Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
NOT PERFECT HUMAN



Sebuah mobil box meluncur dengan kecepatan sedang, sekitar 80 km/jam kala itu.



Mobil itu berbelok menuju arah ke SMA Perjuangan.Terus meluncur dengan kecepatan yang sama.



Ketika itu dua siswi SMA Perjuangan hendak menyeberang ke sebuah toko kelontong.



Tapi rupanya, dua siswi ini menyeberang sambil bercanda. Mereka tidak mengetahui kalau ada sebuah mobil box dengan kecepatan 80 km/jam sedang mendekat kearah keduanya.



Meskipun masih dalam kecepatan yang masih bisa ditoleransi. Rupanya si sopir mobil box ini melakukan sebuah aktifitas yang terlarang bagi siapa pun yang sedang berkendara. Melihat Hp, membaca sebuah pesan singkat atau SMS ketika dia sedang memegang stir. Berita tentang anaknya yang sakit.



Tiba-tiba....



"Natalieee... aaawwwaaassss!!!"



Bastian hanya bisa berteriak kencang ketika mencoba untuk menyelamatkan Natalie dan temannya, Lisa. Dikarenakan posisinya yang cukup jauh dari posisi sepupunya itu



"Aaaaaaaahhhhhhhhhh!!!"



Kedua siswi itu berteriak kencang sekali. Tersadar oleh teriakan keras Bastian akan bahaya yang mengancam keselamatan mereka.



Jantung seakan berhenti seketika. Rasa takut yang dalam menjalar ke seluruh bagian tubuh mereka. Dan...



"Bbbbbbrrruuuaaakkkk!!!"



Terjadi sebuah hantaman yang cukup keras. Sebuah mobil box menabrak sebuah sepeda motor bebek.



Secara tiba-tiba, meluncur sebuah sepeda motor bebek yang didorong oleh seseorang untuk menjadikannya perisai guna melindungi kedua siswi itu dari kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawa mereka.



Sontak sopir mobil box itu terkejut oleh teriakan-teriakan keras yang menyadarkannya dari pikiran kalutnya. Secepat mungkin. menginjak rem... tapi terlambat sudah.



Mobil box yang dikendarainya menghantam sesuatu, sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Bukan menabrak manusia tapi sebuah motor bebek.



Semua yang ada disana melihat kejadian itu terkejut, kaget dan marah besar kepada sopir mobil box itu.



"Hei, keluar kamu!!! Ceeprokkk.. cceeprokkk!!! Sebuah tarikan kasar dari Bastian ke tangan sopir itu dan mendaratkan pukulan keras ke wajah pengemudi mobil box yang masih tertegun akan kejadian itu.



"Ccceeprokk... cccceeeprokkk... cccceeeprokkk!!!



Gak cuma Bastian yang mendarat pukulan ke wajah sopir itu. Tapi juga Pak Pai, tukang becak yang biasa mangkal di depan SMA Perjuangan ikut-ikutan memukul, bahkan menendang dengan keras.



Aksi main hakim sendiri pun terjadi.



"Ampunnnn!!!... ammmpunnn!!!... mas... ammmpunnn!!!... anak saya sakit... ammmpunnn!!!...." Sopir itu berteriak-teriak dan memelas minta ampun.



"Heeeiii!!! Gila kalian semua!!! Bastian cukupppp!!! Paiii kamu juga! Awasss kalau sampai kalian memukul lagi! Kunci pipa ini yang bicara!" Marah sekali Andi melihat Bastian dan Pak Pai sulit untuk distop memukul dan menendangi sopir itu.


"Om, dia mau nabrak Natalie!!!" bantah Bastian keras. Masih terbakar emosi.


"Diam kamu Bas!!! Lihat!!! Orang ini sudah minta ampun! Tega kamu!" Masih dengan nada tinggi, Andi mengingatkan Bastian.



Aksi main hakim sendiri oleh Bastian dan Pak Pai berhenti setelah melihat Andi marah besar dengan memegang kunci pipa di tangan kanannya.



Karena Bastian paham betul, Andi yang sudah marah besar pasti memukulkan kunci pipa itu kepada Bastian dan Pak Pai. Meskipun mereka saling kenal.



Andi bertindak berdasarkan apa yang menurut jalan pikirannya benar. Karena menurutnya cuma itu cara satu-satunya untuk menghentikan aksi brutal itu. Dan Om yang Bastian kenal, tidak pernah main-main kalau sedang marah besar seperti ini.



"Ya Tuhan! Orang ini sudah minta ampun! Sudah.... sudah...! Pinggirkan dulu motorku dan mobilnya, biar gak macet! Bantu aku!" Andi yang sudah mulai colling down itu langsung mengkomando orang-orang yang melihat kejadian itu untuk memberi bantuan guna melancarkan lalu lintas.



"Bas, aku minta maaf ya. By the way Natalie selamat. Dia dan Lisa sedang diberi minum di tokonya Pak Jarot." Andi gak pakai lama langsung meminta maaf kepada Bastian dengan mengulurkan tangannya.



"Ya Om, aku juga minta maaf. Aku tadi emosi. Thanks ya. Kalau gak ada kamu, mungkin Natalie dan Lisa..." Bastian tidak sanggup meneruskan kata-katanya yang menggambarkan andai kecelakaan itu benar-benar terjadi.



"Hei... sudah dong. Gak usah mikir yang aneh-aneh. Yang penting Natalie dan Lisa selamat, ok? Sekarang kita selesaikan masalah ini." ucap Andi menenangkan Bastian.



Mereka pun saling berjabat tangan. Tanda kalau kedua anak manusia yang bersahabat ini sudah saling memaafkan.



Tak lupa, Andi meminta maaf kepada Pak Pai atas sikapnya yang keterlaluan kepada beliau.



.Meskipun Pak Pai bekerja sebagai tukang becak, menurut Andi, semua orang tua harus dihormati. Karena baru kali ini Andi memanggilnya gak pakai "Pak", tapi langsung nama. Dan itu semua karena terpaksa. Tapi tetap salah.



Pak Pai pun. mau menerima permintaan maaf Andi. Karena memang belum pernah Om itu kasar kalau memanggil namanya.



Setelah semuanya clear, sopir box itu juga sudah minta maaf dan menerima permintaan maaf dari Bastian dan Pak Pai. Andi berjalan ke arah Natalie dan Lisa yang masih terlihat sock atas peristiwa yang menimpa mereka.



Bukannya memberi kata-kata sejuk yang bisa membuat hati ini sedikit tenang dan detak jantung kembali normal. Andi malah menegur mereka berdua.



"Lihat apa yang kalian lakukan. Lain kali kalau menyeberang jangan bercanda! Terutama kamu, sepupunya Bastian!" Andi itu sebetulnya cuma pura-pura saja negur...eh, kok Natalie malah mewek... nangis.



"Bas... Bastian... sini! Ini lho aku dimarahin..." Dengan tangisan ala India bul-bul, Natalie melaporkan Andi pada sepupunya. Dasar tukang lapor!



Kamu memang aneh. Berbeda. Itulah alasannya...



"Iwan, lepasin tanganku! Natalie mencoba melepaskan tangan dari genggaman tangan seorang cowok



"Dengar dulu Natalie! Aku suka sama kamu! Banyak yang ingin jadi pacarku! Aku tolak. Aku pilih kamu, Lie!" Iwan terus memegang tangan Natalie, terus berusaha menyakinkan sepupu Bastian itu untuk menerima cintanya.



"Iwan, lepaskan tanganku! kamu menyakiti tanganku, Wan!" Natalie terus memberontak. Wajahnya ketakutan. Mencoba menoleh kekanan, kekiri. Mencari seseorang yang bisa menolongnya.



"Kurang apa aku ini, Lie! Aku tampan, anak orang kaya, sama seperti kamu, cantik dan anak orang kaya juga! Menyombongkan diri, memamerkan kekayaan orang tua, berarti Iwan salah besar dalam menilai Natalie.



"Kamu itu kurang ajar! Lepaskan Natalie! Atau kamu akan menyesal!" Bastian tiba-tiba datang memberi pertolongan.



"Bas... tolong aku! Tolong aku!" teriak Natalie meminta pertolongan



"Oh, kamu yang namanya Bastian. Siswa kelas IIA3. Pergi! Jangan campuri urusanku!... Guys bereskan dia!" Rupanya Iwan tidak sendirian, ada Heru dan Dani yang sedari tadi ada menjauh dibelakang sohibnya itu.



"Hei, kerempeng!Pergi! Atau kami akan menghajarmu!" ancam Dani kepada Bastian.



Salah besar kalau meremehkan nyali seorang Bastian. Gak pakai lama, gak pakai yang namanya jurus-jurus, Bastian langsung menyerang kakak-kakak kelasnya itu.



"Bajingannn kaliannn!!!"



Bastian menyerang Dani terlebih dahulu.



"Cccceeeprokkk...!" Bastian yang sudah emosi, mengeluarkan seluruh tenaganya. Dan berhasil meninju wajah Dani.



"Kuuurrranggg ajaarrr!" Dani pun bangkit lalu berusaha membalas Bastian.



"Jjjjeeebbbrakkkk!!!...aahhhhhh... sakiiittt!!!" Heru tidak tinggal diam, langsung menyerang Bastian dengan tendangannya. Mengenai pinggang bagian belakang sepupu Natalie itu. Tersungkurlah sohib Andi ini. Menjerit kesakitan.



Dani yang melihat Bastian tersungkur, maju memukul berkali-kali ke wajah adik kelasnya ini dengan membabi buta.




"Bastian... Bastian... sudahhhh... hentikan Iwan... kasihan Bastian..." Air mata Natalie menetes membasahi pipinya. Menangisi sepupunya yang dihajar oleh teman-teman Iwan. Akhirnya gadis cantik itu pun mengiba.



Natalie menangis lirih, air matanya mengalir semakin deras. Rasa sedih yang amat dalam melihat kejadian didepan matanya itu.



Menerima pukulan yang bertubi-tubi, Bastian hanya bisa memasang double cover untuk melindungi wajah dan kepalanya. Tapi itu... percuma.



Amarah Dani sudah memuncak. Badannya yang lebih besar dari Bastian, membuat pukulan-pukulannya lebih berbobot dan lebih kuat.



Sudah tidak terhitung lagi berapa kali wajah dan kepala Bastian terkena pukulan Dani.



"Sudah cukup!" teriak Iwan kepada Dani.



"Cukup kataku Dani!!!' Iwan berteriak lebih keras kepada Dani.



Seketika Dani pun menghentikan pukulannya.



"Awas kau kerempeng! Berani melawanku lagi, aku hajar kau lebih parah!" ancam Dani kepada Bastian yang sudah berdarah-darah dan gak sanggup lagi untuk berkata-kata apapun. Tetap diam dengan masih menutupi wajah dan kepalanya dengan kedua tangannya.



Akhirnya Iwan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Natalie. Karena tahu kalau Natalie tidak akan kemana-mana dan pasti akan menolong sepupunya itu.



Iwan menghampiri Bastian. Dia berdiri tepat disampingnya.



"Berani ikut campur urusanku ya? Rasakan ini!" Iwan menambahkan luka ditubuh Bastian dengan menginjak perut adik kelasnya ini dengan keras.



"Iwan... sudahhh... cukuppp. Kasihan Bastian.... cukuppp..." Natalie berkata lirih. Air matanya tak bisa mencegah Iwan untuk berhenti menyiksa Bastian.



"Ppppprrrruuuuakkkkk!!!



Sebuah benda padat menghantam wajah Iwan dengan begitu kerasnya. Sampai-sampai play boy ini terlontar dan jatuh tersungkur menghujam tanah bercampur kerikil disekitarnya.



Dengan cepat, seseorang dengan membawa sepotong kayu menghampiri Iwan dan menghajarnya kembali.



"Jangan sakiti Bastian!!! Bangsat!!! Andi datang tiba-tiba dengan amarah sebesar gunung. Menghajar Iwan habis-habisan dengan sepotong kayu.



Menyerang dengan ganas. Mulai kaki, betis, paha, tubuh Iwan dipukuli bertubi-tubi dengan kekuatan penuh.



"Ampunnnn!!!.. ampuunnnn!!!... ammmpunnn!!!..." teriakan Iwan keras sekali, sampai akhirnya teriakan itu tidak terdengar lagi.



Tapi tenang saja, Iwan masih hidup kok. Yang dihajar Khan tubuh dan kakinya. Berobat ke pijat urat dan pijat sangkal putung... pasti sembuh, ok?



"Sekarang giliran kalian!" Andi menunjuk Dani dan Heru.



Mereka dari tadi tidak bisa berbuat apa-apa. Kejadian itu begitu cepat ketika sedang fokus dengan Bastian. Apalagi lawannya bawa kayu.



"Her... kabur...itu Andik... kaburr!" Dani memberi peringatan kepada Heru untuk kabur. Rupanya Dani tahu siapa Andi.



Tanpa berpikir panjang, apalagi melawan, mereka langsung lari meninggalkan pertempuran.



Tapi tidak semudah itu...



"Sssseeebbbllakkkk!!!"



Sebuah batu meluncur cepat dan mengenai leher Dani dari belakang. Langkahnya pun terhenti dan berteriak kesakitan.



"Aaaaaaddooohhhh!!!" Dani meringis kesakitan. Dan...



"Ppppprrrruuuuakkkkk!!!"



Melihat Dani kesakitan terkena lemparan batunya. Andi pun berlari dan menghantamkan kayu yang digenggamnya ke punggung kakak kelasnya ini.



"Aaaahhhhhhrrrrrr...sakittt!!!' Dani jatuh tersungkur terkena hantaman kayu dari Andi.



Ketika Andi hendak menghantamkan kembali potongan kayu yang dipegangnya, Dani langsung meminta ampun.



"Ndik!... Ndik!... ampun!... ampun!... Ndik!..." Dani yang ketakutan langsung meminta ampun kepada Andi.



"Kamu mau cari masalah sama aku, Dan! Ingat Dan, aku kenal Batang, kakakmu! Kalau sampai kakakmu tahu ini, habis kamu!" tegas Andi kepada Dani.



"Jangan Ndik, jangan bilang ke Mulyono.. ampun... ampun... beneran!" berulang kali Dani meminta ampun kepada Andi agar tidak dihajar dan dilaporkan ke kakaknya.



"Ok! Tapi ingat, kalau Bastian sudah sembuh, kamu dan temanmu harus minta maaf. Beri tahu temanmu yang kabur tadi. Kalau dia tidak mau minta maaf, besok info ke aku. Sekarang pergi!" Andi melepaskan Dani dengan sebuah peringatan.



"Pasti itu. Trims Ndik." Dani pun bergegas bangkit dan pergi meninggalkan Andi.



"Bas... bangun... bangun Bastian..." Masih dengan mata sembabnya, Natalie duduk bersimpuh, mencoba menyadarkan sepupunya itu.



"Kamu minggir dulu sana." pinta Andi kepada Natalie.



"Bastian, ini Om, bangun jagoan." Andi perlahan membuka kedua tangan Bastian yang tidak bergerak melindungi wajah dan kepalanya.



Perlahan tangan itu mulai terbuka. wajah dan baju seragam Bastian berlumuran darah. Mata kanannya bengkak, pipih juga, bibirnya hancur, sobek oleh pukulan keras dari Dani.



"Sini sahabatku. Biar aku yang membopongmu." Andi mencoba membuat Bastian berdiri dan menaruh tangan kanan sepupu Natalie itu ke pundaknya.



Mereka pun berjalan pelan menuju sebuah pohon yang rindang. Letaknya gak jauh dari posisi mereka saat itu.



Natalie menyeka air matanya. Lalu ikut memegangi sepupunya itu. Pandangan matanya melihat cowok berkumis yang ada disampingnya itu.



"Bas... lain kali kalau ada "pesta" itu jangan berangkat sendiri. Lihat kamu, kualat Khan!" Tiba di pohon itu, Andi menurunkan Bastian dengan sempat-sempatnya menggoda sohibnya itu.



Bastian yang gak bisa bicara apa-apa,karena sock dan hancur lebam semua wajahnya, hanya mengacungkan jari tengah tangan kanannya kepada Andi. Tanda kalau do'i protes.



"Bay... thanks ya. Kamu apanya yang sakit?" tanya Natalie penuh perhatian kepada Andi setelah mengucapkan terima kasih.



"Sama-sama. Gak ada yang sakit, Lie. Terima kasih ya sudah nanya," jawab Andi kepada Natalie.



"Beneran kamu gak apa-apa, Bay?" tanya Natalie memastikan.



"Beneran, Natalie! Maaf ya." Andi mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus sisa air mata Natalie dan setitik lendir di hidung gadis cantik ini.



Masih duduk dibelakang Andi yang mengajaknya untuk holiday tambahan di hari senin ini. Memeluk pinggang pujaan hatinya dengan mesra.



Ingatan Natalie mundur kebelakang. Mengingat pertemuan awalnya dengan cowok yang memboncengnya itu. Sampai pada akhirnya rasa cinta mulai hadir dan menggoda Natalie untuk semakin ingin dekat sohib sepupunya itu.



Kamu memang bukan cowok yang sempurna Andi Bayu Samudra. Semua bersumber pada hatimu. Apa yang menurut nuranimu benar pasti kau lakukan tanpa beban pikiran. Cuek. Sebuah kombinasi yang unik. Dan itulah yang buat aku jatuh cinta padamu.