
Sudut bibir sebelah kirinya robek setelah ditinju dua kali dengan tenaga penuh oleh Aby. Bima menyeka darah yang mengalir dari bibir dengan punggung tangannya. Perih. Aby benar-benar memberikan pelajaran berharga pada ketidak jujurannya. Sebelum bibir, tulang pipinya sudah menjadi sasaran pertama amukan Aby. Sepertinya besok pagi akan ada lebam di sana.
Aby belum mengatakan apapun sejak menyeretnya paksa ke halaman belakang. Yang gadis itu lakukan hanyalah memukulinya tanpa kata ampun. Bima sendiri menerima semua bentuk kemarahan dan kekecewaan sang pacar. Ia tidak menangkis apalagi membalas serangan dari Aby.
Selama ini Aby tidak pernah jujur pada kemarahannya. Pelampiasan amarah Aby selama ini yaitu menyakiti dirinya sendiri, melukai fisik dirinya. Kali ini dengan senang hati Bima membiarkan Aby jujur, sekalipun nanti membuatnya babak belur. Aby harus jujur pada perasaannya dan berhenti menyakiti dirinya sendiri.
Bima pun lebih senang jika kemarahan Aby dilampiaskan seperti ini dari pada harus banyak drama mogok bicara apalagi sampai menghindarinya.
"kenapa diem aja,lo? Cupu anjing! Bales dong! Sini lo brantem sama gue! Keluarin semua kemampuan lo bangsat!" tantang Aby seraya menggulung lengan kausnya.
Gadis itu sudah bersiap-siap ingin menghajar Bima lagi, ia menunggu Bima membalas pukulannya agar lebih seru. Tapi nyatanya yang Bima lakukan hanya membiarkan dan menerima pukulan dari Aby dengan lapang dada. Dan itu sangat membosankan.
Tapi, walaupun Bima tidak memukul balik, tangan Aby merasa kesakitan. Tubuh Bima keras. Aby seperti memukul batu.
Bima yang ambruk setelah tulang keringmya ditendang kuat, ia meringis kesakitan. Kedepannya, ia harus mengingat baik-baik bagaimana kekuatan pukulan Aby. Meskipun cewek itu tidak menguasai ilmu bela diri apapun, tapi tenaga dari setiap serangannya cukup melumpuhkan lawan.
Bima harus berfikir seribu kali sebelum macam-macam pada pacarnya yang tukang pukul. Marahnya seorang Aby berbeda dengan marahnya cewek pada umumnya.
"lo tau nggak, selama ini. Lo orang yang paling gue percaya. Lo satu-satunya yang bikin gue yakin kalau masih ada orang yang nggak akan bikin gue kecewa. Dan sekarang apa? Lo bohongin gue. Lo bikin gue ngerasa nggak akan pernah ada orang yang bisa dipercaya. Gue pernah tanya lo soal mama, tapi lo pura-pura goblok. Dan lebih gobloknya lagi gue percaya sama omongan busuk lo.
"nyokap lo yang minta gue buat nggak bilang sama lo."
"Hebat,ya! Kalian semua sekongkol buat kasih kejutan ke gue. Luar biasa banget loh kejutannya. Gue sampe kaget, bahkan pengen tepuk tangan kencang-kencang rasanya. Hebatnya lagi, lo juga terlibat. Lo tau? Tadinya gue ada niatan buat lari ke lo."
Bima bangkit. Rasa sakit yang masih bersarang di kakinya membuat cowok itu berjalan pincang mendekati Aby yang terlihat masih sangat marah padanya.
"Maaf. Gue tau dan gue ngaku salah. Mungkin permintaan maaf gue nggak akan ada gunanya bahkan nggak ngerubah apapun. Tapi maafin gue karna gue nggak bagi tau lo tentang apa yang gue ketahu."
Uluran tangan Bima ditepis kuat oleh Aby dengan tendangan kaki kananya. Bima sampai memekik kesakitan saat tangannya terhempas kuat. Aby benar-benar bar-bar.
"nggak gue maafin. Gampang banget mulut lo minta maaf.Yang ada lo nanti makin berani kayak gini lagi sama gue. Bohongin gue dan sok goblok."
"gue udah minta maaf kalau lo nggak maafin itu hak lo." balas Bima lirih karena luka di bibirnya benar-benar sangat menyiksa saat mulutnya digerakkan.
"gue bakalan bales rasa sakit yang lo kasih ke gue,Ma!"
"emang ini belum cukup?" Bima menunjuk luka robek disudut bibirnya. Telujuk cowok itu beralih ke tulang pipi yang menjadi sasaran amukan Aby tadi lalu mencibir, "lo fikir ini nggak sakit? Ditambah lagi kaki gue udah nggak bisa buat jalan. Masih belum cukup?"
"Belom! Gue bakalan bikin lo sakit hati. Gue bakalan selingkuh sama Bintang. Gue bakalan ******* sama dia biar lo ngamuk sampe jadi gila. Atau biar lebih enaknya gue bakalan tidur sama dia!"
Meskipun kebenaran ancaman Aby belum bisa dipastikan namun itu sudah cukup membuat darah Bima mendidih. Mengabaikan rasa sakitnya, cowok itu mendorong Aby hingga terperangkap diantara tubuhnya dan pohon mangga dibelakang gadis itu.
"Lo..jangan macem-macem,By. Jangan main-main sama gue!" geram Bima.
"lo yang mulai duluan,Ma. Jadi, jangan salahin gue. Gue nggak selemah yang lo kira. Lo fikir, lo siapa? Gue nggak takut sama lo!"
"gue pacar lo. Apa pantes lo berhubungan sama Bintang? Dan apa... Selingkuh? Mau mati lo!?"
"Oh, pacar doang,kan? Tinggal putus aja, bereskan. Atau lo mau gue putusin sekarang?"
"bangsat!" upat Bima,lalu memejamkan matanya kuat-kuat untuk menahan amarah. Bima tidak ingin menyesal nantinya jika sampai lepas control dihadapan Aby.
"Ikut gue pulang,sekarang!"
"pulang? Pulang kemana? Rumahnya udah dijual. Sempurna banget, kan hidup gue? Orangtua gue pisah, nggak diurus, dan satu-satunya hal yang menurut gue berharga juga udah nggak ada."
"dijual? Gimana bisa?"
"lo bukan tempat gue berbagi lagi. Jadi, gue nggak perlu ngasih tau lo tentang apa yang terjadi sama gue."
Aby mendorong dada Bima agar menjauh lalu meninggalkan cowok itu tanpa permisi. Dengan langkah kaki terpincang, Bima berusaha mengejar Aby yang justru berlari saat dikejar.
...*****...
Hujan deras disertai angin kencang tidak membuat Bima mundur. Sebelum mendapat kata maaf dari kekasihnya. Bima tetap menunggu Aby yang kini duduk dibingkai jendela kamar menatap ke arahnya. Aby tidak buta, Aby tahu ia sudah kehujanan sejak setengah jam yang lalu. Namun cewek itu tidak melakukan apapun. Aby hanya duduk anteng sambil menikmati cemilan dan minum teh hangat menunggunya menyerah. Se-sinting itulah Aby.
Bima terus mendongakkan kepala. Berharap Aby melihat kesungguhannya dan terketuk hatinya untuk memberikan maaf. Tapi, sepertinya Aby tidak terpengaruh sedikitpun.
Ia lupa jika Aby bukan seperti gadis kebanyakan. Segala tentang gadis itu tentu berbeda. Bima berani bertaruh Aby tidak akan datang dan membawakan payung untuknya. Kalau nanti ia pingsan pun dipastikan Aby tidak akan khawatir melainkan ketawa dan mengolok-ngoloknya.
Bima bahkan paham betul jalan pikiran Aby yang melenceng jauh dari jalan pikiran manusia normal.
Ditempatnya, Aby menguap lebar melihat Bima yang berdiri tanpa melakukan apapun selain menatap penuh harap padanya. Ia pun menyeruput kembali teh hangatnya dan membuka bungkus cemilan yang baru.
Saat melihat Keyla keluar dari rumah membawakan payung untuk Bima pun Aby tetap ditempatnya. Ia tetap menikmati cemilan dan teh hangat dengan terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Meskipun tidak bisa mendengar percakapan mereka, namun Aby bisa menebak. Saat Keyla menyentuh tangan Bima, sepertinya cewek itu tengah meminta Bima untuk berteduh.
"apa lo juga bakalan rebut Bima dari gue?" tiba-tiba saja Aby mempertanyakan itu saat melihat Keyla membiarkan tubuhnya basah kuyup agar bisa memayungi Bima. Mendadak sifat lugu dengan tampang polos Keyla dianggap ancaman baru untuknya.
Sampai akhirnya Bima berhasil dibujuk masuk oleh calon adik tirinya, Aby masih belum peduli. Ia tetap santai, sesekali membalas pesan-pesan yang masuk. Hubungannya dengan Bima yang tidak dipublis membuat ponsel Aby masih menjadi kontrakan buaya.
"Aby."
Aby menoleh mendapati Ayu berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kenapa,Ma?"
"makan dulu,yuk! Mama udah masakin buat Aby."
Melihat kedatangan calon kakak tirinya, Keyla yang merasa takut sekaligus tidak enak hati pun menyudahi kegiatannya. Cewek itu cepat-cepat bangkit dan berpindah kekursi yang lain.
Aby sendiri melirik sebentar ke arah Bima sebelum duduk bersebelahan dengan cowok itu. Seolah tidak peduli dengan Bima, Aby malah terlihat asyik membalas pesan yang masuk.
Suara notifikasi yang tidak kunjung berhenti membuat telinga Bima panas. Sungguh! Ia sangat penasaran siapa yang berani-beraninya bertukar pesan dengan pacarnya, rasa ingin menyingkirkan mereka dari hidup Aby saat ini sangat lah besar dalam diri Bima.
Bima mengepalkan tangannya kuat-kuat saat Aby terang-terangan tertawa mematik api cemburu. Jika saja hanya ada dirinya dan Aby saat ini, sudah pasti Bima akan menindak tegas perbuatan Aby. Ia tidak segan-segan membanting Aby ke lantai lalu di eksekusi langsung di sana.
"itu tempat duduk Key, pindah sana!" Rehan yang baru saja datang langsung mengusir Aby yang tengah menduduki kursi yang biasanya Keyla duduki. Selain karena itu tempat duduk putrinya, Rehan juga kurang nyaman jika Aby berada didekatnya.
"nggak papa,Pa. Key duduk disini aja. Kak aby biar disitu." celetuk Keyla.
"udah denger kan,om? Lagian tempat duduk doang pake dimasalahin segala,sih?" cibir Aby lalu mengambil jeruk dikeranjang buah. "kupasin," pintanya pada Bima.
Rehan menatap tajam kearah Aby sebelum duduk. Ada rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul saat mendengar cara Aby berbicara kurang sopan kepadanya. Jika dibandingkan dengan Keyla, tentu saja mereka sangat jauh. Keyla ia bekali dengan nilai moral yang kuat. Cara bicara putrinya jelas sangat terdidik tidak seburuk Aby.
"kamu yang bikin Bima kayak gini? Mau jadi preman?"
Aby menerima jeruk yang sudah dikupas oleh Bima. Ia jelas lebih mengutamakan makan jeruk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Rehan. "iya,kenapa? Mau kayak dia juga,om?"
"kayak gitu cara kamu ngomong sama orangtua? Nggak pernah diajarin sopan santun!?"
"Pake nanya lagi, ya nggak pernah lah. Om kan tau sendiri. Mama sibuk ngurusin anak om yang cupu itu." balas Aby dengan santai.
Rehan yang mendengar itu,langsung menggebrak meja dengan keras sampai terdengar suara bising. Melihat itu, Ayu langsung mendekati calon suaminya. Pundak pria itu di helus Lembut untuk menenangkan.
"mas, maafin Aby,ya." Ayu mengusap pundak Rehan. Ia tahu jika calon suaminya sangat marah dengan tingkah Aby. Keyla segalanya untuk Rehan. Bahkan segala sesuatu yang melibatkan keyla adalah urusannya. "mending sekarang kita makan aja, ya Mas."
"Urus anak kamu! ajari dia tata krama biar dia tau caranya bersikap sama orangtua kayak mana."
"idih, gayanya kayak paling bener aja. Tinggal serumah sama perempuan yang bukan istrinya dikira bener apa? Sehat om? Bangun om ini bukan luar negri,jangan sok!"
"Aby! Jaga sikap kamu!" bentak Ayu.
Tujuan utama Aby mau ikut pindah bersama Ayu semata-mata untuk mengetahui siapa orang yang dengan teganya menghancurkan Aby. Apa setelah tahu, Aby akan tinggal diam? Tentu saja tidak. Aby bukan cewek cupu dan lemah. Jika mereka saja bisa, maka Aby pun juga bisa menghancurkan semuanya. Aby pastikan dirinyalah yang akan berkuasa diatas rumah ini.
"ya,ya aku diem nih."
Ayu menghela napas. Mencoba mengabaikan Aby, wanita paruh baya itu berjalan mendekati Keyla dan mengisi piring kosong gadis itu dengan nasi dan lauk sesuai dengan Keyla inginkan.
"Mama tu aneh tau nggak. Anak orang lain diurusin sampe segitunya. Tapi kalau sama anak sendiri aja dibiarin,mau mati sekalipun mama tetap cuek,kan? Ooo..aku tau nih, pasti mama lagi caper kan didepan om Rehan? Biar cepet dinikahin."
Keyla dan Rehan yang baru saja akan memulai suapan pertamanya, langsung urung. Keduanya menatap Aby yang tengah asyik makan dengan porsi besar.
"ngomong-ngomong nih,Ma. Aku penasaran banget nih gimana awal kalian bisa sampe kumpul kebo disini. Om Rehan yang rebut Mama dari Papa? Atau malah Mama yang kegatelan ke Om Rehan nih?" sambung aby lagi.
"Aby...cukup!"
"kasih tau dong,Ma. Aku kan penasaran sama cinta kalian. Punya papa kurang gede,ya? Makanya Mama cari yang lain?"
"Aby bisa ikut Mama sebentar? Mama mau ngomong sama Aby" pinta Ayu.
"ngomong disini aja kenapa sih,Ma. Pasti Mama takut nih,Om Rehan sampe tau seberapa buruknya Mama menjadi seorang ibu?"
"Ma,udah ya. Kita makan aja. Mama jangan marahin kak Aby terus."
"aduh baik banget calon adik tiri gue. Gue bakalan nyaman kayaknya disini. Ntar kalau ada apa-apa, gue bisa minta tolong ke lo,kan? Gue orangnya mageran. Jadi nanti banyak nyuruh-nyuruh lo." pungkas Aby lalu mengusung senyum lebar sebelum melanjutkan kegiatan makan malamnya.
Tidak terima dengan perkataan Aby pada putri tercintanya, Rehan bangkit berjalan mendekati Aby. Lengan Aby ditarik kuat, memaksa anak kurang ajar itu untuk berdiri.
"apa? Nggak seneng anaknya digituin?" cemooh Aby.
"Kamu bener-bener nggak punya sopan santun,ya!" geram Rehan.
"Tuh kaca! Aku rasa om butuh itu----"
Rehan melayangkan tamparan keras di pipi Aby untuk membungkam mulut kurang ajar gadis itu.
Tamparan kuat itu membuat Aby syok berat. Selama ia hidup orangtuanya tidak pernah belakukan kekerasan fisik padanya. Tamparan tersebut sangat amat mampu menyempurnakan luka di hati maupun fisiknya.
"Papa!" protes Keyla tidak terima pada apa yang dilakukan ayahnya. Saat hendak berlari untuk melindungi serta membantu Aby. Keyla urung ia kalah cepat dari Bima yang kini tengah memeluk Aby.
"jaga baik-baik mulut kurang ajar kamu atau saya tidak akan segan-segan memberikanmu pelajaran. Kamu sekarang tinggal dirumah saya, jadi. Ikut semua aturan saya! Peraturan pertama,jangan pernah main-main dengan Keyla!"
...*****...
...tbc akhirnya up...
...jangan lupa vote seninnya yaa...
...bantu like...
...makasih...