Relation(Shit)

Relation(Shit)
TIGAPULUHSEMBILAN



"nggak mau putus." rengek Bima tiba-tiba saat Aby membantingkan tubuhnya disambing Bima.


Kedua remaja itu baru saja menyelesaikan perang bantal dilanjutkan dengan Aby yang meluapkan emosinya atas ulah Bima pada mantan-mantannya.


Ngomong-ngomong setelah ngeteh dengan Laras Aby sudah mengetahui kelakuan si bontot itu. Wajar saja jika Aby langsung mengamuk pada kebucinan Bima yang ternyata sudah memasuki level tertinggi. Selama ini, Aby tidak tahu Bima melakukan banyak hal tidak waras dibelakangnya. Ternyata Bima yang sering berkata kasar, pemarah, gengsian tersimpan kebucinan yang ia tutup-tutupi. Benar-benar dibuat gemas mengingat bagaimana sikap mantannya itu saat bersamanya.


"nggak denger, ketutupan gengsi." ketus Aby. Saat ini Aby sedang menahan diri untuk tidak tersenyum melihat ekspresi wajah yang diperlihatkan Bima, percayalah Bima itu memiliki banyak sekali kepribadian. Bima dihadapannya, Bima disekolah, dan juga Bima didepan keluarganya.


"maaf." Bima mengatakan itu dengan suara lirih. Remaja lelaki itu tak melepaskan tatapannya barang sedikitpun dari Aby yang kini tengkurap membalas tatapan penuh harapnya. Belakangan ini ia sangat frustasi dan menyerah pada Aby yang menjadi sumber mengapa dirinya bisa sekacau sekarang. Jangan pernah bertanya soal perasaanya kepada Aby seperti apa karna yang Bima tahu kini perasaannya pada Aby sudah tidak dapat tertolong lagi, sudah masuk ketahap candu, ingin selalu berdekatan akan merasa hampa jika tak melihat atau mendengar kabar Aby barang sejenak. Lebih singkatnya sih BULOL.


Aby menaikkan sebelah alisnya. "maaf?" beo-nya tak yakin. Satu telapak tanganya sudah bertengger diatas dada Bima, mengusapnya dengan lembut. Hanya sebentar selanjutnya tangan Aby langsung diringkuh Bima yang terlihat gelisah, Aby terkekeh pelan lalu bertanya. "emang lo udah tau kesalahan lo dimana?"


Seperti anak kecil yang begitu lugu, Bima mengangguk. "banyak banget, karna itu gue minta maaf."


"bisa lebih spesifik? Minta maaf buat kesalahan yang mana?"


Terdengar helaan nafas berat Bima, cowok itu pun mengulurkan lengannya, membimbing Aby agar lebih mendekat kepadanya. Namun, gadis itu menolak. "semuanya, kasar sama lo, tapi malah baik sama cewek lain terkhusus Keyla. Egois, dan ...."


"dan apa?"


"gengsian." jawab Bima dengan wajah kini sudah mulai memanas.


Aby tertawa terbahak-bahak lalu mendudukan diri di ranjang. Tawanya kembali pecah saat Bima tiba-tiba saja memindahkan kepalanya kepangkuan Aby. Kembali merengek memohon maaf. "untuk apa? Dimaafin juga percumakan? Lo selalu sama,Ma. Semuanya bakalan keulang lagi, lo bakalan ngelakuin hal yang sama lagi. Kita juga udah putus,kan? Lo minta maaf juga nggak bakalan ngerubah apapun. Percuma."


"nggak mau putus!" tegas Bima.


"bangun, hidung lo rese!" protes Aby seraya menarik telinga Bima. Hidung bangir yang terus mengendus sekitar perut membuat Aby tergelitik.


Bima patuh dan duduk bersila berhadapan Aby. "kali ini gue serius minta maafnya,By."


"minta maaf mah gampang."


"bukan cuma minta maaf gue juga janji nggak akan ngulangin lagi"


"yakin? Lo cuma punya satu kepercayaan dari gue. Sekakinya rusak, maaf lo nggak berlaku."


"kalau gue nggak seyakin itu sama lo, gue nggak bakalan nangisin lo."


"uluuuh bulol." ucap Aby yang kini mengacak rambut Bima dengan gemas lalu kembali berkata. "serius, sikap lo terlalu nyebelin bikin gue tambah emosi tapi kenapa gue nggak bisa buat nggak suka, buat benci sama lo. Kenapa coba,Ma?"


"itu namanya bucin, sayang."


"stop! Kita udah putus nggak usah panggil sayang! Jamet banget, geli gue."


"gue nggak mau putus Aby sayang."


"gue tiban mati lo, jamet!"


Bima tersenyum tipis. "oke-oke, jadi?"


"apa?" tanya Aby yang memang memiliki kapasitas otak sangat lambat dalam berfikir, tapi tidak apa-apa Bima maklumi walau agak kesal tapi serius tidak apa-apa.


Baru baikan nggak boleh ngata-ngatain.


Tahan.


"jadi?" ulang Bima.


"apaan sih lo? Jadi apa? Jadi gila? Jadi soang?"


"kita masih pacaran,kan?"


Aby menyentil hidung Bima yang mirip prosotan anak TK. "nggak pacaranpun lo tetap menang,Ma. Nyokap lo udah curi star duluan ke bokap gue."


Mengingat fakta itu Bima tersenyum puas lalu membantingkan tubuhnya diranjang. Anjing yang berada diatas bantal diangkatnya lalu dipandahkan keatas dadanya sendiri. Dielusnya anak pungut beban keluarga itu lalu Bima bertanya pada anaknya sendiri. "Anak papa mau adek berapa hm?"


Membaca dengan baik pergerakan Aby yang ingin menyerangnya dengan sigap Bima menangkap kedua pergelangan tangan Aby dengan satu kali tarikan ia berhasil membuat Aby berada diposisi sebelah kirinya. Cepat-cepat ia mengunci tubuh Aby dengan kaki panjangnya. "berhenti kayak gini bisa,kan? Gue juga pengen kayak manusia pada umumnya."


"Heh! Mulutnya kalo ngomong! Lo kira kita dari bangsa binatang?"


"tiap hari ribut mulu, suka KDRT, suka gigit, banting sana sini... Aneh nggak sih?"


"nggak ada yang aneh kalau lo nggak sangean, Bima Antanandra! Dari pada modus mending kita belajar lagi! Lo udah terkontaminasi gejal Goblok jadi harus dibasmi sesegera mungkin sama belajar. Dimasa depan kecerdasan lo penentu kehidupan gue ya."


"goblok yang kemaren cuma pura-pura doang."


"hilih bacotnya, buktiin. Besok ada ulangan fisika kan? Dapet 100 bisa?"


"100 ya? Susah sih, tapi kalau lo yang minta nilai segitu gue usahain. Tapi, Nggak gratis."


"gue cium lo kalau dapet 100. Gimana?."


Sangat tertarik dengan tawaran Aby, Bima mengangguk menyetujui tanpa ragu. Bibirnya ia dekatkan ketelinga Aby. "tapi ciumnya sambil duduk dipangkuan gue." bisiknya meresahkan.


...*****...


"gila! Gue nggak nyangka lo sekeren itu kalau bawa motor. Seru abis njir, berasa ngeprank ajal!"


Tawa Aby mengudara tangannya yang tidak bisa diam, menepuk-nepuk punggung Bintang saat mengingat kejadian tadi. Mendapat sumpah serapah dari pengendara lain, nyaris menabrak truk, dan beberapa kali kepalanya membentur keras helm Bintang saat cowok itu rem mendadak. Ini adalah pengalaman menantang maut yang paling menakjubkan menurut Aby walaupun kepalanya berdenyut nyeri.


Aby akui nyali Bintang boleh juga. Skill berkendaranya juga sudah another level. Ia tidak menyesal berangkat sekolah bersala lelaki itu walaupun ada rasa sedikit takut yang menyapa.


"bukannya takut malah kesenengan. Gemesin banget sih lo." komentar Bintang disusul tawa renyah sebelum akhirnya membantu merapikan rambut Aby yang ia buat berantakan


Tawanya palsu, sejatinya Bintang tengah menelan rasa kesal pada kegagalan kali ini. Niat hati ingin membuat Aby cemas beserta trauma dengan berkendara ugal-ugalan hasilnya sangat jauh dari yang diinginkan. Alih-alih takut, gadis itu malah kegirangan. Bintang bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana gelak tawa dan hebohnya Aby saat motor yang ia bawa nyaris menabrak truk. Jika saja tadi ia salah perhitungan bisa diprediksikan ia dan Aby akan tidak selamat.


Aby mendongak dan menunjukkan senyum tulus pada lelaki dihadapannya ini. "keren banget sumpah, lo nggak ada lawan!."


Sorot mata serta senyuman Aby yang begitu tulus padanya mampu menciptakan getaran aneh dalam hati. Bintang tak sepenuhnya mengerti soal dirinya yang terkadang ingin menyakiti Aby juga melindungi Aby diwaktu yang sama.


"bisa aja lo. Mau nyari sarapan atau langsung kekelas?"


"sarapan dulu deh, tadi makan dikit doang. Dibayarin tapi kan?"


"gas!" Aby menarik pergelangan tangan Bintang mengajak cowok itu berlari bersama menuju kantin. Memang hanya Bintang yang paham soal kesenangannya yang satu itu.


Bintang mulai kehilangan fokus, tawa riang Aby untuk alasan yang sangat sederhana membuatnya teralihkan.


Satu kesimpulan yang Bintang tahu.


Aby berbahaya.


Sesampainya dikantin Aby begitu patuh saat remaja lelaki itu memintanya untuk duduk menunggu. Bintanglah yang akan memesan menu sarapan. Sembari menunggu, Aby bersenandung kecil saat ibu jarinnya menggulir layar ponsel dan berbalas pesan dengan Bima yang terus saja mengirim pesan menanyakan keadaannya. Aneh. Bima terus saja menasehatinya untuk berhati-hati pada Bintang. Memangnya Bintang kenapa? Si anak bar-bar namun baik itu mana ada bahaya?


Ah palingan ini soang cemburu karna ia masih dekat dengan Bintang.


Bukankah itu sangat berlebihan?


Bola matanya berbinar kala Bintang datang membawa napan berisi dua mangkuk mie rebus yang masih mengempulkan asap.


"makasih Binbin." ucap Aby begitu Bintang menaruh piring mie lengkap dengan telur dan sosis dihadapannya. Cepat-cepat Aby meraih mangkok sambal, dituangkannya 5 sendok kemangkoknya sebelum gadis itu mengambil sumpit.


Saat hendal memulai suapan pertama, apa yang Bintang lakukan membuat niat Aby urung. Ia menatap Bintang yang direspon dengan senyum hangat temannya itu.


"gue tau lo suka banget makan pedes dan itu bisa jadi moodboster lo." terang Bintang seraya menuang sambal keatas piring Aby.


Aby tidak bisa menghitung berapa sendok sambal yang Bintang tuangkan, karna itu sangat banyak. Bahkan kini permukaan mienya sudah tertutup sempurna oleh sambal.


Walaupun sempat ragu karna ini masih pagi dan juga khawatir akan perutnya, tapi sebagai orang yang mengaku pecinta pedas Aby memakannya. Ia juga tak melupakan kata terimakasih pada Bintang.


"lo nggak pake sambel Ntang?" tanya Aby.


"perut gue nggak kuat pedes."


Suapan pertama dan kedua Aby merasa masih aman-aman saja, pedasnya pun belum terasa. Hingga disuapan ke lima, lidahnya sudah seperti terbakar. Kedua bola matanya saja sampai berair karna sensasi hebat yang ia rasakan.


Bintang yang melihat ekspresi kepedasan Aby tertawa renyah.


"nggak usah dihabisin kalo nggak kuat." ucapnya saat Aby kembali menyuapi kuah beserta mie kedalam mulutnya setelah meneguk setengah isi gelas.


"ginian doang kuat lah." balas Aby menyepelekan siksaan pedas didalam mulutnya. Ia memaksa tertawa pelan saat Bintang menertawakannya.


"Keren!" puji Bintang lalu kembali meraih mangkuk sambal. "gimana tambah lagi kayaknya seru." tanpa menunggu respon dari Aby, Bintang menambahkan beberapa sendok sambal ke piring Aby. Aby dengan wajah memerah sangat terlihat sekali bahwa ia tersiksa akan pedasnya sambal, mencoba tertawa.


Sebenarnya Aby sudah merasakan perutnya tidak nyaman, namun ia tetap melahap mienya itu. "pedes banget gila. Nggak yakin kuat habisin."


"gue sih yakin lo kuat habisin itu."


"traktir gue makan siang kalau ini habis." pinta Aby lalu kembali menyuap mie yang sangat menyiksa ini.


"okey."


Bintang berhenti mengunyah saat melihat bagaimana tersiksanya Aby. Tidak ada kepuasan seperti yang diharapkan. Aby yang terus saja terbatuk pelan, mengusap air mata, dan tertawa menutupi rasa yang menyiksanya mengundang perasaan aneh.


"lo nggak mau nyobain ini, Ntang?" tanya Aby lalu megap-megap. Ia kembali meraih tisu untuk menyapu wajahnya yang banjir keringat.


"buat lo aja."


"hehehe terimakasih,ya. Kapan lagi bisa puas makan pedes kayak gini."


Terimakasih?


Tidakah Aby menyadari tujuannya?


...*****...


"tumben kalem, nahan berak lo?" tanya Bila pada teman sebangkunya yang biasanya paling berisik. Usai mengambilan nilai, Aby memang langsung menepi. Padahal biasanya aktif bergerak untuk merecoki yang lain. Sedari tadi Aby juga hanya diam, diajak ngobrolpun jawabannya juga singkat.


"mager." balasnya lirih lalu mengernyit saat perutnya terasa sakit. Sejak pemanasan sebelum olahraga, perut Aby sudah terasa nyeri. Aby kira itu hanyalah nyeri biasa yang akan hilang dengan cepat. Namun sampai saat ini rasa itu juga belum hilang, malah semakin menjadi. Aby yang menyukai segala rasa sakit, tentu saja membiarkannya dan tak memberitahu siapapun akan perihal ini. Sebisa mungkin ia akan bersikap biasa tanpa menunjukkan rasa sakit yang dirasa.


"By, Nggak ikut? Kurang satu nih." seru Bintang tengah mendrible bola.


"nggak usah banyak hah hoh hah hoh, sini bantai Bintang!"


Tak enak menolak teman-temannya, Aby pun mengangguk.


"mau!" balasnya begitu antusias lalu bangkit.


Sebelum bergabung ketengah lapangan, Aby membenarkan ikat rambutnya terlebih dahulu. Lengan kaos olahraganya digulung sebelum akhirnya ia berlari dan merebut bola basket ditangan Bintang.


"seru nih kalau ada Aby!"


Saat akan mulai mendrible bola, Aby tersenyum. Sakit diperutnya sudah tidak dirasakannya lagi. Ia pun bebas bergerak dan berteriak sesuka hati bersama yang lain. Hingga saat ia hendak menepi untuk mengambil minuman, bola basket menubruk punggungnya dari belakang. Aby yang tidak bisa menyeimbangkan diri pun jatuh tersungkur. Gadis itu langsung dikerumuni teman-teman yang mengulurkan tangan. Uluran tangan Bintang lah yang ia raih.


"ke uks,ya biar gue obatin luka lo." tawar Bintang.


"nggak perlu, alay banget ginian doang ke uks. langsung kekelas aja kali,ya? Ini udah boleh istirahat,kan?"


Saat merasakan genggaman tangan Aby semakin erat disusul rintihan kesakitan, ada sesuatu yang tidak biasa dihati Bintang. Ia pun mempertanyakannya lagi tujuan dirinya membuat Aby kesakitan.


Saharusnya ia puas akan perihal itu, Tapi kenapa malah jadi begini?


...*****...


...tbc...


...akhirnya update...


...maaf ya agak lama...


...semoga suka...


...bye bye sampe ketemu di next episode ...