
Aby membuang asal tas punggung beserta kantong plastik berisi makanan Anjing. Cewek itu berlari mengambil kunci motor maticnya. Dengan modal nekat,ia mengendarai motor itu dengan kencang. Ini adalah kali pertamanya Aby mengendarai motor tanpa Bima. Sepenuhnya Aby sadar kalau ini sangatlah berbahaya terhadap dirinya. Tapi ia tidak peduli, kalaupun aksi nekatnya malah berdampak buruk terhadapnya. Gadis remaja itu tidak akan menyesalinya.
Entah keberanian dari mana,membuat Aby dengan sengaja menabrakan motor itu ke bumper belakang mobil sang ayah. Tindakan gila itu mampu membuat kendaraannya sendiri oleng dan berakhir di aspal. Aby meringis kesakitan saat kaki kirinya tertimpa motor ditambah sikunya yang lecet.
Aby menyesal kenapa ia terlalu pelan saat menabrak bumper mobil sang ayah. Kalau saja ia menabraknya dengan keras dipastikan luka yang ia dapat akan mampu menutupi luka perih dihatinya.
"Aby!" Ali berteriak melihat kondisi mengenaskan putrinya. Pria baya itu berlari cepat menyingkirkan motor yang menimpa Aby.
Seperti tidak terjadi apapun, begitu kakinya terbebas dari timpaan motor, Aby bangkit sendiri. Berdiri dengan kakinya yang terasa sakit saat dipaksa menopang.
"Aby..sayang kita kerumah sakit---"
"Semalem maksudnya apa? tadi pagi juga itu apa ya pa maksudnya?" sela Aby sebelum Ali menyelesaikan kalimatnya.
"Aby, luka kamu---"
"Jawab aku pa! semalem kenapa papa baik banget sama aku? bahkan tadi pagi juga papa masih baik. Terus kenapa tiba-tiba pergi pa?"
"Aby---"
"Papa mau pergi kemana?"
Ali benar-benar sudah tidak fokus lagi terhadap pertanyaan Aby. Fokusnya ada pada luka di siku dan lutut Aby yang sampai saat ini masih mengeluarkan darah. Dia yang melihat itu saja bisa membayangkan rasa sakitnya. Namun yang ia lihat saat ini Aby terlihat biasa saja dengan luka itu.
"Aku udah mati rasa,pa. Papa gak perlu khawatir, ini nggak sakit." terang Aby seolah mengerti apa yang tengah difikirkan oleh ayahnya.
"Aby dengerin papa. Kita kerumah sakit dulu. Kamu harus diobatin,Aby nurut ya sama papa."
Aby menepis kasar tangan Ali yang ingin meraihnya.
"Kenapa harus aku sih, pa? kenapa semalem harus baik banget ke aku. Papa gak perlu buat aku berharap gini kalau ujungnya bakalan nyakitin aku,pa."
"Aku udah berhayal tinggi, kalau papa sama mama bakalan terus sama-sama demi aku. Papa bisa bayangin seindah apa yang aku khayalin cuma karna sedikit kebahagiaan yang kalian kasih ke aku."
"Aku sakit,pa. Aku benar-benar sakit, ini terlalu jahat untuk aku, pa."
"Kenapa harus papa yang hancurin kebahagiaan aku? kenapa harus papa yang hancurin hati aku? kenapa nggak orang lain aja, biar aku bisa benci sama orang itu? Aku, gak bisa benci sama papa."
Aby tidak menangis saat mengatakan kalimat-kalimat itu walaupun sejatinya ia sudah didesak untuk melakukan itu. Beberapa detik terdiam. Aby kembali bersuara."
"Aku nggak ngelarang papa sama mama pisah. beneran, aku gapapa. Aku juga paham, kalau emang udah gak ada lagi yang harus dipertahanin. Tapi seharusnya kalian berdua gak usah kayak gini, gak usah ngasih harapan apapun ke aku."
"Kalau aja kalian nggak peduli kayak biasanya, mungkin aku nggak akan sesakit ini."
Aby menyeret kakinya untuk menepi. Cewek itu duduk di tepi trotoar dengan kaki diluruskan.
Tangannya yang terkepal memukul-mukul dadanya yang terasa sesak sekaligus nyeri.
Ia menyerah dan mengaku kalah. Nyatanya ia tidak sekuat itu untuk tidak menangis. Air mata yang sejak tadi ia tahan tak bisa lagi bertahan, air mata Aby lolos begitu saja. Tak mampu lagi mengatakan apapun membuat air mata menjadi isyarat bahwa ia terluka.
"Aby, papa mohon. Kita kerumah sakit sekarang."
...*****...
"Keyla?"
Bima melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tiga jam yang lalu. Harusnya keyla sudah berada dirumah, bukannya malah berdiri disudut tribune lapangan basket indoor. Cowok itu mendekati Keyla yang duduk dengan kepala menunduk.
"Lo kenapa masih disini?"
Pertanyaan dari Bima sangat mengejutkan Keyla. Gadis remaja itu langsung mendongak dan ketakutannya berangsur pergi melihat siapa yang berdiri disebelahnya. "Kak Bima kenapa bisa ada disini?" tanya cewek itu.
Bima menjatuhkan bola basket ditangannya. Cowok itu mengisyaratkan pada Keyla untuk geser, berbagi ruang dengannya. begitu dirasa sudah ada ruang untuknya, Bima mendudukan diri disebelah Keyla. "Habis rapat OSIS, gue agak stres. niatnya mau main basket. ternyata ada lo disini, ada masalah apa?"
"Nggak ada, kak."
"Nggak mungkin kalau nggak ada. Mereka masih gangguin lo? Atau lo disini buat sembunyi dari mereka?"
Keyla semakin menundukkan kepala. Tebakan kakak kelas yang saat ini duduk disebelahnya ini,benar. Keberadaannya saat ini dilapangan basket adalah untuk bersembunyi dari mereka kakak kelasnya yang semakin menjadi mengganggu ketenangan hidupnya. Ia takut saat mereka berbagi tugas menunggunya digerbang depan dan belakang. Untuk itu Keyla bersembunyi sampai mereka berhenti menunggu.
"Kita pulang!"
Tiba-tiba saja tangan kanannya diraih oleh Bima saat cowok itu mengajaknya pulang bersama.
"Mereka di---"
"Ada gue, lo gak perlu takut. Mereka nggak bakalan berani macem-macem sama lo kalau lo tetap ada didekat gue. Kalaupun mereka berani sama lo, gue bakalan lindungin lo,paham?"
Keyla tidak mengeluarkan suara lagi. Ia hanya pasrah dan berjalan beriringan bersama cowok yang masih menggenggam tangannya dengan erat. Genggaman yang mampu mengusir pergi ketakutannya membuat ia merasa terlindungi.
"Kayaknya mereka udah nggak ada." ucap Bima.
Sedetik kemudian ia melepas tautan tangan mereka.
"Makasih ya,kak. Maaf selalu ngerepotin kak Bima, kalau gitu aku duluan ya kak."
Baru selangkah Keyla melangkah tangannya sudah dicekal oleh Bima, cekalan yang mampu membuat Keyla menghentikan pergerakannya.
"Nunggu bentar gapapa,kan? gue mau ambil motor dulu. lo balik sama gue."
...*****...
"Key kok baru pulang, Tadi mama jemput kesekolah kata temen kamu,kamunya udah pulang. keyla kemana aja? mama khawatir banget sama keyla. seharusnya kamu dirumah dulu aja,kan belum sembuh total."
"Aku gapapa kok ma, maaf ,ya ma tadi enggak ngabarin mama. Hp-ku mati."
Bima yang menyaksikan itu, hanya bisa diam. Seharusnya Aby yang diperlakukan seperti keyla.
Harusnya Aby yang di perhatikan.
Tapi,kenapa bisa sekonyol ini?
Bukannya mendapatkan yang seharusnya didapatkan. Aby malah merasakan rasa sakit yang kini sudah diluar kapasitasnya.
"Keyla masuk dulu,ya. Mama mau bicara sebentar sama Bima" ucap Ayu yang dibalas anggukan oleh keyla setelah itu berlalu masuk kedalam rumah.
Sepeninggalan Keyla, Ayu mengajak Bima untuk duduk.
"Apa tante gak bisa bersikap kayak tadi ke Aby?" tanya Bima dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
"Tante lagi nyoba,ma. Kamu tau sendiri, tante sekarang nyoba untuk memperbaiki hubungan tante sama Aby."
"Memperbaiki? dari mananya memperbaiki sih tan? bukanya ini malah memperburuk keadaan? yang tante lakuin ini malahan bikin Aby tambah hancur tan,dan itu tanpa tante sadari."
Ayu menghela nafas. " kamu nggak paham,ma. yang kamu tau itu cuma beberapa hal. Banyak yang enggak kamu tau."
"dibagian mananya aku nggak paham,tan? kasih tau aku."
"Bima..."
Ponsel dari Bima berbunyi. ia merogoh saku celananya. Pesan dari Aby dan itu tidak mungkin ia abaikan. Reflek Bima berdiri dari duduknya,saat ia tau isi pesan dari gadis itu, Aby kecelakaan.
"Tante harus pulang sekarang. Aby habis kecelakaan. " ucap Bima yang terlihat sangat panik bercampur khawatir akan keadaan aby. Meskipun Aby sudah menceritakan garis besar kejadiaannya dan mengatakan luka yang ia dapat tidak cukup parah. Tapi,tetap saja rasa khawatir itu tidak bisa hilang sebelum ia melihatnya sendiri.
"Kamu duluan aja,ma. ayahnya Keyla sebentar lagi pulang. kalau ayahnya Keyla udah nyampe sini, tante janji bakalan langsung pulang. Keyla nggak bisa sendirian dirumah."
Bima menggeleng tidak percaya dengan jawaban dari perempuan dihadapannya.
Benarkah perempuan paruh paya dihadpaannya ini seorang ibu? Dimana sisi keibuannya saat anaknya jelas-jelas sangat membutuhkan perannya.
"Aku yang jagain Keyla sampe ayahnya Keyla dateng. Sekarang tante pulang, Aby butuh tante sekarang ini. Demi Tuhan,tante Aby butuh adanya tante saat ini disana. Sekarang tante pulang,ya.Please temenin Aby,tan." mohon Bima.
Ia tahu jika keberadaan Tante Ayu amat sangat dibutuhkan oleh Aby dibandingkan keberadaanya. Untuk itu Bima mencoba menahan dirinya sebentar untuk tidak menemui gadis itu sekarang, walaupun nyatanya ia sangat ingin pergi dari sana dengan cepat untuk bisa melihat Aby, melihat keadaan gadis itu.
...*****...
"Aby kenapa bisa begini?"
Ayu yang baru saja sampai diruang keluarga, langsung mendekati putrinya yang mendapat perban dilutut dan disiku. Pelipis putrinya diplester dan ada luka gores dimata kaki.
"Apa mama sekarang baik sama aku karna mau ninggalin aku kayak papa? kalau ia,mama boleh pergi sekarang. Jangan ninggalin kesan baik apapun biar aku nggak akan ngerasa kehilangan." ucap Aby tanpa ekspersi. Cewek itu menatap kosong kedepan, enggan sekali menatap ayah dan ibunya.
"Mama disini nemenin Aby. Mama nggak akan ninggalin Aby lagi." ucap Ayu lalu mengisi sisi kosong disebelah sang putri.
"Mama sama papa bisa jelasin ke aku,kalian kenapa harus gini? Biar aku bisa ngertiin kalian. kayak yang kalian mau."
"Aby bisa tanya mama. Tinggal dimana mamamu kalau nggak pulang." Jawab Ali.
"Kalau kamu nggak mulai duluan, Aku juga nggak bakalan gini,mas!" protes Ayu tidak terima jika hanya dirinya yang disalahkan.
"Aku ngapain? Kamu ada bukti nggak kalau aku main perempuan? Emang udah watakmu dari dulu curigaan dan selalu nuduh tanpa bukti." kini giliran Ali yang protes.
"Tanpa bukti dari mananya? Aku lihat sendiri kamu main gila sama perempuan, mas. Istri mana yang betah kalau suaminya kayak begitu? jadi jangan salahin aku kalau aku kayak gini. Kamu penyebabnya mas!"
Aby menutup kelopak matanya.
"Iya aku yang salah dan kamu selalu benar. Emang gitu,kan dari dulu. Apa lagi setelah kamu kerja dan punya penghasilan sendiri kamu makin berani."
"Trusin aja berantemnya, aku capek." pungkas Aby lalu bangkit.
Aby melangkah lesu memasuki kamarnya setelah mendengar langsung perdebatan orangtuanya. Mereka tetap saja mempertahankan ego mereka tanpa ingin tau apakah Aby akan baik-baik saja atau tidak. Rasanya benar-benar melelahkan. Aby menutup pintunya. Bibirnya dipaksa tersenyum saat kedatangannya disambut oleh kucing kesayangannya yang mengeong dan mengelilingi kakinya.
"Papamu kemana njing? kok tumben belum kesini?" tanya Aby pada kucingnya yang kini sudah berpindah kegendongan. Ia berdiri didekat jendela yang sengaja tidak dikunci. Memang, ia berharap Bima datang agar ia bisa meminjam pundak Bima untuk menjadi sandarannya saat menangis. Tetapi sepertinya cowok itu tidak datang.
Aby menatap balkon kamar Bima sebentar sebelum ia menarik tirai. Tanpa mengunci jendela, Aby meninggalkan tempatnya. Kucing yang ia gendong, dibaringkan diranjang. Cewek itu melangkah mematikan penerangan.
Gelap.
Sedikit ketenangan menghampirinya. Cewek itu punduduk disudut kamar memeluk lututnya. Awalnya ia hanya terisak tanpa suara untuk melepas sesak. Namun rasanya belum cukup untuk membuatnya lega. Hingga dimenit selanjutnya Aby menangis histeris ditengah kegelapan.
Cewek itu melepas rasa sakitnya lewat raungan keras tangisnya.
Lututnya yang diperban pasca kecelakaan kecil tadi sengaja ia pukul untuk menciptakan rasa sakit yang lebih hebat agar rasa sakit dihatinya tidak terasa.
Pukulan Aby berhenti saat sebuah tangan menahannya. Meskipun tidak bisa melihat siapa pelakunya karena cahaya yang sangat minim, namun Aby bisa mengenali aroma parfum yang masuk keindra pengciumannya.
Aroma milik Bima.
Detik berikutnya Aby memeluk erat tubuh cowok itu. punggung jaket yang bima kenakan dicengkram kuat. ia meraung lebih keras didalam dekapan Bima
...*****...
...Tbc...
...asiik update...
...Si penyemangatnya mama Aby...
...