
...⚠️WARNING⚠️...
...BANYAK KATA-KATA KASAR!...
Bintang mengulurkan tangan untuk Keyla yang masih bertahan pada posisinya. Uluran tangannya tak kunjung disambut, helaan nafas Bintang terdengar berat. Ia memilih jongkok dihadapan Keyla yang tengah menunduk sembari terisak lirih. Kesakitan,mungkin. Lutut serta siku gadis dihadapannya berdarah.
Jujur saja Bintang bingung harus mengambil sikap seperti apa pada Keyla yang tak tersentuh.
"gue bantu obatin, itu pasti sakit."
Kepala Keyla menggeleng pelan sambil bergerak mundur menjauh dari Bintang yang menyentuh bahunya.
Dalam fikirnya, Bintang juga milik Aby. Ia tidak boleh berhubungan dengan lelaki dihadapannya berujung dengan Aby salah paham dan akan semakin membencinya. Itu tidak boleh terjadi karna Keyla sangat ingin sekali berdamai dengan Aby, Keyla ingin Aby menjadi kakaknya ia sangat berharap akan perihal itu.
"kalau gitu gue anterin pulang,ya?"
Kembali ia gerakkan kepalanya bertanda menolak ajakan Bintang, gadis itu memberi isyarat pada Bintang agar menjauhinya.
"jadi gue harus gimana?" tanya Bintang tak pelepaskan tatapannya dari Keyla.
Belum ada satu suara pun yang keluar dari mulut Keyla. Ia masih berusaha berdamai dengan dirinya sendiri yang bereaksi terlalu berlebihan setelah diperlakukan dengan buruk. Ada kalanya Keyla membenci dirinya sendiri melebihi benci orang-orang pada dirinya. Lemah. Dan itu bukanlah keinginan Keyla.
Keyla juga ingin bisa seperti Aby, Tangguh. Tetapi disaat Keyla mencoba ia selalu kalah dengan rasa takut yang meminta dominan akan dirinya.
"dengan lo kayak gini lo bakalan nambah masalah Aby. Bilang ke gue, apa yang harus gue lakuin?"
"kakak pergi, papa bakalan dateng jemput aku."
Disisi lain Aby berdiri dibalkon kamar terus memperhatikan interaksi yang terjalin antara Bintang dan Keyla. Melihat Keyla berprilaku seperti itu mampu membuat Aby menaruh rasa kasihan. Sepenuhnya Aby sadar atas apa yang ia lakukan, seharusnya Aby cukup memperingati gadis itu saja tidak perlu sampai melukai.
Memikirkan masalah yang mungkin saja akan datang diwaktu dekat membuat rasa pening mulai menyapa kepala Aby.
Ingin memberi pelajaran pada dirinya yang sulit dikontrol,Aby berjalan cepat menuju kamar.
PLAK
"cewek kasar!"
"Brengsek lo Aby!Brengsek!"
Lagi suara tamparan terdengar nyaring, tak cukup dengan itu Aby berjalan menuju laci, mengeluarkan pisau kecil untuk memberi pelajaran pada tangannya yang tidak tau diri itu.
"tangan sialan! Harusnya buat mukul diri lo sendiri aja, nggak usah orang lain juga yang kena,Anjing! Harusnya begini! Harusnya lo yang kesakitan!"
Aby menyayat tangannya tanpa belas kasihan diiringi makian pada dirinya.
"lo nggak mau disakitin tapi malah nyakitin orang lain,tolol!"
"Keyla nggak salah Anjing! Kenapa lo bego,sih? Harusnya lo sadar diri juga tai! Emang nggak guna lo,By!" makiAby dengan tangan yang kini menarik rambutnya kencang.
Rasanya belum puas menyakiti dirinya sendiri walau kini darah sudah banyak bercucuran dari lengannya. Ini memang bagian dari yang paling Aby suka.
Menemukan kesalahan, memberi pelajaran untuk dirinya dan berakhir melukai. Cukup lama tidak melakukan hal menyenangkan ini membuat Aby sangat menikmati rasa sakit yang ia perbuat.
"kalau nggak suka sama seseorang cukup lo diemin aja,ya bangsat. Nggak perlu lo sakitin dia buat nunjukin kalau lo nggak suka! Ngerti cewek kasar?!" sambil menunjuk bayangannya dicermin.
Cukup lama menatap marah pada bayangannya sendiri, aby membuka laci mengambil kotak P3K sebelum keluar untuk memberikan itu pada Keyla. Aby menyambar tisu kering membersihkan darah yang kini sudah mulai mengering dipergelangan tangannya.
Langkah Aby berhenti begitu menyadari jika bukan hanya Bintang yang ada untuk Keyla. Bima juga ada disana, jongkok disisi kosong Keyla memberi ketenangan pada gadis itu.
Lelaki yang kini tengah memberikan ketenangan pada Keyla menoleh menatap kearah Aby dengan tatapan yang Aby pahami maksudnya. Bukan tatapan Bima yang menjadi fokus Aby, melainkan bagaimana eratnya genggaman tangan cowok itu dijemari Keyla. Lihatlah betapa baiknya orang-orang memperlakukan Keyla. Bintang orang asing untuk cewek itu saja terlihat begitu peduli.
"sssttt, nggak usah ngomong dulu, gue tau yang lo pikirin sekarang. Bener banget gue yang bikin dia kayak gitu." ucap Aby begitu santai.
Kotak P3K yang ada ditangannya dilempar kearah cowok itu tanpa aba-aba untung saja Bima memiliki refleks yang baik, Benda itu selamat sampai tangan Bima.
"obatin tuh cewek biar nggak pendarahan, ntar masuk rumah sakit lagi karna gue dorong. Oh iya, habis itu bawa pulang, kurung biar nggak nyamperin gue lagi. Bahaya. Mungkin kalau lo yang kasih tau bakalan ngerti sama gue susah dikasih paham."
"oh iya lupa, barangkali butuh info buat om Rehan bilang aja didorong gue gitu. Kurang paham sih, gue yang kekencengan dorong atau emang dianya yang lebay. Ah bilang aja gue kasarin Keyla gitu biar nggak ribet. Pasti om Rehan paham nih, sekalian dong kasihin alamat gue biar gampang tonjok sama tamparin gue."
Jarak antara dirinya dan Aby terus dipangkas hingga kini ia berada dihadapan cewek itu.
"Apa?mau marah? Silahkan."
Tak bisa menatap bola mata Bima yang tak bisa ia bohongi Aby menatap kearah lain,yang penting bukan kearah mata Bima.
Ia harus berusaha lebih keras lagi agar air mata yang mampu membuatnya terlihat lemah, tidak menerobos keluar. Selalu saja begini, keberadaan Bima selalu membuatnya kesulitan untuk menutupi sisi lemahnya.
"lo sadar nggak sama apa yang lo lakuin?!" tanya Bima dengan nada begitu dingin. Aby sudah menduka jika ini akan terjadi.
Menyeka air matanya Keyla mengangkat kepala. "kak Bima...jangan marahin kak Aby. Aku yang salah, aku yang---"
"diem lo!" teriak Aby sebelum Keyla menyelesaikan ucapannya. Gadis itu menatap kearah Keyla lalu kembali bersuara keras. "bacot lo nggak guna! Nggak usah belain gue! Yang ada gue makin kelihatan salah dimata orang-orang!"
"cukup,By!"
"belum,Ma. Kalau ada kesempatan buat ngasih penjelasan sebelum dihakimi mungkin lo bakalan ngerti kenapa gue bisa sebenci ini sama Keyla, meski dia nggak nyari masalah sama gue. Dia...."
Saat itulah Bintang menarik Aby ke dalam pelukannya sebelum Aby berbicara terlalu banyak soal luka.
Baru beberapa detik kerah belakangnya ditarik kuat oleh Bima.
"brengsek! Lepasin cewek gue!" bentak Bima marah kearah Bintang yang berani menyentuh miliknya. Dengan tenaga penuh, Bima mengempas tubuh Bintang hingga membentur pintu gerbang.
"jangan pernah sentuh cewek gue! Gue nggak segan-segan ngasih lo pelajaran!" peringat Bima pada Bintang yang menahan sakit dipunggungnya.
"oh ya? Nyali lo gede juga masih berani sebut Aby cewek lo."
"kenyataannya Aby emang cewek gue!"
"sekarang udah nggak." celetuk Aby tanpa ekspresi.
Bima menatap nyalang kearah Aby. "bilang apa lo barusan? Karna Keyla? Lo kekanakan kalau emang itu alasannya."
"kekanakan? Lo stres,Ma? Lo masih belum ngerti masalahnya dimana?"
Dagu Bima sedikit naik. "emang lo kekanakan! Gue sama Keyla nggak ada hubungan apapun, By. Lo boleh benci orang tapi jangan ajak orang lain buat benci dia juga! Kenyataannya Keyla baik, nggak masuk akal banget kalau lo minta gue buat benci Keyla juga."
Aby belum mengeluarkan satu patah katapun, sampai Bima menarik pergelangan tangannya keatas hingga bekas sayatan yang ia ukir tadi berada dihapannya.
"dan ini hal paling goblok yang sering lo lakuin! Serius. Sekarang gue makin ragu sama status kita, buat mencintai diri sendiri aja lo nggak becus gimana lo bisa mencintai orang lain?" setelah mengatakan itu tanpa mau mendengar respon Aby, Bima membalikkan badannya berjalan kearah Keyla.
"ayo Key! Kita pergi, naik motor nggak papa kan?"
Keyla menepis uluran tangan Bima usai berhasil mengumpulkan segala keberaniannya, ia bersuara. "stop kak, cukup. Kak Bima sadar nggak sih, justru sikap kakak bikin kak Aby bisa sebenci ini sama aku. Bukan aku,kak. Tapi kakak sendiri yang ciptain ruang buat kita dan disini aku yang disalahin, apa itu adil?"
"jangan banyak omong,Key. Nanti makin banyak orang yang benci sama gue!" bentak Aby pada Keyla yang tengah melakoni peran tokoh yang paling tersakiti.
"kak---"
"pergi lo dari hadapan gue sekarang! Lo mau Bima,kan? Ambil! Habis itu jangan pernah lagi muncul dihadapan gue!"
"kak Aby,aku..."
Aby yang tak mendengar apapun lagi, beranjak begitu saja. Pintu gerbang ia tutup rapat lalu dikunci agar tidak ada yang bisa mengganggunya. Tak terkecuali.
"tolong anter Keyla pulang." pinta Bima pada Bintang sebelum cowok itu memanjat pintu gerbang dengan gerakan terburu-buru.
...*****...
...tbc...
...selamat nyesek...