
Koridor kelas X heboh dengan kemunculan ketua OSIS sekaligus murid kebanggaan SMA Harapan Bangsa di jam istirahat kedua. Cowok itu melangkah penuh wibawa. Tubuh tegap, tinggi semampai, serta pembawaannya yang ramah membuat murid kelas X semakin mengidolakan sosoknya. Bima selalu membalas sapaan adik kelasnya dengan ramah untuk menjaga citra baiknya sekaligus memberikan contoh untuk dijadikan panutan dari mereka.
Kakinya berhenti didepan pintu kelas X.2 ia memastikan sekali lagi jika tujuan tidak salah.
"Permisi." ujar Bima sopan sebelum menerobos dua cewek yang berdiri diambang pintu. Cowok jakun itu mengedarkan pandangan. Begitu sepasang matanya menangkap sosok yang dicari, kakinya diayunkan menuju meja di sudut belakang.
Tentu saja gerak gerik Bima terus diperhatikan oleh penghuni kelas X.2. Mereka mulai menerka-nerka hubungan kakak kelasnya dengan cewek yang selalu duduk sendirian dipojok kelas. Mungkin setelah ini, berita kedekatan Bima dengan adik kelasnya akan menggemparkan seantero sekolah.
"....Keyla?"
Mendengar namanya dipanggil, Keyla tersentak kaget. Lebih kaget lagi saat tahu siapa yang memanggilnya. Cewek itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Teman-temannya menatap kearah gadis remaja itu. Tatapan yang membuat Keyla merasa terancam.
"Kak Bima kenapa kesini?" dari suaranya, jelas sekali ia sangat keberatan dengan kedatangan cowok itu.
Bima tersenyum hangat lalu menarik kursi kosong dimeja sebelah untuk ia duduki. Ia membawa kursi itu sedekat mungkin dengan kursi Keyla.
"Kak..." jemari Keyla membuat gerakan cemas. Ia ingin mengusir Bima pergi sebelum masalah baru datang padanya. Tapi,Keyla tidak tahu bagaimana cara melakukannya.
"gue tau apa yang lo khawatirin. Jangan takut. Oh,iya ngomong-ngomong gue mau bilang makasih ke lo karena udah anterin Aby."
"sama-sama kak."
"Bu Fitri minta gue buat nemenin lo ketemu beliau di ruang BK. Btw, lo nggak sibuk,kan? Bisa kesana sekarang?"
"nggak sibuk,kak. Tapi, bisa nggak aku---"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Keyla terdiam saat Bima tiba-tiba meraih tangan cewek itu bersamaan dengan cowok itu bangkit.
"Ayo!" ajak Bima menarik pelan tangan Keyla.
Tidak tahu harus bersikap bagaimana, akhirnya Keyla hanya bisa mengikuti kemauan kakak kelasnya itu. Dengan gerakan canggung ia pun bangkit dan beberapa detik setelahnya genggaman Bima terlepas.
Keyla tidak melepas tatapan dari tangan kanannya yang masih menyisakan rasa hangat bekas genggaman Bima.
"Udah makan siang? Kalau belum kita kekantin dulu aja nggak papa. Habis itu baru nemuin buk Fitri."
"Aku udah----" Keyla meringih saat perutnya berbunyi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
"okey gue udah tau jawabannya. Kita kekantin dulu. Aby tadi cerita kalo lo ngasih semua bekal lo ke dia. Gue bayarin, anggap aja ucapan terimakasih karena lo udah baik banget ke Aby."
"Kak...."
"nggak ada yang perlu lo takutin,key. Nggak akan ada yang berani ngelakuin hal-hal buruk ke lo lagi. Gue pastiin lo baik-baik aja.
Keyla mengangguk dan Bima melangkah mendahului diekori olehnya.
Perhatian seluruh pengunjung kantin kelas X langsung tertuju pada Bima dan Keyla yang muncul bersama. Mereka mulai membicarakan kenapa Bima anak populer bisa bersama Keyla si anak aneh yang selalu menjadi bahan bulan-bulanan kakak kelasnya. Terlebih mereka duduk satu meja, hanya berdua pula. Dari cara berinteraksi, keduanya pun terlihat seperti memiliki kedekatan. Bagaimana Bima memperlakukan Keyla, memperkuat dugaan mereka.
...*****...
Dengan adanya orang-orang baik yang peduli padanya, bukan berarti Aby disukai semua orang. Untuk membuat semua orang suka padanya, adalah hal yang mustahil. Ada saja yang tidak menyukai dan menganggapnya ancaman. Pertemanannya yang dibangun dengan kalangan cowok, terkadang membawa bencana untuknya.
Seperti sekarang ini, saat ia sedang asyik menikmati makan siang dengan paket ayam goreng dihantin sendirian, empat cewek datang mengepungnya. Bahkan salah satu dari mereka langsung mengebrak meja begitu datang.
Apa Aby merasa takut dan terancam? Tentu saja tidak. Bahkan jika jumlah mereka lebih dari itu, Aby tidak akan merasa takut sedikitpun. Itu bukanlah gayanya.
Setelah menelan kunyahannya, Aby meraih gelas es tehnya. Menikmati es tehnya dengan begitu santai, ia memperhatikan empat cewek yang mengepungnya. Bahkan saat ekspresi mereka berubah semakin garang, Aby tidak terintimidasi. Dengan santai cewek itu mengambil es batu dimasukkan kedalam mulut lalu dikunyah pelan.
Salah satu dari mereka mencondongkan badan dan menumpukan kedua tangannya dimeja. "Maksud lo apaan deket-deket Elang? Gue tau ya, kelakuan lo ke cowok gue! Kegatelan lo?! Udah tau Elang punya cewek, masih aja ganjen lo." suaranya yang lantang mampu mengundang seluruh pengunjung kantin.
"Bantu garukin. Bener kata lo, gue gatel!" jawab Aby dengan santai seraya menjulurkan lengan kirinya. Tangannya langsung disingkirkan dengan tepisan kuat.
"jangan lo pikir gue bakalan takut sama lo. Gue nggak peduli. Mau bokap lo donatur, presiden, apapun itu! Gue nggak peduli."
"ya,terus? Ini lagi ngapain,sih? Lo berempat lagi ngelabrak gue? Sok Sangar banget, ya. Padahal aslinya cupu." setelah mengatakan itu, Aby bangkit. Ia mensejajarkan wajahnya dengan cewek dihadapan lalu berkata. "banyak gaya." perkataannya ditutup dengan senyum miring meremehkan.
Hingga beberapa detik kemudian, pundaknya didorong begitu kuat. Tubuh Aby oleng, untung saja sebelum jatuh mengenaskan dilantai, ada tangan dengan sigap menahan tubuh Aby. Bintang.
Awalnya Aby ingin menyerang balik namun lengannya ditahan oleh Bintang. Lewat bahasa tubuh, Bintang memintanya untuk tidak meladeni keempat cewek itu. Aby pun patuh.
"cewek kayak lo nggak pantes hidup. Modal tampang sama kekuasaan orangtua belagu. Ngaca biar lo tau seberapa nggak pantesnya lo hidup. Biang masalah dan cewek gak guna.
Aby hanya menatap cewek dihadapannya dengan tatapan tanpa ekspresi.
Tidak hanya cewek itu yang bersuara. Kini satu temannya pun ikut bersuara. "wajar,sih. Orangtuanya aja nggak bener, anaknya nggak jauh beda lah."
"Anjing!" maki Aby, Detik berikutnya Aby melayangkan tamparan keras pada cewek yang baru saja melibatkan orangtuanya. Tidak berhenti disitu, Aby menendang kaki cewek itu hingga tubuhnya ambruk. Es teh yang tersisa di gelasnya diguyur kewajah cewek yang tengah merintih kesakitan. Mengaitkan dirinya dengan orangtua adalah perbuatan yang tidak termaafkan olehnya.
Bintang berusaha keras untuk menghentikan kebrutalan Aby yang terus menyerang. Hingga akhirnya Aby berhasil dihentikan saat beberapa orang turut membantu. Keributan itu berakhir dengan pemanggilan Aby ke ruang BK.
*****
"Telfon orangtua kamu, suruh datang kesini sekarang juga."
"Kamu denger apa yang ibu minta? Ayo telpon papa dan mamamu. Ibu pengen ngobrol sama mereka. Udah beberapa kali orangtuamu nggak ada yang hadir waktu ada pemanggilan."
"Abyandra tahlia!"
Aby mendongak menatap guru BK-nya yang sejak sejam yang lalu menahan dan mendesaknya untuk menghubungi orangtua Aby. "Saya ada ulangan,buk. Bisa izinin saya ikut ulangan dulu?"
"Jangan banyak alasan kamu,Aby. Sejak kapan kamu peduli soal kayak gitu. Lebih baik, sekarang kamu telfon orangtua mu sekarang juga."
"Saya udah janjiin nilai ulangan delapan puluh ke seseorang. Kasih saya izin buat ikut ulangan, saya udah belajar semalam. Setelah itu, saya janji akan balik ke sini dan nerima hukuman apapun. Nggak perlu libatin orangtua saya,permisi." pungkas Aby lalu bangkit dan melangkah menuju pintu.
"Aby!"
Aby tidak peduli panggilan itu. Ia keluar dari ruangan BK dan langsung berlari menuju kelasnya dilantai dua. Tanpa mengetuk pintu, cewek itu menerobos masuk dan langsung menghadap guru ekonomi dikelasnya.
"maaf pak,saya terlambat. Apa boleh saya ikut ulangannya?"
"tidak ada tambahan waktu buat kamu." ujar guru itu seraya mengangsurkan lembar soal pada Aby.
"Terimakasih banyak,pak."
Lega rasanya. Aby sempat pesimis tadi. Tapi akhirnya ia bisa mengikuti ulangan juga. Cewek itu melangkah menuju tempat duduknya.
"Mau nyontek? Lo nggak bakalan keburu kalo ngerjain semuanya. Udah mepet." tawar bila yang duduk disebelahnya.
"nggak deh, bisa diamuk gue kalo ketahuan nyontek. Btw pinjem pulpennya dong. Pulpen gue nggak ada."
Bila terkekeh pelan lalu meminjamkan pulpennya pada Aby. "Bukannya emang lo nggak pernah punya pulpen,ya? Minjem trus tapi nggak pernah dibalikin."
"kita,kan temen. Pulpen doang,ya kan? Nggak ada apa-apanya dibandingkan pertemanan kita." balas Aby lalu didetik selanjutnya ia mulai mengerjakan 25 soal ulangannya. Meskipun waktu yang dimiliki tidak lebih dari 30 menit, Aby berusaha untuk tetap tenang dan teliti agar tidak ada kesalahan. Ia berambisi mendapat nilai 80 yang akan dipersembahkan sekaligus menempati janjinya pada Bima.
Baru mengerjakan setengah dari jumlah soal, Aby sudah pusing. Ia mulai panik saat ada beberapa temannya yang maju mengumpulkan kertas jawabannya. Aby menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya sendiri
"salin jawaban gue." bisik Bintang dari belakangnya. Beberapa detik kemudian, kertas dilempar dan mendarat dimejanya. Aby meraih kertas itu dan memasukkan kedalam saku seragamnya. Jujur. Sekiranya itulah yang sedang ia usahakan. Meskipun rasanya sulit, Aby tetap mencobanya.
Telapak tangannya terasa dingin saat hanya dirinya yang tersisa dikelas. Murid yang sudah menyelesaikan ulangan, langsung diperbolehkan pulang. Aby menyeka keringat yang membanjiri dahi dan pelipisnya. Cewek itu terus menyemangati dirinya sendiri. Tersisa dua soal lagi, yakin terhadap dirinya. Aby melanjutkan soal yang tersisa.
Hingga beberapa saat kemudian, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aby tersenyum bangga saat berhasil menjawab semua soal yang ada. Bergegas Aby maju dan mengumpulkan kertas jawabannya. "sekali lagi,terimakasih pak. Karena saya di izinin ikut ulangan. Saya permisi."
"kok belum pulang? Perasaan tadi ngumpulinnya cepet." heran Aby begitu keluar dari kelas dan mendapati beberapa temannya berkumpul dikoridor.
"nungguin lo,lah. Si Bintang rese banget, maksa kita tetep disini sampai lo selesai ulangan." sahut Bila.
Elang sudah mendengar apa yang terjadi pada Aby, ia pun mendekati Aby untuk meminta maaf atas perbuatan pacarnya. Jujur ia merasa tidak enak pada Aby yang menjadi sasaran amukan pacarnya. Hubungan elang dengan sang kekasih memang sedang kurang baik. Tapi bukan karena Aby.
"Gue minta maaf soal zanna sama temen-temennya yang udah gangguin lo."
"gue beneran nggak enak sama lo, gara-gara mereka lo jadi masuk BK lagi. Apa perlu gue suruh mereka buat ngomong ke bu---"
Aby menepuk jidatnya. Ia lupa harus kembali keruang BK padahal sudah berjanji untuk kembali. "gue duluan! Bye!" cewek itupun berlari menuju ruang BK untuk menepati janjinya.
Sekarang diruang BK tidak hanya buk Dina, ada juga kepala sekolah, dan dua pria dewasa yang Aby yakini adalah orang suruhan orangtuanya.
"pak Ali masih sibuk mengurus perceraian dan beliau meminta saya yang mewakili datang untuk Aby." ucap salah satu pria padanya.
"Aby silahkan duduk." pinta bu Dina.
"jadi begini----"
"mereka bukan orangtua saya, jangan katakan apapun tentang saya. Mereka nggak perlu tahu soal itu." sela Aby sebelum bu Dina memberitahu apa yang terjadi.
"tapi saya disini mewakili pak Ali. Saya berhak tahu dan nanti akan saya sampaikan ke beliau." pria asing itu protes.
"kalau papa mau tau gimana anaknya, harusnya papa dateng kesini sendiri."
"Aby, jangan mempersulit pekerjaan saya."
Aby menatap pria itu dengan tatapan sinis. "langsung aja serahin uang sogokannya. Beres, kan om?"
"Aby..."
"saya permisi." Aby bangkit dan segera keluar dari ruang BK. Ia berjalan menyusuri koridor sendirian. Suasana hatinya sangat buruk saat ini dan Aby ingin mengeluh tapi tidak mungkin ia lakukan.
Itu bukan Aby.
Aby kuat.
Tidak pernah mengeluh.
Baru saja mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Bima, Aby melihat cowok itu memarkirkan motornya tidak jauh dari pintu gerbang. Aby pun langsung berlari menghampiri cowok berjaket denim yang wajahnya tertutup masker hitam.
"nggak usah lari-lari bisa nggak,sih? Kayak bocah banget." omel Bima begitu Aby berdiri cengengesan di hadapannya.
"padahal gue lari buat lo biar nggak nuggu gue terlalu lama. Tapi malah diomelin." Aby mengerucutkan bibirnya, pura-pura merajuk.
"bibirnya nggak usah mancing-mancing." erang Bima.
"Dih sangean banget jadi pacar."
"naik. Pulang."
"jajan dulu. Pengen boba sama seblak." rengek Aby.
Bima mengingat-ingat sisa uang pada sakunya. Kalau membeli satu boba dan seporsi seblak, masih cukup. Cowok itu pun mengangguk. Ia hanya akan membeli makanan untuk Aby. Sementara dirinya bisa makan apa yang ada nanti. Uangnya tidak cukup untuk membeli dua porsi.
"jajannya entar malem aja,ya? Sekalian jalan-jalan."
"kita mau kencan,ma?" tanya Aby begitu antusias.
"kencan pala lo, buruan naik!"
"Ini nggak bakal kehabisan bensin lagi,kan? Malu-maluin sumpah kalau iya. Mending nanti mampir aja kiloin motor buat beli bensin."
"pinter. Terus bensinya lo minum."
"kentut gue bisa kayak kenalpot bobokan kalo minumnya bensin,ma."
Bima mengangsurkan jaket denimnya pada Aby. "pake, Trus naik. Kita pulang."
...*****...
"Bimaaaaaa!"
"tadi siang janji mau jajanin seblak sama boba malem ini."
"gue udah siap-siap lo-nya malah molor."
"Bangun,ma. Ayo jajan sekarang!"
Sejak lima belas menit yang lalu Aby terus saja mengganggu Bima yang masih memejamkan matanya diatas kasur dengan posisi tengkurap. Ia menagih janji Bima yang akan membelikan seblak beserta boba padanya malam ini.
"Njing! Cakar papa dong biar bangun, gigit juga boleh." merasa tidak mampu membangunkan Bima, Aby pun meminta bantuan kepada anak pungutnya. Ia menaruh kucing itu dipunggung telanjang Bima. Iya, tau Bima sering kali tidur tanpa atasan apapun. Hanya memakai kolor aneka motif. Ia menuntun kaki kucingnya agar mau mencakar pungung tegap Bima, namun tidak kunjung berhasil. Memang bapak sama anak itu satu geng.
Masih dengan mata terpejam, Bima meraba ranjang mencari bantal. Setelah merubah posisi tidurnya, cowok itu menghantam punggung Aby dengan bantal. "kalau ngajarin anak yang bener!" hardiknya lalu meraba pundak untuk meraih kucing kesayanganya. Kucing itu dibaringkan disebelahnya, berbantal lengan.
Bibir Aby mengerucut. "laper,Ma. Ayo beli jajan."
Aby merajuk lalu membanting tubuhnya disebelah Bima. Wajahnya ditutup bantal dan kakinya terus saja menendang-nendang kaki Bima yang menyebalkan.
Bima yang melihat itu langsung menyingkirkan kucing yang berbaring diantara tubuhnya dan Aby. Sedetik kemudian ia memeluk Aby dari samping. "gitu doang ngambek. " bisiknya.
"ya kan tadi udah janji, tapi malah nggak ditepatin."
"nggak boleh nyosor!" larang Aby seraya menahan dada bidang Bima yang semakin merapat ketubuhnya.
"mau seblak apa nggak?"
"mauu"balas Aby cepat.
"kalo mau,nurut. Nggak usah ngelarang ini itu. Terserah gue mau ngapain." geram Bima tak melepas tatapan dari target yang diincar. Bibir Aby. Memangnya apa lagi yang lebih menarik dari simanis itu?
"ini bibir gue mau di sosor lagi,nih?"
"kelamaan. Banyak bacot!" upat Bima. Detik berikutnya cowok itu meraih dagu Aby dan mengangut bibir manis cewek itu. Awalnya lembut namun lama-kelamaan gerakannya menjadi kasar dan liar.
Puas dengan yang dilakukan, Bima tersenyum penuh kemenangan seraya menyentuh bibir Aby dengan ibu jarinnya.
"Ayo nyeblak! udah nyosor kan?"
"sekali lagi, buat bobanya. Tadi baru bayar seblak kan?"
"ANJING! PAPAMU SANGEEEE!" Aby berteriak lalu melompat turun dari ranjang sebelum Bima semakin sinting.
Bima tersenyum geli lalu duduk diranjang. Kaus yang dilepas, dikenakannya kembali sebelum turun dan merain kunci motornya dimeja belajar.
"Ma,kerumah Keyla aja yuk! Diajakin mukbang bakso lava nih. Katanya Keyla suka pedes juga. Mau lawan gue, dia udah shareloc.
Tubuh Bima menegang hebat mendengar ajakan Aby ke rumah Keyla. Itu sama saja menjemput kehancuran Aby.
"....ma,Bima."
...*****...
...Tbc...
...JADI GIMANA NIH?...
...BAKALAN SEDIH ATAU MALAH HAPPY PART SELANJUTNYA?...
...BOLEH BANGET JEMPOL NYA BIAR AKU SEMANGAT BEBSS...
...si anak pungut kalo tidur suka gemesin yaa...