembali."


Usai menganggukkan kepala Bima membalikkan badan mengambil ransel yang sempat ia jatuhkan kelantai sebelum akhirnya melangkah keluar dari rumah Aby tanpa menoleh kembali kebelakang.


...*****...


"kok masih tiduran? Aby nggak lupa,kan? Kalau malam ini kita bakalan keluar?"


Aby yang sedari tadi tiduran sambil mengelus halus bulu sang anak menoleh malas kearah ayahnya yang kini berdiri diambang pintu kamar. "nggak bisa lain kali aja,pa? Nggak mood. Males keluar, suruh aja orangnya kesini."


"ya nggak bisa gitu dong,sayang. Kamu kan udah janji sama papa."


"Tapi boleh bawa Anjing,kan? Biar aku ada temennya."


Ali mengangguk diiringi senyuman. "boleh, Aby siap-siap,ya papa tunggu dibawah. Kalau bisa jangan lama-lama."


"papa nggak perlu nunggu, kita berangkat sekarang."


"yakin pake baju itu?"


Aby menggendong kucingnya melangkah mendekati ayahnya. Gadis remaja itu mengangguk tanpa ragu. "ribet,pa kalau ganti baju. Kalau gini kan enak nanti pulang kangsung tidur."


"yaudah kalau Aby maunya gitu. Senyaman Aby aja,mau pakai apapun Aby tetap selalu cantik."


"emang."


...*****...


"mana mungkin salah jalan, papa udah hafal banget."


"kita mau kemana? Katanya mau ketemu tante itu."


"kita makan direstoran kesukaan Aby, tapi sekarang kita jemput calon mamanya Aby dulu."


"emang rumahnya dimana?"


"disana, bentar lagi nyampe."


Kenapa detak jantungnya mulai tidak beraturan saat mobil ayahnya memasuki komplek perumahan yang sangat ia kenali. Aby berharap banyak mobil sang ayah segera berhenti. Tapi sialnya mobil Ali terus melaju dan baru akan belok saat melewati gerbang yang sering Aby lalui.


Ini pasti mimpi!


Aby akan berusaha bangun dari tidurnya karna mimpinya kali ini sangat terasa aneh.


Namun saat sikunya tidak sengaja terbentur pintu mobil, Aby sadar jika ini semua adalah nyata.


"papa?" suara Aby terdengar lirih saat mobil Ayahnya berhenti.


"yuk turun,kita udah sampe." ajak Ali dengan senyum yang tak kunjung luntur.


"papa yakin?ini nggak bercanda kan,pa?"


Ali melepas tawa. "Aby, kenapa?"


Memastikan sekali lagi, cewek itu mengedarkan pandangannya kesekitar. Ia tidak mungkin salah mengenali,kan?


Ini memang rumah Bima, mantan pacarnya.


Rasanya kini kepala Aby sudah terasa pusing.


Apa lagi ini? Kenapa harus berhenti dirumah Bima? Apa hubungannya?


Lalu aby teringat soal ayah Bima yang sangat jarang terlihat. Bahkan dibeberapa acara sosok itu tidak muncul. Aby yang sudah kenal Bima lama pun hanya bertemu singkat beberapa kali.


Pikiiran Aby kini sudah mulai kemana-mana, ia tidak banyak tahu soal keluarga Bima. Termasuk soal hubungan kedua orangtua cowok itu. Apa masih utuh, atau sudah---- tapi jika dilihat dari sedikitnya kebersamaan mereka, Aby mengambil kesimpulan paling terburuk.


Aby takut.


Apa lagi saat turun dari mobil, tante Tari sudah menyambutnya dengan senyum merekah.


"papa." cicit Aby.


"salim dulu sama tante Tari,sayang."


Menghampiri Tari, Aby langsung bertanya. "tante? Ini ada apa sih? Kok papa kesini? Ini nggak bakalan sama kayak apa yang aku fikirin kan?"


Tari tersenyum lalu balik bertanya. "inget nggak waktu Aby bilang pengen punya mama kayak tante?"


...*****...


...tbc...


...jangan-jangan Aby calon.....Bima...


...



...