Relation(Shit)

Relation(Shit)
TIGAPULUHDUA



Aby yang keras kepala membuat Bima menyentak kuat tangannya hingga berhasil membuat gadis itu berdiri dan menatap kearah Bima.


"ikut gue sekarang ke uks, minta maaf sama Keyla!"


"gue nggak mau! Lo tuli?!"


"gue maksa!"


Tanpa Bima duga, Aby meraih kuat tangannya membawa mendekati bibir cewk itu sebelum akhirnya Bima menjerit kesakitan. Aby menggigit punggung tangan Bima begitu kuat dan baru dilepas saat ia memohon dengan sangat. Bima mengibaskan tangannya yang baru saja digigit lalu diperiksa. Lelaki itu meringis, ngeri dengan jejak gigitan gigi Aby disana.


"sinting lo,ya?" erang Bima menatap tidak percaya pada segala tingkah pacarnya yang ajaib. Cewek dihadapannya memang tidak bisa diprediksi. Bima yang sudah mengenal baik saja sering kecolongan. Harusnya ia belajar dari pengalaman bagaimana sepak terjang Abyandra Tahlia anti menye-menye yang akan selalu menyerang balik.


"lo yang sinting!"


Saat tangan Aby yang masih memiliki kuku panjang, melayang siap mencakar lehernya Bima dengan cepat menghindar. Cakaran semalam saja masih terasa perih, ini mau ditambah lagi.


Ngomong-ngomong ia memacari manusia seperti apa sih? Kenapa suka sencakar dan menggigit. Oh jangan lupakan suka memukul, ia pernah dibuat babak belur oleh kesayangannya ini.


"dibagian mananya sinting gue,By? Lo salah ke Keyla, gue minta lo buat minta maaf sama dia, apa itu salah?" Bima mundur beberapa langkah saat Aby memasang kuda-kuda. Bisa kena tendangan bebas kalau tetap ditempat.


Berkacak pinggang menatap Bima sebal. "tau apa lo soal salah bener? Harusnya kalau lo tau dan paham banget konteks itu, lo bakalan minta maaf sama gue dari dulu. Tapi apa pernah lo minta maaf setelah ngehujat gue, kasar sama gue, oh jangan lupain juga lo suka banget bertindak semau lo ke gue,nggak kan?"


Bima bungkam. Dalam hati cowok itu mengupat. Semakin hari Aby semakin hebat berdebat dengannya.


Melihat reaksi kekasihnya, Aby menyeringai lalu melangkah memangkas jarak diantara mereka sembari melakukan peregangan otot tangannya. Niat menghantam kepala Bima sangatlah besar, tapi tidak tahu nanti bagaimana.


"kenapa diem? Udah lah, berhenti sok baik sok suci dan peduli sama orang kalau itu cuma buat cari muka doang. Jijik gue liat lo caper." cemooh Aby membuat ekspresi wajah Bima berubah total.


Setelah orang-orang melihatnya dari hal-hal baik dan sempurna yang dibuat-buat, Aby malah menatapnya dari sisi lain yang selalu ia tutupi. Bima memejamkan mata kuat-kuat dengan tangan mengepal.


"kayak yang lo minta, nanti gue minta maaf sama Keyla yang mungkin sekarang lagi sekarat karna gue dorong. Makanya lo belain dia sampe segitunya. Ada lagi yang perlu gue lakuin buat nebus dosa besar gue ke Keyla?"


"Aby, lo salah paham. Lo nggak nangkep maksud..."


"ada temen lo, gue duluan. Bisa rusak reputasi perfact lo kalau tau lo bergaul sama cewek biang masalah dan nggak bener kayak gue." Aby tersenyum lalu memungut sisa keripik singkong yang tercecer dilantai sebelum berlari kearah kucing yang tengah bersembunyi di balik pot. Ia memanggil kucing yang masih kelaparan sebelum meniup keripik untuk memastikan kebersihannya.


Kucing itu bersuara, menyapu ekor panjangnya pada betis Aby. Gadis itu terkekeh pelan lalu berjongkok dan meletakkan beberapa keripik dilantai keramik yang sudah ia sapu dengan telapak tangannya. "dimakan,ya Cing."


Mendengar suara kunyahan kucing Aby yang merasa gemas, iseng menyentil ekornya beberapa kali. "pinter banget sih,cing. Gedenya pasti jadi biduan nih."


Aby sama sekali tidak peduli saat murid Harapan bangsa yang berlalu lalang menatap kearahnya dengan tatapan aneh. Bahkan ia tidak akan segan-segan menggertak mereka yang berlagak sok keras dihadapannya. Mereka fikir, Aby akan takut sendirian di sekolah orang lain? Singkirkan fikiran tak bermutu itu karena Aby jauh dari kata apa yang kalian prediksikan. Yang jelas Aby takut dengan keranda mayat terbang seperti apa yang Bima ceritakan semalam padanya.


"semangat,ya! Pasti bisa montok biar bisa jadi primadona kucing garok kayak Anjing. Mana tauan kalian nanti bisa duet maut threesome sama kucing biduan lainnya."


Meong meong.


Aby tertawa renyah saat direspon. "kalau kapan-kapan ketemu dijalan, jangan lupa nyapa. Nanti gue kasih lagi kripik rasa whiskas." ujar Aby lalu menambah kripik singkong untuk si kucing. "dihabisin,ya."


"kucing yang ini nggak makan jajanan juga?"


Aby mendongak saat mendengar suara itu disusul elusan pada puncak kepalanya. Bintang lah pelakunya. Cowok itu tersenyum hangat saat bertemu pandang dengannya lalu mengisi sisi kosong disebelah Aby. Aby membalas senyuman itu saat Bintang ikut mengusap kepala kucing seperti yang ia lakukan.


"Bima sering kayak tadi?"


"maksudnya?" Aby pura-pura tidak mengerti.


"kasar ama lo,sering?"


"yakali Bima kasar sama gue, nggak kok. Tadi itu guenya yang salah, wajar aja Bima sampe kayak tadi. Justru gue yang kasar sama Bima, lo lihat kan tadi gue gigit Bima? Pernah gue hajar juga tuh orang sampe babak belur." Aby mengatakan itu dengan begitu tenang.


Seburuk apapun bima bersikap padanya, sejatinya Aby tidak ingin Bima terlihat buruk dimata orang lain. Aby tidak bisa....benar-benar tidak sanggup mendengar hal-hal buruk tentang Bima. Bagaimana buruknya Bima, biar ia saja yang tau. Aby tidak yakin orang-orang bisa menerima sisi buruk Bima seperti ia menerima itu.


"yang lo bilang, nggak sama kayak apa yang gue lihat."


"lo nggak lihat semuanya kali. Oh iya, lo nggak lupa kan kalau mau tanding? Buruan kelapangan!" Aby mencoba mengalihkan topik.


"lo nggak mau semangatin gue sama yang lain."


"nanti gue nyusul. Gue mau urus kucingnya dulu, kasihan gue lihatnya. Jadi keinget anak pungu beban hidup gue, habis itu juga mau ke uks bentar, mau minta maaf sama Keyla. Semangat ya,ntang!"


"lo nggak papa? Baik-baik aja kan?"


Aby mengangguk lalu menarik Bintang untuk berdiri. Ia mendorong punggung cowok itu. Memaksanya agar segera kelapangan dan meninggalkan Aby. Pada akhirnga Bintang pergi meninggalkan Aby, saat menatap kepergian Bintang saat itulah aby menyadari jika Bima belum beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Lelaki itu terus saja menatap kearah aby, gadis itu tau persis jenis tatapan apa yang kini Bima layangkan padanya. Aby terlalu malas menanggapi pun hanya mengacungkan jari tengahnya pada pacar yang ingin ia lepaskan itu, namun ragu.


Jika dilihat dari sisi dimana Bima memperlakukannya dengan begitu buruk, cowok itu memang pantas dilepaskan, tapi Aby tidak bisa memungkiri sisi lain dari Bima yang membuat cowok itu sangat layak untuk dipertahankan. Terlepas dari bagaimana buruknya Bima memperlakukan Aby. Bima yang terbaik dan tidak sempurna.


Aby tidak akan menuntut kesempurnaan, jika ia menuntut itu Aby bisa pastikan ia akan kehilangan yang terbaik.


...*****...


Sekali lagi Aby memukul kepalanya sendiri. Lebih keras, sampai pening hebat itu datang. Saat ini ia tengah berusaha mengingat kejahatan apa yang ia lakukan di masa lalu sampai membuatnya semenyedihkan ini. Aby penasaran dengan dosa sebesar apa yang ia miliki sampai orang-orang memperlakukannya dengan begitu buruk. Aby meringis, kepalanya terasa nyeri saat ia tidak bisa mengingat apa yang tidak pernah terjadi.


"Aby, harus gimana lagi caranya Mama jelasin ke Aby? Apa permintaan Mama terlalu berat? Jangan apa-apain Key,Aby. Mama tau, Aby kecewa sama Mama. Aby marah sama Mama juga, tapi kenapa Keyla juga kena?"


Aby yang berusaha tetap baik-baik saja, merogoh kantong plastik yang ia tenteng. Satu bungkus kripik ia keluarkan. Aby mulai mengunyah makanannya sembari menatap malas kearah sang ibu, lalu mengedikan bahu.


"anak kurang ajar itu emang nggak bisa diajak ngomong baik-baik! Harus dikerasin biar dia paham dan punya moral!" geram Rehan melihat respon Aby dinilai kurang sopan.


"papa, tadi Key bilang apa?" sela Keyla tengah berbaring diatas ranjang UKS seraya menahan lengan ayahnya yang hendak beranjak. Keyla khawatir jika sang papa akan melakukan kekerasan fisik pada Aby yang akan membuat hubungannya dengan calon kakak tirinya itu semakin runyam.


Aby melihat itu, berdecih.


Sulit dipercaya, seingatnya ia hanya mendorong Keyla dengan pelan tidak sampai membuat gadis lemah itu terpelenting jauh. Kepala cewek itu sepertinya aman, tidak hilang ingatan, tidak juga gegar otak. Tapi mengapa Rehan dan Ayu sampai repot-repot datang membawa rasa khawatirnya yang berlebihan? Lalu Keyla, apa memang selemah itu? Jual muka memelas untuk mendapatkan perhatian orang-orang dan terus membuatnya mendapatkan peran antagonis.


Sialan! Ia yang beberapa kali nyaris mati saja tidak dikhawatirkan sebegitunya. Dunianya memang penuh lawakan.


"Key..." rehan tidak melanjutkan kalimatnya saat Keyla memberi isyarat padanya untuk diam.


"Aby minta maaf sama Keyla sekarang,ya. Aby harus janji nggak boleh gitu lagi, kalian kan mau jadi saudara." ujar Ayu.


"saudara? Siapa juga yang mau punya saudara cupu,lembek kayak dia. Nggak seru!"


"mulutnya disekolahin,kan? Bisa pake ilmunya kalau ngomong?!" bentar Rehan tidak terima.


"Aby jangan bikin ulah!"


"iya-iya, gue minta maaf,ya key. Cepu banget lo baru gue dorong doang udah bawa-bawa orangtua. Gimana kalau nanti gue hantam? bawa pengacara kali,ya?"


"anak tidak punya etika ini benar-benar!" geram Rehan mendengar omong kosong Aby.


"bercanda kali,om. Serius banget."


Mencegah terjadinya keributan antara calon suaminya dengan Aby, Ayu pun inisiatif mengajak putrinya keluar. Wanita paruh paya itu mengajak putrinya menjauh dari ruangan kesehatan menuju koridor sepi.


"lama nggak ketemu,ya Ma? Oh iya, aku baik-baik aja kok Ma. Aku makannya banyak, tidurnya nyenyah, sama jajannya juga banyak. Seperti yang Mama minta, aku tinggal sama Papa sekarang. Aku nggak akan ganggu keluarga bahagia mama. Mama tau nggak sekarang Papa jadi sedikit peduli sama aku.....Eh, aku ngomong apaan sih. Jadi curhat gini, maaf ya ma emang agak ngelantur. Lagian mana mungkin Mama peduli soal keadaan aku." Aby tertawa konyol lalu memukul kepalanya sendiri sebelum mengunyah keripik kentang untuk menyembunyikan perasaan Yang sebenarnya.


Ayu sendiri diam memperhatikan Aby. Merasa harus berbicara, ia mulai menyusun kata dan memastikan setiap kata yang terucap tidak menyinggung perasaan Aby.


"Aby udah tau kalau Mama sama Om rehan mau menikah?"


"udah. Keyla ngasih tau, aku sebenernya marah, kecewa, sakit hati...tapi,aku sadar. Aku nggak berhak untuk itu. Jadi, suka-suka Mama mau ngapain. Kayak biasa, terserah."


Ayu tidak melepas tatapan dari putrinya yang terus saja menghindari kontak mata dengannya. "Mama mau memperbaikin hubungan kita yang kurang baik belakangan ini. Jadi, harus dari mana Mama mulainya?"


"nggak perlu diperbaiki, emang bagusnya gini. Aku nggak butuh Mama. Toh, sebentar lagi aku juga punya Mama baru. Papa bilang orangnya baik. Jadi Mama buat Keyla aja, tapi syaratnya Keyla nggak boleh lagi ambil apa yang aku punya, terutama Bima. Aku bakalan marah banget kalau Keyla ngelakuin itu."


"kenapa? Mama tanya kenapa?! Gila! Kayaknya mama perlu ke pisikolog deh, kalau ada waktu berobat,ya Ma." setelah mengatakan itu, Aby langsung pergi begitu saja. Ia sudah berada difase muak untuk terlibat dengan Ayu dan segala rasa sakit yang telah wanita itu ciptakan.


"Aby."


Gadis itu mengaikan panggilan dari ibunya.


"Mama harap Aby bakalan dateng dipernikahan Mama sama Om Rehan."


Datang ke pernikahan mereka? Yang benar saja! Apa mereka berharap melihat Aby menangis ditengah tawa mereka?


"demi Keyla,By. Keyla pasti bakalan seneng kalau ada Aby disana."


Keyla lagi? Sialan! Aby kira kedatangannya memang benar-benar diharapkan, ternyata ia terlalu ber ekspetasi tinggi.


...*****...


"bangsat!" maki Arion keras. Kakinya menendang kosong ke depan saat Bima begitu payah mempertahankan bola. Sudah kesekian kalinya Bima melakukan kesalahan yang membuat club futsal nyaris kebobolan.


"Ma, lo sehat kan?" tanya Bayu merangkul Bima yang baru saja menendang bola ke gawang sendiri. Untung saja tendangan cowok itu melenceng jauh dari gawang.


"udah gila!" upat Arion yang lewat dihadapan Bima.


"fokus! Kalau kita kalah kesempatan buat sampai final udah nggak ada." ucap Bayu lalu menepuk pundak Bima sebelum berlari begitu pluit dibunyikan.


Lapangan futsal memanas saat Arion terus saja memaki-maki Bima bahkan nyaris terlihat baku hantam. Berkali-kali Arion meminta Bima untuk diganti karna mainnya dilapangan sudah sangat payah, tapi Bima menolak keras karna ingin berkontribusi untuk kemenangan SMA Harapan Bangsa. Penolakan itulah, Arion mudah tersulut emosi. Tendangannya mulai tak terkontrol. Selama Bima yang payah tidak mau keluar dari lapangan, maka Arion akan terus marah-marah.


"diganti nggak bikin lo kalah pamor dari gue Ma! Lo tetap murid paling teladan disini. Lagian lo masih bisa ikut tanding kapan-kapan. Sekarang, lo istirahat dulu. Lu cuma kayak orang bego dilapangan , nggak guna! Nendang aja nggak becus!" murka Arion begitu ada waktu istiraha. Kelewat marah, Arion mengambil susu kotak yang kedua untuk ia minum. Rasa ingin memakan daging manusia sangat memuncah dalam diri Arion. Begitu susu kotaknya habis lelaki itu menjatuhkan kotaknya lalu menendang kuat sampai ketengah lapangan.


Bima tidak tersinggung dengan makian-makian Arion lontarkan karena memang itulah kenyataannya. Sejak pluit tanda dimulainya pertandingan, sosok Aby mengacau fikirannya Bima kehilangan konsentrasi.


Ingatan peristiwa beberapa menit lalu membuatnya ingin mencekik lehernya sendiri.


Bodoh.


Sekiranya kata itulah sebutan yang pantas untuknya.


Bukan karena Aby mendorong Keyla sampai terjatuh membuat Bima marah. Tapi, perhatian Bintang membuat rasa cemburu ditambah respon baik dari Aby. Sudah tau ia sangat payah dalam mengendalikan diri jika itu menyangkut Aby, tapi mengapa Aby tetap tidak paham perihal itu.


Bima marah.


Bima kesal


Bima cemburu nyaris gila.


Hingga begitu ada kesempatan untuk meluapkan semuanya dengan kejadian Keyla sebagai alasan, Bima kehilangan kendali dihadapan Aby.


Lagi-lagi semuanya berakhir sama, penyesalan. Menyakiti Aby bukanlah kemauannya.


Mendengar lengkingan teriakan yang sangat ia kenali, Bima menoleh ke arah tribune penonton. Gadis yang tadi ia sakiti tengah berdiri disana. Wajahnya terlihat sumbringah bahkan gadis itu terlihat paling semangat dan heboh di antara yang lain. Walaupun ia disana berdiri tanpa seorang teman. Bisa-bisanya Aby masih bisa tertawa sekeras itu saat club futsal sekolahnya berteriak untuknya. Aby benar-benar....Bima lehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan kekasihnya yang luar biasa itu.


Ditempatnya Bima mematung melihat Aby memukul kepala serta anggota tubuhnya yang lain dengan botol saat menyemangati club futsal sekolah cewek itu. Jika diperhatikan lebih teliti, sedari tadi gerak-gerik Aby memang sengaja untuk menyakiti fisiknya sendiri. Melihat Aby meninggalkan tribune penonton, Bima langsung setuju untuk diganti dan berlari meninggalkan lapangan futsal. Ia meraih ransel dan jaketnya sebelum berlari mencari keberadaan Aby.


"kak Bima."


Langkah Bima berhenti saat ada yang memanggilnya. Cowok itu mulai mengatur ekspresi dan mulai tersenyum hangat saat Keyla melangkah mendekatinya. "kok masih disini? Gue fikir lo udah pulang, om Rehan belum dateng? Mau gue anterin pulang?" tanya Bima begitu perhatian.


Keyla menggeleng pelan. "papa sama mama udah dateng, makasih ya kak udah telfon papa."


"sama-sama. Kok sendirian?"


"papa sama mama lagi ngobrol sama kepala sekolah. Aku nunggu disini aja, lebih nyaman."


"oke gue temenin." meraih tangan Keyla, Bima mengajak itu untuk kembali duduk dibangku koridor.


Bima membuka ransel, di sana ia menyimpan beberapa batang coklat, snack beserta minuman. Awalnya ia menyiapkannya untuk Aby karena ia tahu Aby akan datang kesekolahnya. Namun gagal, ia kalah cepat dari Bintang. "makan, biar nggak bosen." ucapnya seraya meletakkan satu batang coklat pada pangkuan Keyla.


Setelah itu hening, Bima sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Aby. Menanyakan dimana gadis itu, meminta untuk pulang bersama.


Sementara Keyla sibuk menikmati coklat pemberian Bima entah mengapa membuat wajahnya memanas. Ia juga merasa gugup dan juga diliputi debaran aneh. Lewat ekor matanya, ia melirik ke arah Bima sebelum akhirnya Keyla menutup mata rapat-rapat saat perasaan tak biasa itu datang. Keyla menasehati dirinya sendiri untuk tidak terbawa perasaan perihal ini karna sebelumnya ia juga pernah diperlakukan seperti ini oleh lelaki lain selain Bima.


Bima mengupat tidak ada balasan apapun dari Aby. Pesannya hanya dibaca. Panggilannya pun ditolak, ia mulai resah. Tapi meninggalkan Keyla sendirian juga ia segan. Saat mendapati pesan dari ayah Aby, Bima bisa bernafas lega. Kekasihnya sudah dijemput. Mungkin setelah ini, ia akan langsung kesana. Mengecek saldo tabungannya, Bima menghela nafas. Masih cukup untuk Aby tapi sampai akhir bulan mungkin ia tidak akan jajan. Itu bisa diatur, yang terpenting Aby mau memberi maaf padanya.


...*****...


Bima merogoh saku jaket, uangnya hanya tersisa satu lembar dan itu pun hanya dua puluh ribu. Bima menatap kearah tangannya yang menenteng plastik sesajen yang membuat jatah bulanannya ludes. Sebelum menemui Aby, ia sangaja membeli banyak makanan untuk mewakilinya meminta maaf. Bima akui, ia sangat payah dalam perihal merayu terlebih itu merayu Aby. Entah mengapa setiap perhadapan dengan Aby, sisi lembutnya lenyap. Yang ada hanya emosi mudah tersulut dan hasrat seperti bukan dirinya.


Meyakini semuanya akan baik-baik saja, Bima mengirim pesan pada Aby jika ia akan datang dan memberikan sesuatu. Tidak lupa ia juga mengingatkan Aby untuk membukakan jendela kamar karna ia akan memanjat balkon seperti biasa. Pesan yang ia kirim memang langsung dibaca, tapi sampai lima menit berlalu belum ada balasan. Pesan-pesan tadi siang juga bernasib sama.


Sudah menyiapkan seribu cara dan beratus cadangan untuk meluluhkan hati Aby, Bima langsung tancap gas menuju rumah pujaan hatinya.


Sesampai dirumah Aby Bima menatap bingung ke arah beberapa mobil yang terparkir rapi. Tidak biasanya rumah Aby seramai sekarang. Apa rekan bisnis om Ali? Rasanya tidak mungkin. Musik dari ruang tamu terlalu keras hingga terdengar sampai pintu gerbang.


Mengobati rasa penasarannya Bima melangkah cepat menuju ruang tamu. Kedatangannya disambut oleh Aby yang kini tengah karaoke dengan teman-temannya. Bima menghitung cepat, 7 orang 4 diantaranya adalah lelaki. Sejak kapan Aby membawa seseorang kerumah, kecuali dirinya?


Ruang tamu berantakan, bungkus makanan dan kaleng minuman berserakan dimana-mana, Musik yang berdentum keras memekakan telinga. Orang-orang termasuk Aby belum menyadari kehadirannya. Mereka sibuk berebut mikrofon dan menari sesuka hati. Aby uang berdiri diatas sofa begitu percaya diri dengan suaranya yang membuat telinga Bima sakit.


Satu lagu selesai diputar Aby melompat dari sofa dan saat itulah ia menyadari kehadiran Bima diambang pintu. Dengan wajah ceria, Aby berlari kearah Bima. "kok lo disini?"


"mereka siapa?" tanya Bima dengan nada dingin.


"temen. Lo pulang aja sana,Ma. Disini isinya orang nggak bener semua ntar kita-kita malah bawa pengaruh buruk buat lo. Lo nggak mau kan punya sisi buruk?"


"suruh mereka pulang!" rahang Bima mengeras setelah mengatakan itu. Matanya tertuju kearah Bintang yang duduk disofa, memperhatikannya. Mendadak kepala Bima berdenyut nyeri menyadari Bintang semakin dekat dengan Aby. Tidak boleh! Hanya ia yang berhak.


"gimana?"


"gue rasa telinga lo masih berfungsi dengan baik. Kalau lo nggak bisa biar gue yang usir mereka."


Aby tertawa mengejek. "telinga gue emang masih berfungsi dengan baik Justru telinga lo yang bermasalah. Nggak denger tadi? Yang seharusnya pulang itu lo bukan mereka. Ini apaan?" kalimat terjeda, tanpa meminta izin ia merebut kantong plastik yang ditenteng Bima untuk diperiksa isinya


"telor gulung, bakso bakar,sosis bakar..lo bawain ini buat gue? Percuma kali, noh lihat ke meja Bintang udah bawain. Catet baik-baik dia ngasih tanpa pambrih. Kalah lo.... Pasti biar dimaafin,kan? Hahaha udah ketebak, basi.


Mending ini lo bawa pulang aja deh atau kasih ke Keyla. Lumayan kan, bisa caper biar makin deket kalian. Gue lihat-lihat cocok juga ya lo sama dia!"


"gue nggak suka lo kayak gini."


"gue juga nggak peduli orang lain suka sama apa yang gue lakuin. Beda sama lo yang selalu ngelakuin sesuatu penuh perhitungan biar lo disukai semua orang."


"Aby!"


Kaki Bima reflek mundur selangkah saat pintu dihadapannya dibanting keras oleh Aby hingga tertutup rapat. Ia dudah berusaha untuk membukanya kembali namun gagal, Aby sudah menguncinya dari dalam. Mengeluarkan ponsel Bima menelfon Aby namun tetap ditolak dan kini nomernya berakhir diblokir oleh Aby.


Brengsek! Bima tidak terima diperlakukan seperti ini. Harga dirinya tersakiti dan apa....Bintang? Aby fikir ada cowok lain lebih darinya?


...*****...


...tbc ...


...selamat membaca...


...boleh bantu comment yaa kalau ada typo sekalian bantuin aku revisi ceritanya hehehe...


...bye bye next episode...