Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
THE TIME ALONE WITH U



"Bagus Pipit... good job," puji Pak Radit kepada pemimpin assassin yang dibawah kendalinya.



"Kau yakin tidak akan bisa dilacak? Are you sure?... bagus. Aku senang kalau kamu yang menanganinya langsung." Pak Radit puas dengan hasil kerja Pipit dan kawan-kawannya.



"Sekarang... kamu tahu kan, harus kemana...? bagus. Ingat! Apa yang aku inginkan! Habisi semua yang menghalangi, tanpa terkecuali, mengerti! Sekarang, berangkatlah, lakukan tugasmu." Pak Radit lalu menutup teleponnya dan pergi ke sebuah ruangan.



Sebuah ruangan yang terbilang luas, kalau dibandingkan dengan kamarnya Andi, bisa sepuluh kali lebih besar.



Didalam ruangan itu sudah tertanam tiang-tiang beton sebesar balok kayu dengan jarak yang sudah diatur sedemikian rupa. Berdiri tegak seperti tentara yang berbaris.



Pak Radit pun memasuki ruangan itu dan menyalahkan lampu sehingga seluruh ruangan menjadi terang benderang.



Rambut panjangnya yang terawat dengan baik itu lalu diikat. Supaya tidak menutupi pandangan mata. Satu per satu kancing baju Batik yang dikenakan mulai dilepaskan. Dia tidak mau baju Batik yang dibeli dengan harga mahal itu kotor dan rusak.



Setelah semua kancing itu terlepas, perlahan Pak Radit melepaskan baju Batik itu. Terlihat sedikit sebuah lukisan dipunggungnya. Pelan-pelan seiring dengan terbukanya seluruh pakaian yang menutupi tubuh Pak Radit, semakin jelas pula lukisan yang ada di punggungnya. Sebuah tatto kepala Serigala abu-abu yang besar terlukis dengan indah, elegan dan sangat artistik. Sebuah hasil karya Sang Maestro pelukis tubuh dengan nilai seni yang tinggi.



Tapi tatto itu tetap tidak bisa menutupi puluhan bekas luka yang ada di bagian punggung Pak Radit. Begitu juga dengan bagian depan tubuhnya yang juga penuh dengan puluhan bekas luka. Dan untuk pria berumur sekitar 50-an, bentuk tubuh Pak Radit masih terliat bagus dan gagah.



Kemudian digantungkannya baju Batik itu. Lalu mengganti celana panjangnya dengan celana pendek yang sudah tersedia disamping baju yang baru saja digantungkannya.



Nafas mulai diatur ritmenya oleh Pak Radit. Kakinya mulai digerakkan membentuk kuda-kuda. Kuda-kuda khas teknik beladiri Muangthai. Dan inilah Jurus Hanoman Katong dari teknik beladiri Muangthai...



"Hhhhiiiiaaatttt.....dddaassss... dddaassss... dddaassss!!! Dengan secepat kilat dihantamkan tulang betis kaki kanannya ke tiga tiang beton yang berada tepat didepannya. Seketika bagian tiang-tiang beton yang terhantam tulang betis kaki kanan itu... hancur berserakan di lantai ruangan itu.



Lalu diatur kembali nafasnya setelah melakukan gerakan yang mengerikan itu. Tiang beton saja hancur, apalagi tubuh manusia, pasti amsyong habis.



"Akan kuhancurkan semua yang kau punya... Tukang Sihir! Hancur sampai tak tersisa!" Dendam kesumat Pak Radit untuk orang yang menghabisi adik kesayangannya... Aditya.


*****


"Pepet terus, Om!" teriak Fredy dari seberang jalan didalam warung kopi Giras Cak Gondrong.



"Hoe Om, jangan kelamaan mikir! Sikat! Bawa pulang langsung!" sahut Wahe yang tak ingin ketinggalan menggoda sohibnya itu. Memangnya kue dibawa pulang?



"Ya Om, langsung kawin saja! Uuuhhhuuyyy... gemes aku kalau lihat adegan ini." Cak Gondrong ikut bersuara memberikan semangat. Tapi ngawur. Hei Cak Gondrong, mereka tuh masih SMA. Kamu saja yang kawin sama bebek! Nyebelin.



"Enaknya jadi Om. Dapat pacar cantik kayak Natalie. Mulai besok aku mau numbuhin kumis, biar dapat cewek cantik kayak Om." Hayalan Robert melihat pemandangan yang membuatnya iri kemiri-miri pada sohibnya itu.



"Dot... Bandot, kamu mau numbuhin kumis, numbuhin janggut, numbuhin tanduk, tetap gak ngefek. Tetap saja kelasmu itu... kelas model-model mbak Kunti. Terima dan syukurilah nasib, ok mas bro?" sahut Jean Liesman yang niat banget menggoda Robert.




But don't worry. Karena semua tahu bahwa itu hanya bercanda. Suasana didalam warung kopi Giras Cak Gondrong tetap kondusif. Aman terkendali.



"Ya, tapi lepasin dulu tanganku. Mikir pun aku harus pakai gaya soalnya.. hehehe..." Andi gak tahan untuk tidak menggoda gadis cantik yang sedang memegang tangannya itu.



"Oh... ya maaf Bay. Boleh ya?...." Usaha Natalie yang kuat untuk ikut dalam acara "Tour on Monday", akhirnya menuai hasil positif.



"Setelah mempertimbangkan resiko yang bakalan terjadi, ok kamu boleh ikut. Tapi ada syaratnya!" tegas Andi setelah berpikir kurang lebih... satu menit. Cepat banget mikirnya? Itu mikir atau modus saja? Pura-pura nolak, padahal dalam hati.... suaangattt berharap... hehehe.



"Yes!... asyik ikut... thanks ya Bay!" Girang sekali Natalie dengar hal itu. Lihat saja bahasa tubuhnya. Tersenyum lebar, tubuh digoyang kekiri kekanan, kedua tangan menyilang kedepan dengan posisi kedua kakinya yang sedikit terangkat.



"Jangan happy dulu, aku bilang ada syaratnya," Andi mengulang pernyataannya barusan.



"Ya... iya Bay, apa syaratnya?" tanya Natalie kepada Andi. Meskipun dalam hati Natalie berkata, "Apapun syaratnya Bay, aku pasti mau kok!"



"Yang pertama... jangan cerewet, jangan mengeluh, aku ini perginya naik motor dan aku ini mau mancing bukan mau nonton bioskop. Kalau kepanasan, kotor, terima saja, ok? Satu lagi, jangan mengeluarkan uang sepeser pun. Aku gak mau dibayarin sama cewek, ok, deal?" jelas Andi kepada Natalie.



"Ya... iya Bay. So tunggu apa lagi! Ayo berangkat!" canda Natalie dengan nada dan mata yang menggoda.



"Ok, kamu tunggu sini. Aku mau ambil motor dulu." Andi segera menuju ke seberang jalan, tempat Nitta diparkirkan. Didepan warung kopi Giras Cak Gondrong.



"Bro semua, aku mau take off dulu, ok? Drong, bon dulu ya! Besok-besok kalau ingat, aku bayar deh." Setelah berpamitan serta memberi info yang menyakitkan hati Cak Gondrong, Andi mengambil Memori lalu bergegas menunggangi Nitta menuju ke tempat Natalie menunggu.



"Bon lagi... bon lagi! Kalau caranya begini, kapan aku bisa ketemu langsung dengan kembaranku, Cak Lor(Lorenzo Lamas). Gak modal... gak modal, anak muda jaman sekarang." Trenyuh juga ya mendengar curhatan Cak Gondrong. Pelanggan setianya sih banyak, tapi banyak juga yang setia dengan prinsip "ngutang pangkal kaya". Semangat Cak Gondrong!



"Ayo naik lie. Pegangan lho ya," pinta Andi ke Natalie sambil memindahkan Memori ke depan.



"Lho Bay, aku gak pakai helm?" tanya Natalie



"Gak usah, dekat kok tempatnya. Oh ya, seingatku, ada topi di tas, pakai ya, biar kamu gak kepanasan nanti." Andi pun membuka bagian depan Memori. Dan memang ada topi didalamnya.



Andi pun mengenakan topi itu ke kepala Natalie. "Nah sudah... cakep. Ayo naik," ucap Andi yang sudah ready to move kepada Natalie.



Natalie pun tanpa berlama-lama lagi langsung naik ke jok motor bergambar Jon Bon Jovi itu. Dan kedua tangannya tanpa dikomando melingkarkan ke pinggang cowok yang sudah dua tahun ini selalu menghadirkan rasa rindu dihatinya. Dan adegan itu membuat jantung berdetak lebih kencang. Merapatkan tubuhnya dengan sejuta senyuman diwajah. Inilah saat yang ditunggu-tunggunya. The Time Alone With U.