
"sakit?" tanya Bima lirih seraya menyentuh lembut pipi kekasihnya. Ada rona kemerahan pada bekas tamparan keras Rehan.
"Lupa lo, gue udah biasa dapet luka. Beginian doang nggak akan ada artinya di gue." soal rasa sakit di pipi memang bukan masalah untuknya. Bahkan jika Rehan memberi tamparan lagi pun Aby rasa ia tidak akan kesakitan.
Perihal rasa sakit yang sebenarnya ada tepat dihati gadis itu. Tamparan Rehan mengguncangnya hebat. Terlebih saat ibunya tidak melakukan apapun untuknya. Perempuan itu hanya diam melihatnya diperlakukan kasar oleh orang yang nantinya akan dipanggil ayah. Aby semakin sadar jika dirinya sudah tida ada artinya lagi untuk Ayu.
Aby mendorong Bima untuk menyingkir. Masih ada yang harus diselesaikan. Ia pun maju berjalan mendekati Rehan yang terlihat santai tidak merasa bersalah sedikitpun atas kekerasan yang dilakukan.
PLAK.
Aby mengembalikan apa yang telah Rehan kasih padanya, tamparan.
"bukan cuma om doang yang bisa nampar, aku juga bisa ngelakuin apa yang om kasih ke aku barusan. Jangan belagu,om!" pungkas Aby.
Sudut bibir Aby terangkat membentuk smirk meremehkan pria yang terlihat sangat marah padanya. "peraturan,ya? Peraturan dibuat untuk dilanggar, gitu kan intinya?"
Rehan mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan. Tangan pria itu bergetar hebat saat bukan anak kurang ajar itu yang ia tampar, melainkan putrinya sendiri. Rehan panik bukan main saat Keyla-nya tersungkur dilantai. Sepertinya tamparan yang pria itu layangkan sangatlah keras sampai membuat Keyla mimisan.
"Key..maafin Papa,sayang."
Keyla menggeleng lalu menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Dibantu oleh kedua orangtua Keyla dipapah lalu didudukan di kursi makan. Ayu bertindak cepat untuk mempersiapkan kain dan es batu untuk mengompres Key.
Melihat betapa paniknya seseorang yang ia panggil Mama, Aby menyentuh pipi yang mendapatkan tamparan seperti Keyla. Bedanya, apa yang ia dapatkan tidak membuat Ayu panik. Rasa sakitnya ia biarkan begitu saja. Aby hendak protes namun Bima meremas kuat tangannya mengirim isyarat pada Aby untuk tidak melakukan apa-apa lagi.
"papa telfon dokter,ya? Papa takut kamu kenapa-napa."
"Key nggak papa,Pa. Kan udah dikompres juga sama Mama."
"yakin,Key nggak papa? Kalau sakit bilang aja ke Mama sama Papa. Key nggak boleh nyimpan rasa sakit sendirian."
Keyla menggeleng. Jari kelingkingnya ia angkat ke hadapan ayahnya. "Papa janji sama Key, jangan main fisik lagi sama Kak Aby. Kak Aby, kan anak papa juga. Perlakukan kak Aby seperti papa perlakukan Key."
"Key harus tau kalau apa yang papa lakuin ibu buat Key. Papa sayang banget sama Key, makanya papa marah waktu Aby Bilang itu ke Key. Kalau aja Aby bisa jaga sikap dan perlakuin Key dengan baik, papa nggak mungkin bisa kayak tadi. Key paham kan?"
"tapi,nggak harus main fisik kan ,Pa? Papa harus janji dulu sama,Key. Nggak boleh kayak gitu lagi."
Lemah jika menyangkut permintaan putri tercintanya, Rehan pun mengangguk lalu menyematkan jadi kelingkingnya dengan Keyla. "Papa berusaha demi Keyla."
Senyum Keyla terbit. Kini gadis itu beralih ke Ayu. "Kak Aby dikompresin juga,ya Ma. Kasihan Kak Aby pasti kesakitan." pintanya.
Sebelum Ayu mengabulkan permintaan Keyla, Aby sudah terlebih dahulu pergi mengajak Bima.
...*****...
Suasana hati Aby sedikit membaik saat Bima membawanya singgah ke tukang bakso yang mangkal tidak jauh dari komplek perumahan Keyla. Sehancur apapun perasaan aby, perihal perut tidak bisa disingkirkan. Tapi, walau ia menerima traktiran dari Bima bukan berarti Aby sudah memaafkannya. Tidak semudah itu mendapatkan maaf dari Aby.
"gue makan ini karna gue laper. Lo harus inget baik baik kalo gue masih marah sama lo. Kita masih musuhan."
Bima berhenti menuang sambel ke mangkuk Aby lalu mengamankan sambal itu agar tidak dituang semua. Tangannya meraih pisau dan segera membelah bakso jumbo milik Aby itu. Setelah memotong bakso menjadi beberapa bagian Bima lalu menjauhkan pisau, sambal dari jangkauan Aby.
Belajar dari pengalaman, tusuk gigi yang dinilai berbahaya untuk Aby pun juga diamankan. Bima tidak mau kecolongan lagi.
"Hm,tau."
Sumpit yang baru saja diambil dipukulkan ke kepala Bima. "ham hem ham hem, pikirin noh gimana caranya lo dimaafin,ngerti?"
"ngerti. Sekarang lo makan."
"lo sekere itu,ya? Masa pesennya cuma satu."
"duit gue nggak cukup. Gue minum teh anget aja."
"tunggu gue habisin dulu baksonya, nanti kuahnya buat lo. Gue sisain mie-nya dikit deh , anggap aja bonus." setelah mengatakan itu Aby langsung memulai suapan pertamanya. Ia makan dengan begitu lahap seperti biasa.
"pelan-pelan aja makannya."
Suara lembut dan usapan dipuncak kepalanya membuat Aby merasakan sesuatu yang aneh. Ia pun melirik ke arah Bima yang kini tengah menikmati teh panasnya. Saat melihat wajah babak belur Bima yang tampak dari samping. Aby merasa kasihan. Aby benar-benar tidak ingat bagaimana bisa ia menghancurkan wajah Bima tadi.
"Ma?"
"Ya?"
"mau baksonya nggak? Lo boleh gigit, Tapi jangan banyak-banyak nanti gue nggak kenyang."
"buat lo aja."
"alhamdulilah lo peka. Ditawarin nggak mau. Gue udah nawarin, ya dan lo sendiri yang nolak." Aby melanjutkan kegiatan makannya dan Bima kembali menikmati pemandangan wajah aby. Aby sampai kesal sendiri saat Bima menopang kepala dengan satu tangan dan terus menatapnya.
Bima mengamati sekitar. Sepi. Moment yang tepat untuk menyerang bibir Aby yang terus bergerak seolah menggodanya. Tapi, Bima mengingat bagaimana keadaan bibirnya sekarang. Sangat tidak mendukung kesempatan yang ada. Lagi pula suasana hati Aby belum pulih, bisa-bisa luka pada bibirnya malah bertambah nanti. Bima mencoba untuk diam menahan dirinya agar tidak terjadi hal
yang iya-iya.
Aby bersendawa keras. Mangkok bakso di dorong kearah Bima. "buat lo" katanya. Masih ada beberapa potongan bakso dan kuah yang ia sisakan untuk Bima.
"kenapa nggak dihabisin?"
"nggak tega gue. Ini kuahnya pedes, pasti perihnya enak banget kena luka bibir lo."
Bima menyingkirkan mangkok bakso lalu melipat tangannya di meja dan menatap serius ke arah Aby. "bisa kita ngobrol sebentar soal lo?"
"mau ngobrolin apa lagi?"
"lo yakin mau tinggal dirumah Keyla? Kalaupun rumah lo dijual, rumah gue masih bisa buat lo tinggal."
"lo ngeremehin gue?"
"nggak ada sejarahnya gue ngeremehin lo, kecuali soal otak lo. Gobloknya lo itu udah pas, pas buat di katain. Tapi, lo yakin? Gue tau, paham banget malah. Masalah utama sekarang adanya di hati lo, lo yakin sanggup?"
Setelah pedasnya reda, Aby meraih gelas teh hangat Bima untuk ia habiskan isinya. "biar sekalian aja, udah terlanjur sakit kan?"
"Aby---"
"Udahlah, Ma. Yang penting lo jagain Anjing. Kurung tuh anak dirumah, banyak kucing garong sangean yang mau perkosa Anjing. Trus kalo tuh anak pungut nanyain gue, bilang aja gue lagi kemana gitu."
"nggak mau. Bisa-bisa Anjing punya adek nanti kalo gue tinggal bareng lo. Ntar gue dijadiin bahan pratikum biologi bab reproduksi lagi sama lo. Gue tau ya lo itu sangean berat."
Susah negosiasi dengan kepala batu. Mana tipu muslihatnya juga terbaca oleh Aby. Sepertinya Aby sekarang tidak sebodoh dulu. Otak Aby sudah berkembang dan berfungsi sebagaimana mestinya. "tadi itu kamar lo kan?"
"peraturan untuk nggak ngunci jendela masih berlaku walaupun gue tinggal dirumah Keyla?"
Bima mengangguk mantap. "dimanapun lo tinggal, bakal gue trobos kamar lo. Makanya lo jangan pernah ngunci jendela kamar."
"kalau ternyata bukan cuma lo doang yang dateng gimana? Lo mau tanggugjawab? Mikir dong. Goblok! Nggak pelajaran doang yang pinter." Aby tersenyum puas saat bisa mengatai Bima.
"perampok maksud lo?"
"bukan, Bintang. Calon selingkuhan gue. Kayaknya enak,lembut banget, nggak bringas kayak lo. Pasti nanti dienakin."
"jangan macem-macem,By!" peringatan Bima.
"gue jadi malah penasaran sama apa yang bakal lo lakuin kalau gue selingkuh beneran sama Bintang. Btw, Bintang naksir Gue. Baik banget tuh cowok ke gue, nggak kayak lo ."
"stop,Aby! Jangan bikin gue emosi."
"dih apaan coba,kalo sama gue emosian lo. Sama Keyla terus sama yang lain aja sok ramah. Muna lo! Muka dua!"
"Diem Aby!". Jangan sampe gue seret lo kesana." geram Bima menunjuk tempat gelap tidak jauh dari pangkalan bakso.
"yakin lo berani sama gue? Gue Masih sanggup mukulin lo."
Bima hanya mengumpat dan mengaku kalah."
...*****...
Setelah hampir semenit menunggu akhirnya pintu utama dibuka. Keyla lah yang membukakan pintu untuknya. Gadis itu tersenyum ramah dan langsung mengajaknya untuk cepat-cepat masuk. "kak Aby dari mana? Kok baru pulang?"
"Kenapa lo belum tidur?" bukannya menjawab pertanyaan Keyla, Aby malah balik bertanya.
"Aku nungguin kakak."
"lain kali nggak usah ditungguin."
Ingin mengatakan sesuatu pada Aby, Keyla mengekori cewek itu sampai di depan pintu kamarnya.
"kak."
Aby yang hendak menutup kembali pintu kamarnya, urung. Pintu kembali dibuka lebar dan tatapan tajamnya tertuju ke arah Keyla. "apa?"
"aku mau minta maaf."
"soal?"
"soal Papa tadi dan juga Mama. Aku beneran nggak tau kalau orang yang kita panggil Mama itu adalah orang yang sama."
"gue itu susah percaya sama orang modelan kayak lo. Gue nggak yakin, tapi moga aja sih lo emang baik. Kalau misalnya nanti sifat asli lo muncul, jangan harap lo bisa lepas dari gue."
Keyla menatap Aby. "aku----"
"oh iya, Bima pacar gue. Gue emang jarang cemburu karna gue tau selera dia. Tapi kalo ceweknya modelan kayak lo gue harus waspada. Pacar gue orangnya baik banget, takutnya lo baper. Jadi gue kasih tau dari sekarang buat nggak berharap apapun ke Bima. Ngerti?"
"ngerti kak. Tapi kak Aby maafin aku sama Papa,kan?"
"hm, ya udah. Gue ngantuk mau tidur, mending lo pergi."
...*****...
Bima tersenyum ramah saat Rehan lah yang membukakan pintu untuknya. Di belakang pria itu ada Keyla yang sudah siap berangkat sekolah. Kedatangan Bima tentu saja untuk menjemput Aby. Menjemput Aby tentu masih menjadi tanggungjawabnya.
"pagi om." sapa Bima.
"mau jemput Key, ya Ma?" tanya Rehan.
Buru-buru Bima menggeleng lalu menjawab dengan sopan. "maaf,om. Aku mau jemput Aby."
"Aby? Anak kurang ajar itu udah berangkat sekolah bawa mobil Key. Dia nggak bilang ke kamu?"
"nggak om."
Bima pun merogoh saku celana dan memeriksa ponsel. Ternyata ia melewatkan satu pesan dari Aby. Benar kata Rehan, Aby sudah berangkat dengan mobil milik Keyla. Tentu tidak mengendarainya sendiri, ada sopir pribadi Keyla.
"aku nggak baca pesan dari Aby. Ternyata Aby udah ngasih tau."
Rehan tersenyum. "karena udah sampe di sini dan kamu satu sekolah sama Keyla, gimana kalau Key berangkat sama kamu? Om agak buru-buru nih. Kalau harus ke sekolah Key, takut nggak keburu."
"Pa!" protes Keyla.
"bisa kan,Ma? Om minta tolong banget nih sama kamu." desak Rehan yang akhirnya disetujui oleh Bima.
"baik om, yuk Key. Berangkat sekarang."
...*****...
...tbc...
...selamat baca para sayangnya aku...
...kangen pap dari si Ayah atau anaknya yang imoet nih?...
...Emang gemesin banget nih Anjing kesayangan keluarga...
...Bapak-bapak muda satu ini nggak bisa mundur kali ya? kelewatan banget gantengnya...