Relation(Shit)

Relation(Shit)
LIMABELAS



Aby mulai cemas saat buku-bukunya dirampas oleh Bima. Waktu belajarnya sudah habis dan saatnya Bima menjadi pengujinya. Bibir cewek itu mulai komat kamit untuk keselamatan dunia maupun akhiratnya. Senjata perang Bima sebagai tutor sudah lengkap. Penggaris besi, raket nyamuk, tak lupa air segayung sebagai sarana membantu Aby, manatauan nanti saat berlangsungnya kegiatan Aby merasa kepala berat, mata sudah tak fokus alias mengantuk.


Aby yang duduk dilantai bersama anak montok satu-satunya yang berada dipangkuan. Senyum misterius cowok yang duduk ditepi ranjang menghadapnya, mengantarkan firasat buruk.


"Lepas maskernya,Aby" pinta Bima.


"Gak mau, takut sawan soang lo kambuh."


"Berarti lebih mikih gue sentrum pake raket nyamuk?Okey." Bima manggut-manggut sambil membuka buku paket Aby.


"Kelakuan papamu,njing. itu kakinya gak mau kamu gigit gitu? sampai putus doang gapapa, rasa jeruk stella jempolnya. belom pernah mabok jeruk stella kan kamu njing? cobain deh jempolnya papamu, yuk bisa yuk sampai putus." ucap Aby pada kucingnya yang memang tidak banyak tingkah saat bersamanya itu.


padahal saat bersama Bima tadi, si anak sangat terlihat aktif bergerak. Bahkan lebih mendekati kegatelan. Terus menciumi pipi Bima. Bahkan berani jilat leher dan bersandar sok imut di dada cowok itu. Giliran bersamanya, kucingnya seperti terkena amnemia.


"Tokoh yang melihat gabus dari sebuah tanaman dibawah mikroskop dan sebuah ruangan kecil yang mirip cellula adalah." Bima melayangkan pertanyaan pertamanya.


Aby mendongak menatap wajah menjengkelkan Bima. Seingetnya yang tadi ia pelajari tentang kolonialisme dan imperialisme. Tapi kenapa.....sialan! cowok sinting itu pasti sengaja memberi pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab olehnya.


Sudah jelas tujuannya,kan?


Benar-benar gak ada akhlak!


"Jawab!" Bima menepuk-nepuk kepala Aby dengan ujung penggaris. Raket nyamuk ditangan kiri cowok itu sudah sangat siap.


"Gua sebarin kelakuan lo,ya. Biar orang pada tau penyakit sawan soang lo. inget, Anjing anak pungut beban keluarga jadi saksinya. Pencitraan lo selama ini bakalan kelar. Lo bakalan di bully sama semua orang sampai depresi trus bunuh diri.


"keren juga halu lo."


Tangan Aby sudah siap untuk melempar anjing kearah Bima namun ia urungkan. "Ma,serius ngapa sih! lo jangan makan gaji buta. lo kan digaji buat jadi tutor. yang bener dong kerjanya! gue pengen dapet nilai bagus."


"Tadi lo bilang pengen dapet nilai tujuh, itu bagusan dari mana? nilai terendah gue aja masih jauh diatas itu."


"sombong amat,lagian otak kita itu beda level. Nih ya orang kayak lo mana ada puas-puasnya."


Bima terdiam dan meletakkan raket nyamuk. Melihat wajah Aby seperti itu, ia tidak tega. Mendadak dirinya lemah. Sepertinya Aby tidak main-main ingin mendapatkan nilai tujuh."oke,siap?"


"siap!"


"Pertanyaan pertama. siapakah daendels? sebut dan jelaskan juga pandangan dan paham yang dianut olehnya."


"Bima lo-------"


"Soalnya belum selesai. masih ada lanjutannya. Apa tugas utamanya di Indonesia serta jelaskan cara-cara yang ditemukan oleh Daendels untuk melaksakan tugas utamanya. Berikan juga dampak pemerintahan Daendels di Indonesia."


"Gue bukan ngomong kasar,ya. Gue cuma manggil anak pungut ini. ANJING!" Ada untungnya juga Aby memberi nama anak pungutnya itu 'anjing' kesal dengan Bima, Aby sampai kelaparan. Tak menggubris peringatan Bima, ia pun melangkah keluar kamar untuk mencari makanan dimeja makan.


"Mama?"


"Udah selesai belajarnya sama Bima? Duh mama belum selesai masaknya. Aby pasti udah kelaperan,ya? Tunggu sebentar lagi gapapakan?"


"Hah?" Aby mencubit kaki kucing yang tengah digendong dan kucingnya mengeong. Itu artinya ia tidak sedang bermimpi.


"Aby duduk dulu. sekalian panggilin Bima, biar makan bareng. Papa juga bentar lagi pulang."


Ada apa sebenarnya? Kenapa orang tuanya berubah menjadi baik seperti ini. Aby sangat takut akan kejutan apa yang menantinya.


"Aby panggil Bima dulu,ya ma."


"iya,sayang."


Mendapat panggilan yang selama ini ia inginkan, Aby berlari dengan hati berbunga-bunga menemui Bima. "Bima, mama ngajak makan bareng. Lo harus cobain. Masakan nyokap gue enak banget. lo kudu harus cobain."


Melihat wajah berseri Aby, membuat ketakutan dalam diri Bima semakin meningkat. Ia tidak siap senyuman itu pergi dengan cepat saat tangis memilih untuk menetap. Cowok itu terlihat pasrah saat Aby sangat antusias menariknya sampai meja makan. Ia duduk disebelah Aby.


"Papa gak telat,kan?" Ali muncul diruang makan dengan stelan formalnya.


"Gak kok pa,mama aja baru selesai masak." balas Aby.


"Aby kok gak bantuin mama?"


"Hehe,aku gak bisa masak, pa."


"Kan, biar sekalian belajar."


"Gak perlu pa,kan ada Bima."


Ali tertawa renyah "Bima, anak om pasti nyusahin kamu banget ya?"


"Ah gak juga om."


"Idih caper. padahal kalo berduaan pasti dibilang nyusahin."


Ayu datang untuk mencegah keributan antara Bima dan Aby. "Mending sekarang kita makan."


"Oh iya, kerjaan yang bikin papa sibuk akhirnya kelar juga. Gimana kalo nanti kita belanja? Aby boleh pilih yang mana aja yang Aby suka."


"Serius,pa?"


"Tapi ada syaratnya."


"Apa? cepetan bilang pa, Aby bakalan ngelakuin apapun itu."


"Aby harus makan yang banyak."


Ditempatnya Bima hanya diam, jetakutannya semakin meningkat.


...*****...


"Aby gak sarapan dulu? Mama udah bikinin nasi goreng loh buat Aby."


Kaki Aby berhenti melangkah. Ia lupa jika Ibunya berada dirumah. Cewek itu terbiasa minta sarapan dirumah Bima, Jadi ketika siap ia akan berlari kerumah cowok itu. Aby tersenyum canggung ia mendekati ibunya. Ia duduk dikursi yang ditarik untuknya.


"Nanti kalau kurang, nambah lagi. Mama bikin banyak. Kalau Aby mau, Mama bisa siapin bekal juga buat Aby."


"Hah?" Aby tidak yakin apa yang terjadi saat ini adalah nyata.


"Aby mau?"


"Gak usah,ma. Lain kali aja. tasku penuh banget. ada seragam olahraganya."


Ayu mengangguk lalu menuangkan air putih untuk putrinya. "Nanti malem mau dimasakin apa?"


"Nanti malem? mama nggak pergi?"


"Mama dirumah aja,nemenin Aby."


Rasanya saat ini Aby ingin tersenyum lebar,ia sangat bahagia dan itu sangat menyenangkan hatinya. Binar bahagia sudah tak tertahankan lagi terlihat diwajah Aby. Apa lagi saat ayahnya muncul diruang makan. Menyapa dengan ramah dan memberi kecupan selamat pagi dipelipis kirinya. Ini seperti khayalan yang pernah ia bangun saat merindukan orang tuanya.


"Aby mau berangkat bareng Bima atau Papa yang anter?" tawar Ali.


"Yaudah nanti papa yang anter. Sekarang Aby habisin dulu sarapannya."


"Kucingnya Aby dirumah aja, ya. nggak usah dititipin dirumah Bima lagi. Nanti mama yang urus." ujar Ayu.


Sempurna.


Rasanya Aby tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk kebahagiaannya. Kasih sayang melimpah dari orangtuanya pagi ini sudah menyempurnakannya.


"Makasih,ya ma." ucap Aby lalu menyantap nasi goreng. Bahkan disela kegiatannya Aby tidak mampu melunturkan senyumannya.


"pa, tungguin sebentar,ya. Aku mau kerumah Bima. Mau bilang kalo aku berangkatnya sama papa." pamit Aby sebelum akhirnya berlari. Ia tidak mau membuat ayahnya menunggu lama apa lagi sampai berubah pikiran.


"Bimaaaaaaaaaaaa,auooooo uwooooo!" teriak Aby berlari memasuki gerbang rumah Bima dan melihat Bima sedang memanaskan kendaraan.


"Woi berisik!"


"Gue hari ini gak nebeng lo. lo berangkat sendiri ya."


"Bagus deh. tumben lo gak ngerepotin gue, udah sadar lo?"


"lah gue mah bangun dari tadi."


"sadar diri,kan lo beban." sindir Bima


"Tai. Sayap gue udah tumbuh. Gue mau terbang."


Reflek tangan Bima melempar kanebo kearah Aby. Sayangnya cewek itu sudah terlebih dahulu berlari.


"Gue dianter papa,ma." teriak Aby lalu kembali berlari seperti anak kecil.


...*****...


"Abyandra Tahlia."


Begitu namanya disebut oleh guru sejarah yang tengah membagikan hasil ulangan sejarah, Aby langsung melangkah kedepan. Aby tidak berharap mendapatkan nilai sempurna untuk hasil ulangannya karena ia tau kapasitas otaknya yang sebesar biji alpukat itu. nilai sempurna bukanlah tujuannya saat ini. Aby hanya ingin nilainya tidak dibawah kriteria ketuntasan minimal. Itu sudah cukup untuk membayar waktu belajarnya bersama Bima yang berlangsung sampai pukul 01.20.


"Tingkatin belajarnya,lagi ya Aby. Ibu yakin kamu pasti bakalan dapat nilai yang lebih dari itu untuk ulangan selanjutnya."


cewek itu mengangguk lalu melompat-lompat kembali menuju tempat duduknya. Ia pernah mendapatkan nilai ulangan sempurna dari hasil mencontek, namun tidak ada rasa bangga sedikitpun dari dalam dirinya. Hal yang membuat Aby sadar jika pencapaian bukan cuma soal angka. Aby juga semakin yakin jika ia sebenarnya tidak terlahir bodoh.


Aby duduk lalu memamerkan hasil ulangannya kepada teman sebangkunya.


"Ya walaupun gedean punya lo,sih." ujar Aby lalu melipat kertas ulangannya agar bisa dimasukkan kedalam saku seragamnya.


Sepulang sekolah nanti ia akan menunjukan itu kepada Bima. Aby juga akan menyisihkan uang 500 rupiah untuk membeli permen kaki sebagai tanda terimakasih. Aby suka saat Bima mengemut permen kaki. Apa lagi saat bibir cowok itu menjadi merah.


"Pelan-pelan aja, biar gak membebani banget. Kalau target lo langsung 100, yang ada otak lo error. Pelan tapi pasti." Ucap teman sebangku Aby tersenyum menyemangati.


"Bener."


Aby akui jika dirinya bukan orang baik, tapi tuhan selalu baik padanya dengan menghadirkan orang-orang baik disekitarnya. Hal yang membuatnya tidak lupa untuk mengucap syukur.


"Gue perhatiin. belakangan ini lo agak berubah."


"Jadi ultraman?" tebak Aby.


"itu mah mau lo anjir."


...*****...


Saat sampai dirumah, semua kebahagian Aby lenyap seketika saat kepulangannya disambut dengan ayahnya menyeret dua koper besar. Pria itu berjalan mendekatinya berhenti saat sampai dihadapan Aby


"Papa ada kerjaan lagi diluar kota?" tanyanya mencoba untuk berfikir positif.


"nggak,sayang."


"atau papa mau liburan? kok gak ajak-ajak Aby sih pa?"


Ali menggeleng"nggak juga."


Aby mulai merasa takut, "terus papa may kemana kok bawa-bawa koper? mana bawanya dua lagi. Papa..."


"Aby, dengerin papa."


Mata Aby kini sudah terkunci menatap Ali sepenuhnya bahkan kini jantungnya sudah berdegup kencang. Ada rasa cemas didalam dirinya menunggu kelanjutan ucapan sang ayah.


"Papa sama mama kamu udah gak bisa sama-sama lagi. udah beda pemahaman. Bukan berarti kami gak sayang kamu. Tapi emang jalannya kita untuk enggak bareng lagi itu yang terbaik. Aby boleh ketempat papa kapanpun Aby mau. Sayangnya papa untuk Aby selalu."


"Tapi,pa..."


Rasanya hati Aby sesak ia butuh pasokan udara agar bisa bernafas untuk saat ini. Apa ia hanya dianggap lelucon oleh kedua orangtuanya? Sangat mudah sekali untuk mempermainkan hatinya.


"Aby sehat-sehat ya,nak. Anak papa harus jadi anak yang kuat,kan Aby udah dewasa sekarang. papa pergi dulu ya,sayang." ucap Ali setelah itu memeluk Aby memberikan kecupan sayang pada anaknya itu.


setelah itu Ali melangkah pergi menyeret kedua kopernya menuju mobil.


Sedangkan Aby, kini ia masih mematung meresapi sakit yang ia terima. Bahkan senyum lebarnya tadi pagi masih mampu terbayang difikirannya.


Rasanya Aby ingin menjerit memohon agar sang ayah tidak pergi meninggalkannya. Tapi itu sia-sia,karena nyatanya kini mesin mobil Ali sudah mulai menghilang dari pendengarannya.


"Pa...!"


...*****...


...Tbc...


...AW AKHIRNYA AKU UPDATE LAGI...


...GIMANA-GIMANA SAMA PART INI?...


...SUKA?...


...BOLEH KASIH TAU AKU FEELNYA GIMANA...


...peluknya besi dulu peluk kamunya nanti



...


...Papanya kesayangan anak montok primadona komplek



...