Relation(Shit)

Relation(Shit)
EMPATPULUH



"lingkaran kecil, lingkaran kecil...lingkaran besar." Aby bersenandung lirih seraya memberi coretan di sekitar lukanya. Sesekali ia akan menusuk luka itu dengan ujung bolpoin karna terlalu gemas. Kalau diingat-ingat sudah lama ia tidak terluka.


Dari tempat duduknya, Bintang terus mengamati kegiatan Aby. Ia masih tidak habis fikir dengan apa yang gadis itu lakukan pada luka yang ada dilutut dan sikunya. Alih-alih merengek kesakitan, Aby justru terlihat bahagia. Lihat saja bagaimana asyiknya Aby menggambar bentuk-bentuk lucu disekitar darah yang belum sepenuhnya mengering itu dengan bolpoin.


"Aby! Ngeri ih, ke uks aja kenapa sih? Ngilu gue lihatnya." protes Bila yang duduk disebelah Aby. Cewek yang baru saja berganti pakaian itu menarik tangan kanan Aby agar berhenti bertingkah. "ayo gue temenin ke uks." ajaknya.


"nggak mau, orang ini lucu banget. Merah-merah gemoy. Udah gitu nyut-nyutan bikin candu."


"udah nggak waras lo."


"hehehe, kita cuma beda kesenengan aja."


Saat hendak memprotes ucapan Aby, guru matematika masuk kedalam kelas. Hal itu membuatnya mengurungkan niat.


"siang buk!" jawab seisi kelas dengan kompak.


"tugas dipertemuan sebelumnya silahkan dikumpulkan."


Mendengar perintah itu Aby langsung menghentikan kegiatannya lantas menurunkan kaki dari kursi. Gadis itu mulai sibuk mencari buku tugas, baru saja ingin berdiri untuk mengumpulkannya, bahunya ditahan oleh seseorang yang berdiri disebelahnya.


"sini buku tugas lo, gue aja yang ngumpulin biar sekalian. Kaki lo pasti sakit kalau buat jalan." tawar Bintang dengan senyum yang dibalas kekehan pelan oleh Aby.


"yaelah luka kecil beginian doang masih bisa buat jalan kali. Marathon dari sabang sampai merauke aja masih kuat."


Tak menerima penolakan, Bintang merampas buku tugas Aby lalu membawanya ke meja guru. Begitu kembali, cowok itu tersenyum diiringi anggukan saat Aby mengucapkan terimakasih padanya.


"ulangan minggu kemarin sudah selesai ibu koreksi. Ibu heran, kalau ditanya paham atau belum kalian jawabnya udah paham. Giliran ulangan... Kelas ini cuma 1 yang nggak remedi."


"gimana nggak remedi, orang contoh sama soal ulangannya aja beda begitu." gerutu Bila yang ditanggapi kekehan geli oleh Aby.


"Abyandra Tahlia!"


Mendengar namanya disebut, Aby langsung bangkit dan maju untuk mengambil kertas ulangannya.


"ibu bangga sekali sama perkembangan nilai kamu. Naiknya sedikit, tapi nggak pernah turun lagi. Pertahankan semangat belajarnya, kalau bisa ditingkatkan lagi. Satu lagi, kalau bisa pakai cara yang ibu ajarkan."


"siap Bu!"


Aby tak bisa menahan senyum melihat angka 79 di sudut kanan kertas ulangannya. Bangga dengan pencapaiannya, ia pun mencium nilai itu berkali-kali lalu didekap erat sembari dibawa ke tempat duduknya. Tidak sia-sia ia belajar dengan Bima,walaupun ya.. Pasti ngerti lah ya.


"kering dah lama-lama tuh gigi nyengir mulu." ejek Bila.


"selain Aby, silahkan kerjakan soal di papan tulis untuk perbaikan nilai."


"tenang, nanti gue bantuin yang mana bisa gue kerjain." ucap Aby pada Bila yang menghela nafas melihat soal-soal yang tengah ditulis di papan tulis.


"beneran loh,ya."


"tapi nggak gratis, beliin telor gulung."


"perhitungan banget sama temen."


"ya gimana,ya. Gue dapet ilmunya juga nggak gratis."


Aby tidak berbohong, kan? Ia mendapatkan ilmu itu dari Bima. Apapun yang menyangkut Bima tentu saja tidak pernah ada yang gratis. Lelaki itu selalu saja memanfaatkan dengan baik setiap ada peluang untuk menyerangnya.


"iya-iya telor gulung lima ribu."


Setelah mengacungkan ibu jari pada Bila, Aby mulai menyiapkan alat tulis. Ia pun ikut mengerjakan beberapa soal yang bisa ia kerjakan dan langsung dibagi pada Bila. Saat menoleh kebelakang dan melihat sahabatnya tengah kesusahan, Aby pun menyalin jawaban ke kertas lain. Diremasnya kertas itu dan dilemparinya sengaja mengenai dahi Bintang.


"sama-sama, tapi nanti beliin gorengan ya." ucap Aby dengan suara lirih lalu kembali menghadap ke depan.


Untuk beberapa saat Bintang hanya terdiam menatap kepala Aby yang mengangguk-angguk pelan. Kegiatan membenci Aby dengan mempertahankan senyuman di wajahnya semakin sulit ia lakukan.


Sialan! Ia benci kebaikan dan ketulusan Aby yang membuatnya terombang-ambing.


...*****...


Bima melarangnya pulang bersama Bintang, cowok itu yang akan menjemput. Sedang berkomitmen untuk mencoba berpacaran seperti orang-orang, Aby pun patuh walaupun jiwa bar-barnya meronta ingin membuat Bima marah.


Menunggu Bima, Aby duduk di halte bersama beberapa siswi dari kelas lain. Untung ia biasa bergaul dengan siapa saja, jadi waktu untuk menunggu Bima tidak terasa membosankan.


"eh,itu Bima,kan? Gue baru pertama kali lihat langsung, anjir! Lebih cakep aslinya dari pada difoto."


Mendengar celetukan gadis disebelahnya, Aby mengikuti arah pandang cewek itu. Benar, lelaki berstelan putih abu-abu rapi itu adalah Bima. Ia pun mengangkat tangan, melambai dan berteriak memanggil Bima yang tengah celingukan mencari dirinya. Tidak ada respon memang, tapi Aby yakin Bima sudah tau keberadaannya.


"apaan sih,By. Kebiasaan banget deh, nggak bisa gitu ya kalem dikit. Itu Bima loh, beda sama cowok-cowok disini yang emang selalu notice lo. Beda sama dia, mana mau sama lo."


Melihat Bima kembali memasuki mobil, Aby ditertawai. Salah satu dari mereka mengelus pundak Aby lalu berkata dengan nada mengejek. "sabar,ya. Bima ketinggian buat lo, mending lo sama Bintang aja udah deket juga kan."


Aby mendengus kesal. "Bima cowok gue!"


Hening. Seketika tawa mereka pecah, mereka akui jika tingkat kepercayaan diri Aby untuk mengaku bahwa ia adalah pacar Bima patut di apresiasikan. Tapi mana mungkin itu terjadi,kan? Selera seorang Bima tentu saja bukan Aby yang pecicilan, brisik, dan minim prestasi. Kalau pun tidak pintar, seenggaknya kalem.


"halu lo ketinggian." ejek cewek disebelah Aby.


"eh, kok Bima jalan kearah sini sih?"


"ya,kan mau nyamperin gue!" sewot Aby.


"ngarep lo!"


"bobanya." ucap Bima singkat seraya mengangsurkan minuman pesanan kekasihnya.


Aby menerimanya dengan kepercayaan diri yang tinggi, apa lagi saat gadis-gadis disekitarnya terlihat syok dengan apa yang mereka saksikan. "lama banget jemputnya." keluh Aby dengan nada yang dibuat-buat agar terdengar sedikit manja dan itu sebenarnya menjijikan menurut Aby.


"kekantor Mama dulu minjem mobil, lo kan nggak mau dijemput pake motor."


"oh iya, lupa. Hehehe." Aby pun mulai menikmati minumannya lalu mengembalikannya pada Bima. "rasanya aneh." komentarnya.


Sebelah alis Bima terangkat. "aneh gimana? Gue belinya ditempat biasa."


"cobain aja sendiri, kayak...gatau cobain aja sendiri, Pokoknya aneh."


Menurut keinginan kekasihnya, Bima pun memasukkan sedotan bekas Aby kedalam mulutnya. Saat mencobanya, tidak ada keanehan rasa seperti yang Aby katakan. "perasaan sama aja rasanya." beritahu Bima.


Sedetik kemudian Aby merebut kembali boba di tangan Bima. Saat gadisnya kembali menikmati bobanya sembari melirik-lirik ke arah samping, saat itulah Bima paham dengan maksud Aby. Mau pamer ternyata.


Puas dengan ekspresi konyol cewek-cewek yang tadi meragukan ucapannya, Aby pun mencondongkan tubuh ke arah mereka. "kena mentalkan lo dibilangin ngeyel, Bima cowok gue. Udah bucin banget, kalian liat sendiri,kan."


"pake jasa pelet dukun mana,njir?"


"apa gunanya Tuhan ngasih gue wajah cantik kalau masih pake pelet? Yang bener aja lo." sewot Aby bisik-bisik.


"sialan lo!"


"kaki lo kenapa?"


"hehehe." Aby memasang wajah sepolos mungkin. Kenapa bisa ia sampai lupa menutupi luka di lututnya dari Bima,sih? Kalau ketahuan Bima pasti langsung diobati kan jadi nggak seru lagi, jadi cepat sembuhnya. Padahal kan Aby ingin sakit lebih lama, soalnya enak.


"diem." perintah Bima yang kini sudah bertekuk lutut di hadapan Aby. Semenjak tahu Aby sering terluka, Bima memang selalu menyimpan kotak P3K di dalam ransel sekolahnya. Dengan cekatan cowok itu mulai memberikan penanganan pada lutut kekasihnya. Sekalipun Aby terus protes dan mengatakan banyak omong kosong, Bima menulikan pendengaran.


"Kita pulang sekarang." ucap Bima mutlak dengan suara yang hanya mampu didengar oleh Aby saja. Usai merebut ransel milik Aby, Bima pun melangkah lebih dulu.


Saat itulah Aby tahu suasana hati Bima kini sudah berubah menjadi buruk.


"gusy duluan ya! Ngambek kayaknya tuh bocah." pamit Aby lalu buru-buru mengejar Bima.


Lantaran perbedaan tinggi yang sangat kentara membuat Aby kini mendongakkan kepalanya. "ngambek,ya?"


"pikir sendiri, gue capek-capek ngusahain biar lo nggak terluka, tapi lo sendiri....udah lah lupain otak lo nggak bakalan nyampe kesitu. Langsung pulang aja, jajannya nanti malam aja kalau udah mood."


Bima tidak membukakan pintu untuk Aby dan Aby pun tidak mengharapkan hal itu disaat situasi seperti ini.


"tadi itu pas olahraga gue main basket sama anak-anak cowok. Trus pas mau ambil minum tiba-tiba aja punggung gue kena bola ya ujungnya jatoh. Maaf ya, gue belum bisa kayak orang normal. Gue masih suka sama kesakitan makanya tadi dibarin aja."jelas Aby tanpa menunggu dituntut oleh Bima yang terus saja menatapnya tanpa suara.


"jangan diem aja dong,Ma." bujuk Aby.


"gue lagi maki-maki lo di dalam hati. Udah terlanjur janji makanya nggak bisa maki-maki langsung."


Tawa Aby mengudara. Ia pun memberanikan diri untuk mengelus rahang tegas Bima yang kini mengeras. "jangan khawatir, gue nggak papa. Gue juga bakalan belajar buat bertingkah normal, tapi pelan-pelan,ya. Gue nggak bisa berubah dalam sekejap."


Bima mengambil napas dalam-dalam lalu dikeluarkan perlahan sebelum akhirnya tersenyum karena sudut-sudut bibirnya ditekan oleh jari lentik Aby.


"mau langsung pulang?"


"iya, capek banget pengen tidur."


"oke. kita tidur bareng."


Aby menatap galak kearah Aby. Jiwa penyakar Aby sudah meronta ingin keluar, target sudah ditentukan titik fokus Aby kini sudah mengarah keleher Bima tapi teringat janji-janji semalam. "tidur sendiri-sendiri." tukasnya saat mobil mulai melaju.


"nggak denger." ucap Bima santai.


Kesal dengan Bima, Aby pun menggigit lengan atas cowok itu. Puas melakukannya, Aby menyandarkan punggung lalu menghela nafas beberapa kali. Sesekali ia melirik Bima yang fokus menyetir.


"tau nggak, temen-temen gue nggak ada yang percaya kalau lo pacar gue. Lo sih, sering pencitraan jadi orang lain taunya lo mana mau sama cewek kayak gue. Padahal aslinya." cibir Aby membuka topik pembicaraan. Mana betah Aby diam lama-lama.


"kenyataannya gue cuma mau sama lo. Begitu juga sebaliknya."


Aby memukul lengan Bima. "gue juga terpaksa kali sama lo. Banyangin aja posisi gue yang mau dilempar guci kalau nolak lo, ya takut lah gue. Padahal gue mau memaksakan diri buat Arion. Eh malah dipaksa lo."


"cuma mau ngasih tau aja, Arion udah punya istri. Jangan mimpi lo buat sama dia. Selera Arion juga bukan ondel-ondel modelan lo. Arion sukanya cewek kalem nggak banyak tingkah. Mending lo sama gue aja, sedikit info nih buat lo yang suka duit. Warisan gue juga banyak cuma nggak dipamerin aja. Lo nggak bakalan jadi gembel kalau sama gue, kalau pun jadi gembel pasti gembel bahagia modal cinta."


Aby tertawa lepas dengan omong kosong pemuda disebelahnya. Ada kemajuan juga, Bima mulai bisa melawak, walau garing pakai banget. Setelah itu, Bima lebih banyak diam. Ia lah yang terus saja mengoceh dari hal-hal yang penting sampai hal yang tidak penting dan juga tidak jelas. Anehnya Bima tidak ada bosan-bosannya mendengarkan ocehan Aby. Hingga tidak terasa, mobil yang ia naiki ini sudah sampai di halaman rumah cowok itu.


"oh iya lupa nggak pamer ini, dapet nilai tertinggi nih bos. Haram hukumnya lo ngata-ngatain gue goblok." pungkas Aby dengan bangga lalu mengangsurkan kertas ulangan matematika pada Bima.


Bima menyeringai lalu merogoh saku celana. Ia pun mengeluarkan kertas yang menjadi penyebab dirinya sedari tadi tidak sabar ingin bertemu Aby. "sesuai Request yang lo minta." katanya lalu memberikan kertas itu pada Aby.


Aby gelagapan sendiri melihat angka 100 dikertas yang saat ini ia pegang. Otaknya mulai dipaksa untum mencari alasan.


"kasih hadiahnya sekarang. Gue udah penasaran banget sama rasa liptint lo yang sekarang. Kayaknya belum gue cobain."


...*****...


Keyla menggeleng sekali lagi saat Bintang menawarkan sesuatu padanya. Kepala gadis itu menunduk takut saat mendengar helaan nafas cowok dihadapannya. Sesuatu yang buruk akan terjadi, rasanya Keyla ingin menangis saja sekarang. Keberadaan Bintang rasanya terlalu menakutkan.


Bintang tersenyum lalu mengembalikan ice cream yang baru saja ia tawarkan ke Key-nya. Lelaki itu tersenyum lalu mengelus kepala belakang Keyla disertai tekanan cukup kuat.


"aku pengen nyenangin,Key. Pengen ngasih sesuatu sama Key. Tapi Key nolak terus, Key maunya apa hm?" bisik Bintang dengan kesabaran yang mulai menipis.


Keyla kembali menggeleng. Memang tidak ada yang ia inginkan dari muda disampingnya ini. "Aku mau pulang,kak. Pasti papa khawatir." "pulang? Key tuli,ya? Aku mau nyenengin Key dulu, mau ngasih apapun buat Key. Key nggak bisu,kan? Sekarang bilang apa yang Key mau."


Cengkeraman Keyla pada jaket Bintang yang melekat ditubuhnya semakin erat. Ia semakin ketakutan sekaligus terancam.


"Key suka seblak nggak? Biasanya cewek suka seblak." tawar Bintang kembali melunak.


Keyla menggeleng, lidahnya kelu dalam berucap padahal saat ini Keyla sangat ingin berteriak mengatakan bahwa ia tidak menginginkan apapun dari pemuda disampingnya itu.


"kalau telor gulung,gimana? Sama boba deh. Bakso? Sosis bakar? Atau---." Bintang tersadar akan sesuatu. Apa yang baru saja ia sebutkan adalah kesukaan seseorang yang sering meminta itu padanya. Aby.


Menyugar rambutnya kebelakang, Bintang menarik rafas dalam-dalam lalu menatap Keyla. "Key mau pulang?"


Kepala gadis itu mengangguk lemah.


"sebut atau ambil apapun yang Key pengen beli disini, baru pulang."


Ragu-ragu gadis itu membuka lemari pendingin minuman dan mengambil sebotol air mineral. Ia ingin semua cepat selesai, maka dari itu ia harus menuruti kemauan cowok dihadapannya. "ini." katanya.


"cuma ini? Jajanan banyak loh, yakin cuma ini?"


"iya."


"yaudah kalau Key maunya itu. Aku beliin ini ya Key harus bilang apa?"


"terimakasih kak Bintang."


Senyum Bintang terbit. "Anak pintar." pujinya lalu mengusap puncak kepala Keyla sebelum mengajak gadisnya kearah kasir. Suasana hati Bintang sudah mulai membaik dan cengkramannya dipergelakangan tangan Keyla pun mulai mengendur.


Disaat menunggu kembalian, ponsel milik Keyla berdering Bintang dengan sigap merebut benda pipih itu dari tangan pemiliknya. "whatsApp dari Kak Bima hm menarik."


Tubuh Keyla menegang hebat, belum sempat melakukan apapun ia sudah diseret paksa keluar dari minimarket.


Sembari menyeret Keyla, Bintang terus saja menggulir layar ponsel Keyla untuk membaca pesan-pesan terdahulu dari Bima. "oh jadi Key udah dianggap adek sama Bima."


"kak, balikin." pinta Keyla.


"nanti, masih kepo."


Keyla meringis kesakitan saat cengkraman Bintang semakin kuat saat ia berusaha merebut ponselnya. Itu bertanda Bintang memintanya untuk diam.


"tunggu, ini maksudnya...kucing Aby pernah nyakitin Key? Ya Tuhan!" Bintang bereaksi dramatis saat membaca permintaan maaf Bima mewakili Aby atas insiden kucing.


"eng-nggak kak, bukan kucing kak Aby. Itu---"


Bintang tersenyum penuh arti seraya mengusap pipi Keyla. "sstt, tenang ya sayang. Aku bakalan pastiin siapa aja yang nyakitin milikku akan ku beri hadiah. Key tunggu kabar bahagianya ya besok."


Keyla menggeleng panik.


"nggak usah panik gitu dong, aku cuma mempermudah tugas sang pencabut nyawa dengan sedikit main-main." bisik Bintang lalu tertawa puas.


...*****...


...Tbc...


...sorry ya udah lama banget nggak update ...


...semoga suka ya sama episode kali ini...


...Ada yang kangen sama anak pungut kaya raya?



...


...Bapak anak satu nih bos senggol dong ...


...



...