
Jadi kala itu Andi pingsan di depan rumah Oma Rosa. Setelah tenaga dan emosinya terkuras habis.
Sungguh sebuah kejadian yang belum pernah disaksikan dan dirasakan oleh Oma Rosa, Alexa, pembantu-pembantunya dan Pak Karim secara nyata.
Selama ini mereka tahunya hanya di You Tube. Bahwa ada manusia yang benar-benar peduli kepada binatang.
Dan Andi pun segera mendapatkan pertolongan dan perawatan dari Oma Rosa sekeluarga.
"Jadi begitulah ceritanya. TUHAN menunjukan kepada Oma, Alexa dan yang lainnya, bahwa manusia yang punya hati itu real. Ada. Dan salah satunya adalah kamu, Bayu." Oma Rosa mengakhiri ceritanya sambil mengusap setitik air mata yang keluar, mengalir perlahan, turun kebawah. Melewati pipi wanita tua itu.
"Oma Rosa ini terlalu berlebihan. Semua yang Bayu lakukan itu ma biasa banget. Gak lebih," ucap Andi merendah.
"Bayu... kemari, dekat Oma." Oma Rosa berdiri dari tempat duduknya. Dan meminta Andi mendekat.
"Ya Oma." Lalu Andi pun mendekat. Tepat didepan Oma Rosa.
"Bayu... you are different. You have a beautiful heart. Memang biasa... untuk orang yang punya hati. Pegang itu sampai nafas terakhirmu." Telunjuknya menyentuh titik dimana hati manusia diletakan. Oma Rosa berpesan bijak kepada Andi.
Namun mimik wajah Oma Rosa sedikit berubah, ketika kedua tangannya menyentuh wajah Andi.
"Oh tidak... Bayu... bahaya sekali..." Gak cuma Andi yang bengong, tapi semua. Alexa, Natalie dan Pak Brahma juga. Bertanya-tanya maksudnya apa perkataan Oma Rosa barusan.
"Hehehe... bahaya apa, Oma? Tenang saja, Oma. Bayu bisa jaga diri," kata Andi menyakinkan Oma Rosa.
"Hiiii... dengarkan dulu kenapa! Ini penting!" protes Natalie kepada Andi.
"Hei gadis kecil, akunya lho santai. So kamu juga harus santai. Aku ini bisa jaga diri sendiri," sahut Andi kepada Natalie dan memencet hidung mancung Natalie. "Ttoott."
"Benar kata Natalie, Bayu. ini berbeda dengan yang sudah kamu alami sebelumnya." Oma Rosa memberi peringatan.
Mendengar perkataan Oma Rosa, Andi pun mulai serius menyimak. "Berbeda bagaimana maksud Oma?"
"Sebuah kuasa kegelapan sedang mengincar kamu, Bayu. Kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang," jelas Oma Rosa dengan raut wajah yang serius.
"Setan, maksud Oma?" Logika Andi berusaha mengartikan perkataan Oma Rosa.
"Bukan dear, Tapi... Iblis!" jawab Oma Rosa singkat.
"Ya sama saja tuh, Oma. Seduluran. Dan Oma, Bayu itu biasa melihat makhluk halus. Seperti pocong, kuntilanak, jin-jin yang serem-serem... pokoknya don't worry, ok Oma?" Andi menjawab perkataan Oma Rosa dengan PD-nya.
Memang sih, yang indigo di kelompok Andi gak cuma Robert, tapi dia juga.
Hanya saja, Andi malas berinteraksi dengan "mereka", tapi kalau Robert... happy buaanggett. Do'i kan presenter acara "Awas! Disini Ada Aku!"... eh sorry, salah... "Awas! Disini Ada Setan!" merangkap biro jodoh Alam gaib. Hehehe... hebat kan Robert!...
"Bay, memangnya kamu bisa lihat setan?" tanya Natalie yang baru tahu akan hal itu.
"Yup," jawab Andi singkat.
"Jadi gak cuma Robert yang bisa lihat setan, betul begitu?" tanya Natalie lagi. Ingin memastikan rupanya gadis cantik ini.
"Aduhhh, tanya terus kamu ya! Iya Natalie yang lucu! Aku ini indigo juga... iiihhhh... gemes aku..." jengkel juga Andi kepada Natalie yang terus bertanya hal yang sama. Dan sekali lagi sohib Bastian ini memencet hidungnya yang mancung. "Ttoott."
"Intinya Bayu, kamu harus lebih berhati-hati. Lebih mendekatlah kepada TUHAN. Karena cuma "DIA" yang bisa menolong kamu." Oma Rosa memberi pesan bijak kepada Andi.
"Ya Oma. Terima kasih. Pesan Oma akan selalu Bayu ingat," jawab Andi.
"Sekarang, Oma mau pulang dulu ya, Bayu. Oma baru saja dari makam Opa. Bayu... Oma pamit dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik." Lalu Oma Rosa pun menuju masuk kedalam mobil dengan dituntun oleh Alexa, cucunya.
"Ya Oma, hati-hati. Semoga TUHAN selalu memberkati Oma. Amien." Andi pun membalas salam perpisahan dari Oma Rosa. Tak lupa Andi mencium kembali tangan wanita tua yang baik hati ini.
"Bay, Om juga pamit dulu ya. Ini kartu nama Om. Kalau kamu butuh apapun, jangan sungkan, ok?" Pak Brahma pun menjabat tangan Andi setelah memberikan kartu namanya.
Andi pun membalas jabat tangan itu, dengan mencium tangan Pak Brahma terlebih dahulu.
"Ya Om, hati-hati. Semoga Om Bram sehat dan selalu diberkati oleh TUHAN. Amien." Tak lupa Andi mendoakan Pak Brahma yang baik ini juga.
Pak Brahma pun segera masuk kembali ke dalam mobilnya. Duduk di bangku pengemudi. Dan sekarang tinggal Alexa yang belum berpamitan dengan Andi.
Wajah Natalie sampai terlihat bengong, ketika tiba-tiba Alexa menghampiri Andi dan... memeluknya. Jangankan Natalie... yang dipeluk saja bengong. Gak nyangka dapat pelukan gratis dari cewek cantik yang banyak plusnya itu. Salah satunya... plus \*\*\*\*....
"Bay, pamit dulu ya. Main ke rumah, ok? Aku tunggu... mmmuuaaccchhh..." Pemandangan yang sontak membuat hati Natalie puuuaannasss.
Gimana gak panas!? Sudah Andi itu dipeluk, diberi salam bibir lagi. Dua jari tangan Alexa ditempelkan dulu ke bibir sexinya, lalu diletakkan jari-jari itu ke pipi kanan Andi. Suunggguhhh ttteerrrlllalluuu...
Andi yang tetap bengong, tidak menyadari kalau Alexa sudah meninggalkannya dan masuk ke dalam mobil.
"Bye Bayu!... see you!" Membuka kaca mobil, Alexa melambaikan tangannya kepada Andi.
"Oh... eh...ya... ya... bye juga... hati-hati... God bless you!" Andi baru tersadar setelah Alexa berteriak dan melambaikan tangannya.
"Suka ya!? Dipeluk cewek kuliahan! Dikasih kiss lagi! Meski lewat tangan!" sindir Natalie.
"Ya jelas suka banget dong! Aku ini
normal, gadis kecil... kamu mau peluk aku juga? Sini cepetan peluk aku..." goda Andi pada Natalie yang sewot dengan kejadian didepan matanya itu.
"Iiidddiihhh maunya... gak usah! Gitu ya cowok itu egois! Serba modus. Maunya enak terus!" jengkel Natalie mendengar perkataan Andi barusan. Lha iya kan! Mana ada orang gak mau dikasih yang enak-enak!?.
"Kok egois lho!? Sini... kalau kamu gak mau peluk aku, biar aku yang peluk kamu..." Andi bergerak berusaha memeluk Natalie. Tapi kali ini do'i berkelit menghindar.
"Kamu tuh yang Nakal... dari tadi komplain terus... gemes aku... sini... hahaha... kena kamu!" Kamu kok ngelawan Andi main gobak sodor. Ya kalah, kamu non. Dia ini pakarnya permainan gobak sodor. Lincah banget. Padahal gak ikutan Karate lho.
Semua itu hasil latihan bertahun-tahun bersama Sukro, kalau pas lagi bandel, gak mau nurut. Otomatis Andi dan Sukro pun kejar-kejaran. Sampai keduanya lemes...hehehe.
"Sudah... sudah... Bayu... ampun... aaaaacccchhhh...!" Kaget sekali Natalie begitu Andi bisa menangkapnya.Memeluk dirinya kembali seperti tadi.
Mereka pun terdiam. kedua mata makhluk TUHAN berlainan jenis ini saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Hati Natalie berdetak kencang sekali. Seakan ini menjadi sekuel momen menegangkan beberapa saat yang lalu.
Dan kedua mata Natalie kembali dipejamkannya perlahan-lahan. Menanti kejutan apa yang akan terjadi setelah Andi menangkap dan memeluknya... dengan mesra kembali.
"Taste your lips,
And feel your skin,
When the time comes,
Bukan, don't run,
Just Kiss Me Slowly..."
Don't run away,
When the only love you know,
Just Kiss Me Slowly..."
*****
Seeorang pria paruh baya berpenampilan sederhana. Memakai peci hitam dan slayer hitam. Berdiri diatas bebatuan di tepi pantai. Pantai Kenjeran Surabaya.
Pandangan Matanya mengarah ke lautan luas didepan Pria bermata sipit ini.
Meskipun sudah berumur hampir 50-an. Wajahnya masih terlihat tampan. Bentuk tubuhnya masih proposional. Terlihat gagah, meskipun berpenampilan sederhana.
Matanya menerawang jauh ke depan. Berkata dalam hati kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi. ALLAH SWT.
"Ya ALLAH, Ya TUHANKU... Segala puji Bagi-MU, Wahai Engkau yang menciptakan Alam Semesta ini. Ya ALLAH, lautan yang luas dan indah ini adalah salah satu Tanda Kebesaran-MU. Terima kasih Ya ALLAH, atas semua keindahan yang Engkau hadirkan kepada kami semua." Puja dan Puji kepada Sang Pencipta telah disampaikan oleh pria berkulit putih ini dengan khidmat.
"Ya ALLAH, hambamu yang berdosa ini takut... takut, kalau yang hamba pikirkan, terjadi. Mohon perlindungan-Mu Ya ALLAH. Jaga hamba, istri dan anak hamba dari apapun yang ingin menghancurkan kami semua. Karena hanya Engkau sebaik-baik tempat berlindung. Amien. Alfatihah." Pria paruh baya ini mencurahkan isi hatinya kepada Sang Penguasa jagat Raya. ALLAH SWT.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berlogo lingkaran dengan tiga pilar didalamnya, tepat berhenti diseberang jalan. Sejajar dengan posisi pria paruh baya berslayer hitam ini.
Turun dari mobil itu, seorang pria yang kelihatannya seumuran. Tapi beda penampilan. Pria paruh baya yang satu sangat perlente. Mulai atas sampai bawah, barang-barang yang melekat ditubuhnya bermerk semua.
Parfumnya wangi sekali. Memakai gelang berbentuk rantai-rantai kecil yang terbuat dari emas putih. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi di daerah sekitar Pantai Kenjeran.
"Ya Hallo... ada apa?... gak masalah, berapapun biayanya.. beli itu spare part buat ganti spare part kapal Mr. Kim yang rusak, mengerti!... Minggu ini semua harus sudah beres... and by the way, jangan ganggu saya lagi, sekarang saya sedang ada meeting penting, ok? (plek)" Langkah pria perlente yang hendak menyeberang itu terhenti sejenak, untuk menerima telepon dari anak buahnya.
Lalu pria segera melanjutkan langkahnya kembali, menyeberang jalan, menuju ke arah lelaki bersongkok hitam itu.
"Aku tidak menyangka, kalau jalanan Surabaya ini juga macet, sama seperti Jakarta. Dan aku jug..." Langkah kaki yang hendak dihentakan ke tanah tiba-tiba terhenti, mengurungkan niatnya untuk lebih mendekat ke arah lelaki berpenampilan sederhana ini.
"Taburan Bunga Matahari... Mantra Pengikat Sukma... licik juga kau rupanya! Menabur Bunga Matahari di radius dua meter dari dirimu. Hahaha... Jaka... Jaka... ternyata kau sama saja. Gak nyangka lho, kalau kamu bisa berbuat licik... Hahaha..." Pria bersongkok hitam ini sudah menyangka, bahwa "sambutan" special untuk tamunya itu akan gagal. Karena memang yang datang ini berbeda.
"Untuk penyihir kejam seperti kamu, berbuat licik itu harus. Dan ini bukan licik tapi strategi," jawab pria yang bernama Jaka ini membela diri.
"Terserah jalan pikiranmu saja... Oh ya, apa kabar? Masih hidup pas-pasan? Baju jelek, celana jelek, tas jelek, pakai sandal jepit lagi... aahhaiii... pakai motor buntut pula! Kasian banget sih, hidup kamu, Jaka Samudra!" Tak henti-hentinya pria perlente ini menghina Pak Jaka Samudra.
"Aku tidak peduli. Sekarang, langsung saja. Ada apa kamu memanggil aku dan minta bertemu disini?" tegas Pak Jaka Samudra.
"Untuk apa lagi, kalau bukan untuk nostalgia... my old friend!" jawab pria perlente sambil tersenyum.
"Hentikan omong kosongmu itu! Aku tahu siapa kau! Dan satu lagi... kita bukan teman. Pasti kau punya maksud tertentu. Dan kalau kau kesini untuk mengincar keluargaku... Aku berjanji akan membuatmu menyesal!" Dengan raut wajah yang serius, Pak Jaka Samudra memberikan peringatan kepada tamunya itu.
"Relax Jaka! Emosi sekali kamu. Yang harusnya emosi itu, aku. Dua puluh tahun yang lalu, karena kau, Jaka Samudra, aku kehilangan kontrak 1 milyar rupiah. Jadi harusnya wajar bukan! kalau aku mengincar kamu dan keluargamu... sekarang!" Pria perlente ini mulai bersilat lidah. Memutar balikan fakta. Bahwa ketika itu yang bersalah adalah Pak Jaka Samudra.
"Konyol! Ya, jalan pikiranmu itu... konyol! Kau berniat membunuh seseorang, dan orang itu temanku, terus, kamu suruh aku diam saja... Periksakan otak kamu itu!" Pak Jaka Samudra pun tidak tinggal diam, ketika tamunya ingin menyudutkan dirinya.
"Terserah katamu. Tapi itu fakta. Dan lihat, aku tidak dendam padamu. Karena bagiku itu resiko bisnis. Perlu kau tahu, semua yang tidak menghasilkan uang, itu tidak penting. Termasuk berhadapan denganmu. Tidak penting sama sekali. Yang ada aku yang rugi, buang-buang tenaga, satu rupiah pun tidak ada untukku." Tenang sekali pria perlente ini menjawab perkataan Pak Jaka Samudra.
"Terus, mau kamu apa!? Cepat bicara! Jangan bertele-tele gak jelas gitu!" Nada bicara Pak Jaka Samudra tidak ada ramah-ramahnya sedikit pun kepada tamunya ini.
"Jujur aku kesini, selain bernostalgia, juga ingin mengangkat derajatmu, Jaka. Ada klienku yang siap membayar 1 milyar rupiah per bulan untuk kamu. Tugasnya mudah kok, jagain dia dari mara bahaya. Simple kan! Dan juga, itu kan yang kamu suka... jaga dan menyelamatkan orang lain!" Tawaran pekerjaan yang menggiurkan memang. Easy money. But...
"ALLAH SWT adalah sebaik-baik tempat berlindung. Bukan pada manusia. Katakan itu pada klienmu. Dan ya... aku menolak tawaranmu itu!" Masih saja Pak Jaka Samudra bersikap tidak ramah kepada tamunya ini. Meskipun sudah memberi info job yang penghasilannya.... waaaooohhh... dahsyat man!
"ALLAH lagi... ALLAH lagi... gak bosan-bosan ya kamu ini! Selalu ceramah tentang ALLAH... bla... bla... bla... dikit-dikit ALLAH... dikit-dikit ALLAH! Hidup susah saja sombong! Terserah kamu!" Pria perlente ini rupanya sedikit jengkel dengan pola pikir Pak Jaka Samudra yang menurutnya masih sama. Selalu berpegang teguh kepada ALLAH SWT. Sang Penguasa Alam Semesta.
"Memang terserah aku! Kau memilih jalan menjauh dari langit, sedangkan aku sebaliknya. Sangat bertolak belakang. Aku ingatkan sekali lagi padamu! Jangan sekali-kali kamu menyakiti keluargaku! Atau... ku buat kamu menyesal telah dilahirkan, paham!" Pak Jaka Samudra tahu benar siapa tamu yang mengundangnya lewat magic ini. Jadi dia harus tegas. Bahkan terkesan mengancam.
"Seram sekali ancamanmu, Jaka! Jadi takut aku... hahaha... Baik, kalau begitu, jawabmu sudah aku dengar. Jadi tidak perlu lagi kan, aku berdiri didepanmu! Oh ya, satu hal lagi, Jaka, Kalau kamu butuh apapun, jangan sungkan! Dan tawaranku hanya buat kamu, ok? Pikirkan dulu baik-baik. Tahu kan, cara menghubungi aku walau gak pakai hp!? Aku yakin kamu tahu. See you soon, Jaka, ok?" Pria perlente itu akhirnya pergi meninggalkan Pak Jaka Samudra. Mengeluarkan kaca mata hitamnya yang mahal, melangkah maju menuju mobil mewah yang terparkir aman diseberang jalan.
Pandangan mata Pak Jaka Samudra tetap fokus kepada pria paruh baya yang baru saja menemuinya itu. Matanya bagaikan elang. Melihat pada satu titik. Mengiringi kepergian tamu dari masa lalunya dari kejauhan.
"Aku harus segera bertindak. Melindungi istri dan anakku. Roro jati dan Andik. Ilmu hitamnya sangat kuat. Ya ALLAH, tolong hamba..." Berkata dalam hati, Pandangan mata Pak Jaka Samudra masih fokus ke arah pria perlente itu.
Setiba didepan pintu mobilnya, pria perlente itu membalikkan badannya. Dibalik kaca mata hitamnya, dia menatap balik Papa dari Andi Bayu Samudra alias Andk, alias Om, ini. Sabrang Jaka Samudra.
"Aku memang tidak bisa "melihat" anak dan istri kamu, Jaka! Kau membuat mereka tidak terlihat olehku. Tapi bagaimana pun juga, aku harus "mendapatkan"mu. Kamu harus berada di pihakku!"
Setelah memandang sesaat Pak Jaka Samudra dari kejauhan. Pria perlente yang ternyata menguasai black magic ini, membalikkan badannya kembali. Membuka pintu mobil, masuk, menyalakan mesin, lalu pergi meninggalkan pria bersongkok hitam itu.
Didalam mobil mewahnya yang melaju sedikit kencang, Pria paruh baya yang juga seorang pengusaha kaya raya ini, terus berpikir bagaimana cara untuk "mendapatkan" Papa dari Andi Bayu Samudra ini....
.