
Bima terjaga pukul 00:58.
Kepalanya menoleh ke samping mendapati anjing tidur disampingnya. Sedikit mengecewakan karena ia sudah berharap banyak jika ibu angkat dari hewan itulah yang mengisi sisi dingin di sampingnya. Cowok itu bangkit. Memaksa membuka mata kantuknya untuk terbuka sempurna, kepalanya bergerak mengamati sekitar. Melihat tubuh Aby berbungkus selimut di sofa,Bima menurunkan kedua kakinya.
"Bisa-bisanya gue tergila-gila sama cewek gak jelas ini."
"Goblok, gak punya etika, stres, bar-bar, ceroboh, dan gak tau diri."
Bima mencibir soal seleranya. Untuk mendapatkan perempuan yang lebih dari Aby, bukanlah perihal sulit untuk Bima. Bisa-bisanya ia memilih Aby yang sangat jauh dari kata ideal sebagai pasangan.
Malas memikirkan seleranya yang aneh, cowok itu membopong Aby untuk dibaringkan di ranjang.
"Jagain mama,njing. Papa mau pulang." Ucap Bima seraya mengelus bulu kucing yang meringkuh disebelah Aby.
Gemas dengan kucing itu, Bima pun mencium kening pemiliknya yang ternyata jauh lebih menggemaskan saat terlelap. Senyum miringnya terbit, mengejek dirinya yang munafik.
"sleep tight, mamanya anjing." Bisik Bima setelah menyelimuti Aby sebatas dada.
Sebelum meninggalkan kamar cewek itu, Bima memastikan jendela telah dikunci. Pasalnya Aby itu sangat ceroboh. dan benar saja, jendela itu belum terkunci Bima tidak bisa memastikan seberapa kacau hidup Aby jika tanpa campur tangannya. Takut akan kekacauan itulah yang membuat Bima berat berjauhan dengan Aby. Sekalipun berada di dekat cewek itu hanyalah bencana untuknya.
Sudah yakin jika Aby aman ditingal sendirian, Bima pulang ke rumah.
"Kirain mau nginap di rumah Aby." ucap Tari setelah membuka pintu rumah.
"Mama kok belum tidur?" tanya Bima mengalihkan topik. Cowok itu masuk berjalan menuju ruang keluarga. Teringat akan siaran langsung pertandingan club sepak bola kebanggaanya, bima langsung menyalakan televisi. Niat akan istirahatnya terurung, ada yang lebih menarik.
"Maa" panggil Bima setelah bersila di atas sofa sambil memeluk bantal.
"Mau dibikinin apa?"
"ngerepotin mama gak?"
"gak ada yang namanya ngerepotin kalau buat kamu."
"Pengen wedang jahe,ma. Dingin kayaknya enak buat nonton bola."
Tari tidak menjawab. Perempuan itu langsung masuk ke kamar tamu lalu keluar sambil membawa selimut. Ia melangkah mendekati Bima. "Mama bikin wedang jahe, kamu tunggu sebentar ya. selimutnya dipake."
Bima menganggung lalu membungkus tubuhnya dengan selimut setelah mengucapkan terimakasih. Tidak menunggu lama, ibunya kembali dengan membawa 2 cangkir.
"Aby sendirian dirumah?" Tanya Tari membuka percakapan. Satu wedang jahenya langsung ia berikan pada anak bungsunya.
"Om Ali sama tante Ayu emang jarang pulang."
"Kenapa kamu gak nemenin Aby, ma? Apa gak kasihan?"
"Jangan pernah kasihan sama Aby ma,dia gak suka."
"Kamu jagain Aby dengan baik kan,ma? Mama tau, Aby sebenernya itu baik. Mama paham kok Aby bandel atau bikin ulah gitu karna dia pengen di perhatiin sama orang disekitar dia,apa lagi sama orangtuanya."
Bima meletakkan cangkirnya diatas meja. "Aby ngadu ke mama soal sikap aku?"
"Kamu kan tau sendiri,Aby anaknya kayak gimana. Gak bakalan mungkin Aby ngadu soal kamu. Mama tau kok kamu suka ngomong kasar ke Aby, mama denger sendiri."
"Aku gak bakalan ngomong kasar kalau dianya gak ngeselin, ma. Mama tenang aja, Aby gak bakalan masukin ke hati omongan aku kok."
Tari memangkas jaraknya dengan si bungsu. Tangannya mengusap kepala putranya yang asyik menyimak jalannya pertandingan tim kesebelasan jagoannya.
"Tapi gak seharusnya kamu begitu ke Aby, sayang. mungkin aja menurut kamu itu bercanda, jangan sampai bercandanya kamu itu bikin orang sakit hati. Dari yang mama lihat, Aby gak sekuat itu. Dia cuma dipaksa kuat sama keadaan. Mama khawatir banget kalau kata-kata kamu bikin Aby jadi kenapa-kenapa. Anak kayak Aby itu harusnya di rangkul, di dengar baik-baik, lalu di dukung."
"Tapi aku gak pernah ngomong yang macem-macem sampe dia down."
"Aby mungkin belum sepintar kamu,ma. Mama minta tolong banget sama kamu, jangan sebut Aby itu goblok, bodoh atau semacamnya. Kata-kata kayak gitu yang nanti bakalan bikin Aby minder sama kamu. Ntar, Aby jadi gak percaya diri lagi gimana?"
Bima bungkam. Ia tidak punya alasan untuk membenarkan perbuatannya selama ini. "Aku bakalan coba buat gak ngomong kasar lagi ke Aby."
"Mama seneng dengernya, jagain Aby ya,ma."
...*****...
"Punya anak gadis cuma jadi beban. Mamanya sibuk beres-beres, kamunya malah pecicilan. Mau jadi apa kamu,njing."
"Istigfar njing istigfar. Surga di bawah telapak kaki ibumu. mama sama ibu artinya sama,njing. kamu jangan protes ya."
"Baru satu hari jadi anak pungut, belagunya udah kebangetan. Gayanya udah kayak paling iya."
"Bisa-bisanya kamu jadiin mama babu,anjing."
Aby yang kini tengah menyapu ruang tengah, terus mengomeli kucingnya yang asik bermain dengan bola kecil. Cewek itu sudah berkacak pinggang di hadapan sang anak. "Anjing, kamu dengerin mama ngomel gak sih?"
Seolah mengerti, Bentakan Aby mampu membuat kucing itu terdiam. Ekornya bergerak pelan saat kepalanya menunduk. Saat mendengar langkah semakin mendekat, kucing itu mengangkat kepalanya. Melihat siapa orangnya, Ia berlari memainkan kepala dan ekornya di kaki orang itu.
"Ngadu terosss, kalau di omelin larinya ke papa biar dibelain." cibir Aby saat Anjing bersembunyi di belakang kaki Bima yang baru saja datang.
"Waktu dirumah sakit, lo yakin otaknya gak ketinggalan?" Tanya Bima.
Aby sudah siap ingin memukul Bima dengan sapu di tangannya namun urung karna ada anak pungutnya. KDRT tidak baik di pertontonkan di depan anak. Aby khawatir jika anak pungutnya sampai berfikir jika dirinya akan menjadi korban broken home.
"Untung ada Anjing. kalau gak udah gue pukulin."
selepas memberi kecupan pada kucing Aby, Bima menurunkannya dari gendongan. "Selesai nyapu susulin gue kedapur."
"Ngapain?"
"Nyabu."
Aby mendengus lalu melanjutkan kegiatannya. Takut Bima mengamuk karna menunggu terlalu lama. Aby pun menyapu sambil berlari.
"Cepet banget nyapunya,bersih?" Tanya Bima pada Aby yang baru saja datang.
"Pake jurus rahasia.Menurut gue sih udah bersih, tapi kalo menurut lo kurang. ya, lo sapu lagi aja.
Bima menarik tangan Aby untuk melihat apa yang sudah ia siapkan diatas meja. Pelajaran pertama: Mengenal bumbu dapur. Bima sengaja memposisikan tubuh jangkungnya di belakang tubuh Aby, tentu saja bukan untuk modus. Melainkan untuk memastikan Aby tidak kabur.
"Gue udah kasih label nama di setiap kotak bumbu, pastiin lo bisa bedain semuanya. Lo gak perlu jago masak semua masakan. seenggaknya, lo bisa masak makanan apa yang lo suka."
Aby menoleh kesamping hingga ujung hidungnya nyaris menyentuh pipi Bima yang begitu dekat dengan wajahnya. Hampir saja Aby salah fokus melihat mata Bima dengan jarak sedekat ini. "Lo gak mau masakin buat gue lagi,ma? Bukannya kita temen? temen harus saling membantu,kan?"
"Mulai sekarang lo harus belajar buat ngurus diri lo sendiri karena gak setiap saat lo bisa andelin gue. soal belajar, gue udah susun jadwal lo biar lebih teratur. Gue pengen lo biar lebih disiplin dan semoga langkah gue ini bisa mengatasi kegoblokan dan memperbaiki kualitas lo."
"Ma-----"
"Gak ada makan sebelum belajar, gak ada traktiran makanan atau minuman apapun kalo ulangan lo masih remedi. gak ada ngemil kalo lo belum setor hafalan ke gue. materi hafalan bakalan gue kasih tau setiap hari."
"Bima gu----"
"Mohon kerja samanya, orangtua lo berharap banyak sama gue soal lo dan gue juga gak mau ngecewain mereka yang udah ngasih kepercayaan."
"Gue kasih waktu lima menit buat lo kenalan dama bumbu dapur. Gue mau nyiapan bahan yang mau kita masak."
Apa Bima fikir akan semudah itu untuk menyuruh Aby untuk menuruti perkatannya? Tentu saja tidak. Bukannya melakukan apa yang Bima minta, Aby malahan duduk lalu membuka toples kerupuk di meja makan. Makan kerupuk jauh lebih enak daripada mengenal bumbu dapur.
"Lo bebas minta apapun ke gue kalo lo berhasil." ucap Bima.
"Gak tertarik. lo pikir, cuma lo doang yang bisa nyenengin gue?" cibir Aby. Suasana hati yang memburuk membuat Aby bangkit.
"Aby mau kemana lo?"
...*****...
"Bentar pelan-pelan aja ceritanya biar gue paham. Jadi orang yang lo maksud itu Bima? Cowok yang waktu itu nungguin lo di rumah sakit?" Tanya Bintang.
Aby mengangguk cepat.
"Sebenernya peran Bima itu baby sister buat lo?Atau mungkin lebih dari itu? Tapi belakangan ini dia suka semena-mena sama lo,begitu? Bintang mencoba untuk merangkum cerita panjang Aby yang baru saja cewek itu bagi dengannya. Ngomong-ngomong Aby dan Bintang tidak ada janji temu. Mereka bertemu secara tidak sengaja di kedai bakso yang katanya langganan Aby.
"Bima itu stres, kasar juga, yang paling parahnya suka julid mulutnya."
"Sorry nih kalo gak enak, mungkin Bima begitu karna lo nya aja. Lo tau sendiri lah sikap lo gimana, gak semua orang bakalan bisa nerima kelakuan unik lo ini." terang Bintang dengan bahasa sehalus mungkin agar tak menyakiti perasaan lawan bicaranya.
"Iya juga sih. tau ah,males gue ngomongin Bima, bikin mood gue makin anjlok. Btw ini gue ditraktir kan?"
Tawa Bintang mengudara. "Kenapa bisa Aby selucu ini sih." pikirnya.
"SIP, abis ini mau kemana? langsung pulang?"
"Belum ada rencana, sih. ajakin jalan dong, katanya temen. hehehe."
"Mau kemana?"
"Terserah sih,kan gue cewek. Tapi, lo bawa uang banyak, kan? Gue jajannya banyak. kalo jalan sama lo, berarti lo yang jajanin. yakali gue jajan sendiri. harga diri lopasti tersakiti."
"Pasti. Kasih tau gue lo lagi kepengen apa, biar gue tau mau ajak lo kemana."
"Kayaknya dengerin suara ombak enak kali ya, main pasir. Trus, makan seafood. sama foto-foto. Jadi lo tau kita mau kemana?"
"Buruan habisin. Kita langsung kesana."
...*****...
Ekspresi bahagia pada wajah Aby sudah sangat jelas mengatakan bahwa ia sangat senang kali ini. Bintang mampu mewujudkan ekspetasinya dengan sempurna. Aby berlari, tidak sabar untuk menyapa ombak.
"Bintang! sini!" teriak Aby yang kini tengah berdiri menanti ombak menerjang tubuhnya. Itu adalah kegiatan yang sangat tidak boleh dilewatkan saat berada di pantai.
"Suka?"
"Banget. makasih,ya!"
reflek Bintang menarik lengan Aby saat melihat ombak besar mampu menyeret cewek itu.
"Katanya suka foto,sini gue fotoin."
"Mau banget!" jawab Aby cepat lalu memberikan ponselnya pada Bintang.
"Bima telfon." beritahu Bintang.
" Reject aja, ganggu. palingan cuma mau ngomel. Fokus fotoin gue, mau gue upload di sosmed."
Aby pun mulai bergaya saat Bintang mulai menghitung mundur memberi aba-aba. Ada banyak gaya yang di abadikan. Tentu saja seorang Aby tidak akan mati kehabisan gaya di depan kamera. Entah memang gayanya yang lucu atau Bintangnya saja kelebihan humor, setiap kali ia menunjukkan gaya baru, diyakini Bintang akan tertawa lepas.
"Bikin foto aib bareng dong,ntang." ajak Aby karena sedari tadi hanya potret dirinya sajalah yang diambil.
"Bima telfon lagi."
"Biarin aja lah, gak penting banget. Mending kita bikin foto aib aja."
Aby dan Bintang bergaya sekonyol mungkin dan keduanya melepas tawa begitu melihat hasilnya. Terus tertawa,Bintang saja sampai lupa caranya berdiri. Aby yang melihat Bintang ambruk dan diterjang ombang, semakin mengencangkan tawanya. Saat berusaha menolong, Bintang justru dengan tak sadar dirinya menarik Aby hingga terjatuh disebelah cowok itu.
"Kurang ajar!" teriak Aby disambut tawa oleh Bintang.
Saat membaca gerakan Aby yang hendak menyerangnya, Bintang cepat bangkit dan berlari menghindar. Teriakan dari Aby tidak membuatnya berhenti. Justru ia semakin gencar menantang Aby.
Entah sudah berapa lama mereka saling mengejar, rasa senang sekaligus capek sangat memuncah sangat mendominasi. kini Aby dan Bintang memilih duduk diatas pasir mengatur napas mereka yang tak teratur. Bintang lah terlebih dahulu bangkit. Tangannya terulur dan langsung di sambut tangan Aby. Cowok itu mengajak Aby makan siang dan berjanji akan kembali bermain sesudah itu.
"Es kelapa muda ya,ntang. Makanannya samain aja kayak punya lo."
"Oke, semua seafood lo aman,kan?"
"Aman."
Sembari menunggu pesananya datang, Aby mengajak Bintang untuk kembali melihat hasil foto mereka tadi. Mendengar tawa Bintang, Aby merasa jika Bintanglah yang lebih cocok dijadikan teman, bukan Bima. Sepertinya Bintang satu frekuensi dengannya. Tidak hanya itu, Bintang juga tidak membuatnya merasa berkecil hati. Tidak ada tutur kata cowok itu yang menyakitinya.
Braaak.
Baik Aby maupun Bintang dikejutkan oleh paper bag yang dilempar ke atas meja. Aby menoleh kesamping, mendapati Bima berdiri dengan ekspresi yang tidak bisa Aby tebak. Bima tidak sendirian, cowok itu bersama anak mereka. Ngomong-ngomong bagaimana Bima bisa tau keberadaannya? ah apasih yang tidak diketahui oleh Bima?
"Bima?Ngapain lo disini? kalau cuma sebatas jalanin tugas, mending pulang aja. Gak perlu keliatan sepeduli ini karena nyatanya lo belum bener-bener peduli sama gue." ucap Aby.
Jujur saja pernyataan yang menyangkut pautkan tindakan cowok itu dengan tugas dari orangtuanya, sangat mengganggu. Aby sudah salah besar selama ini. Ia mengira, Bima memang peduli padanya. Tapi nyatanya......hanya sebatas untuk memenuhi tanggungjawab.
Bima menatap Aby dengan ekspresi yang sama. Aby tidak tahu,jika selama ini Bima tidak pernah mendapatkan uang sepeserpun dari orangtua cewek itu. Segala bentuk kepeduliaan murni atas kehendaknya sendiri. Bima yang pengecut untuk jujur soal kepeduliannya, memilih berbohong soal bayaran. Setidaknya dengan itu, kepeduliannya tidak kentara.
"Gue cuma anterin baju sama obat lo. saran aja, jangan kelamaan disini dan segera ganti baju. Obat jangan lupa diminum. Permisi." setelah mengatakan itu, Bima pergi.
...*****...
...Tbc...
...maaf ya, ceritanya banyak diperbarui...
...semoga suka...
...kasih tau aku juga dong menurut kalian Bima kenapa?...
...Cocokan Aby sama Bima apa Bintang?...
...See u next episode...