
Melihat Andi yang langsung pergi meninggalkan kantin, Bastian dan Robert langsung kaget dengan sikap sohibnya itu. Dan itu berarti benar, bahwa Andi memang pernah ditonjok oleh Andien.
"Tan, maaf, pesanan saya, Robert dan Om, dibatalin saja," kata Bastian kepada Ibu kantin. Tante Puji.
"Heiii Om! Mau kemana!?" Bastian berteriak memanggil Andi. Tapi sohibnya ini tidak menjawab. Tetap melangkah pergi, karena... malu.
"Heiii kamu! Apa yang sudah kamu lakukan!? Kenapa kamu jahat banget sama sahabat aku!?" tanya Bastian yang menanyakan sikap Andien yang menurutnya kasar.
"Iya nich! Cantik-cantik tapi jahat! Jadi ilfil dech!" imbuh Robert yang ikutan protes kepada Andien.
"Biarin! Suka-suka aku dong! Berarti benar kan, kalau dia pernah aku tonjok!" jawab Andien seenaknya.
"Kalau pun itu benar! Tapi gak seharusnya kamu ungkap disini, ngerti kamu!" Mata Bastian menatap tajam ke wajah Andien. Dia tidak terima sahabatnya dipermalukan oleh gadis cantik ini.
"Kenapa!? Gak terima! Siapa suruh dia ambil kacangku! Dan lagi Play boy kampung kayak dia, memang pantas ditonjok!" Andien terus menjawab dengan kasar, karena memang dia tidak takut kepada Bastian dan Robert. Apalagi Kepsek SMA Perjuangan adalah Pamannya. Tambah berani poll.
"Apa kamu bilang!? Play boy!? Eh, kamu itu sok tahu! Tahu dari mana kamu, kalau Om itu Play boy!" tanya Bastian yang kaget mendengar sohibnya dikatakan Play boy.
"Gak perlu kamu tahu! Dia memang Play boy!" jawab Andien masih dengan sikap meremehkan.
"Aku kasih tahu kamu! Om memang banyak yang suka, tapi sampai saat ini, belum pernah tersiar kabar kalau dia, sering mempermainkan cewek-cewek itu! Om itu cuek, orangnya! Cuma menganggap mereka, teman. Dan satu lagi, yang naksir dia, banyak yang lebih cakep dan lebih baik dari kamu!" balas Bastian sengit.
"Iya lho! Kalau kamu dibandingin Natalie... ya... lewat," Sahut Robert membenarkan semua yang dikatakan Bastian.
"Hala... dia itu kan, sahabat kamu, ya pasti kamu bela terus! Sudah gak perlu banyak ngomong loe! Gue gak takut sama loe semua!" Gaya bicara ala Jakarta Andien sudah mulai keluar. Berarti do'i benar-benar siap fight lawan Bastian. Alasannya simple, Andien kan di Jakarta latihan beladiri Kick Boxing. Jadi dia berani lawan cowok manapun.
"Ohhh.... manyak arek Iki! Kesuwen!" Bastian pun terbawa emosi. Kata-kata khas Surabaya akhirnya keluar juga. Dan gak cuma kalimat kasar yang keluar dari mulut Bastian. Do'i sudah ancang-ancang, hendak menonjok Andien. Tapi....
"Bastian!!! Sudah cukup! Dan kamu! Nanti malam jangan sampai gak datang! Ayo Bas, Bert, kita pergi dari sini." Andi tiba-tiba kembali lagi ke kantin. Dia datang untuk melerai pertikaian antara Bastian dan Andien yang menjurus kearah perkelahian.
"Hei! Ingat! Urusan kita belum selesai!" Bastian menoleh ke Andien, menebar ancaman, meskipun Andi sudah merangkul kedua sohibnya ini. Mengajaknya pergi.
Dan seperti biasa, ketika Andi sudah mulai berkata tegas, Andien pun tidak bisa bicara apa-apa. Dia hanya terpaku. Melihat Andi dan sohib-sohibnya ini pergi meninggalkan dirinya.
"Hei Andien! Kok bengong saja sich!" Hartini menepuk pundak Andien yang sejenak mematung melihat Om, Bastian dan Robert pergi meninggalkan dirinya.
"Oh ya... eh... apa?" Andien pun tersadar dari kebekuan dirinya. Dan itulah yang sering dialami oleh Andien. Mematung. Ketika Andi sudah bersikap tegas kepada dirinya. Dan selalu menyebut kalau dia dihipnotis oleh Andi. Aneh kan!
"Apaan sich kamu, Har! Aku masih waras tahu! Eh, aku mau tanya sama kamu, katamu, Bayu itu Play boy, kata siapa tadi... temannya, Bayu bukan Play boy! Yang benar yang mana!?" tanya Andien yang baru sadar dari kondisi yang sering dialaminya. Dan dia ingat betul, bahwa Bastian menyebut Andi, bukan seorang Play boy.
"Ya jelas, akulah yang benar! Kamu tahu sendiri kalau Bastian, cowok yang tadi mau berantem sama kamu itu sahabatnya. Ya jelas membela!" jawab Hartini membela diri.
"Tapi kok aku merasa ada yang aneh ya! Atau gini saja, aku bilang saja ke cowok yang namanya Bastian itu, kalau kamu yang ngasih tahu si Bayu itu Play boy, gimana? Biar jelas semuanya." Andien memang merasakan keganjilan pada cerita yang disampaikan oleh Harini kepadanya.
Semua itu didasarkan pada sikap Bastian yang membela Andi mati-matian. Sampai-sampai mau berkelahi dengan dia yang seorang wanita. Karena menurut Andien, gak pantes cowok berkelahi dengan cewek. Bikin malu saja. Jotos-jotosan gitu. Kalau menang pun juga malu si cowok ini.
Mendengar ide Andien tadi, Hartini langsung mengkeret. Ketakutan. Karena dia benar-benar tahu siapa Bastian. Yang gak segan memukul cewek, dikala sepupu Natalie itu sedang emosi.
"Ya... jang... jangannnn dong!" jawab Hartini mulai ketahuan kelakuannya.
"Kenapa jangan!? Takut!? Kalau memang kamu benar, kamu gak perlu takut! Berarti kamu yang bohong!?" tanya Andien mulai tegas.
"Bohong sich gak! Itu kan gosip yang beredar disini. Jadi aku gak bohong kan!" jawab Hartini ngeles.
"Hei dengar ya! Aku gak suka dengan cara kamu yang sok bodoh itu! Karena ulah kamu, aku hampir saja berkelahi! Aku gak butuh teman seperti kamu!" Andien sekarang mulai tahu bahwa info yang diberikan Hartini kepadanya adalah sebuah kebohongan. Dan dia marah. Langsung pergi meninggalkan si Ratu gosip dari kelas IIIA1 ini sendirian.
"Lho... lho... Andien, kenapa kamu marah-marah sama aku!? Eh... mau kemana kamu!? Terus siapa yang bayar semua ini!?" Hartini benar-benar gak menyangka kalau Andien bisa marah kepada dirinya. Dan mungkin Hartini belum tahu, kalau Andien itu punya watak yang keras. Berani bicara apapun, Kepada siapapun, tentang semua yang dirasakannya. Dan Andien merasa sudah dibohongi oleh Hartini. Teman barunya di kelas IIIA1.
"Kenapa harus marah sama aku? Lagian, masa dapat info kalau si Om itu Play boy, langsung marah-marah juga ke Om! Ada yang aneh ini rupanya," kata Hartini yang merasa aneh dengan sikap Andien Kepada Andi.
Andi, Robert dan Bastian, kembali berjalan menuju kelas mereka. Sebagai sahabat, mereka berdua sangat mendukung Andi. Dan siap membela Andi.
"Sudah Om, tenang saja. Nanti sepulang sekolah, aku bereskan cewek bengal itu," kata Bastian kepada Andi.
"Ya Om, benar kata Bastian, kamu tenang saja. Kalau perlu nanti, anak buahku, aku suruh ngejahilin cewek gila itu," sahut Robert mendukung perkataan Bastian.
"Kalian ini, ngomong apa sech!? Aku diam itu, gak mikir itu! Kalau itu, insyaallah, aku sudah memaafkan gadis itu," jawab Andi kepada dua sohibnya itu.
"Tapi Om..." sahut Bastian yang langsung dipotong oleh Andi.
"Sudahlah! Gak perlu diperpanjang lagi. Sudah cukup. Ingat ya, Bas, Bert. Tolong, jangan diteruskan. Malu, kita kalau bertengkar sama cewek." Andi meminta sohib-sohibnya itu untuk tidak mewujudkan perkataan mereka. Dengan sangat.
"Ok! Kalau itu yang kamu mau, Om. Oh ya, kamu lagi mikirin apa sich?" tanya Bastian yang setuju dengan perkataan Andi. Bahwa berkelahi dengan cewek itu cuma... bikin malu. Good... good... good....