Relation(Shit)

Relation(Shit)
ENAM



"Aby buat ulah apa sampai orangtuanya dipanggil?" Akhirnya Bintang mampu juga meloloskan pertanyaan yang sudah bersarang dari tadi difikirannya. Ia yang nyatanya anak baru, menjadikan Bintang satu-satu orang yang tidak tau tentang Aby. Jujur, saat Aby dimarahi didepan kelas tadi, membuat Bintang menaruh rasa simpati pada cewek itu. Bagaimana Aby bisa tersenyum saat ia dijatuhkan, membuat bintang salut.


"Biasalah,Aby kan emang gitu" Jawab teman sebangku Bintang.


"Gitu gimana?sorry banyak tanya."


"Langganan masuk BK. Bokapnya Aby donatur tetap,Bikin dia bisa semaunya sendiri. Aby emang nakal, tapi bukan nakal yang ngerugiin orang lain,malahan ngerugiin diri sendiri.".


Bintang mengangguk mengerti, cowok itupun berhenti bertanya. Sudah cukup rasanya untuk saat ini, info tentang aby.


Bel bertanda istirahat berbunyi. Satu persatu murid sudah meninggalkan kelas.


"kantin?" ajak bagas yang duduk disebelahnya.


"Duluan."


Dari pada kekantin.Bintang lebih memilih untuk mencari Aby yang tak kunjung kembali. Di sekolah lama, ia juga pernah mendapat hukuman persis seperti Aby. Namun, tidak cukup waktu dua jam ia mampu menyelesaikan itu. sedangkan Aby, sudah tiga jam lebih tapi belum kembali.


Bintang meninggalkan tempat duduknya dan melangkah mencari keberadaan Aby. Tujuannya kini adalah perpustakaan walau tak yakin bahwa Aby ada disana, namun Bintang tetap ingin mencoba memeriksanya.


setelah menulis data diri pada buku kunjungan. Bintang melangkah santai, pura-pura mencari buku. Langkahnya berhenti saat menemukan Aby sedang tertidur.Bintang pun berjalan mendekati gadis yang tengah menelungkupkan kepalanya diatas meja itu.


Kedua alisnya nyaris menyatu saat melihat hasil tulisan Aby. Tiga jam lebih yang sudah dihabiskan, hanya mampu menghasilkan tidak lebih dari lima belas baris. Apa Aby hanya tidur? Bintang menggelengkan kepala. Saat ingin membangunkan cewek itu, luka yang ada pada jari Aby menahannya. Ada dua luka yang terlihat salah satunya sudah menghitam.


Perlu rasanya membantu,Bintang keluar dari perpustakaan. Ia menghentikan langkah cowok yang sedang berjalan dihadapannya. "Sorry, mau nanya. UKS dimana,ya? gue murid baru soalnya."


"UKS ada digedung sebelah. disamping Ruangan BK. Lo lurus aja,belok kiri. pintu warna putih."


"Oke, makasih."


setelah mengatakan itu,Bintang kini sudah berjalan sesuai arahan cowok tadi. Sampai pada pintu yang dikatakan, Bintang menerobos masuk. karna memang tidak ada orang penjaga diruangan itu. Mendapatkan apa yang ia cari. Bintang dengan bergegas kembali ke perpustakaan.


"by" ucapnya sambil mengetuk meja yang ada dihadapan Aby. tak ada respon dari sang empu, membuat Bintang mengetuk lebih keras mampu membuat Aby tersentak kaget dari tidurnya.


"Hy"sapanya ramah.


"Eh surya,gua kirain siapa" ucap Aby lalu menguap lebar sambil menggaruk kepala.


"surya?"


"Lo, murid baru itu kan? yang namanya ada unsur tata suryanya. Gua gak salah manggil kan? nama lo surya. pasti bapak lo namanya satelit."


Bintang menarik kursi disebelah Aby untuk ia duduki. "Bintang" koreksinya.


Aby tertawa pelan. "Ternyata bener kata temen gue kalo gue itu goblok. sorry ya, gue cuma inget nama lo ada unsur tata suryanya. kirain surya, ternyata Bintang."


"Di inget baik-baik,Bintang."


"Bintang,Bintang,Bintang. udah gua ucapin tiga kali, pasti dijamin gak bakalan lupa. kalo lupa lagi berarti gobloknya lagi kambuh."


Aby memperhatikan gerakan Bintang yang kini tengah membuka kotak P3K.


"tangan lo" pinta cowok itu.


"Mau ngapain? mau salim lo?" ucap Aby sambil menjabat tangan Bintang lalu menempelkan dikeningnya.


Bintang hanya mampu terdiam,menatap Aby beberapa detik, sebelum senyumnya terbit.


Unik. satu kata yang mampu mendeskripsikan cewek yang ada dihadapan cowok itu. Baru kali ini ia bertemu sosok seperti Aby.


"jari lo, mau gue obatin. Kayaknya bengkak."


"Ini?" tanya Aby sambil menunjukkan jari tangannya itu.


"iya, siniin. biar gue bersihin."


"Gak usah, enak rasanya. nyut-nyutan gimana gitu. hehehe."


"jangan gitu sama diri sendiri."


"Seriusan tang, ginian doang. gak usah. lebay lo."


"siniin. Ini sebagai ucapan terimakasih gue sama lo. Kan tadi pagi lo udah anter gue keruang guru dengan aman."


Aby mengalah. ia mengulurkan tangannya kehadapan Bintang. Aby membebaskan Bintang melakukan apapun.


"Ini kenapa? yang hitem kayak tinta."


Aby menunjukan luka yang kebih kecil kepada Bintang,setelah cowok itu bersihkan. "Ini ketusuk pulpen. Buk ningsih ngagetin. tadinya gue lagi ngambar-gambar lucu disini." Ucap Aby beralih pada luka yang lebih besar dan memerah." luka itu yang mungkin menjadi penyebab, jari pada tangan Aby membengkak. "ini kena tusuk gigi"Terangnya.


"Lain kali hati-hati,ya" pesan Bintang.


"Lo cinta pandangan pertama ya sama gue?" tuduh Aby.


"Hah?"


"Lo peduli banget sama gue. kata temen gue, yang gak kalah goblok dari gue. selain gak pinter, gue juga baperan. dan ternyata bener, gua baper kali ini sama lo."


"lo salah paham. Tadi udah gua bilangin, ini sebagai ucapan terimakasih gue ke lo. bukannya kita udah jadi temen? temen kan emang saling bantu."


"yaaah,kirain demen. tapi makasih deh."


"sama-sama, btw ini belum selesai?" tunjuk Bintang pada buku tulis Aby.


"belum, gue males. Sekarang malah laper. Kayak yang tadi lo bilang, kita kan temen. Lo gak ada niatan traktir gue gitu? sebagai tanda pertemanan." Aby nyengir lebar yang mampu membuat senyum Bintang terbit.


"Anjir, senyum lo manis juga."puji Aby terang-terangan.


"Tapi uang saku gue gak banyak. cuma mampu traktir menu yang murah."


"Nasi remes di kantin lima ribu dapet kok. air galon gratis, sepuluh ribu dapet dua porsi."


Bintang mengangguk. "okey."


sepertinya berada di dekat Aby akan membuat Bintang sering tertawa. Bintang tak memungkiri kalau Aby benar-benar unik. "Hukuman lo,gimana?"


"biarin aja, palingan nanti bokap nelfon ke ketua yayasan."


"enak ya jadi lo" komentar Bintang yang tak ditanggapi oleh Aby. Hanya pukulan pada bahu Bintang, itupun pelan.


"Buruan tang. nanti ayam gorengnya abis."


...*****...


"Ma, lo ada nomer cakra?"


"perasaan tadi pagi info sama profilnya masih ada. napa sekarang udah gak ada. Tadi juga sebelum berangkat chattingan, sekarang udah ceklis satu aja. apa gue diblok?"


"Semalem ngajak jalan padahal."


"IG gue juga kayaknya di blok."


"Gue ada salah apa cobak?"


"Nih pasti si mafia mafia itu udah tau kalo gue lagi deket sama cowok lain. makanya posesifnya kambuh. makin se mena-mena tuh mafia ya. sekarang belum jadian aja udah dijampi-jampi."


Bibir Bima berkedut menahan senyum mendengar curhatan Aby soal gebetan barunya yang menghilang itu. Target ke sembilan belas sudah ia lumpuhkan dari kehidupan Aby. Tidak sia-sia juga ia bergadang hanya untuk mencari info tentang Cakra di depan laptop guna sebagai bahan peledak untuk memukul mundur Cakra.


sebelah alis Bima terangkat. "Udah selesai curhatnya?"


"Lo gak asik banget diajak ngomong. jangan-jangan lo gak tau juga enaknya gibah gimana."


"Lo masih ada tugas Ekonomi dihalaman 31. Ada tugas pilihan ganda dua puluh sama uraian. Matematika kurang enam belas sama Bahasa inggris belum translate bacaan dihalaman 25. semuanya dikumpulin besok pagi.


Aby menguap lebay. "denger dongeng emang bikin ngatuk,ya?gue mau tidur duluan. ngantuk gue denger lo ngedongeng."


Bima mengambil penggaris memukul benda itu ke punggung tangan Aby yang siap ingin tidur. "kerjain ini dulu baru tidur." tegas Bima.


"Ngantuk,ma"


Gayung berisi air cowok itu letakkan diatas meja. "Gua sedia air sebelum lo tidur. mau gue guyur sekarang?"


"Bimaaaaaaaaaa!" Aby berteriak. benda yang ada didekatnya ia lembar ke arah Bima. Cowok itu benar-benar menyebalkan. Tutor mana yang mampu menyiksanya seperti Bima ini. bahkan Bima menyiapkan raket nyamuk sebagai alat siksa untuk Aby jika nanti cewek itu kabur.


"Mau ngerjain yang mana dulu?" tanya Bima sudah sangat siap menjalankan tugasnya sebagai tutor.


Aby yang frustasi. menjatuhkan tubuhnya kekarpet lalu guling-guling sambil menendang sofa. " ma, gua kumat nih gilanya. Anterin ke mekdi aja."


"Gue hitung sampe tiga lo gak duduk ditempat. siap-siap aja bakalan gue bikin beneran gila." Ancam bima.


"Tertekan gue,ma" keluh Aby sambil membuka buku tulisnya. Ia duduk disebelah Bima siap untuk mengerjakan tugas matematika.


Bima mengambil napas dalam-dalam. Sudah kali ketiga ia menjelaskan materi pada Aby, namun aby tetap saja tidak paham. Ia sudah menjelaskan dengan cara sesederhana mungkin. Tapi Aby tetap tidak terhubung, Masih loding.lalu menggaruk kepalanya seperti monyet, melongo,menguap, ngelag, dan berakhir not responding.


"Paham kan?" tanya Bima setelah menjelaskan ulang.


"Apanya?" Aby balik bertanya.


"Yang gue jelasin barusan lah."


"Emang lo tadi ngejelasin apaan?"


Niatan ingin menjedotkan kepala Aby sudah ada dalam fikirannya hanya tinggal diterapkan saja. Botol air yang berada didekatnya langsung lelaki itu buka. Tanpa fikir panjang meneguk airnya dengan kasar saat emosi menguasai dirinya.


"Bagi,gue juga haus" ucap Aby setelah itu merebut botol minum dari tangan Bima lalu meneguknya dengan santai. Tidak mempermasalahkan bahwa itu adalah bekas Bima.


"Gini aja... setiap lo mampu ngejawab satu soal, lo boleh minta apapun yang lo mau." Pancing Bima untuk membakar semangat belajar Aby.


"Apapun?"


"Iya."


Jawaban dari Bima mampu membuat semangat Aby berkobar. Cewek itu langsung membasuh wajahnya dengan air yang ada digayung untuk mengusir kantuk. Dengan santainya, Aby menarik baju Bima untuk mengeringkan wajahnya yang basah. Aby nyengir lebar saat Bima sudah meraih raket nyamuk.


Bima tersenyum mengejek, dari awal menghitung saja Aby sudah salah tentu saja hasilnya akan berbeda.


"ah,males. masa jawabannya gak ada." keluh Aby. polpoin ditangannya kini ia lembar ke atas meja dan kini Aby sudah berbaring di sofa. Ia menyerah dengan matematika.


Nyerah?"


"huuh, otak gua keseleo. lo gak bisa paksa-paksa gue lagi. Ntar saraf diotak gue putus gimana, ada niat lo tanggung jawab? oh tentu tidak. Traktir bakso tiap hari aja gak mampu, apalagi biayain saraf gue yang putus."cerocos Aby lalu memejamkan kelopak matanya.


Alih-alih membangunkan Aby yang sepertinya tertidur, Bima justru melakukan peregangan otot. Sebelum mengerjakan tugas Aby satu persatu. Bima tidak tega jika besok pagi Aby dihukum karna tidak mengumpulkan tugasnya.


Meskipun serius dengan tugas yang ada didepannya, Bima tetap mengawasi Aby. Sesekali ia melirik kesofa, memastikan Aby tidak terjatuh. Matematika beres, Cowok itu beralih pada mapel Ekonomi. Tidak mendapat materi itu dikelas, membuat Bima harus membaca materi itu dari awal dan menyerap ilmu secepat yang ia bisa.


Mendengar suara mesin kendaraan, Bima bangkit. Sebelum membukakan pintu, ia mengintip lewat jendela. sudah sangat hafal diluar kepala tentang siapa pemilik mobil, Bima bergegas membukakan pintu untuk ibu dari Aby itu.


"Tante,aby....."


"Tante cuma mau ambil paspor,ma. Bentaran doang. Titip Aby lagi,ya. Tante bakalan sibuk banget soalnya." sela wanita itu sebelum Bima menyelesaikan perkataanya. Wanita itu berjalan tergesa-gesa menuju kamar.


Bima mendekati Ayu yang sudah kembali ke ruang tengah dengan membawa apa yang wanita itu inginkan.


"Tante, aku mau ngomong soal Aby, Aby...."


"Kapan-kapan aja ya ngomongnya, tante buru-buru. Titip salam buat Aby."


Bima hanya bisa mengangguk saat wanita yang dipanggil mama oleh Aby itu melangkah cepat menuju mobil, Meninggalkan halaman rumah. Cowok itu menutup pintu. berjalan menghampiri Aby yang tertidur di sofa. Aby tidak perlu bersuara untuk memberitahunya tentang keadaan gadis itu. Bima lebih dari tau sedalam apa luka dihati yang coba Aby balut dengan segala tingkahnya. Dibalik sifat yang periang, Jiwanya sedang tak baik-baik saja.


Jakun Bima berguncang saat kini fokusnya terkunci pada bibir Aby yang sedikit terbuka. Sebut saja ia kurang ajar karena tidak bisa menahan diri untuk tidak bisa memangut bibir Aby.


...*****...


...TBC...