
Akhirnya Andi, Robert dan Bastian sampai di kelas. Mereka pun langsung membaur dengan teman-teman mereka didalam kelas. Tanpa membicarakan sedikit pun tentang peristiwa yang baru saja terjadi di kantin.
"Eh, nanti jangan lupa lho, nonton aku komite di Go Skate," kata Fredy mengingatkan sohib-sohibnya.
"Kamu jadi tanding disana, Fred?" tanya Wahe.
"Ya, jadi He, doakan aku menang ya."jawab Fredy.
"Fred, kamu yakin mau tanding? Kan katamu, lawan yang kamu hadapi sabuk hitam, sedangkan kamu sabuk coklat. Kok gak lawan yang sama-sama sabuk coklat sich, Fred!" Winoto ini heran dengan pola pikir Fredy. Ya memang gak salah sich Winoto. Fredynya saja yang aneh.
"Begini lho my friends, kalau lawan sama-sama sabuk coklatnya itu gak seru. Dan supaya cepat naik kelas, dapat sabuk hitam, cuma itu caranya. Bertarung sama kelas yang lebih tinggi. Sabuk hitam," jelas Fredy kepada sohib-sohibnya.
"Ya gak apa-apa sich, kita tahu kemampuan kamu,Fred. Tapi... kakek kamu tahu gak kalau kamu mau bertanding nanti malam," tanya Bastian. Sebentar-sebentar... memang kenapa kalau Kakeknya Fredy tahu! Masalah buat loe, Bas!
Buat Bastian, tentu tidak ada masalah, kalau Kakeknya Fredy, yang bernama Kakek Guntur ini datang. Tapi bagi Fredy... off course. Waaoohhh... ada apa gerangan?
"Ya tahulah. Papaku yang ngasih tahu," jawab Fredy.
"Waahh... gawat nich! Tapi tenang Bosque, kita akan bantu kamu, mengamankan Kakek Guntur, kalau dia datang," sahut Robert.
"Tapi maaf, teman-temanku yang kucintai, aku dan Andersen gak bisa ikut nonton. Kami ada siaran hari ini. Maaf ya." Jean Liesman meminta ijin kepada sohib-sohibnya. Karena meskipun mereka gak karuan penampilannya tapi mereka profesional.
"Ya gak apa-apa, Jean. Aku tahu kok. Tapi tetap dukung dan doakan aku ya,ok?" kata Fredy kepada sohibnya itu. Duo Gambreng.
"Pengumuman... pengumuman... berhubung para guru berhalangan hadir di kelas, dikarenakan ada pertemuan penting dengan Petugas dari Kementerian Pendidikan, maka jam belajar mengajar untuk hari ini... ditiadakan. Disarankan para siswa-siswi SMA Perjuangan langsung ke rumah masing-masing. Jangan mampir-mampir ke tempat lain atau nongkrong-nongkrong di warung kopi. Terutama untuk kelas IIIA3. Terima kasih." Suara Pak Wiratno terdengar dari beberapa pengeras suara yang dipasang di beberapa titik penting di SMA Perjuangan. Mengumumkan bahwa hari ini tidak ada pelajaran dan siswa-siswi boleh pulang.
"Hhhhhoooooooreeeee!!!"
"Gggruuudukkk... gggruuudukkk!!!"
Teriakan hebat terdengar seketika. Tentu yang paling keras adalah teriakan di kelas IIIA3.
Gerakan yang super cepat disajikan oleh para siswa-siswi SMA Perjuangan. Tidak ada indah-indahnya sama sekali dan sangat gaduh.
Langsung bersemangat untuk segera meninggalkan SMA Perjuangan.
"Oee! Pokoknya nanti jangan lupa ya! Aku tunggu di Go Skate ya!" Semua bersemangat untuk langsung pulang. Tidak terkecuali Fredy, yang juga bersemangat sekali untuk pulang, dengan tidak lupa mengingatkan sohib-sohibnya.
"Beres Fred!" sahut sohib-sohibnya.
Senang sekali rupanya siswa-siswi SMA Perjuangan ini kalau ada pengumuman untuk pulang.
"Om, kamu mau pulang?" tanya Bastian kepada Andi.
"Gak, Bas. Mau beli sesuatu dulu. Kamu pulang saja langsung. Sampai ketemu lagi di Go Skate, ok?" jawab Andi pada Bastian.
"Ya sudah kalau begitu, Om. Aku pulang dulu, ok?" balas Bastian.
Bastian pun meninggalkan Andi. Andi memang agak slow respon terhadap pengumuman tadi.
Andi yang masih di kelas, ini sedang berpikir, dimana dia nyari kacang sukro merk burung itu. Dan... pikirannya langsung tertuju ke perumahan wisma Permai Indah. Toko kelontong Ko Beny.
Akhirnya Andi pun segera meninggalkan kelasnya. Tidak disengaja dia bertemu Natalie didepan kelas IIIA3.
Natalie kaget juga, dia tidak menyangka kalau Andi masih ada di kelas. Padahal tujuannya memang nyari Andi.
"Oh... ehh... hei juga Bay. Itu... itu... oh ya... mau ke kantin. Nunggu jemputan di kantin saja... dingin," jawab Natalie yang kesannya bingung gitu mencari jawaban. Ya maklum, bertemu dengan cowok yang ditaksirnya dari kelas satu SMA... pasti bingung... hehehe... salah tingkah...
"Oh... mau ke kantin, ya sudah kalau begitu, aku tinggal dulu, bye," balas Andi yang kesannya cuek banget sama gadis cantik ini. Mengucap salam, langsung pergi meninggalkan Natalie sendirian.
"Bay... tunggu... aku...." Natalie memanggil Andi. Tapi Andi terus berjalan menuju tempat parkir motor. Hmmm... salah sendiri, kenapa manggilnya pelan banget. Jadi gak kedengaran suara Natalie ini oleh Andi.
"Uhh, huuu... cuek banget kamu, Bay! Padahal aku kesini kan nyari kamu! Perhatian dikit kek, atau paling gak, dianterin ke kantin, sebentar, eh ini malah langsung pergi... nyebelin kamu, Bay!" Natalie uring-uringan sendiri, melihat sikap Andi tadi. Gak jadi ke kantin. Langsung pulang naik taxi.
Namun baik Andi dan Natalie tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Mata dari seorang gadis yang kecantikannya gak kalah dengan Natalie. Andien Putri Indrajit. Siswi kelas IIIA1.
"Ohhh... itu rupanya yang namanya Natalie. Cantik. Sangat cantik bahkan. Kayak model-model Jakarta. Kelihatannya cewek ini yang ngejar-ngejar cowok penyihir itu." Andien baru tahu bahwa semua perkataan Bastian dan Robert itu memang benar adanya.
Tak lama kemudian, Andien pun keluar dari kelasnya. Jemputannya sudah datang dan langsung pergi pulang ke rumahnya.
Ditengah perjalanan menuju rumah mewahnya di kawasan elite Surabaya timur, Andien secara tidak sengaja melihat sosok yang sering dia sebut sebagai Penyihir. Andi Bayu Samudra.
Andien yang karena penasaran, menyuruh sopirnya, Pak Acheng untuk mengikuti Andi dari jarak yang aman.
"Pak Acheng," kata Andien.
"Ya Non Andien. Ada apa?" Jawab Pak Acheng.
"Pak Acheng, lihat cowok yang pakai jaket gambar Spiderman itu? Yang naik motor buntut didepan itu?" tanya Andien.
"Yang mana sich Non?" jawab Pak Acheng yang matanya lirak-lirik kanan-kiri. Mencoba mencari sosok yang dimaksud putri majikannya yang cantik ini.
"Ya Kak, yang mana sich?" sahut Ajeng yang juga ikut-ikutan mencari sosok yang dimaksud kakaknya. Andien.
"Apaan sich kamu, Jeng, ikut saja. Sudah duduk sini! Gak kelihatan tahu, kalau badan kamu maju begitu!" protes Andien kepada Ajeng. Adiknya.
"Hehehe... gak kelihatan y? Maaf ya sipit," ledek Ajeng pada Andien. Padahal Ajeng itu juga sipit. Hehehe... lucu juga Ajeng ini.
"Iya meong, gak kelihatan, ketutupan badan kamu yang gendut itu! Ayo sini saja... duduk," pinta Andien sambil balas menyindir adiknya Ajeng. Ajeng memang punya body yang lebih lebar dari kakaknya. Tapi gak gendut kok. Lebih tepatnya bahenol atau semok, dalam bahasa Jawa.
"Iya... iya sipit nyebelin! Awas ya, aku bilangin Papa, kalau kamu ngatain aku gendut!" Ajeng menuruti kemauan kakaknya dengan sedikit emosi. Karena memang do'i gak suka dikatain gendut.
Andien tidak memperdulikan ucapan adiknya itu. Tetap fokus untuk memberi pengarahan kepada Pak Acheng.
"Itu lho Pak, yang pakai jaket Spiderman! Lha... itu... tu... dia nyalip mobil box kuning itu!" kata Andien sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah posisi Andi berada.
"Oh... ya... ya... Non, Bapak lihat. Jadi diikuti cowok itu?" tanya Pak Acheng setelah tahu cowok yang dimaksud oleh Andien.
"Iya dong, Pak Acheng! Tapi jangan sampai ketahuan ya," jawab Andien.
"Siap Non!" balas Pak Acheng. Seakan dapat tugas penting saja nich Pak Acheng.
Akhirnya mobil mewah yang dinaiki Andien dan Ajeng, mengikuti Andi dari belakang. Dan Andi tidak tahu, kalau dia sedang diikuti oleh Andien.