Relation(Shit)

Relation(Shit)
EMPATPULUHDUA



"Bentar, kayaknya bekas cakaran...kucing?" gumam Aby yang tengah memeriksa luka yang memanjang dilengan kiri Bintang. Luka yang tak asing untuknya yang memang sering mendapatkan luka semacam itu. Ia mendongak hingga tatapannya bertemu dengan Bintang.


"lo punya kucing, Tang?"


Bintang menarik lengannya lalu menggosok luka yang Aby maksud. Kekehan pelannya lolos "nggak. Tadi ada kucing masuk kerumah. Mau gue bopong keluar, malah nyakar. Kucing liar kayaknya, jadi gitu." balasnya begitu tenang.


"habis nyakar, kucingnya nggak diapa-apain kan?"


Menoleh kearah Aby, Bima menaikkan sebelah alisnya. "maksudnya?"


"kadang ada orang yang sampe mukul, nendang, dan bahkan bunuh kucing karna hal sepele. Kalau orang baik kayak lo, gue yakin nggak bakalan mungkin ngelakuin hal itu."


Baik?


Aby memberinya embel-embel 'baik'? Bolehkah Bintang menertawai gadis itu? Lalu, apakah jika cewek naif itu tahu apa yang sudah ia perbuat, ia masih sudi menyebutnya baik?


Memberi beberapa kasih sayang manis perupa sayatan di kaki belakang sampai kucing itu mengeong keras dan berakhir mencakarnya, apakah itu sebuah kebaikan? Bintang mengulas senyum tipis saat mengingat kegiatan menyenangkan sebelum berangkat sekolah. Cakaran kucing sialan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kepuasan yang didapatkan saat melihat hewan itu berusaha lari dengan menyeret kaki belakang. Jangan lupakan darah segar yang menjadi lukisan abstrak dilantai kamarnya yang berwarna putih. Sepertinya Bintang tidak akan membersihkannya dalam waktu dekat ini, ada nilai estetika tersendiri untuknya.


"lo tau anak pungut gue kan,lang?" tanya Aby mengepalkan tangan kuat-kuat sampai ia merasakan nyeri ditelapak tangan yang sekarang terluka oleh kuku panjang miliknya. Ingin melenyapkan sakitnya kehilangan yang mana mampu membuat dada Aby terasa sesak dan nyeri semenjak tadi, ia menekannya lebih kuat agak kukunya bisa melukai lebih dalam lagi.


"tau lah, siapa sih yang nggak kenal anak pungut lo sama Bima? Kucing paling lucu yang bikin gue pengin bawa pulang." balas Bintang lalu melepas tawa. 'pulang' yang ia maksud maknanya jelas berbeda.


Dan keinginannya untuk membawa pulang hewan itu sudah terwujud.


Erangan kesakitan kucing itu masih sangat terekam jelas. Sampai erangan itu tak terdengar, begitu juga dengan pemberontakannya yang melemah. Bintang sampai bosan dengan mainannya lalu memutuskan untuk memasukannya kedalam kotak bekas. Kalau hewan itu masih bernafas, pasti akan merasakan sesak seperti yang Keyla rasakan saat elerginya kambuh karena bulu sialannya.


"Anjing ilang, Tang." beri tahu Aby lirih.


"ilang? kok bisa?"


Aby menggeleng pelan. "tadi pagi gue tinggal sebentar, pas balik udah nggak ada."


Bintang bisa merasakan kesedihan yang Aby rasakan, sebagai seorang 'teman' ia harus menghibur Aby, bukan? Maka Bintang pun akan melakukannya. Sepulang sekolah nanti ia akan menyiapkan kado untuk temannya agar tidak sedih lagi. Si manis Anjing dengan tubuh kaku tak bernyawa sepertinya ide bagus.


" nanti gue bantu cari. Paling perginya nggak jauh dari rumah."


"emm iya, makasih."


"jangan terlalu dipikirin. Mending bakso nya dimakan sebelum dingin. Sambalnya yang banyak biar lo plong."


Meraih tisu kering, Aby memeriksa telapak tangan kirinya yang ia sembunyikan sedari tadi. Ada darah dibekas tancapan kukunya. Darah itu pun diseka dengan tisu sebelum akhirnya ia menyantap semangkuk bakso dihadapannya. "bayarin,ya tang" pinta Aby.


"oke, kalau mau nambah, bilang aja ya."


Aby mengangguk antusias lalu memukul pundak bintang, pelan tapi nyatanya reaksi sang empu sangatlah berlebihan. "lo nggak papa?" khawatir Aby. Yang ditanya malah tertawa seraya mengusap pundak.


"bercanda, By. Muka paniknya lucu banget,sih. "


"ish! Nggak lucu, gue pikir beneran sakit. Mana ekspresi lo mendalami banget."


Lagi-lagi Bintang tertawa, dipikir-pikir ekspresi kesal Aby, menggemaskan juga. Meraih sendok, ia pun membantu mengisi mangkok cewek itu dengan sambal. "dimakan, kesukaan lo banget kan, yang kayak gini."


"emang cuma lo yang nggak pernah ngusik kesukaan gue, bahkan lo selalu dukung." pungkas Aby sebelum memulai suapan pertama.


...*****...


Keluar dari salah satu bilik toilet, Aby menyandarkan punggung di dinding. Kelopak matanya mulai menutup saat nyeri di perut semakin menyiksa. Senyum tipisnya terbit kala ia mulai berdamai dengan nyeri yang berusaha ia nikmati. Tidak buruk juga, setidaknya bisa menjadi pengalihan.


"kesurupan lo,By? Serem amat, keluar dari toilet langsung senyum-senyum sendiri."


Membuka kelopak mata, Aby mendapatkan Bila yang melempar tatapan aneh padanya. "lagi bahagia ini. Akhirnya keluar juga. Langsung kosong ini perut, pasti muat banyak lagi. Mau nyumbang buat ngisi?" balas Aby sumringah lalu menegakkan punggung.


"yang ada gue bangkrut kalau ngisi perut lo. Dicariin tuh sama Bima di depan."


"Bima?" beo Aby. Ia tidak meminta Bima menjemputnya, seharusnya tidak perlu datang karena sore ini pun Bima ada kegiatan bersama club futsalnya.


"iya, malah jemputnya rame-rame. Buruan samperin, kakel banyak yang caper ke cowok lo. Mana tadi Dea si ketos, nyamperin Bima, sok akrab gitu. Lagi ngobrol kayaknya."


"wah ngajak baku hantam tuh dedemit. Nggak bisa dibiarin, harus gue labrak sampe kena mental." ucap Aby lalu melangkah tergesa-gesa menuruni tangga. Bila yang melihatnya hanya geleng kepala lalu masuk kesalah satu bilik toilet.


Menoleh ke belakang dan tak mendapati Bila, Aby menghentikan langkah. Ia menelan saliva susah payah. Tangannya terulur menyentuh pembatas tangga, berpegangan di sana begitu erat.


"woooy kucing garong!" teriak Gilang heboh dibawah. "liat gue bawa apa, inisialnya telor gulung!" sambungnya seraya mengangkat kantong plastik yang ia tenteng.


Tiba-tiba, seseorang yang berdiri dibalik badan tinggi besar Gilang, menyembulkan kepala seraya mengangkat tangan kanan. "gue bawain marimas jeruk peras. Turun lo, buruan!" seru Satria tak kalah heboh.


Aby tidak bisa untuk menahan tawa. Masih tertawa renyah melihat tingkah ke dua teman Bima yang juga kini menjadi temannya, ia menuruni tangga dengan cepat. Telor gulung langsung ia rebut begitu sampai dihadapan Gilang. Ia pun duduk di anak tangga terakhir, diapit oleh Satria dan Gilang, lalu memakan telor gulung dengan lahap.


"jadi, kapan lo pindah? Kita butuh pemimpin sekte yang modelan lo." ujar Satria dengan nada jenaka saat Aby meminta minum yang ada ditangannya.


"yakin nggak pengen satu sekolah sama doi? Istirahat bisa mojok, di sekolah gue ada yang jualan telor gulung juga. Di sini mana ada."


"serius ada telor gulung?" tanya Aby tak percaya.


"nggak percayaan amat. Makanya buruan pindah, dipikirin baik-baik. Kalo lo pindah, lebih gampang juga buat ngawasin Bima."


Kenikmatan telor gulung yang tengah ia santap, membuat Aby kurang fokus dengan ucapan Satria.


"denger, nanti gue pikirin. Btw, Bima mana?"


"tuuh, dari tadi ngeliatinnya nggak selow kek mau nelen gue hidup-hidup. Dikasih apaan, sih By sampe jadi kayak begitu." gumam Satria.


Aby mengulas senyum. "dikasih jatah lancar, makanya kecanduan, jadi takut kehilangan." balas Aby disusul tawa renyah. Ia pun bangkit dan menghampiri Bima yang berdiri diujung koridor.


"gue mau mikir positif, tapi nggak bisa. Kampret lo, By!" upat Satria


Cowok itu menoleh ke arah Gilang lalu memperagakan sesuatu. Telunjuk tangan kanan keluar masuk ke lingkaran yang ia buat dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri. "jatah yang kayak gitu bukan,sih?" alih-alih mendapatkan jawaban dari Satria, kepalanya malah menjadi sasaran tonyoran Gilang.


"tolol." upat Gilang lalu menyusul Aby.


"kan gue nggak minta dijemput, ngapain jemput?"


"nggak mau dijemput?"


"mau! Oh iya, Anjing gimana? Bibi udah nemuin dia kan? Baik-baik aja kan." Aby merogoh saku seragam lalu mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu. "Ada segini, kurangnya lo yang nambahin,ya Ma. Kita mampir beli whiskas dulu."


Meski berat untuk mengatakannya, Bima tetap harus memberitahu Aby. "belum ada kabar dari bibi." saat itulah senyum Aby lenyap. Cewek itu memasukkan kembali uangnya ke dalam saku.


"oh gitu, iya udah."


"nanti gue usahain biar Anjing cepet pulang."


Aby melangkah mendahului Bima, Gilang dan Satria menyusul dibelakang. Mereka bertiga kira, diamnya Aby karena Anjing, tapi sebenarnya bukan hanya itu. Perut yang nyeri menjadi alasan tambahan.


Saat mengenali mobil putih yang terparkir tak jauh darinya, Aby menghentikan langkah.ia menoleh ke belakang, menunggu Bima "Mama kesini? Itu mobil Mama." ujar Bima menunjuk mobil itu. Tentu saja ia sangat mengenali mobil yang selalu ia harapkan dan tunggu kedatangannya.


Bima menggeleng. Ia pun tidak tahu.


"eh buruan, ayo! Kasihan Keyla nunggu didalem sendirian!" seru Satria lalu menarik Aby agar kembali melanjutkan langkah.


"lepasin, Sat!" pinta Aby namun tak ditanggapi oleh Satria yang tetap memaksanya.


"GUE BILANG LEPASIN, ANJING! BUDEG LO?!" teriak Aby marah.


Satria yang baru saja membuka pintu belakang, terkejut. Berusaha tenang, ia tertawa sumbang. "kesurupan reong lo? Buruan masuk gih. Gue kasih spoiler, nanti bakalan mampir ke pet shop beli kucing baru. Keyla mau beliin buat lo, tapi nanti pura-puta kaget, ya."


Aby menatap penuh kebencian ke arah Keyla yang tengah menunduk dalam-dalam.


"Ma?"


"Kok hawanya nggak enak,ya?" celetuk Gilang.


"keknya kita harus cepet-cepet cabut nggak,sih By? Keburu sore. Oh iya, lo udah tau belom? Gue dipercaya buat ngisi hiburan di acara nikahan bokapnya Keyla. Bayarannya gede tau. Nyanyi-nyanyi doang. Mau ditraktir telor gulung lagi nggak?"


"Lang, Sat, kalian duluan aja. Aby biar sama gue." Bima memang datang seorang diri, ia tidak tahu jika Gilang dan Satria diam-diam mengikutinya. Awalnya ia kira hanya mereka berdua, ternyata ada Keyla juga. Tahu begini, Bima mengusir mereka agar tidak bertemu dentan Aby.


"loh gimana,sih? Ini kesempatan langka loh, Ma. Aby pasti seneng ikut kerumah Keyla, banyak makanan di sana. Ayo kalian berdua harus ikut!" paksa Gilang.


Bugh.


Aby meninju kuat rahang Gilang yang tetap Memaksanya masuk ke mobil.


"Anjing, jangan paksa gue!"


"kak Gilang!" pekik Keyla khawatir lalu memberanikan diriturun dari mobil untuk menghampiri cowok itu


"lo kenapa,sih?" protes Gilang lalu menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya.


"udah nggak papa, Key." ucapnya saat Keyla membantu.


"Lagi,Key? Sekarang temen gue yang mau lo ambil?iya udah, ambil."


...*****...


...Tbc...


...Akhirnya update...


...Maaf banget aku hiatus sebulan yaaaa karna lagi kuliah juga sama persiapan magang ...


...Makasih banyak yang masih stay sama Aby dan Bima...


...Sedih juga yang baca turun drastis...


...Tapi semoga bisa naik lagi...


...Ada kangen PAP si anak kesayangan mama Aby nggak? ...


...



...