
"yakin nggak nyuruh gue nginep?" tanya Bima masih dalam usaha untuk modus agar Aby menahannya disini.
"yakin! Bokap nggak dirumah, enak di lo. Lo pasti bakalan ternak ****** lagi. Bisa-bisa buka cabang nggak cuma dileher,tapi juga didada montok gue.
"idih, rata begitu kok. Montok dari mananya?" ejek Bima menatap remeh ke arah dada kekasihnya lalu menyusul cewek itu, masuk setelah melepas sepatu dan menata pada rak yang tersedia.
"rata pala lo! Orang gede gini, mana semok juga."
"coba sini gue pegang. Kalau belum pegang langsung, mana percaya gue sama omongan lo. No bukti, hoax!"
Sedetik setelah mengatakan itu, bima langsung kena cakaran dari kucing garong yang belum jinak. Merasakan perih dileher, memotong kuku Aby akan ia pastikan masuk kedalam wishlist-nya yang harus segera tercapai. Pasalnya kuku panjang Aby sangat berbahaya. Setelah lengan, kini lehernya juga kena.
Melihat Aby masuk lebih jauh, Bima yang kelelahan setelah pertandingan futsal, tidak berniat mengekor. Ia pun duduk disofa dan memeriksa betisnya yang tidak sengaja kena tendangan kaki Bintang saat bertanding sore tadi. Pantas saja nyerinya tak hilang-hilang, ternyata ada memar disana. Mendengar suara langkah kaki mendekat, Bima berusaha bersikap biasa. Ia tidak mau Aby melihat luka apapun pada tubuhnya.
Setelah melihat Aby bersama Anjing, Bima sampai tersedak air ludahnya sendiri. Bisa-bisanya Aby dengan santainya mengenakan hot pants dan tank top saat hanya berdua dengannya. Benar-benar gadis sinting itu minta ditubruk lalu dibanting disofa. Sepertinya sofa tidak buruk juga untuk menjadi tempat eksekusi cewek binal itu.
"kok lo masih disini,sih Ma?" heran Aby lalu duduk disofa lalu mengaduk-aduk wajah anaknya yang terlihat sangat menggemaskan. Anaknya ini semakin hari semakin berisi saja badannya membuat Aby gemas ingin melahapnya hidup-hidup.
Berusaha fokus, Bima pun mengalihkan perhatiannya pada objek lain. Namun hanya beberapa detik saja. Setelah perhatiannya kembali disita oleh pemandangan yang beberapa kali membuat jakunnya naik turun. Bima tidak menyalahkan hormonnya, satu-satunya orang yang patut disalahkan disini adalah cewek gila itu.
"lo dirumah sendirian, jadi gue temenin. Ya,walau pun malas banget ngurus cewek sinting kayak lo. Tapi, mau gimana lagi? Jiwa sosial gue tinggi."
"gue nggak butuh ditemenin sama lo. Mending lo pulang aja. Hush! hush! hush!"
"yakin? Lo udah liat yang lagi viral? Soal keranda mayat, nih ya denger denger ada yang ngetok pintu tengah malem juga tapi nggak ada orang. Ih serem banget."
Aby tahu jika sebenarnya Bima sengaja menakut-nakutinya, tapi masalahnya Aby beneran takut. Membayangkan ada yang mengetuk pinti rumahnya ditengah malam membuatnya merinding bukan main. Aby merasakan bulu romanya beridiri.
Melirik kearah Aby, sudut bibir Bima berkedut. Ekspresi sang kekasih sangat pas sekali sama seperti yang ada didalam skenarionya yang telah ia susun barusan. Bima optimis rencananya akan berhasil ia mulai merancang dan melist apa saja kegiatan yang akan ia lakukan dengan Aby-nya nanti. Melanjutkan aktingnya, cowok itu meraih kunci motornya yang tergeletak dimeja. "kalau gitu gue cabut, pastiin semua jendela ketutup, jadi kalau nanti keranda terbangnya lewat lo nggak bakalan liat. Kalau ada yang ketuk pintu tapi nggak ada suara,jangan dibuka takutnya bukan orang. Paham?"
"itu yang kata lo viral, hoax,kan Ma?" cicit aby. Jelas sekali jika cewek itu ketakutan.
"mau bilang hoax, tapi gue juga belum buat penelitian kebenarannya. Tapi, emang nyeremin. Itu Anjing kalau malem-malem ngeong-ngeon sendiri bisa jadi lihat hantu."
Semakin ketakutan, Aby melepaskan kucingnya yang tengah ia peluk sebelum akhirnya cewek itu bangkit berjalan dengan segera menubrukkan diri pada cowok tinggi dihadapannya. Kali ini, Ayah angkat kucing itulah yang tengah ia peluk erat. "jahat banget sih! Gue takut banget sekarang. Bakalan susah tidurnya ini." setelah mengatakan itu, Aby meremas kuat punggung baju Bima.
"nanti gue tidurin." balas Bima kelewat santai yang mana langsung dihadiahi pukulan sayang oleh Aby.
"gue serius,Soang!"
Bima yang merasakan dingin pada telapak tangan kekasihnya pun menggenggam erat telapak tangan itu. Rasa bersalahnya datang karna sudah membuat kesayangannya setakut ini. Diusapnya kepala cewek itu penuh sayang sebelum sebuah kecupan mendarat dipuncaknya.
"jahat banget,sumpah! Udah tau gue takut banget sama hal-hal begituan. Tapi, lo masih aja jadiin kelemahan gue buat kepentingan lo sendiri." gumam Aby lirih.
"lagian ngapain pake takut,hmm? Mana bar-bar lo yang boleh diadu itu? Beginian aja takut lo,Cemen banget. Padahal lo sering dirumah sendirian. Kalau emang takut, kenapa bukan dari dulu aja takutnya? Kenapa pas ada gue, baru lo ngomong takut. Belajar modus dari mana lo?"
Aby mengurai pelukannya mendongak menatap Bima. "emang kalau gue bilang mereka bakalan dateng? Peduli tentang gue aja enggak,Ma. Bahkan rasanya nama gue nggak pernah ada terlintas difikiran mereka. Dari pada gue bilang yang nantinya gue jadi berharap dan sakit sendiri. Bukannya lebih baik diam? Lo mana tau gue setiap malam ketakutan sendirian dirumah, nggak akan ada yang peduli soal itu. Tapi, ketika ada yang peduli malah dimanfaatin."
"sstttt,jangan dibahas lagi. Maaf, gue salah. Lo mau maafin gue,kan?"
"tergantung nasi goreng buatan lo gimana rasanya. Kalau enak, gue maafin."
Telapak tangan Bima menyusup masuk ke dalam tank top Aby dari bawah, mengusap perut gadisnya yang sedikit membuncit, lalu mencibir. "ini perut apa,sih By? Perasaan tadi udah dijajanin Satria sama Gilang sampe kenyang, masih aja minta nasi goreng."
"masih dalam masa pertumbuhan. Lo lupa kalau gue ini Baby? Ayo buru bikinin gue nasi goreng."
"jurus andalannya mana?"
Setelah menarik keluar tangan Bima dari balik tank topnya, Aby mengeluarkan jurus andalannya. Muka memelas Aby memang tidak pernah gagal. Terbukti Bima langsung merangkul bahunya berjalan mengajaknya kedapur.
"yakin nggak mau belajar bikin nasi goreng sendiri? Biar nggak jadi beban gue terus."
"tapi ngajarinnya nggak pake modus,ya!"
"tergantung. Kalau ada peluang, kenapa nggak?"
"gue bilangin tante Tari kalau lo sangean! Pasti nyokap lo bakalan kecewa banget sama lo, trus coret lo dari KK deh."
"yakin? Emang nyokap bakalan percaya sama mulut kaleng lo? Orang-orang kecuali gue, nggak ada yang tahu soal ini." ungkap Bima lalu berhenti tiba-tiba dan langsung memojokkan Aby ke dinding. Selagi otak Aby masih loding, Bima pun menyerang bibir kekasihnya dengan penuh damba.
...*****...
"tumben belajar?" cemooh Bima begitu keluar dari kamar mandi. Mendapati Aby tengkurap di ranjang tengah sibuk dengan polpoin beserta buku. Sebuah fenomena langka, pasalnya ia tidak menyuruh Aby untuk belajar. Terkadang sudah disuruhpun Aby tetap saja menolak belajar. Apa phobia cewek itu sudah sembuh? Aby pernah mengaku phobia akan belajar. Katanya kalau belajar ia bisa mules, mual-mual dan berakhir dengan kejang-kejang.
"biar pinter kayak lo. Dendam banget gue. Tiap hari dikatain goblok. Pengen banget ngatain balik pake prestasi. Liat aja semester depan gue bakalan jadi juara umum dan siap diadu sama lo."
Duduk ditepi ranjang, Bima serius memperhatikan Aby yang tengah mengerjakan soal uraian matematika. Jika dilihat, dari terakhir kali Aby bimbingan belajar dengannya, sudah ada kemajuan. Meskipun kecepatan menghitung Aby masih sangat lambat dan membuatnya gregetan serta gemas. Namun, Bima memberi apresiasi tinggi pada peningkatan Aby. "sembilan bego, bukan tujuh." koreksi Bima saat Aby salah dalam menghitung.
"iya pinter. Orang ini typo."
"lanjut nomer dua."
"hmm."
Bima yang ingin lebih dekat dengan Aby pun membaringkan diri disebelah Aby. Anjing yang dianggap sebagai penghalang disingkirkan ke ujung ranjang. "jorok!" protesnya saat Aby menggigit ujung polpoin.
"hehehe."
"lanjutin. Masa baru dapet tiga nomer udah loyo."
"yang ini susah. Beda sama yang tadi. Nggak paham."
"ini mah gampang. Mau gue ajarin? Tapi nggak gratis."
Tahu apa yang diinginkan oleh cowok pengidam soang akut, Aby meraih dagu Bima mengecup sudut bibir cowok itu. "udah,kan?"
"nggak kerasa, tapi lumayan lah. Gue bakal jelasin ini pake cara simple. Paling lama sepuluh detik. Simak baik-baik. Caranya gampang, tapi mengecoh. Harus teliti."
Aby menyimak dengan baik penjelasan kekasihnya. Bima memiliki kecedrasan yang tidak perlu diragukan lagi. Di penjelasan pertama, Aby masih belum bisa menangkap maksudnya, namun saat Bima mengulang kembali dengan lebih pelan, Aby berseru heboh. "gila! Gampang banget! Kenapa dari dulu nggak pernah diajarin pake cara itu."
"emang nggak semua guru ngajarin cara cepat. Mereka masih banyak pake cara konvensional yang malah bikin murid-murid kayak lo makin kelihatan begonya pas praktek."
"ini bener nggak?" tanya Aby menunjukkan hasil pekerjaannya.
"bener. Agak pinter lo sekarang. Nggak bisa gue hina-hina lagi dong?"
Aby tengah bersemangat karna merasa
Jika dirinya pandai pun tidak menggubris ucapan Bima. Ia terus mengerjakan soal yang tadi. Senyumnya terbit setiap kali bisa menyelesaikan satu per satu soal yang ada. Sementara Bima yang mulai diserang kantuk, memilih memejamkan mata setelah puas menikmati kecantikan Aby.
Menyadari jika Bima tertidur, Aby bangkit. Ia mengangkat kepala Bima untuk memudahkannya menyelipkan bantal. Tidak lupa, membungkus tubuh Bima dengan selimut. Untuk waktu yang cukup lama, Aby memperhatikan wajah damai kekasihnya. Tanpa sadar cewek itu tersenyum. Ia akui, Bima lebih dari sekedar tampan. Aby sampai tidak percaya dengan ketampanan tak manusiawi yang Bima miliki. Tak hanya tampan, cowok itu juga diberi kecerdasan, dan banyak kebahagiaan. Orang-orang juga mengenalnya sebagai orang baik, membuat Bima dincintai banyak orang.
Terkadang jika mengingat kesempurnaan Bima, Aby kehilangan kepercayaan dirinya. Ditambah segala jenis hinaan yang kerap kali dilayangkan untuknya. Membuat Aby sangat jauh dari kata pantas.
Tidak mau mengganggu ketenangan Bima, Aby pun pindah kemeja belajar. Untuk menemaninya yang sebenarnya ketakutan, Aby memindahkan Anjing yang sedang tidur ke pangkuannya. Ia pun mulai grasak-grusuk di meja belajar. Untuk memudahkannya menghafal, Aby memang harus melakukan beberapa ritual seperti mengetuk meja dengan polpoin, menggigit polpoin, atau memukul kepala untuk menata ulang tatanan otaknya.
Ditengah kesibukannya, Aby dasarnya memang menakut, terus saja melirik kearah jendela. Tiba-tiba bayangan keranda mayat lewat membuatnya ketakutan dan memilih pindah tempat. Kolong meja belajar pun menjadi pilihannya.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, Bima terjaga. Ia panik bukan main saat menyadari sisi sebelahnya kosong. Cepat-cepat ia bangkit dan membolak balik batal, tapi Aby tidak ada, Di kolong tempat tidurpun tidak ada, atas lemari, nihil. Dilangit-langit kamar pun tidak ada Aby yang biasanya menempel disana. Mendengar Anjing mengeong, Bima menoleh kearah sumber suara. Melihat Aby tertidur didalam kolong meja membuat Bima geleng-geleng gepala dan bergegas menghampirinya. Bagaimana bisa cewek itu tertidur disana dengan posisi kepala ditutupi dua buku.
"Liat mama mu,Njing. Ajaib banget,kan? Cuma mama mu aja yang begini." gumam Bima lalu memindahkan beban keluarga terlebih dahulu. Meski sedikit kesulitan akhirnya Bima berhasil mengeluarkan Aby dari kolong meja tanpa membangunkannya. Dibaringkannya gadis itu diranjang tak lupa menghangatkannya dengan selimut.
Bima yang sudah kehilangan kantuk pun membereskan kamar Aby yang berantakan. Kegiatannya terhenti saat menemukan kertas HVS yang digambari karikatur jelek. Disitu namanya tertulis dengan jelas dan dilengkapi banyak makian. Bima yang ingin marah, urung. Kalimat baris terakhir mampu membuat hidung mancung Bima kembang kempis.
Jangan diambil,ya! Nanti gue nangis. Udah sayang banget sama Mr.soang!
...*****...
Penyesalan Aby hari ini adalah menyetujui ajakan Bintang untuk menonton lelaki itu bertanding futsal di kandang Harapan Bangsa. Ia fikir kedatangannya bisa menjadi kejutan untuk Bima, tapi justru sebaliknya. Cowok itulah yang memberi kejutan padanya. Di ujung koridor, Bima tampak tengah berbincang berdua bersama Keyla. Buka itu yang membuat Aby marah, tapi bagaimana cara Bima memperlakukan Keyla lah membuat Aby marah sampai naik level kecewa. Lembut dan terlihat jelas jika Bima menghormati lawan bicaranya. Sangat jauh berbeda jika bersamanya. Tidak hanya pada Keyla, gadis lain yang menyapapun direspon begitu baik.
Lantas bagaimana Bima tidak bisa memperlakukannya begitu baik sama seperti saat cowok itu memperlakukan gadis lain?
"ini."
Aby tersentak kaget saat sebuah plastik putih disodorkan padanya oleh Bintang yang sudah kembali tanpa ia sadari. "apaan? Makanan?" tanyanya.
"apa lagi kalau bukan itu? Lo kalau nggak ngunyah mukanya aneh, melas banget makanya gue beliin. Ada telor gulung juga, tadi gue beliin didepan."
"makasih,ya. Ntar gue teriak paling kenceng buat nyemangatin lo. Pokoknya sekolah kita harus menang!"
"lo duduk anteng aja, gue pasti udah semangat 45."
"sebahagianya lo aja. Gue mau ganti baju dulu, lo nggak papa ditinggal lagi,kan? Jangan pecicilan, ini bukan sekolah kita. Mending lo makan dibangku itu. Nanti kalau gue udah selesai, gue samperin lo."
Aby mengangguk lalu berlari kearah bangku yang ditunjuk Bintang. Meski duduk sendirian dan terus saja diawasi oleh murid SMA Harapan Bangsa karna seragamnya yang berbeda, Aby tetap mengunyah jajanan dari Bintang. Melihat Bima semakin mendekat, Aby buru-buru menghabiskan teh-nya dan melempar kotak kosong itu agar di-notice oleh Bima.
Saat Bima menatapnya, Aby memasang wajah tengilnya lalu meniup permen karet yang baru dikunyahnya.
"dia siapa?" tanya Bima pada anggota OSIS yang berjalan beriringan dengannya.
"anak sekolah sebelah. Mau jadi suporter kayaknya, tapi emang agak urakan. Cuekin aja,Ma."
Bima pun mengangguk dan memungut kotak kosong yang Aby lempar dan dimasukkan ke tempat sampah sebelum berlalu.
Melihat respon Bima, Aby mendesah kecewa. Lagi-lagi ia tidak diakui oleh cowok itu.
"woi kucing garong!" Gilang yang menemukan keberadaan Aby pun berlari mendekati cewek itu. Tanpa permisi pada pemiliknya, ia mengambil sebungkus roti dan jus kemasan dari plastik yang tergeletak disebelah cewek itu.
"ah Gilang! Punya gue! Jangan dimakan, balikin!"
Gilang langsung membuka mulutnya selebar mungkin memasukkan roti ke mulut, mengunyah dengan tetap mempertahankan wajah tengil saat Aby menatap galak padanya. "telat, udah habis."
"gue sumpahin lo gila beneran, kayak nama lo!"
Gilang tergelak. "btw, lo udah liat Arion belom? Lo taunya Arion cuma dari sosmed,kan? Belom pernah lihat langsung."
"iya. Mana yang namanya Arion?"
Kepala Gilang celingukan mencari keberadaan Arion. Gilang nyengir lebar saat melihat objek yang dicari ada digedung ll. Ia pun mengarahkan telunjuk kesana diikuti oleh Aby. "tuh! Cowok yang jalan sambil nyusu kotak, itu namanya Arion."
"kok susu kotak sih? Kenapa bukan amer?"
"ya lo mikir aja lah. Yakali nenggak amer disekolah." protes Gilang
"dari jam tangannya aja udah kelihatan, sih kalau dia orang kaya."
"2 M lebih itu. Hadiah sakit kepalanya sembuh. Pulang dari Singapur, langsung dikasih itu."
"kok ginjal gue menggigil,ya?"
Gilang melepaskan tawa lalu bangkit setelah mengambil satu bungkus jajanan Aby lagi. "gue mau siap-siap tanding lawan sekolah lo. Lo udah pertimbangin nasihat gue sama Satria waktu itu?"
"nggak tau, males gue pindah ke sini. Ada lo, ntar jajan gue diambil sama lo terus."
"tapi gue ramal lo bakalan pindah sih, sekelas sama gue."
...*****...
"kak Aby!"
Aby menghentikan langkahnya dan memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. "lo ngikutin gue?" tebaknya pada Keyla yang melangkah mendekatinya.
"tadi aku lihat kak Aby, mau manggil tapi banyak orang."
"ada urusan apa?"
Keyla membuka ransel dan mengeluarkan undangan yang dititipkan padanya untuk diserahkan pada Aby. "undangan pernikahan mama sama papa, kak Aby bisa dateng,kan?"
"nggak. Sibuk."
"kak----"
"nggak ada lagi,kan? Sana pergi."
"kenapa kak Aby kayak gini?"
"kenapa? Lo masih nanya kenapa? Gila lo. Lo fikir aja sendiri gimana mereka memperlakukan gue."
"tapi bukan berarti kak Aby nggak bisa nerima aku jadi sodara,juga kan? Aku mau jadi sodara kak Aby. Aku mau punya kakak kayak kak Aby."
"gue yang nggak mau punya adek kayak lo. Gue yang nggak mau jadi bagian dari kalian. Ambil, Key! Ambil aja nyokap gue. Gue nggak keberatan."
Keyla menggelengkan kepala dan meraih tangan Aby namun ditepis kuat oleh cewek itu disusul dorongan. Keyla yang tidak pernah diperlakukan sekasar itu pun terkejut dan kehilangan keseimbangan membuatnya terjatuh tersungkur.
"bisa bangun sendiri,kan? Gue permisi." ucap Aby lalu melanjutkan langkahnya menuju lapangan futsal. Lima belas menit lagi pertandingan dimulai.
Melihat kucing kurus yang melintas dikoridor, Aby pun memanggil sang kucing dan jongkok saat hewan itu mendekat. Merasa senang saat kucing itu mendusel kepalanya pada kakinya, Aby pun membagikan jajanannya. "doyan kripik singkong nggak cing? Rasa whiskas nih." ucap Aby lalu meletakkan dua kripik singkong dihadapan kucing itu. Aby takjub saat pemberiannya dimakan. Karna itulah ia memberi lagi.
"nama lo siapa,cing? Kenal Anjing, nggak? Itu loh primadona RT 05, yang paling montok. Itu anak gue, gue pungut sih tepatnya."
Ajaibnya kucing itu mengeong seolah menjawab pertanyaan Aby.
Emang agak kayak ***** sih. Binal banget, lo kalau mau whiskas, main aja kerumah Anjing. Jalan Angrek no.4 , kalau bingung tanya aja sama orang, rumahnya pak Ali."
Melihat lahapnga kucing itu, Aby meletakkan sebungkus kripik yang belum dibuka dihadapannya. "buat ngemil dua bulan kedepan,ya." ucapnya mengusap kepala kucing itu. Aby tersenyum miris melihat badan sang kucing kurus tak bertuan. Sangat jauh berbeda dengan anak pungutnya yang montok.
"lo apain Keyla?"
Bentakan itu membuat kegiatan Aby berhenti. Tanpa perlu mendongak, Aby sudah tau siapa orangnya. Suara Bima sudah sangat ia kenali. Acuh tak acuh pada cowok itu, Aby kembali mengusap kepala kucing dan melanjutkan obrolannya."
"jagoan lo? Harus banget gitu main fisik, mentang-menatang lo lebih kuat dari dia? Lo bahkan udah tau sendiri gimana Keyla, kenapa masih kasar?"
"lupa lo, dia bakalan jadi adek lo. Harusnya lo gunain tenaga lo buat lindungin dia bukan malah lo yang nyakitin dia."
"gue tanya sekali lagi, lo apain Keyla sampe luka kayak gitu? Salah apa sih dia sama lo?"
Aby tidak merespon. Ia tetap jongkok dengan kepala menunduk menatap kucing yang masih ia beri makan. Hingga tiba-tiba ia terkejut saat bungkus kripik singkong dihadapannya tertendang kuat oleh Bima hingga isinya berceceran dilantai. Kucing itu bahkan sampai berlari ketakutan.
"minta maaf sama Keyla dan gue bakalan anggap ini selesai."
"males."
"males lo bilang. Giliran bikin ulah aja nggak ada kata males lo."
"suka-suka gue. Itu hidup gue."
"nggak usah dipungutin! Kotor. Nggak bisa dimakan lagi!" larang Bima saat Aby memunguti kripik singkong dan memasukkan kembali kedalam bungkusnya.
"gue yang makan,bukan lo."
"gue bilang nggak usah. Lo tuli?!"
Aby yang keras kepala membuat Bima menyentak kuat tangan Aby hingga berhasil membuat gadis itu berdiri dan mau menatap kearahnya.
"sekarang, ikut gue ke uks. Minta maaf sama Keyla!"
"tuli lo? Gue nggak mau!"
"gue maksa!"
...*****...
...tbc...
...kalau sayang emang harus sejahat itu ya sama pacar sendiri?...
...maaf kalau masih ada typo yang belum diperbaiki...
...semoga suka bacanya...
...ekspresi Anjing pas tau mamanya sayang sama kucing lain.
...
...Bima kalau ganteng ya ganteng aja nggak usah sekalian baik, pinter, sopan juga kesannya gue jadi makin suka sama lo...