
Sesampainya dirumah Bima, luka cakaran pada lengannya sudah diketahui oleh cowok itu. Seketika kembali menjadi Bima yang bar-bar, lelaki itu marah padanya. Mengatainya karena tidak bisa menjaga diri hingga terlalu mudah untuk terluka. Bima juga memarahinya yang selalu betah menyimpan rasa sakit sendirian. Aby yang sudah terbiasa dengan kemarahan Bima, menggerakkan bibirnya meledek mantan tetangganya itu.
Seperti biasanya, Bima tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya serta peduliannya pada Aby. Setelah marah-marah, cowok itu mendadak melunak. Dengan telaten bima mengobati luka yang bahkan Aby tidak merasa sakit sedikitpun, kekasihnya saja yang terlalu berlebihan. Saking berlebihannya, untuk sementara waktu ia dilarang dekat-dekat dengan Anjing yang dinilai terlalu berbahaya. Minimal sampai lukanya sembuh.
Sepertinya Bima butuh cermin. Justru cowok itulah yang paling berbahaya untuknya. Adegan dimobil Arion cukup menjadi bukti kuat betapa berbahayanya seorang Bima pengidap sindrom soang. Mungkin jika ia tidak mencakar leher cowok itu dengan kuku panjangnya, Bima pasti sudah kehilangan kendali dan kewarasannya.
"kalau gue tidur disini, lo tidur dimana,Ma?" tanya Aby tengah yang duduk seperti nyonya besar menatap Bima yang sibuk memindahkan isi kopernya kedalam lemari.
Jangan sebut Aby tidak tahu diri. Karena Bima lah cowok sinting yang suka mempersulit diri sendiri. Aby sudah mengatakan akan beres-beres sendiri, tapi Bima memarahinya tidak jelas.
Katanya ia tidak pernah becus melakukan pekerjaan apapun. Jadi, Bima mengorbankan dirinya sendiri. Tipe-tipe cowok peduli tapi kemakan gengsi mengakui kepeduliannya.
Alih-alih menjawab, Bima justru balik bertanya. "menurut lo kasur gue kurang gede gitu buat tidur kita berdua?"
"jangan macem-macem lo,Ma!"
"macem-macem gimana? Orang cuma tidur bareng doang. Beda cerita kalau bukan tidur, tapi...itu baru namanya macem-macem."
"gue nggak mau tidur bareng lo! Gila lo?!"
"iya udah sana ke kolong jembatan kalau nggak mau tidur bareng gue." bales Bima santai lalu menutup pintu lemari begitu pekerjaannya sudah selesai.
Cowok itu menggantung jaket yang baru saja ia lepas lalu melanjutkan melepas jeans panjangnya. Aby nyaris memekik saat melihat kegilaan Bima. Ia fikir setelah celana panjang itu lolos...ternyata ada celana pendek.
"tega banget lo sama pacar sendiri. Oke gue ngalah, gue tidur dikamar tamu."
"silahkan. Moga aja lo nggak di gangguin sesuatu. Bi Inah bilang, banyak kejadian mistis dikamar tamu. Tapi, gue yakin lo cewek pemberani nggak takut soal begituan. Setan aja lewat sama lo,iya kan? Oh iya jangan lupa bawa senter, lampunya mati."
Aby mengusap kulit lengannya. Bohong jika ia tidak merasa takut, terlebih saat tahu kamar dibawah itu gelap. Tapi, tidur satu ranjang dengan cowok mesum bernafsu tinggi seperti Bima juga bukan pilihan yang tepat. Bagaimana jika sepanjang malam sindrom soang Bima kambuh? Belum lagi, baru-baru ini Bima terdeteksi menderita sindrom vampire. Mau jadi apa ia jika bersama cowok itu semalaman? Bisa-bisa paginya ia kehilangan kewarasan, trauma hebat, depresi berat, bahkan mungkin bunuh diri.
"Ma..gue nangis loh kalau lo kayak gini."
"nangis aja, udah lama gue nggak denger suara tanggisan lo yang kayak dulu."
"katanya sih rumah Bintang gede, gue nginap di---"
"sialan lo,By!" bentak Bima lalu melangkah cepat mendekati Aby.
Melihat perubahan ekspresi kekasihnya, Aby tersenyum mengejek. Baru di gertak sedikit saja, cowok itu sudah panas dispenser saja.
"jadi?" tanyanya.
"lo tidur disini!"
"Gue nggak mau tidur sama lo. Di rumah Bintang aja lah. Bentar, gue telfon Bintang dulu suruh----" Aby kalah cepat. Sebelum ia berhasil meraih ponselnya, Bima sudah mendahuluinya. Ponsel milik Aby sudah berada dalam kuasa Bima.
"lo jangan tolol! diem disini, jangan kegatelan sama cowok lain!"
"apa,sih? Ngamuk-ngamuk terus.males banget sama cowok kasar. Jangan sampe gue nggak betah sama kelakuan lo ya, Ma. Nggak usah sok keras lo disini, cowok yang memperlakukan gue dengan baik itu banyak. Tinggal waktunya aja gue baper sama mereka dan ninggalin lo yang kasar ini."
"Abyyyyy!"
"Bima?"
Tidak hanya Bima, Aby juga menoleh ke arah Pintu kamar. Dua kakak perempuan Bima berdiri diambang pintu. Jangankan Aby, Bima saja tidak tahu jika kedua kakaknya ada dirumah. Ia dan Aby masuk kamar jalur panjat balkon lalu trobos jendela. Koper Aby sendiri diserahkan pada Bi Inah yang membukakan pintu.
"kak megan sama kak laras kok di sini?"
"kalian ngapain berduaan di kamar? Mana ributnya kenceng banget lagi suaranya." heran Megan menatap adik bungsunya.
"kalian nggak macem-macem,kan?" kini giliran Laras yang bertanya.
"belum sampe macem-macem kak. Tapi, Bima pasti udah berencana gitu. Masa gue dipaksa-paksa biar tidur bareng dia."
Bima mengupat dalam hati atas kejujuran Aby di depan kedua kakaknya. Mau ditaruh dimana muka Bima sekarang? Yang kakak perempuannya tahu, ia tidak pernah macam-macam dan sangat menghormati perempuan.
Tapi, jawaban Aby sudah pasti mampu merusak citra baiknya.
"Bima...bener yang dibilang Aby?" selidik Megan.
"kak Megan percaya sama ucapan aby? Yang bener aja."
Aby menyibakkan rambutnya lalu menunjukkan jejak keganasan Bima di lehernya. "****** peliharaan Bima,kak. Seneng banget ternak ****** tuh si Bima."
Megan dan Laras menggeleng tidak percaya pada adik mereka yang ternyata sudah besar. Sementara Bima sendiri sudah kalang kabut memikirkan alasan apa yang tepat untuk mengelaknya. Jiwa Pemuda itu terguncang hebat atas kesintingan Aby yang dengan mudahnya membocorkan sisi liarnya."
"kalian pacaran?atau--"
"pacaran? Yang bener aja gue pacaran sama tuh cewek,gila kali. Aby bukan selera gue,kak." ketus Bima lalu meraih Anjing ke dalam gendongannya dan meninggalkan kamar sebelum kedua kakaknya mengorek semakin jauh.
Megan dan Laras mendekati Aby. Mereka tentu saja tahu soal adik bungsu mereka itu. Selain manja, Bima yang mereka kenal juga sangat gengsian jika menyangkut soal hubungan percintaan.
"udah berapa lama sama Bima,By?"
"belom lama sih kak."
"betah kan,ya? Luarnya emang mulus, dalemnya banyak minus. Apalagi kalau gengsi sama manjanya udah keluar."
"biasalah. Tapi paling nyeremin sindrom soangnya."
Megan dan Laras terbahak. Ngomong-ngomong mereka tidak terkejut jika Aby berpacaran dengan adik bungsunya. Sinyal-sinyal ketertarikan Bima pada Aby sudah muncul sejak dulu. Bagaimana Bima peduli dan memperlakukan Aby dengan cara yang berbeda, cukup kentara untuk membuktikan perasaan seperti apa yang Bima pendam sejak dulu.
"oh iya, lo nggak tinggal rumah itu lagi?" tanya Laras.
Aby menggeleng. "udah pindah kerumah yang lebih gede. Alhamdulillah mama dikasih rezeki lebih."
"trus ngapain lo disini? Sorry, gue tanya bukan berarti nggak suka lo disini. Cuma nanya aja."
"rumah baru mama emang gede, lebih mewah dari rumah dulu. Tapi, nggak mampu bikin gue nyaman."
Baik Megan maupun Laras tidak banyak bertanya lagi. Mereka cukup tahu dengan apa yang terjadi pada aby. Ke duanya tidak ingin membebani aby untuk menceritakan banyak hal.
"kak Laras sama kak Megan nggak masalah, kan kalau gue disini?"
"justru kita seneng. Se enggaknya lo disini bisa nemenin Bima. Yang penting jaga diri baik-baik, kita nggak bisa percaya Bima gitu aja." jawab Megan.
"tenang,kak. Gue ini tukang gebuk. Waktu itu aja Bima babak belur gue gebukin."
"lo gebukin Bima?" Laras dan Megan menatap miris je arah Aby. Bisa-bisanya Aby melakukan itu pada anak bungsu kesayangan yang diperlakukan paling istimewa di keluarganya.
"tadi nggak liat bekas luka diwajah Bima? Itu gue yang bikin,kak."
"gue nggak terlalu merhatiin."
"nyeremin juga lo,By." celetuk Laras.
"Bima yang lengannya gede, aja lewat sama gue. Disuruh ini itu pasti nurut, diporotin duitnya pasti ngasih."
"pantes. Bentar-bentar tuh anak minta duit. Biasanya irit banget."
"udah bucin banget tuh anak. Kalau sama kita aja, disuruh-suruh mana mau. Yang ada malah kita yang disuruh-suruh sama dia."
Aby mengangguk mantap. "betul. Bima udah bucin banget sama gue."
...*****...
"gue perhatiin, tiap hari ada aja luka di tubuh lo," komentar Bintang melihat cakaran dipergelangan tangan kirinya yang memanjang.
"cuma cakaran kucing, wajar dong. Gue kan, melihara kucing." sahut Aby enteng.
"nggak wajar sih,By. Tiap hari ada aja yang luka. Lo masih belom sayang sama diri lo sendiri? berapa kali gue harus bilang sama lo? kalau bukan lo...siapa lagi?" tanya Bintang begitu lembut pada Aby yang tengah menjalani peran agar terlihat baik-baik saja. sedari tadi Bintang memang memperhatikan gerak geriknya. Aby yang tiba-tiba tertawa lepas, lalu sedetik kemudian diam, terlalu mencurigakan.
Dan kini Aby diam dengan sorot mata sedih bercampur terluka.
"gue nggak bakal maksa lo untuk cerita, tapi gue punya banyak waktu buat dengerin lo. Gue juga bukan mau ikut campur atau cuma penasaran sama apa yang lo alamin. Gue bener-bener peduli dan nyediain tempat, barangkali lo butuh itu. Itu aja, nggak lebih, dan nggak berharap apapun."
"masalahnya masih sama, nggak jauh-jauh soal orangtua gue. Gue masih heran sama mereka yang seenaknya sama gue, terlalu kejam bagi gue. Bahkan sekarang mereka punya keluarga baru dan lepasin gue gitu aja. Nggak ada yang mau bawa gue ikut ngerasain kebahagiaan mereka."
"selama pusat hidup lo mereka, selama itu juga lo bakal kayak gini. Satu hal yang harus lo sadari, mereka bukan kebahagiaan yang lo cari. Mereka juga nggak bisa ngasih kebahagiaan seperti yang lo mau. Gue tau ini bagian paling berat buat lo. Tapi, nggak ada salahnya coba. Lepasin mereka."
"lepasin?"
"iya. Lo harus fokus kediri lo sendiri. Lo juga pasti pernah dengerkan kalau balas dendam terbaik itu dengan menjadikan diri sendiri lebih baik? Lo bisa buktiin itu! Ketika nanti lo bisa ngelakuin apapun yang terbaik untuk diri lo tanpa mereka, mungkin mereka bisa sadar sama apa yang mereka lakuin ke lo selama ini."
"tapi gue goblok,Tang. Mau apa?"
"goblok itu pilihan. Kalau lo masih males-malesan belajar, ya lo harus terima kegoblokan lo itu."
Aby tersenyum lebar saat menopang dagu dengan satu tangannya. Tatapan gadis itu terus saja tertuju pada Bintang yang selalu memberi pandangan yang mudah sekali dicerna oleh otaknya. Jauh berbeda dengan Bima yang didominasi kata kasar serta makian kepadanya.
"selingkuh,yuk Ntang!"
Bintang terbahak. "kayaknya udah nggak sedih lagi nih, sintingnya lo udah balik."
...*****...
"kunci mobil lo, makasih. Gue udah ada uang, mau gue transfer kerekening mana?"
Arion menatap kearah kunci mobil yang Bima letakkan Dimeja kantin. Didorongnya kunci itu ke hadapan Bima. "buat lo aja. Bokap gue nggak bakalan sadar kalau mobilnya ilang satu. Lagian itu udah butut banget, ganggu pemandangan, paling juga bentar lagi mau dirongsokin."
"ntar pulang sekolah gue anter kerumah lo."
"buang aja lah, nggak kepake juga dirumah. Atau lo kasih aja ke orang lewat." Arion mengatakan itu dengan tenang lalu kembali menyedot susu kotaknya.
"Please,Ma...bantuin gue habisin jatah bulanan. Nggak kasihan lo sama gue dimarahin bokap gara-gara terlalu irit. Belakangan ini keluarga gue stres banget karna makin kaya, bingung ngabisin duitnya kayak gimana lagi."
"Ar---"
"hutang negara kita berapa sih? Gatel banget, pengen ngelunasin."
"segitu stresnya lo ngabisin duitnya?"
"kalau ada sodara atau siapapun kenalan lo butuh duit, kasih tau gue aja. Biar gue transfer satu-satu." sela Arion lalu meninggalkan bangku setelah susu kotaknya habis.
Ia melangkah menuju lemari pendingin. Belasan susu kotak yang ada disana langsung dimasukkan kedalam kantong plastik yang sudah ia persiapkan. Dua lembar uang seratus ribu ia serahkan pada ibu kantin. Tanpa meminta kembalian Arion kembali kebangkunya.
"kita nggak ketinggalan acara traktiran,kan? " ujar Gilang yang baru saja datang dan duduk disebelah Bima.
"langsung pesen kan,Ar? Nggak pake malu-malu?" setelah mengatakan itu, Satria langsung melangkah cepat untuk memesan makanan agar perutnya nggak kempes lagi.
"Bang Sat, tungguin!"
"lihat lah manusia nggak tau diri itu, bener-bener memalukan." komentar Bayu yang duduk di sebelah Arion.
"ada yang pingsan!" teriakan itu terdengar dari sudut kantin.
Bimalah yang bergerak paling cepat. Cowok itu berlari dan menerobos kerumunan yang tidak melakukan apapun selain menonton orang yang pingsan.
Bima mendorong salah satu cowok yang hendak membopong siswi yang pingsan. Saat itulah Bima tahu siapa orang yang tengah terkapar dilantai kantin itu.
"Keyla?" sedetik kemudian Bima membopong Keyla dan melangkah secepat yang ia bisa menuju UKS agar cewek itu segera mendapat penanganan.
"kumat capernya." cibir Arion.
"Bima cuma mau nolongin tuh cewek kali, bukan caper." bela Bayu.
"Lo nggak liat tadi ada yang mau bopong tuh cewek, tapi didorong sama temen lo. Apa lagi kalau bukan mau caper biar makin dipuji? Herannya lagi kenapa Bima yang selalu berhubungan sama tuh cewek."
"Keyla waktu itu kan pernah dibully. Sejak itu Bima emang lumayan deket sama tuh cewek. Orangtuanya langsung yang titip Keyla ke Bima."
"tetep aja,nggak masuk akal. Emang dasarnya aja Bima ada bibit brengsek." tegas Arion lalu bangkit membawa kantong plastik berisi susu kotaknya. Tidak lupa dengan teman-temannya, Arion menitipkan dua lembar uang seratus ribu pada Bayu.
...*****...
"lo kenapa,sih berangkat sekolah? Demam lo masih tinggi. Nggak lihat muka lo pucet gitu. Mending istirahat aja dirumah."
Keyla tersenyum tipis lalu menerima secangkir teh hangat yang Bima angsurkan padanya. "aku maksain berangkat karna pengen ketemu sama kakak."
"gue?"
"kak Aby nggak ada dirumah. Kak Bima tau dimana kak Aby sekarang? Aku bener-bener khawatir sekarang sama kak Aby."
"soal aby, nggak perlu khawatir. Aby aman sekarang. Buat sementara waktu Aby bakalan tinggal sama gue."
"kak Bima mau bantu aku buat ketemu kak Aby?"
"pulang sekolah bareng gue, biar sekalian."
...*****...
Bima tentu saja tidak mengingkari janjinya pada Keyla. Kebetulan sekali kelas Bima bubar sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Cowok itu langsung melangkah menuju kelas Keyla untuk menunggunya. Tidak sampai lima menit, murid-murid yang ada di dalam kelas Keyla berhamburan keluar. Banyak murid yang terkejut dengan keberadaan Bima di sana namun tidak ada yang bertanya. Mereka hanya menyapa dan dibalas sangat ramah oleh Bima. Keyla lah orang paling terakhir keluar dan Bima menyambut kemunculan gadis itu dengan meraih pundaknya. Kondisi lemah Keyla membuat Bima khawatir.
"lo nggak papa,Key?"
"nggak papa,kak. Tadi aku udah telfon papa buat jemput. Kayaknya lain kali aja aku ketemu kak Aby-nya."
"oke, gue anterin lo sampe ke bokap."
"makasih,kak. Aku boleh nitip sesuatu nggak kak untuk kak Aby."
"boleh. Mau nitip apa?"
"aku fikir ukuran badan ku sama kak Aby sama. Aku sengaja minta dibuatin dua kebaya. Aku pengen kak Aby pake ini pas hari pernikahan mama papa biar seragam sama keluarga besar yang lain." Kelya mengangsurkan paperbag ditangannya pada Bima.
"jadi kalau bukan karna kebaikan lo, Aby nggak dapet kebaya gitu? Berarti secara nggak langsung, Aby nggak dianggap bagian dari kalian?"
"nggak gitu,kak."
"terus?"
"aku anak kandung mama sama papa."
Bima merasakan kakinya lemas bukan main saat mendengar fakta besar yang di akui Keyla.
"sebenernya mama larang aku buat ngasih tau ini pada siapapun. Tapi, kak Bima perlu tau biar nggak salah faham terus sama mama."
"dimana orangtua Aby."
"orangtua kak Aby meninggal karna kecelakaan yang ngelibatin Mama kak. Sebagai wujud tanggung jawab mama, Kak Aby mama yang urus dan nikah sama om Ali karna waktu itu papa belum siap secara finansial. Setelah tau ini, aku harap kak Bima nggak ngasih tau kak Aby. Jadi, kak Bima bisa ambil kesimpulan kenapa selama ini mama kayak gitu."
...*****...
Aby terus tersenyum dan tetap aktif bergerak meskipun perutnya sudah dipenuhi dengan makanan. Kedua tangannya sudah penuh menenteng kantong plastik berisi keanekaragaman makanan, tapi Aby tetap berjalan serta optimis kalau tangannya masih mampu menenteng satu atau dua plastik makanan lagi. Aby tidak mungkin melewatkan momen ini begitu saja. Jarang-jarang Bima mau mengajaknya berkuliner malam-malam dan membebaskannya membeli apapun.
Momen yang sangat langka,kan? Karena Bima yang kere ini tiba-tiba banyak duit. Aby sempat curiga kalau ginjal Bima hilang satu, tapi saat ditanya Bima bilang ginjalnya masih utuh. Aby tetap berfikir positif. Mungkin Bima baru saja mendapat order dari Open BOnya yang laris manis. Alhamdulillah.
"nasi goreng? Emang perut lo masih muat?"
"lo kalau gue telen juga masih muat,Ma."
"makan dirumah aja,ya? Mendung. Takutnya bentar lagi hujan."
"mermaid lo, pake takut air segala."
"susah ngomong sama orang bego!"
"eeeiitss! Nilai gue tadi delapan puluh dua, jadi nggak usah semena-mena tuh mulut kalau ngomong. Tunggu aja, sebentar lagi. Kasta kita sama."
"kalau bukan karna gue juga kegoblokan lo nggak bisa tertolong. Banyak-banyakin makasih ke gue."
"iya,daddy. Emang paling bener gue jadi sugar baby lo. Udah nggak pernah di unboxing, jajanin gue terus, yang paling penting bikin gue pinter lagi. Makasih banyak,daddy!"
"diem,bego! Malu diliatin orang-orang." Bima berjalan meninggalkan Aby dan memesan empat bungkus nasi goreng, sekalian untuk kak Megan dan Laras yang masih menginap dirumahnya.
Nasi goreng kebuli adalah kuliner terakhir yang Bima beli. Setelah itu, ia mengajak Aby pulang. Awalnya Aby menolak pulang karena masih ingin jajan yang lain, tapi bukan Bima namanya jika tidak bisa menjinakan Aby. Tepat seperti prediksinya, begitu sampai diteras rumah hujan turun dengan lebat.
Bima langsung mencekal kuat pergelangan tangan Aby saat cewek sinting itu hendak kabur agar bisa bermain hujan. "masuk!" titahnya.
"pengen hujan-hujanan,Ma." rengek Aby.
"gue bilang masuk, ya masuk!"
"tapi---"
"sialan. Sana pergi mandi hujan, jajanan lo gue habisin." Bima berlalu masuk dengan membawa jajanan Aby pada tangannya. Aby yang sangat menyayangi jajanannya pun berlari mengejar Bima.
"Bimaaaaa, jangan dihabisin. Ntar gue kelaperan!"
"dari mana?" tanya Laras yang tengah menonton TV.
"jajanin tuh bocah." sahut Bima lalu membanting tubuhnya di sofa.
Melihat Aby membuka plastik-plastik jajananya. Laras dan Megan langsung mendekat.
"mau dong yang itu."
"itu punya Aby,kak." protes Bima sebelum Aby memberikan izin.
"yaudah yang ini aja deh."
"balikin! Itu punya Aby."
"yang ini dibolehin,ya?"
"itu kesukaan aby. Jangan coba-coba minta. Nanti kalau Aby nggak kenyang gimana? Kak Megan mau tanggung jawab? Mau beliin lagi?"
"serius ini mah namanya punya Aby semua." gerutu Laras yang disetujui oleh Megan.
"untuk kalian ber dua udah aku beliin nasi goreng. Jangan minta punya Aby."
"Ma---"
"lo makan aja semuanya. Gue beliin itu buat lo " Bima memotong ucapan Aby.
...*****...
...tbc...
...ada pap nih dari anak tunggal tidak kaya raya ...
...
...