Relation(Shit)

Relation(Shit)
DUAPULUHDUA



Mungkin ini adalah puncak kemarahan Aby. Amarah yang dipendam bertahun-tahun akhirnya meledak juga. Setelah berdebat dengan sang ibu, gadis menyedihkan itu mengamuk seperti orang kesetanan. Ayu yang saat itu berada di dekat Aby, tidak bisa menghentikan apa yang cewek itu lakukan.


Aby membanting apa saja yang dapat ia jangkau. Foto-foto kebersamaan keluarga kecilnya diinjak-injak lalu dihancurkan olehnya. Tidak berhenti sampai di situ, Aby juga menghancurkan semua guci,vas bunga, dan barang apapun yang dapat dihancurkan.


Aby tidak mau hancur sendirian.


Aby ingin hancur bersama mereka.


Ayu memohon dengan berurai air mata agar Aby berhenti, namun suaranya hanya dianggap angin lalu bagi Aby. Perempuan itu memejamkan mata kuat-kuat saat putrinya memukul kaca jendela hingga berakhir hancur.


"Aby,mama mohon....berhenti." mohon Ayu.


Masih tidak didengar, tubuhnya didorong agar menjauh dan Aby kembali memukuli kaca yang lain. Melihat punggung tangan putrinya yang berdarah, Ayu mulai panik.


"Aby----"


"Diem! Mama diem disana, jangan maju! Aku nggak mau nyakitin Mama!"


"tangan kamu berdarah,Aby. Mama mohon, Aby jangan kayak gini."


"Mama jauh-jauh dari aku, aku nggak mau Mama kena amukan aku! Aku nggak mau Mama kesakitan karna aku. Sakitnya untuk aku semuanya aja, Ma."


Terkadang Aby benci pada dirinya sendiri yang sangat lemah pada orangtuanya. Sudah disakiti berkali-kali dikecewakan tanpa rasa ampun, Aby belum sanggup untuk membalas rasa sakit itu. Ia lebih memilih melampiaskannya pada dirinya sendiri, menyakiti dirinya lebih tepatnya.


Setelah kembali mendorong ibunya agar menjauh, Aby menurunkan satu-satunya figuran yang masih utuh. Foto masa kecil Aby yang terkenang didalam benaknya, sangat bahagia. Rasanya sangat bahagia sekali masa kecil Aby tumbuh ditengah-tengah keluarga yang utuh. Cewek itu tersenyum miring sebelum akhirnya melempar kuat figuran itu ke dinding hingga hancur tak tersisa.


Pecahan kaca dan keramik sudah bertebaran di lantai ruang tamu. Suara kekacauan tadi sudah tak terdengar lagi digantikan dengan isak tangih gadis remaja yang meringkuk disudut ruangan. Meskipun tangannya sudah berdarah, Aby tetap memukul-mukuk dinding.


Ayu melangkah mendekat dengan air mata yang bercucuran. "Aby."


Aby tersenyum samar lalu mendongak menatap ibunya. Dada gadis itu terasa nyeri,ia pukul kuat berkali-kali sebelum bersuara. "nggak bisa,ya Ma. Kayak dulu lagi? Nggak ada lagi kesempatan untuk kita sama-sama lagi,ya? Aku kangen kita yang dulu,Ma."


"Sayang---"


"Kenapa,Ma? Aku fikir cuma pernikahan Mama sama Papa aja yang hancur. Ternyata aku juga ikut hancur,Ma."


"paling hancur."


Ayu memeluk erat putrinya yang benar-benar kacau. "Mama benar-benar minta maaf sama Aby."


"Mama sama Papa kenapa? Ada apa? Kita bahkan dulu baik-baik aja. Tapi kenapa sekarang kacau begini. Apa ini semua karena aku?"


Ayu yang mendengar perkataan sang putri dengan cepat menggeleng. "Bukan. Ini bukan salah,Aby. Aby anak baik. Aby nggak salah,nak. Ini sakah Mama. Mama minta maaf."


"Kalau Mama sadar sama kesalahan Mama , kenapa nggak berusaha memperbaiki? Kenapa Mama justru ngehancurin semuanya, Mama ngehancurin Aku.


Ayu mengurai pelukan mereka menghapus air mata Aby dengan ibu jarinya. "maaf nggak bisa pertahanin papa,lagi. Setelah gagal sama papa, mama janji nggak bakal gagal lagi. Mama juga bakalan perbaiki semuanya. Untuk itu mama ajak Aby pergi dari rumah ini . Kita bakalan mulai semuanya dari Awal.


"kenapa kalian selalu kayak gini? Ambil keputusan tanpa pertimbangin aku. Mama nggak akan tau arti rumah ini bagi aku apa. Mama fikir aku bakalan sanggup ninggalin rumah ini? Semuanya ada disini,Ma. Kebahagiaan aku tentang kita ada disini."


Ayu bungkam.


Aby mengusap air matanya dengan kasar lalu tersenyum tegar. "Oke,kalau itu yang mama mau. Aku bakalan coba memaklumi dan memahami mama sekali lagi. Ayo kita pergi dari sini. Mungkin rumah yang lebih besar dari ini adalah kebahagiaan aku."


Cewek itu bangkit dan melenggang kearah kopernya. Ia menghela nafas berat sebelum menyeret koper itu keluar dari rumah tanpa ada tangisan


"Aby---"


"Aku mau titip Anjing ke rumah Bima. Biar Bima yang jagain. Aku mau fokus sama kebahagiaanku sendiri."


...*****...


Tribune penonton heboh saat gawang berhasil dibobol oleh Arion. Kerjasama yang baik antara Bima dan Arion. Umpan pendek dari Bima disambut baik oleh Arion dilanjutkan tembakan langsung hingga memporak-porandakan gawang lawan.


Meskipun club futsal harapan bangsa sparing dengan SMA Pertiwi dihari Libur, namun tidak membuat tribune sepi penonton. Kegiatan club futsal memang selalu menjadi yang paling banyak diminati. Khususnya oleh cewek-cewek yang mengagumi anggota inti club futsal.


Meskipun gol bukan diciptakan olehnya, namun Satria tetap paling heboh dalam melakukan selebrasi. Cowok dengan perut bayinya itu berlarian di tepi lapangan sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Setelah itu ia berlari dan melompat ke punggung rekannya yang memiliki perawakan paling tinggi di antara yang lainnya.


"Ternyata emang paling bener, club futsal emang paling tepat kalau buat pansos. Gue berasa seleb nyempil diantara babang tamvan Arion sama Bima." ujar Satria lalu melompat turun saat melihat orang-orang suruhan papanya Arion datang membawa banyak sekali plastik putih. Selain menjadi sponsor, Ayahnya Arion juga merambat menjadi seksi konsumsi untuk hal apapun yang melibatkan Arion di dalamnya.


"kok cuma segini? Papa bangkrut,ya?" tanya Arion begitu menerima susu kotak yang dibawakan khusus untuknya.


"ini konsumsi buat Arion sama temen-temen." sahut salah satu suruhan ayahnya.


"yang nonton nggak dikasih?"


"didepan udah ada tukang bakso,siomay, batagor dan lain-lain. Sudah diborong semua oleh Tuan Rivaldo. Arion hanya tinggal menyuruh mereka memilih apa saja yang mereka inginkan, sudah dibayar."


Arion menghela nafas lega. Ayahnya belum bangkrut ternyata. Awalnya ia sudah berprasangka buruk soal ayahya.


"Lang, pimpin pasukan." titah Arion.


Setelah mengamankan dua paket nasi, dua botol minuman dingin, tujuh makanan ringan, dan beberapa buah-buahan, Gilang pun berteriak lantang mengajak penonton ke depan untuk makan-makan.


Selain disuguhi dengan pemandangan cogan, makanan gratis adalah hal yang membuat club futsal digemari banyak orang.


"kalau malu-malu nggak kenyang lo." cibir Arion lalu meletakkan makanan dan minuman di bangku yang Bima duduki.


Bima mengangguk lalu kembali sibuk dengan ponsel. Tidak biasanya Aby tidak cerewet padanya. Padahal ia sudah meninggalkan gadis itu selama sembilan jam. Sekedar menanyakan pulang atau mengajukan permintaan aneh-aneh pun tidak juga. Bima yang bingung pun mengirim pesan kepada pacarnnya itu.


Bentar lagi gue pulang, mau dititipin apa? Racun tikus misalnya.


Centang satu.


Terakhir aktif yang tertera dikontak Aby pun beberapa jam yang lalu. Saat hendak menelepon, ponsel Bima mati. Sialan. Bima melupakan batrai ponselnya.


"Habis ini kita mau makan-makan dimana lagi? Di deket sini ada cafe baru buka. Mau coba kesana nggak? Barangkali cocok buat dibeli bokapnya Arion. Kan lumayan kalau nongkrong nggak jauh-jauh banget." ujar Satria yang baru saja kembali. Makanan yang diambil bahkan belum ia sentuh tetapi cowok itu mengatakan soal makanan lagi.


"Nggak malu lo sat!? Lo doang disini perutnya modelan badut. Orang pada estetik perutnya si dia malah lemak semua." cibir Bayu.


Satria mengusap-usap perutnya yang memang sedikit membuncit, baling beda jika dibandingkan dengan milik sahabat-sahabatnya. "Heh, gini-gini perut gue kalo dimainin cewek juga bakalan kecanduan merekanya. Jangan songong lo!"


"gue cabut duluan,ya?" ujar Bima tiba-tiba.


"Kabur terus,kenapa sih lo?" tanya Satria.


"beban keluarga kayak lo pada, mana paham sama Bima yang nggak mungkin buang-buang waktu buat hal yang nggak guna. Lagian juga udah pada selesai, wajar dong kalau pulang. Gue juga mau pulang." tentu saja itu bukan jawaban dari Bima melainkan Bayu yang memang selalu blak-blakan dan tipis kesabaran.


"minimal makan-makan dulu lah. Hargai kefoya-foyaan bokap gue buat cuci dosanya." ungkap Arion menahan Bima.


Bima hanya tersenyum lalu membuka kotak nasinya. Melihat isi kotak nasi, makanan yang ada disana adalah salah satu makanan kesukaan Aby, Bima kembali menutup kotak. "gue makan dirumah aja." putusnya demi Aby.


"iya udah kita makan-makan dirumah Bima aja. Setuju apa agree?" tanya Satria yang dihadiahi tendangan di pantat oleh Bayu.


"sekarang nggak bisa. Kapan-kapan aja main kerumah gue." larang Bima lalu bangkit dan meninggalkan sahabat-sahabatnya.


"Apa orangtua Bima koruptor,ya? Trus hartanya disita, jadi nggak dibolehin kita ke rumah dia. Logikanya gini, Arion aja yang rumahnya pake kardus aja bangga,kan?" celetuk Satria.


...*****...


Bima sudah sampai dibalkon kamar Aby. Jendela sudah cowok itu ketuk berkali-kali tapi Aby tidak kunjung membukanya. Bima juga sudah berteriak lantang namun tetap tidak ada hasilnya. Ponsel ia keluarkan, Bima menghubungi aby. Tetap nihil.


"Aby!buka jendela! Gue bawain makanan buat lo!"


"Aby!yakin lo nggak mau?"


"Bakalan nyesel lo kalau nggak buka jendela!"


"gue kasih lo kesempatan tiga detik. Kalau nggak buka jendela, kulit ayamnya gue makan." ancam Bima.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Aby tetap tidak muncul.


Sejak kapan Aby bisa menahan godaan dari makanan?


Apa Aby tidak dirumah?


Apa Aby pergi bersama Bintang?


Sialan! Hanya dengan membayangkan itu saja darah dalam tubuhnya sudah mendidih kepanasan. Bima pun kembali menuruni tangga dan pulang kerumah karena sepertinya Aby memang tidak dirumah.


Dalam perjalanan pulang, cowok itu memikirkan hukuman yang pantas Aby terima jika benar ia pergi bersama Bintang. Satu kali ciuman panas rasanya sangat kurang perlu lima atau enam kali, mungkin. Tapi, Bima juga sudah memikirkan variasi lain. Hukuman yang disebut tadi sudah terlalu biasa. Sekali-kali Aby perlu dibanting lalu ditindih.


Langkah kaki Bima berhenti saat melihat gadis remaja berdiri didepan pagar rumahnya.


"Keyla?"


Keyla tersenyum canggung.


"lo ngapain disini? Ayo Masuk! Gerimis. Tuh baju lo basah." ajak Bima lalu membimbing cewek itu masuk kerumahnya. Bima membukakan pintu untuk Keyla lalu mempersilahkannya untuk duduk.


"gue mau taruh ini dulu. Tunggu sebentar." ujar Bima seraya mengangkat plastik putih yang ia tenteng. Baru beberapa langkah ia berjalan. Bima menghentikan langkahnya lalu bertanya. "lo mau minum apa?"


"nggak perlu kak,aku..."


"okey, gue bikinin teh anget,ya? Sebentar."


Tak sampai sepuluh menit meninggalkan Keyla diruang tamu. Bima kembali membawa sweater untuk dipinjamkan ke pada Keyla. Ngomong-ngomong tadi Bima sudah meminta ART-nya untuk membuatkan teh hangat.


"kayaknya lo kedinginan, muka lo agak pucat. Pake ini, jangan nolak terus,ya?" ujar Bima. Niat awal Keyla untuk menolak langsung lenyap. Dengan gerakan kaku, cewek itu menggunakan sweater Bima dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


"oh iya, kok lo bisa didepan rumah gue,sih? Ada sesuatu?"


"tadinya aku mau nitipin ini ke kak Aby buat kak Bima, tapi kak Aby bilang lagi nggak dirumah. Suruh aku ngasih sendiri ke kak Bima."


"itu apa?" tanya Bima menunjuk kotak yang dibungkus kertas kado ditangan Keyla.


"papa nitip,ini. Tanda terimakasih katanya. Diterima,ya kak. Harganya emang nggak seberapa. Tapi, aku harap kak Bima suka."


Bima menerima pemberian Keyla. "boleh gue buka sekarang?"


"boleh,kak."


Melihat isi hadiahnya, Bima tersenyum. Seminggu yang lalu ia ingin membeli sepatu futsal ini namun urung karena uangnya tidak cukup. Lagipula ia lebih memprioritaskan perut dan kesenangan Aby dibandingkan hobi futsalnya. Dan hari ini Keyla memberikan ini padanya. Sepatu yang benar-benar ia inginkan. "Btw, makasih banget. Jujur, gue ngincer banget sepatu ini."


Syukurlah kalau kak Bima suka. Tadi aku sempet bingung milihnya karena nggak tau apa-apa soal kakak. Kalau gitu aku mau pulang."


Sebelah alis Bima terangkat. "pulang? Kok cepet banget?"


"aku mau ngerjain tugas,kak."


"dijemput?"


"tadi aku kesini naik ojek online. Ini mau nyari driver lagi."


"gue anterin pulang. Ayo!"


"nggak perlu repot-repot,kak. Aku bisa pulang sendiri."


"gue yang nggak mau lo pulang sendirian. Tehnya dihabisin dulu. Gue mau ganti baju sebentar."


...*****...


"mampir dulu,Ma. Om pengen main catur lagi sama kamu kayak waktu itu. Ayolah. Om maksa,nih." ajak Rehan saat Bima yang mengantar putrinya buru-buru ingin pulang.


"pa, kasihan kak Bima. Papa jangan paksa kak Bima." ujar Keyla merasa tidak enak hati pada Bima.


Bima tersenyum tipis lalu mengangguk setuju yang mana mampu membuat Rehan senang.


"Mending Key buatin kopi buat Papa sama Bima. Bawain cemilan juga yang banyak."


Setelah mengatakan itu, Rehan yang baru pulang dari urusan dadakannya dikantor bersamaan dengan datangnya Bima dan Keyla, pun memencet bel.


Tas kerjanya diserahkan pada sang putri saat ia menunggu pintu dibuka.


"nanti ngalah,ya Ma." canda Rehan.


Pintu utama terbuka.


Seseorang yang membuka pintu itu mampu membuat wajah Bima pucat. Bagaimana bisa Aby berada dirumah Keyla?


Bukan hanya Bima, Rehan dan Keyla pun juga terkejut dengan keberadaan Aby. Sedangkan Aby sendiri. Rasa di dalam hatinya mencelos. Terkejut bercampur sakit.


"Kak Aby?"


"Oh, jadi kalian yang ngehancurin gue?" cibir Aby menatap Keyla serta Rehan.


Tatapan Aby beralih ke arah Bima yang mana paling berhasil membuatnya kecewa. "lo juga ikutan buat ngehancurin gue,Ma?"


...*****...


...tbc...


...akhirnya up juga ...


...boleh coment coment kalau mau di up ...


...atau digantung aja?...


...hahaha...


...happy reading saay...


...ada pap kangen nih dari anaknya papa Bima...



...ada yang kangen Mas ganteng pacarnya Aby nggak?...