
Bima tidak memenuhi janjinya tadi siang. Cowok itu tidak membelikan seblak dan boba untuknya. Aby merasa menjadi pihak yang sangat dirugikan di sini. Sudah disosor tapi tidak mendapatkan apapun selain rasa kesal dan bibirnya yang sedikit membengkak. Bima ini memang sangat liar saat menyerangnya.
Bima tidak mau mengantarkannya kerumah Keyla dengan seribu alasan yang tidak bisa Aby terima. Kesempatannya mukbang bakso lava secara gratis sudah tidak ada. Kesal dengan Bima, Aby membawa anjing pulang kerumahnya setelah cewek itu merampok isi kulkas dan beberapa cemilan untuk dibawa kerumah gadis itu.
Semua pintu ia kunci dan pastinya jendela juga. Aby tidak mengizinkan Bima menemuinya. Di dalam kamar, Aby mengurung diri bersama anak pungut beserta cemilannya.
Biarin aja, njing. Pura-pura nggak denger aja. Cewek itu menatap kearah jendela kamarnya yang terus saja berbunyi. Sedari tadi Bima terus saja melempari jendela, mungkin menggunakan krikir. Ponsel Aby juga terus berbunyi. Pelaku utamanya masih sama. Cowok menyebalkan itu masih terus merecokinya. Mungkin kalau ia sudah membukakan jendela, cowok itu baru berhenti mengganggu.
Didepan jendela kamar Aby, Bima mengupat. Ia sudah lelah melempar kerikil, mengetuk jendela, bahkan menendang jendela itu sedari tadi tapi tidak membuahkan hasil apa-apa. Sepertinya cewek sinting itu benar-benar marah padanya.
Tidak kehabisan akal, Bima pun meninggalkan balkon kamar Aby melewati tangga. Ia akan memadamkan listrik di rumah Aby dan setelahnya Bima hanya tinggal menunggu cewek itu sendiri yang memintanya datang kekamar. Kali ini Bima optimis rencananya berhasil.
Cowok berkaus hitam itu sangat puas saat penerangan dirumah Aby padam olehnya. Ponsel dikeluarkan dan dalam hati Bima menghitung mundur. Tepat dihitungan terakhir, ponselnya menyala. Wajah Aby memenuhi layar ponselnya. Sudut bibir Bima terangkat membentuk senyum miring. Ingin sedikit bermain-main dengan pacarnya, Bima sengaja menolak panggilan itu. Sampai panggilan kelima pun ia tolak.
Usaha Aby tidak berhenti sampai disitu. Pesan-pesan berdatangan dan yang paling menggelikan adalah pesan suara berisi teriakan cewek itu memanggilnya untuk segera datang. Beberapa detik kemudian Aby menelfonnya kembali. Bima sudah tidak tega pun mengangkat panggilan dari kesayangannya itu.
Sebelum menggeser ikon hijau, Bima menjauhkan ponsel karena dapat ia pastikan Aby akan berteriak. Ia sudah sangat paham dengan kebiasaan cewek berdarah indo full itu.
"Bimaaaa!pacar macam apa lo hah?! Kekamar gue sekarang! Gelap banget."
"sejak kapan lo takut gelap?"
"Gue ini kalo punya pacar jadi penakut. Manja. Pokoknya jadi cewek banget. Biar diurus sama pacar. Buruan kekamar!".
Bukan Aby namanya kalau tidak blak-blakan.,
"Bukannya tadi gue nggak dibolehin masuk kamar lo? Kalau ada butuhnya doang nyuruh gue kesana."
"nggak gitu,ma."
"terus apa? Udahlah sendirian aja disitu. Paling-paling nanti kalau ada maling lo di bacok doang. Eh,tapi denger-denger rumah lo bekas tanah kuburan ya,by?"
"Bimaaaaaaaaaaaa! Lo kok nakut-nakutin gue,sih?!"
"udah dulu,ya. Gue mau ti-----"
"ke kamar gue sekarang atau gue telfon Bintang suruh ke kamar gu---"
"Sialan lo, Aby! Buka jendelanya, gue naik ke kamar lo sekarang. Buruan!"
Setelah memutus panggilan, Bima pun langsung berlari. Dengan modal pencahayaan dari ponselnya, cowok itu menaiki tangga dengan tergesa-gesa namun tetap memperhatikan keamanannya. Bima tidak mau cerobah dan berakhir konyol.
Setelah mendarat dengan selamat dibalkon, cowok itu langsung menerobos masuk dan menubruk Aby yang berdiri di depan jendela kamar. Beruntung jendela kamar Aby dekat ranjang, jadi tubrukan itu membuatnya dan Aby berakhir disana dengan posisi Bima diatas.
Terbebani dengan berat tubuh Bima, Aby mendorongnya agar menyingkir. Merebut ponsel ditangan cowok itu, Aby bangkit untuk menutup kembali jendela kamarnya. "kok cuma rumah gue doang yang listriknya mati?" heran Aby saat baru tersadar jika penerangan tetangga sekitar termasuk rumah Bima masih menyala.
"Konsleting kali." jawab Bima asal lalu mengangkat kucing yang berbaring di sisi kirinya. Kini kucing itu berbaring di atas perut Bima. Mungkin karena tidak nyaman, anak pungutnya berpindah dengan sendirinya dan memilih membaringkan tubuh berisinya di dada Bima. Kepalanya mendusel di sekitar ceruk leher cowok itu, mencari kehangatan di sana.
"gatel banget sih,jadi cewek!" omel Aby pada Anjing. Belum sampai telapak tangannya menabok pantat Anjing, Bima sudah terlebih dahulu menepis tangannya.
"Jangan kebiasaan main tangan sama anak!"
"Anak pungut jangan sering dibelain,Ma. Ngelunjak ntar, makin nggak tau diri." Aby duduk bersandar dikepala ranjang. Bungkus cemilan yang dicuri dari rumah Bima, diraih. Ia berusaha membuka itu namun kesulitan. Bima yang melihatnya langsung merebut bungkus itu dan membuka dengan mudahnya tanpa diminta.
"nggak usah cemburu sama anak sendiri." pesan Bima seraya mengangsurkan cemilan pada Aby.
"Siapa juga yang cemburu? Kalau Anjing dibuang aja gimana,Ma? Nggak guna tuh anak, cuma jadi beban orangtua. Lama-lama gue kena mental breakdance juga nih."
Aby nyengir lebar saat Bima menatap dengan sorot mata yang berbeda. Khawatir juga jika sindrom soang Bima itu kambuh, Aby berinisiatif mematikan senter pada ponsel Bima.
"lo pikir gue nggak bisa macem-macemin lo kalau gelap?" ejek Bima.
"Ma,istigfar yuk. Bisa kok, yakin gue lo bisa istigfar. Pelan-pelan aja nggak usah buru-buru. Yuk bisa yuk, astagfirullah. Dicoba dulu,Ma."
Bima tidak merespon. Cowok itu sibuk mengelus bulu halus kucing yang sudah mendengkur di dadanya.
"Masih kepengen seblak sama boba?" tanya Bima memelankan suaranya agar tidak mengusik tidur kucing Aby.
"pengen lah. Pake nanya lagi,lo. Nggak peka banget jadi pacar."
"ganti baju dulu, yang tertutup. Badan model sendal jepit doang pake dipamerin. Nggak ada yang horny liat lo." ucap Bima lalu mengalihkan pandangan dari Aby yang menggunakan hotpants dan kaus putih lengan pendek. Pakaian yang membuat Bima sangat gerah dan beberapa kali membasahi bibirnya yang terasa kering.
"tapi beliin seblak yang spesial."
"buruan ganti. Ntar apapun yang lo mau gue beliin."
"sombong amat. Kayak punya duit banyak aja. Untung pacar lo ini merakyat,Ma. Cuma minta seblak ama boba doang. Kelar hidup lo kalau lo pacaran sama cewek lain."
" di luar sana banyak cewek yang nggak pernah minta apapun ke pacarnya. Jangan ngerasa istimewa. Masih banyak yang jauh lebih merakyat dari pada lo."
Kesal dengan Bima, Aby pun meraih tangan cowok itu. Tanpa permisi, ia menggigit tangan Bima sebelum melompat dari ranjang membawa ponsel Bima.
"Awas lo, tunggu aja pembalasan dari gue. Leher lo udah gue tandain." ujar Bima.
...*****...
Aby menyebut pertemuan tidak sengajanya dengan Keyla adalah sebuah kebetulan yang indah. Tadi, saat baru saja turun dari motor, tiba-tiba Keyla turun dari mobil yang terparkir disebelah motor Bima. Sapaan ramah darinya berhasil menyelamatkan isi dompet Bima karena cowok itu tidak perlu mengeluarkan uang. Ayah Keyla yang sangat baik hati itu akan membayar semuanya. Aby bahkan diberi kebebasan untuk memesan apapun yang dimau setelah Keyla menceritakan sedikit tentangnya dan menyebutnya sebagai teman.
"jadi Bima ini yang sering Key ceritain ke papa? Yang banyak tolong key kalau disekolah?" tanya rehan--ayah Keyla.
Keyla mengangguk membuat Rehan tersenyum hangat ke arah Bima. "Bima, om mau bilang makasih sama kamu karena udah nolongin keyla. Selama ini om nggak tau key dapat perlakuan buruk dari teman-temannya. Sekali lagi terimakasih."
"sama-sama,om. Sekarang om nggak perlu khawatir sama Keyla. Saya sendiri yang bakal pastiin kalau mereka nggak akan ganggu Keyla lagi."
Aby yang lebih tertarik dengan makanan di hadapannya, tidak menyimak obrolan Bima dengan ayahnya Keyla. Aby sibuk menyantap satu per satu hidangan yang sudah dipesan. Meskipun jenis hidangan miliknya sama dengan milik Bima, tetapi Aby penasaran dengan rasa milik cowok itu. Kalau ternyata lebih enak, maka akan ditukar dengannya.
"kalau Aby berarti nggak satu sekolah, ya sama Keyla?"
"nggak om." jawab Aby seraya menukar gelas minumannya yang tersisa setengah dengan gelas minum Bima yang masih terlihat utuh.
Bima yang melihatnya hanya bisa menghela nafas lalu memindahkan beberapa makanan di piringnya ke piring Aby karena ia tahu Aby menyukai itu.
"itu juga dong." pinta Aby yang tidak puas dengan apa yang Bima berikan padanya. Ia ingin lebih.
"Aby kalau mau pesen lagi, pesen aja jangan malu-malu." ujar Rehan yang melihat gerak-gerik Aby sedari tadi.
Sebelum Aby menjawab yang berakhir membuatnya malu, Bima menendang tulang kering cewek itu untuk memberi peringatan. Lewat bahasa tubuhnya, Bima memberikan ancaman. Beruntung otak Aby mampu menangkap sinyal-sinyal dari Bima.
"ini juga udah cukup kok, makasih ya om."
Keyla sedari tadi diam, hanya bisa menatap Aby dengan penuh kekaguman. Sesekali ia juga memperhatikan Bima yang terus menatap penuh dampa pada Aby yang terlihat sederhana, penuh kebebasan, dan banyak keceriaan. Tiba-tiba saja, timbul hasrat ingin seperti Aby dan segala kebahagiaannya yang sangat sederhana. Tapi, Keyla paham. Selamanya ia tidak akan bisa seperti itu. Ia tidak bisa seterbuka Aby pada orang lain.
"Kak Aby tinggal dimana? Boleh nggak aku main? Tanya Keyla setelah menelan kunyahan terakhirnya.
"ntar gue shareloc deh. Rumah gue deket rumah Bima. Main aja, tapi jangan lupa bawain jajan."
"pa, bolehkan kalau Aku main besok kerumah kak Aby?" tanya Keyla meminta izin.
"pasti dibolehin dong. Besok minggu,kan? Main aja. Mau papa yang anter atau sama supir aja?" tawar Rehan.
"sama supir aja nggak papa, Pa. Kan besok papa ada janji sama mama. Papa lupa,ya?"
Rehan menepuk dahinya. " oh iya,papa lupa,Key. Untung aja Keyla ingetin. Kalau nggak, bisa ngambek nih mamanya Keyla sama papa. Iya udah besok Keyla dianter sopir. Aby, besok titip Keyla,ya."
"siap om."
Dari percakapan tadi yang ia dengar, sepertinya Keyla adalah salah satu anak yang beruntung tumbuh dan dicintai oleh keluarga yang Utuh. Andai dulu sebelum dilahirkan, Aby bisa memilih. Pasti ia akan memilih terlahir ditengah-tengah keluarga Keyla yang penuh kasih.
Tiba-tiba, ponsel Rehan berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari calon istrinya. Ia pun menjauh untuk mengangkat panggilan. Tak sampai lima menit, ia kembali dan langsung mengajak putri semata wayangnya untuk pulang.
"Key, pulang yuk! Mama nungguin dirumah. Nggak papa,kan, kalau pulangkya cepet? Besok main lagi sama Aby, sama Bima juga."
"nggak papa,Pa. Kasihan Mama nungguin dirumah sendirian."
Diwakilkan oleh Rehan, pria itu berpamitan pada Bima dan Aby setelah ia membayar semua makanan mereka.
"salam buat nyokap lo, ya." ujar Aby saat Keyla beranjak dari kursinya.
"Iya kak. Kalau mau main kerumah, kabar-kabar ya. Biar aku bisa minta tolong mama masak yang banyak buat kakak. Masakan mama paling enak,loh."
"Sip! Hati-hati dijalan."
Interaksi Aby dan Keyla sedari tadi membuat Bima tidak tenang. Ada rasa takut yang membuatnya terus berprasangka buruk pada takdir yang mungkin tidak berpihak pada kebahagiaan Aby. Sangat ingin rasanya Bima memberi tahu perihal yang ia tahu pada Aby, tapi...Bima sangat bingung bagaimana caranya ia menjelaskannya pada Aby tanpa membuat Aby terluka.
"Bima?!"
"Aby menggeleng. "ada bensin nggak? Pengen jalan-jalan."
"karena tadi dibayarin sama bokapnya Keyla, duit seblak sama boba bisa buat beli bensin."
"lo open BO dong, Ma. Biar lo banyak duitnya. Kan gue juga ikutan seneng, jadi bisa minta ini itu. Perlu gue bantuin promosi?"
"untung di tempat umum,Lo selamat."
...*****...
Meskipun hari libur, Bima tetap saja sibuk. OSIS dan Bebetapa ekstra kurikuler yang cowok itu ikuti memang menyita banyak waktunya. Pagi-pagi Bima sudah memanjat tangga menuju balkon dan menerobos masuk ke kamar Aby. Kedatangannya disambut oleh Aby yang masih tidur nyenyak bersama Anjing.
"kebo! Bangun udah siang! Bagun woy! Bangun!" Bima memukul keras ranjang Aby dengan kayu rotan setelah kucing dibangunkan.
Aby yang terkejut dengan cara Bima membangunkannya pun membuka mata dengan terpaksa. Cewek itu bengong cukup lama mengumpulkan nyawanya.
"mandi trus sarapan dirumah gue."
"lauknya apa?" baru setelah Bima menyinggung soal makanan, nyawa Aby terkumpul sempurna.
"ntar juga lo tau. Bau banget badan lo, mandi sana. Oh iya, gue ada latihan futsal. Gue tinggal,ya. Ini buat jajan. Jangan boros-boros , udah tipis banget duit gue." ujar Bima seraya meninggalkan uang seratus ribu di meja belajar Aby.
Aby turun dari ranjang dan meraih uang itu untuk dikembalikan pada pemiliknya. "semalem gue liat. Saldo lo pas narik kemaren tipis banget, lo simpan aja. Gue nggak pengen jajan kok."
"lo aja yang nyimpen. Gue nggak butuh-butuh banget. Lo kan yang sering mau ini itu."
"Ya tapi gue nggak enak sama lo udah kere banget."
"Hari ini kak megan gajian, ntar malem kakak gue pasti transfer."
Tidak tahu harus mengatakan apa, Aby pun memeluk erat tubuh Bima. "makasih,ya Ma. Lo udah urus dan berbagi sama gue dari kecil."
"dih baperan banget jadi cewek, buruan sono mandi. Anjing jangan lupa diurusin. Gue mau berangkat sekarang."
Aby mengurai pelukannya. "Ma."
"Apa lagi?"
"Gue udah hafal ditel lengkap temen lo itu. Kasih tau dong alamat gubuk reyotnya. Pengen ketemu bokapnya. Biar disawer, manatauan bisa diangkat jadi menantu, kan? Gini-gini gue cakep loh, sexy juga montok."
"Mau gue banting?" geram Bima. Ia sudah berkali-kali memperingatkan Aby untuk tidak mengikuti apalagi stalking Arion di instagram. Tapi, jiwa kegatelan dan matre Aby sangat meronta-ronta membuat cewek itu tidak mau mendengar ucapannya. Aby masih saja memantau dan memaksa diri ingin bertemu dengan Arion. Walaupun yang Aby incar hanya uang, tapi Bima tetap saja tidak suka.
"ya makanya lo open BO sana biar banyak uang, jadi gue nggak nyari yang lain."
"Mandi!"
"iya-iya, galak banget jadi pacar."
Baru hendak berlari kekamar mandi, Bima menarik tudung hoodie-nya. "Kasurnya diberesin dulu!"
"nggak mau, nanti juga berantakan lagi."
"nantangin gue?"
"iya-iya." erang Aby lalu merapikan tempat tidurnya sebelum Bima mengamuk.
...*****...
Sadar jika ia hanya memegang uang seratus ribu, itupun pemberian Bima, Aby tidak membeli apapun saat berkeliling di mall bersama Keyla. Ia hanya menemani Keyla yang katanya ingin membeli sepatu futsal.
"Kak Aby?"
"Ya. Udah nemu?" tanya Aby seraya meletakkan kembali sepatu futsal yang baru saja ia lihat.
"Aku lupa kalau aku nggak tau ukurannya."
"emangnya buat siapa?"
"Kak Bima. Tadi papa nitip beliin hadiah kecil-kecilan buat kak Bima. Tanda terimakasih. Kalau kak Aby tau nggak ukuran sepatunya kak Bima?"
Aby mengangguk antusias. Ia pun mengambil sepatu yang sempat ia lihat tadi. Sepatu yang sangat sesuai dengan selera Bima. Ukurannya pun cocok dengan cowok itu. "ini, gue jamin Bima bakalan suka."
"Pilihan kak Aby bagus. Aku ambil ini aja,ya."
"Gue tau persis selera Bima. Ayo bayar! Ntar gue bantu bungkusin."
"kak Aby nggak mau beli sesuatu?"
"nggak punya duit. Lagian nggak ada yang pengen dibeli juga. Lo ada yang mau dibeli lagi?"
Keyla menggeleng. "habis ini kita mau ngapain kak?"
"lo ada duit kan? Traktir makan dong!"
"yang pedes-pedes?"
Aby mengangguk semangat lalu merangkul pundak Keyla. "ayo tanding makan pedes!" ajak Aby yang disetujui oleh Keyla.
...*****...
Aby baru saja sampai dirumah pukul 16.30 dalam keadaan kekeyangan setelah ditraktir banyak makanan oleh Keyla. Suasana hatinya sangat baik setelah makan banyak. Aby pun kerumah Bima untuk menjemput anak pungutnya yang ia titipkan pada ART di rumah cowok itu.
"makasih,ya bi, udah jagain anak pungut."
"sama-sama, mbak Aby udah makan?" tanya Bi Ratih.
"udah Bi. Habis mukbang bakso lava gede banget. Nih perutku gede,kan? Isinya ada bakso." Aby membusungkan perutnya yang tengah diusap-usap lalu meraih Anjing kedalam gendongannya.
Gadis remaja itu pamit pulang setelah itu bersenandung kecil menuju rumahnya. Aby mulai was-was saat baru keluar dari pintu gerbang rumah Bima, ia melihat mobil sang ayah keluar dari pekarangan rumahnya. Ada apa? Tanya Aby dalam hati. Ia melangkah penuh keraguan, memasuki rumahnya. Detak jantung gadis itu menggila saat ada tiga koper besar diruang tamu.
"Ma?" panggilnya membuat Ayu tengah duduk diatas sofa langsung bangkit berjalan mendekatinya. Aby menurunkan Anjing membiarkan hewan itu bermain sendiri.
"Aby dari mana aja? Mama nungguin dari tadi."
"Tadi papa kesini? Aku lihat mobil papa."
"Iya. Tapi buru-buru jadi nggak nungguin Aby dulu."
Aby menatap kearah tiga koper di hadapannya. "Mama mau pergi juga kayak papa,ya?"
"Aby, Mama nggak ninggalin Aby. Mama ajak Aby kok."
"Nggak perlu. Kalau Mama mau pergi, pergi aja."
"Aby dengerin mama sebentar. Mama sama Papa udah sepakat untuk jual rumah ini dan rumah ini udah kejual. Mau nggak mau kita harus pergi karena ini bukan punya kita lagi. Aby ikut mama,ya?"
"Di-jual?" Aby tertawa lepas menertawakan takdir yang lagi-lagi mempermainkannya. Tawanya lenyap begitu saja saat ekspresi sebenarnya muncul. "Belum cukup,ya Ma? Ini sakit Ma. Kalau mama sama papa nggak bisa bikin aku bahagia, seenggaknya jangan bikin aku menderita,Ma."
Ayu meraih pundak putrinya. "Aby jangan sedih. Kita bakal tinggal dirumah baru yang jauh lebih bagus dari ini. Nanti kamar Aby luas dan---"
"Bukan itu yang aku mau Ma!" teriak Aby marah.
"Aby--"
"Mama nggak ngerti apa yang aku mau!"
"Mama berusaha ngasih yang terbaik untuk kamu sayang."
"Terbaik? HAHAHA. Aku sampai hancur begini mama bilang terbaik?" jerit Aby tak habis fikir. Cewek itu melempar vas bunga kearah lemari kaca hingga bunyi pecahan itu terdengar.
Ayu menutup telinga saat Aby melakukan itu. Ia langsung menahan tubuh putrinya yang hendak melempar vas bunga yang lain.
"Aby. Mama mohon....jangan kayak gini,nak."
"Aku nggak baik-baik aja,Ma. Aku rasanya udah gila!" teriak Aby sedetik kemudian suara raungan keras itu terdengar saat tubuhnya berakhir dilantai.
...*****...
...Tbc...
...see you next episode...