Relation(Shit)

Relation(Shit)
DUAPULUHLIMA



"makasih,Kak." ujar Keyla begitu tulus selepas menerima mangkuk bubur ayam yang di angsurkan Bima padanya.


Masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah, untuk itu Bima mengajaknya sarapan bubur ayam yang tak jauh dari sekolah. Keyla memang sudah sarapan, tapi ia begitu sungkan untuk menolak ajakan Bima. Jadi, meskipun sudah kenyang ia tetap mau menemani cowok itu sarapan.


Keyla menikmati bubur ayamnya dengan tenang. Tepat disebelahnya ada Bima yang sedari tadi terlihat tidak tenang. Cowok itu terus memeriksa ponsel. Bubur ayamnya pun belum tersentuh.


"kak Bima nggak papa?" tanya keyla terlihat begitu peduli sekaligus penasaran dengan pemicu keresahan remaja laki-laki di sampingnya.


"gue khawatir sama Aby. Dihubungin susah. Oh iya, tadi di rumah lo liat Aby sarapan nggak? Gue nggak tenang kalo dia belum sarapan. Biasanya gue yang ngurus dia."


Meskipun belum lama mengenal Bima, Keyla sudah pandai menilai tentang bagaimana perasaan cowok itu pada calon kakak tirinya. Dari hal-hal sederhana saja sudah cukup jelas jika Bima sangat menyayangi Aby, lebih dari apapun. Rasa sayang yang membuat Aby seperti terlahir menjadi gadis paling beruntung, karena mendapat semua itu dari lelaki sesempurna Bima. Sebuah pencapaian yang tidak bisa di raih oleh orang lain, terlebih olehnya.


"Kak Aby udah sarapan, kak. Tadi aku lihat sendiri."


"semalem Aby nggak kenapa-napa,kan? Bokap lo nggak marah atau main tangan lagi,kan sama Aby?"


Keyla menggeleng. "pas kak Aby pulang, papa udah tidur. Kak Aby juga perginya tadi pagi banget. Mungkin emang sengaja ngehindar dari Papa."


"boleh gue minta tolong sama lo,Key?"


"boleh. Kak Bima mau minta tolong apa?"


"ini nomer gue, lo simpen. Kalo ada sesuatu sama Aby di rumah lo langsung hubungi gue. Belakangan ini Aby stres berat. Gue takut dia nekat. Gue percaya lo orang baik, lo bisa bantuin gue buat ngasih waktu untuk Aby bahagia. Aby udah terlalu menderita, Key. Gue berharap banyak lo mau kerjasama sama gue untuk bahagiain Aby."


Keyla mengangguk diiringi senyuman. perasaan aneh yang timbul ia segera tepis jauh-jauh. "aku mau bantuin kak Bima."


"makasih,Key. Gue juga pasti bakalan siap bantuin lo. Gue bakalan jagain lo selama di sekolah sebagai wujud terimakasih gue. Kalo ada yang gangguin lo, kasih tau gue nggak usah sungkan."


Anggukan pelan Keyla membuat Bima mengulas senyum tipis. Saat itulah Bima menyadari jika cewek disebelahnya ini sedang menahan dingin. Sepertinya Keyla tidak biasa berangkat pagi-pagi naik motor. Terlebih ia mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Merasa bersalah dengan kondisi Keyla saat ini, Bima pun melepaskan jaketnya lalu membungkus tubuh Keyla dengan jaket miliknya.


"ngg...kak?"


Telapak tangan Bima mendarat di pipi Keyla yang terlihat memerah. Membingkai sebentar untuk berbagi kehangatan. "biar nggak kedinginan. Maaf,ya."


...*****...


"gue curiga kalau lo diem-diem cowok brengsek. Lo pasti ketua geng yang suka tawuran,kan? Kebut-kebutan di jalan dan meresahkan masyarakat. Ngaku lo!" desak satria.


Luka-luka di wajah Bima tentu saja membuat sahabatnya menaruh curiga. Bima yang mereka kenal itu cowok baik-baik dan tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini terlebih berkelahi atau memiliki musuh. Kontrol emosi Bima sangat baik dan pemikirannya jangka panjang, Bima tidak mungkin melakukan hal-hal yang membuatnya bertemu penyesalan diakhir. Itu bukan gaya seorang Bima Antanandra yang tenang. Lalu...bagaimana bisa cowok itu babak belur?


"dia emang brengsek kali, cuma kitanya aja yang nggak nyadar. Ketutupan sama muka plus prestasi. Jangan lupa, Bima ini OSIS terbaik, sangat mampu mengayomi murid Harapan Bangsa. Semua masalah, Bima beresin. Sendirian." celetuk Arion lalu mengeluarkan susu kotak dari saku celananya.


Jujur ia marah saat mendapati Bima berangkat bersama Keyla. Ditambah Bima yang meminjamkan jaket sampai repot-repot mengantarkan Keyla kedepan pintu kelasnya. Dengan alasan apapun, Arion tidak membenarkan tindakan Bima yang sangat berlebihan setiap kali menolong seseorang. Entah disini Bima terlalu baik atau nyatanya Bima adalah cowok bodoh yang tidak mengerti tentang bahaya yang timbul jika terlalu baik pada kaum wanita.


Arion memang tidak sebaik Bima, tapi ia tidak pernah bermain-main dengan perasaan perempuan. Satu nama yang membuat Arion tidak mau menjadi cowok brengsek. Yasmine Anastasya Quenna. Nyaris sebelas tahun penantiannya, hatinya tetap kokoh untuk satu nama itu.


"santai anak kalem. Gue perhatiin dari kemaren lo ngegas mulu sama Bima. Sini cerita, kalian ada apa? Kalau ada masalah tuh ngomong, biar nanti gue komporin." celetuk Gilang.


Arion menjatuhkan susu kotak kosong lalu melirik sinis kearah Bima. "males ngomong sama orang baik. Mending foya-foya sekalian nyari pahala."


Beberapa hari terus dimusuhi Arion, Bima menghela nafas. Cowok itu memungut kotak susu dan bungkus roti yang Arion buang sembarangan. Ia pun membuang sampah itu ke tempatnya sebelum akhirnya pergi berlawanan arah dengan Arion. Jika Arion pergi kekantin, maka Bima ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku paket jurusan IPS untuk dipelajari sebelum menjadi tutor Aby.


Saat sudah melepas sepatu untuk disusun rapi pada rak sepatu, Bima masuk kedalam perpustakaan. Niatnya urung saat melihat Keyla duduk sendirian, terlihat kebingungan. Ia melangkah mendekati cewek itu.


"Key." panggil Bima yang mampu mengejutkan Keyla.


"astaga, Kak Bima ngagetin tau nggak."


Bima nyengir lalu menarik kursi kosong di sebelah Keyla. "ada yang bisa gue bantu?" tawar Bima.


"aku mau ulangan matematika, tapi masih bingung di materi ini. Tanya ketemen malah nggak ada yang respon."


Bima menarik buku yang ada dihadapan. Ia membaca sekilas dan mencoba mengingat tentang materi itu. "ini gampang." ucap Bima lalu meraih bolpoin ditangan Keyla. Sedetik kemudian Bima mulai menjelaskan secara lugas pada Keyla.


Awalnya penjelasan Bima disimak baik-baik sebelum akhirnya Keyla mulai memperhatikan yang lain. Keyla sudah tidak lagi menyimak penjelasan Bima, namun kini fokusnya jatuh pada wajah remaja tampan itu yang tampak dari samping dengan jarak begitu dekat. Saking dekatnya jarak yang ada, Keyla bisa mencium jelas aroma parfum Bima. Secara fisik penggambaran Bima dimatanya sangatlah sempurna, Keyla bahkan sampai tidak percaya jika Bima adalah sosok yang nyata. Tidak salah jika cowok itu diincar banyak gadis. Didukung prestasi mengagumkan dan sikapnya yang baik, siapa yang tak menginginkannya?


"paham?"


Keyla gelagapan lalu mengangguk. "paham,Kak. Makasih kak."


"ada yang bingung lagi?"


"enggak, itu aja kok kak."


"kalau gitu gue duluan, mau minjem buku. Belajar yang rajin,ya." pesan Bima seraya mengusap puncak kepala Keyla sebelum akhirnya bangkit meninggalkan Keyla untuk mencari buku yang ia inginkan.


...*****...


"cuma gini doang usaha lo? Sorry, gue belum tersentuh. Lo belum gue maafin. Tapi, seblaknya tetap gue makan." pungkas Aby lalu meraih sendok untuk menikmati seblak yang Bima belikan untuknya. Katanya sebagai sogokan agar mendapat kata maaf dari Aby. Tidak hanya seblak, Bima juga menyiapkan beberapa bungkus cemilan untuknya.


"gini doang mah calon selingkuhan gue juga mampu beliin kali, bahkan bisa lebih banyak dari ini." cibir Aby meremehkan Bima.


Ngomong-ngomong kini Aby sedang dirumah Bima. Cowok itu ceritanya sedang menculiknya. Saat sedang menunggu jemputan dari sopir Keyla, tiba-tiba saja ada mobil berhenti dihadapannya. Aby tentu saja tidak tahu dibalik kursi pengemudi itu adalah Bima. Tiba-tiba saja dirinya diangkut masuk ke dalam mobil dan diikat dengan dasi. Ia dibawa dan disekap di dalam kamar cowok itu.


"Trus gue harus gimana biar lo maafin gue,Aby." erang Bima frustasi. Ia pikir makanan mampu meluluhkan hati Aby seperti biasa. Tapi nyatanya tidak semudah yang ia kira.


"Mikir dong lo, Katanya pinter. Loncat dari gedung kek, tabrakin diri ke kereta kek, atau minta dikubur hidup-hidup gitu. Pokoknya yang bikin gue terkesan, anti-mainstream, keren, dan kalau bisa sampe viral.


Bima menghela nafas. Cowok itu bangkit dan tidak lama kemudian kembali. Ia tidak sendirian ada anak montok kesayangan mama papa dalam gendongannya. Barangkali dengan membawa kucing itu, Aby mau berdamai dengannya.


"Anjing anak pungutnya mama Aby!" teriak Aby heboh. Meninggalkan sofa, Aby berlari dan merebut Anjing dari gendongan Bima. Sangat merindukan beban hidupnya, Aby mencium kepala Anjing. Pantat hewan itu pun tidak luput dari tabokannya. Aby hampir saja menggigit ekor Anjing, untung saja Bima mengingatkannya.


"Anjing pasti kangen banget sama,Mama ya? Kamu nggak depresot, kan selama LDR sama Mama? Nggak diperkosa kucing garongkan Kamu?"


"masih nggak mau maafin gue didepan anak sendiri? Seneng kalau mentalnya Anjing ke guncang karna orangtuanya nggak akur?" celetuk Bima saat Aby menempelkan pipinya dikepala kucing kesayangannya itu.


"nggak. Tetep nggak gue maafin, Anjing pasti ngertiin keadaan orangtuanya, iya kan,Njing?"


Kucing di gendongan Aby mengeong dan menggerakkan ekornya.


"tuh,kan denger Anjing gomong apa? Dia nggak papa, dia udah memaklumi keluarganya. Anjing juga udah tau kalau bentar lagi dia bakalan jadi anak broken home."


Tidak mendengarkan ucapan Aby lagi, Bima membanting badannya keatas sofa. Tak lama dari itu disusul oleh Aby duduk disebelahnya, cewek itu masih sibuk dengan kucingnya.


"kegatelan banget,sih jadi cewek. Masa maunya sama papa terus!" omel Aby saat kucingnya terus memberontak ingin lepas darinya. Aby tahu, anak pungutnya ini ingin bersama Bima.


"dihabisin dulu seblaknya sana, Anjing biar sama gue."


"nanti Anjing mau gue bawa pulang,ya. Mau gue didik jadi cewek bener. Nggak bener nih kalau tinggal sama lo. Makin gatel---"


"makan. Jangan bacot terus." sela Bima. Kucing yang dipangkuan Aby diambil alih olehnya. Seperti biasa, kucing itu langsung anteng saat bersamanya. Jauh berbeda saat bersama Aby yang terus memberontak minta dilepaskan.


"ngantuk,Ma."


"kalau ngantuk tidur atau mau gue tidurin?"


Pertanyaan frontal Bima dihadiahi tendangan oleh Aby. " pinjem kaus sama kolor."


Tidak menunggu persetujuan dari Bima, aby sudah langsung berjalan ke arah lemari pakaian milik cowok itu. Isinya langsung diobrak-abrik hanya demi kaos dan kolor yang cocok untuknya. Begitu mendapatkan apa yang ia cari, Aby langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti stelan seragamnya.


"gue numpang ngiler dibantal lo,ya." ujar Aby dan langsung membanting tubuhnya dikasur Bima. Cewek itu jatuh dengan posisi tengkurap.


Melihat Aby yang mulai menutup kelopak matanya, Bima pun mulai melepas satu persatu kancing seragamnya. Diloloskannya seragam itu dari tubuh atletisnya hingga menyisakan kaos tipis. Tidak berlama-lama jauh dari Aby, Bima pun ikut berbaring di sebelah cewek itu. Kaki panjangnya digunakan untuk menindih kaki Aby agar gadisnya itu tidak bisa terus-terusan kabur darinya.


"Aby " bisik Bima dengan suara serak saat telapak tangannya mulai nakal menyusup ke dalam kaos Aby, menyentuh punggung kekasih-nya.


"keluarin tangan lo! Atau mau gue hantam sekarang?"


"Hantam aja. Yang penting gue bisa nyentuh lo."


"Bimaaa!"


"Maafin gue,By. Gue ngaku salah. Jangan siksa gue kayak gini." erang Bima.


"gue ngantuk,Ma! Tangannya dijaga! geli goblok! Merinding gue kalau tangan lo elus-elus gitu."


Sadar jika tidak ada kesempatan untuk meraup bibir Aby, Bima pun mengincar bagian lain. Setelah berhasil menyibak rambut Aby yang menutupi leher, Bima langsung menunjukkan sisi liarnya pada leher Aby.


"Bima Tai!" teriak Aby lalu menendang Bima hingga cowok itu jatuh ke lantai.


Bima bangkit dan tersenyum puas. Rasa sakit dari tendangan Aby tidak sebanding dengan kepuasan dirinya melihat mahakaryanya yang tercetak indah pada leher Aby. Warnanya yang mencolok berhasil membuat Bima bangga. Tidak buruk juga untuk pengalaman pertamanya.


...*****...


Bima benar-benar brengsek! Bisa-bisanya ia disekap dikamar cowok itu sampai malam. Bahkan saat disekap pun Bima masih sempat-sempatnya menjadi tutor untuk Aby. Jika tidak mengingat besok ada tugas hafalan, Aby tidak sudi dibentak-bentak dan dihukum tidak masuk akal oleh cowok sinting itu.


Saat pulang kerumah, tidak ada siapa-siapa. Aby yang terbiasa bersama sepi tidak terlalu ambil pusing. Ia melangkah menuju ruang makan sembari menggendong kucingnya. Meja makan kosong. Tidak ada makanan yang bisa disantap.


"bibi nggak masak?" tanya Aby pada salah satu pelayan yang baru saja muncul.


"pak Rehan nyuruh saya untuk nggak usah masak apapun, soalnya pak Rehan sekeluarga makan di luar."


Sekeluarga katanya?


Aby tersenyum miring.


Jadi, perannya disini sebagai apa jika bukan keluarga?


Orang asing? Keberadaannya benar-benar tidak sianggap. Sialan! Mengapa ia harus cengeng hanya karna hal ini.


Tak mengatakan apapun lagi, Aby meninggalkan ruangan makan dan melangkah menuju kamarnya. Dibaringkannya kucing yang ia gendong keatas ranjang sebelum Aby masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Baru selesai berpakaian, pintu kamarnya diketuk. Suara Keyla terdengar memanggilnya. Aby melangkah malas sembari menggendong kucingnya untuk membukakan pintu.


Haaciim.


Di detik pertama ia muncul bersama Anjing, Keyla langsung bersin-bersin.


Tawa Aby mengudara saat keyla bersin untuk kesekian kalinya. Hidung cewek itu bahkan sudah sangat memerah. Dengan sengaja, Aby mendekatkan kucingnya ke hidung Keyla. calon adik tirinya itu sudah memberitahunya jika gadis itu alergi bulu kucing. Aby terlihat sangat puas saat melihat Keyla tersiksa karna kesulitan bernafas.


"kak u-dah, aku nggak bi-sa napas." mohon Keyla saat dadanya semakin sesak. Plastik putih berisi makanan yang ia bawa untuk Aby, jatuh dari genggamannya. Keyla terus bersin-bersin dan menggosok hidungnya yang sangat gatal.


"lemah banget,sih lo. Gini doang padahal." sedetik setelah mengatakan itu, tubuhnya didorong kuat hingga kepala belakangnya bembentur ujung meja belajar begitu keras.


"keterlaluan kamu, Aby!" teriak Ayu begitu marah pada putrinya.


Aby menggeleng kepalanya pelan, pusing sekaligus nyeri. Benturannya terlalu keras. Saat menyentuh kepala belakangnya, Aby melihat darah pada jemarinya.


"Key ikut mama sekarang,ya. Kita kedokter. Key tahan sebentar ya,Nak."


"saat mendengar itu, Aby juga ingin memberi tahu ibunya jika kepalanya juga sakit. Namun terlambat, ibunya sudah terlebih dahulu pergi dengan membawa Keyla tanpa sedikitpun melihat kearah Aby.


Aby tersenyum menatap sang ibu semakin menjauh. Membawa rasa kecewanya, Aby kembali masuk ke dalam kamar bersama Anjing. Tubuhnya dibaringkan lalu kelopak matanya ditutup. Tanpa membersihkan darah yang ada dikepala. Baru sebentar menutup mata, ponselnya berdering. Aby buru-buru menggeser ikon hijau saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Papa kemana aja? Kenapa baru nelfon?"


"suara Aby kok beda? Aby nangis,sayang?Aby baik-baik aja kan disana?"


"Aby nggak pernah baik-baik aja,Pa.sejak kalian ninggalin Aby sendiri dirumah."


"Aby kenapa?cerita sama Papa."


"Kepala Aby sakit,pa berdarah. Mama dorong Aby sampe bentur tembok. Papa kesini ya, jemput aku pa."


"papa sebenernya pengen kesitu ,sayang. Tapi papa nggak di indonesia. Lusa baru bisa pulang. Aby tunggu papa sebentar,ya. Nanti papa jemput Aby. Papa mau kenalin seseorang sama Aby."


"nggak usah jemput,Pa. Makasih. Papa nggak perlu kenalin aku sama orang itu, Aby nggak siap."


Menelan rasa kecewanya, aby memutuskan panggilan secara sepihak sebelum akhirnya menenggelamkan kepalanya dengan bantal.


Ia butuh menangis sekarang.


Saat sibuk menumpahkan rasa sakitnya, Aby merasakan tangannya digenggam seseorang. Memastikan siapa pelakunya. Aby menjauhkan bantal dari wajahnya. Melihat Bima duduk ditepi ranjang, Aby bangkit langsung menubruk kekasih-nya. Dipeluknya erat-erat tubuh Bima.


"Sakit,Ma kepalanya. Tadi Mama dorong gue kenceng banget sampe kena ujung meja. Berdarah kepalanya."


Mendengar cara bicara Aby yang berbeda, lebih manja dari biasanya, saat itulah Bima menyadari jika Aby-nya yang dulu sudah kembali."


...*****...


...tbc...


...sedih nggak sih bacanya?...


...aku aja sampe nangis ngetiknya....


...menurut kalian Keyla baik nggak sih?...


...boleh baget nih spam coment disini !!!!!!...


...ketemu lagi di next episode bye bye ...