
Tari tersenyum lalu balik bertanya. "inget nggak waktu Aby bilang pengen punya mama kayak tante?"
Usai menanyakan perihal tersebut Tari memegang bahu Aby. Mengelus pelan, lalu menyelipkan sejumput rambut kebelakang telinga gadis yang kini berdiri kaku di sisi kirinya.
Aby berusaha berfikir positif, tapi ia tidak bisa. Serangkaian peristiwa yang sudah terjadi mengarah ke satu kesimpulan yang nyatanya belum siap ia terima. Aby juga menduga jika ini ada kaitannya dengan Bima dengan mudahnya mengiyakan permintaannya agar lelaki itu pergi dari kehidupannya. Jika mengingat kembali pada usaha dan seberapa keras cowok itu mempertahankannya, kesediaan Bima untuk pergi terlalu mustahil.
Semudah itu? Konyol. Aby mengenal baik bagaimana watak seorang Bima dan kemana Bima yang biasanya keras padanya?
Seharusnya ia curiga sejak awal.
Kalau Bima memang ada niatan untuk meninggalkannya. Kenapa tidak dari dulu? Segala tingkah dan perlakuan buruknya sudah cukup menjadikan alasan untuk pergi. Tapi Bima memilih untuk bertahan dengan segala hal yang menyulitkan cowok itu.
Lalu kenapa harus sekarang? Apa karna lelaki itu tahu lebih dulu perihal ini? Aby mencibir dalam hati. Sepertinya memang ia.
Melihat sang ayah dan juga tante Tari yang saling memandang dan melempar senyum membuat Aby lagi-lagi harus menelan kenyataan pahit.
Bahkan ini rasanya lebih menyakitkan, sekalipun Bima hanya sebatas mantan pacarnya. Jika tuhan memang tidak mengizinkannya untuk bersatu dengan Bima, masih ada banyak cara. Tapi juga tidak perlu menjadikan Bima sebagai saudaranya,kan? Terlalu banyak kekecewaan yang harus ia telan jika itu benar-benar terjadi.
"mas jadi pergi sekarang?" tanya Tari. Wanita itu masih mengusap punggung Aby yang tak merespon pertanyaan tadi.
"jadi. Ini Aby pake piyama nggak papa,kan? Nggak mau ganti baju soalnya, kamu tau sendiri Aby gimana. Mau dipaksa, kalau dianya nggak mau ya susah."
"nggak papa,mas. Nggak masalah yang penting Aby nyaman. Lagian ini cuma makan malam biasa mau ngobrol santai aja jadi senyamannya Aby." balas Tari.
Menyadari sikap yang tidak biasa, Tari mengelus kepala Aby dengan sayang. "Aby kok diam aja? Biasanya juga brisik. Aby lagi ada masalah? Sini cerita sama tante, kan Aby mau jadi anak tante juga. Aby boleh cerita apapun, pasti tante dengerin."
Aby menggeleng. "Kenapa harus tante? Kenapa harus tante yang jadi mamanya Aby?"
Perihal ia yang menginginkan sosok ibu seperti tari memanglah benar, tetapi bukan dengan cara seperti ini. Terlalu menyakitkan rasanya.
Tari melihat kearah Ali, wanita itu bingung dengan cara respon Aby tidak seperti dugaannya.
"tante pikir hubungan kita cukup baik,By. Aby juga bilang kan pengen mama kayak tante. Kok Aby ngomongnya gitu? Tante ada salah sama Aby?" tanya Tari dengan tatapan bingung.
"By, ini tante Tari loh. Kok Aby ngomongnya gitu?" Ali bersuara.
Aby berdecak kesal ia pun sudah siap untuk meledakkan emosi. "jadi, tante Tari calon papa? Maaf, aku salah. Aku fikir papa sedikit lebih baik dari mama, tapi aku salah. Papa bahkan lebih buruk! Dan tante...serius ngecewain banget. Begonya aku nganggep tante baik, ternyata sama aja kayak orang-orang! Aku ada salah sama kalian,ya? Kenapa semua orang jahat banget ke aku? Kalau udah kayak gini, aku harus percaya siapa lagi? Terlalu sulit buat aku terima semuanya."
Benci pada air mata sialan yang menerobos keluar, Aby menyekanya kasar. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajah. "kalian terlalu egois!"
"mabok tai-nya Anjing lo? Ngawur banget ngomongnya."
Aby menoleh kebelakang ia terkejut karna sekarang Bima tengah berdiri dihadapannya. Cowok itu menatap Aby dengan senyum smirk, mengejeknya. "jadi ini maksud lo mau aja disuruh pergi? Lo udah tau lama,kan? Kalau kita mau jadi saudara?"
"saudara? Bagong banget lo. Wajar sih lo kan... Nggak enak ngomongnya ada om Ali."
Aby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aby berjalan menghampiri sang ayah. "pa, tante tari siapa?"
"lah kok nanya? Mamanya Bima lah, Aby lupa?"
"nggak maksud aku, tante Tari yang mau papa kenalin ke aku? Calon istrinya papa."
Ali dan Tari saling menatap lalu kompak tertawa lepas. Rasanya Bima ingin sekali tertawa besar menertawakan kebodohan Aby, tapi sebisa mungkin ia tahan. Kini yang ia lakukan adalah mengambil anaknya dari Aby. "Anjing sini sama papa aja,ya. Mamanya kamu bego ntar ketularan lagi." gumamnya lirih didekat telinga Aby. Lantas ia pun melenggang santai masuk kerumah meninggalkan Aby yang kini masih tidak merespon dengan dilatari suara tawa dari Ali dan Tari.
"tante." rengek Aby lalu memeluk Tari. Beberapa detik kemudian gadis itu mendongakkan kepalanya untuk menuntut kejelasan. " maksud pertanyaan tante tadi apa? Tante nggak bakal nikahin papanya Aby,kan?"
Tawa Ali semakin keras.
"terus maksud tante tadi gimana? Aku fikir..."
"oke-oke tante ulang ya pertanyaannya biar Aby paham. Aby inget nggak waktu itu pernah bilang pengen punya mama kayak tante."
Aby mengangguk lemas.
"berarti Aby harus jadi anak tante dulu kan? Terus gimana caranya Aby mau jadi anak tante kalau bujangnya tante aja Aby putusin? Bimanya tante kenapa diputusin ,sayang? Tante greget banget waktu Bima ngamuk sendiri, setelah diusut ternyata habis diputusin. Ini ceritanya tante lagi ngelabrak kamu loh."
"lah kok? Berarti aku..."
Tari berusaha menahan tawanya. "pantes aja Bima sayang banget sama Aby, orang gemesin gini. Tante aja makin sayang."
Kini Aby menatap galak kearah ayahnya yang menatapnya geli. "terus maksud papa kesini apa? Kita kesini bikin aku jadinya mikir yang enggak-nggak. Mana udah baper duluan, udah sakit duluan tadi hatinya, sesek juga, ini masih kerasa loh sakitnya."
"tante Tari yang bantuin papa,sayang. Calon mamanya Aby itu temen deketnya tante tari. Orangnya ada dibelakang kamu, namanya tante Tiara."
"tante, aku malu." aku Aby lalu memeluk Tari untuk menyembunyikan wajahnya.
"mas, jadi ini yang namanya Aby?" wanita yang kini berdiri dibelakang Tari melangkah mendekati Ali.
"Aby nggak mau nyapa tante Tiara dulu? Ini calon mamanya Aby."
"hallo Aby, akhirnya kita ketemu juga. Dari dulu tante penasaran banget sama kamu. Cantik, bener kata Bima."
Usai mengurai pelukannya Tiara mengelus puncak kepala Aby dengan sayang. Bukannya ingin mencari muka dihadapan Ali tetapi ia memang menyayangi Aby. Pembawaan Aby dan sorot yang terlihat mampu membuat Tiara tersentuh.
"kasih tante kesempatan ya buat jadi mamanya Aby. Tante emang nggak bisa janji apa-apa buat Aby, tapi tante bakalan berusaha. Tante udah sayang Aby dari dulu, sejak papanya Aby ceritain tentang Aby ke tante. Aby mau kan kasih kesempatan ke tante? Tante boleh jadi mamanya Aby,kan?"
Aby mengangguk tanpa ragu lalu memeluk erat tubuh Tiara yang sudah menunggu pelukan darinya.
"Bima kalau kepo kesini aja nggak usah ngintip-ngintip begitu, Cupu banget anaknya mama." ujar Tari lalu menoleh kearah jendela.
"nggak penting!" teriak Bima dari dalam tanpa menunjukkan dirinya. Lelaki itu masih bersembunyi.
"oh nggak penting, ya? Kalau gitu mama bilang aja kali ya soal tadi sore ke Aby? Terus kalau Aby---"
Bima yang kini sedang menggendong Anjing muncul dengan wajah masam. "ma." mohonnya, harga diri Bima kini sedang dipertaruhkan. Tari tidak boleh berbicara apapun soal tragedi tadi sore bisa-bisa Aby akan menjadikan itu sebagai bahan olokan sampai beberapa tahun kedepan.
"minta maaf ke Aby, mama denger loh kamu tadi bilang apa ke Aby. Minta maaf yang bener, mama nggak mau tau. Terus---"
"Tari udah kasihan Bimanya lagian Aby nggak masalah kok. Kita juga buru-buru, mau pergi sekarang." sela Ali.
"ini nggak makan-makan disini aja, mas? Rumahnya Bima nggak sempit-sempit banget kok."
"kita mau bertiga dulu lain kali kamu bisa atur jadwalnya sama Tiara biar kita bisa ngumpul."
"yaudah nggak papa. Tapi, Aby jadi dititipin disini?"
"jadi, nanti aku balik lagi kesini buat anter Aby."
"titipin gimana,ya?" Aby bingung sendiri. Lebih bingung lagi ia tak sengaja menatap seringai misterius Bima. Tentu saja ini buka. Bertanda baik bagi kesehatan mental dan juga hati Aby.
"papa ada urusan sama tante Tiara jadi biar aman papa titipin Aby ke Bima. Nggak bakalan lama kok, cuma seminggu bisa juga lebih cepet. Tante Tiara khawatir kalau Aby ditinggal sendiri jadi nanti biar Bima yang jagain."
Dititipin ke Bima?!
Yang benar saja! Aby mencium adanya konspirasi. Ini pasti Tiara dan juga Tari sudah ada dalam pihak Bima. Si bungsu manja suka mengadu itu pasti sudah berbicara hal macam-macam. Aby berani bertaruh, Bima pasti sudah merengek kepada Tari agar ia dapat mengambil bagian untuk perihal ini.
"pa, aku nggak mau! Aku bisa tinggal sendiri kok, papa kalau mau pergi ya pergi aja. Nggak perlu pake titipin aku segala. Apa lagi sama tuh cowok, nggak sudi! Emang aku anak kecil apa?" protes Bima.
"Bima bilang Aby takut sama keranda mayat,ya? Atau sekarang udah nggak takut lagi? Katanya sih lagi musim itu sekarang, sering seliweran tengah malem."
"tuh,kan! Sudah sangat jelas! Ini akal-akalan soang kelebihan hormon! Dasar mantan cabul!"
"nanti kalau Bima macem-macem, Aby lapor aja ke tante. Tante,kan mamanya Aby juga."
"papaaa, nggak mau dititipin sama Bima, nanti kalau diapa-apain gimana? Papa nggak takut anaknya nanti digitu-gituin?" rengek Aby berusaha untuk menggagalkan rencana sang ayah.
Ali terkekeh lalu menarik Aby kedalam pelukannya, diusapnya surai putri semata wayangnya dengan penuh sayang. "digitu-gituin gimana sih,By? Papa udah kenal baik sama Bima. Malahan papa yang takut Bima kenapa-napa. Papa tau loh kalau Bima sering dicakar, digigit, bahka sampai babak belur juga. Nahloh gimana nanti nasibnya Bima?"
Aby mengerucutkan bibirnya, susah juga rasanya menjelaskan bagaimana Bima jika hanya berdua dengannya. Kantong hormonnya penuh! Main tubruk serta banting seenaknya sendiri. Ini gimana ceritanya sih? Niat mau jauhan dengan Bima malah disatuin lagi. Kan jadi susah sendiri. Ragu-ragu Aby menatap kearah Bima yang ternyata juga menatap kearahnya dengan full senyum penuh kemenangan. Ini kalau saja ia lagi berdua dengan Bima tamatlah Riwayat cowok itu, akan ia buat tinggal nama dengan kuku panjangnya.
"ini kok rame disini? Ada besan juga kok nggak diajak masuk,ma?" Dika dan Laras muncul dari arah pagar. Mereka baru saja pulang dari mencari makan untuk si bontot banyak mau itu.
"nggak perlu,dik. Ini kita mau pergi."
"kok cepetan? Nggak mau makan malam disini dulu? Aby nggak mau nemenin Bima makan dulu? Bujangnya om lagi rese soalnya, om sampe pusing. Aby kan pawangnya." ujar Dika dengan nada jenaka.
Hidung Bima sudah mulai kembang kempis sinyal bahaya sudah mulai semakin kuat. Ini pasti satu persatu anggota keluarganya akan mulai mengadu berlebihan kepada Aby. Bima yakin Aby pasti akan semakin besar kepala.
"makasih banyak,dik kita juga ada acara diluar. Nanti kita balik kesini lagi buat anterin Aby." balas Ali.
"Tari udah siapin kamar buat Aby, pokoknya kamu tenang aja perginya dilama-lamain juga nggak masalah. Aby aman, Bima bisa urus semuanya. Jangan kasih restu bujangku kalau nggak becus jagain Aby."
"ntar kita tidur bareng ya,By. Mumpung kakak disini, besok udah balik soalnya. Kakak mau cepuin soal Bima." celetuk Laras.
Bagus! Semua berpihak pada Aby. Bima curiga kalau dirinya hanyalah anak pungut.
"tapi kak, aku nggak mau----"
"yakin? Lo nggak pengen denger alasan kenapa mantan-mantan lo sebelum Bima nggak ada yang beres?" sadar dengan apa yang barus saja ia katakan, Laras menggigit bagian dalam bibirnya lalu melirik ragu kearah Bima. "eh, sorry Ma... Kakak keceplosan."
Babak belur season 2 sudah menanti.
...*****...
...ada yang kangen sama Aby malam minggu ini?...
...asik nih malam minggu bareng Aby dan Bima calon saudara nggak jadi, hehehe...
...ada pap gemes nih dari anak mama Aby mantannya papa Bima...