Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
LET"S ROCK IN THIS MORNING



"... Apakah engkau merasa,


aku bukan manusia,


yang tak luput dari rasa amarah.


Kuakui kau memang manis,


tapi kau Iblis,


kau pikir kaulah segalanya....



Untuk dimaklumi,


gak juga,


untuk ditakuti,


walau mempesona,


membutakan mata,


tapi bisa kubalas,


kau lebih gila..."



Kali ini giliran Edane, group Rock Indonesia menggebrak warung kopi Cak Gondrong dengan sigle "Kau pikir kaulah segalanya"



Lagi-lagi smart sekali Cak Gondrong memutar tembang-tembang apik buat memompa semangat pelanggan-pelanggan setianya di hari senin ini. Maklumlah, biasanya pada malas-malasan kalau tahu ini hari senin. Wajah boleh berantakan tapi otak... jangan, ok bosku?



"Kkkkrriiiinngggggggggg!"



Bel tanda masuk sekolah telah berbunyi. Memang sengaja, Pak Wiratno, Kepala Sekolah SMA Perjuangan memasang empat speaker sebesar kulkas dibeberapa titik penting, agar yang biasanya pura-pura bolot gak ada alasan untuk terlambat. Apalagi yang jadi member warung kopi Giras Cak Gondrong, pasti langsung disuruh push up kalau sampai terlambat. Begitulah kalau punya Kepala Sekolah jebolan Marinir. Disiplin.



Tapi tentu yang memasang tuh speaker bukan Pak Wiratno, tapi si Rambo, yang punya nama asli Sentiadi yang memasang itu semua. Karena Rambo itu pengurus lingkungan sekolah di SMA. Semuanya do'i yang ngerjain. Mulai bersih-bersih lingkungan sekolah, kelas, ruangan guru sampai tiup balon acara ultah sekolah. Rambo yang mengerjakan.



Sering kali, amat banyak yang kagum kepada SMA Perjuangan. Dana operasional sekolah besar banget. Kok bisa? lha itu, bisa gaji seorang Rambo buat jadi pengurus lingkungan.Tapi rupanya bukan Rambo yang difilm yang digaji oleh pihak sekolah. Melainkan orang yang rambutnya doang mirip Rambo yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Gondrong Keriting-keriting gak jelas gitu. Dan Sentiadi lah orang yang dimaksud itu. Penonton pun kecewa berat... hhhuuu....



"Drong, semua aku yang bayar. Ya... semuanya termasuk punyanya Om. Berapa semua?" Robert berdiri, mengeluarkan dompet yang terlihat tebal isinya.



"Beneran nich Dot, kamu mau traktir kita semua?" kata Wahe yang kaget bercampur terharu mendengar perkataan sohibnya barusan. Maklum saja, wong sehari- hari Robert tuh makannya meyan alias terlihat ngirit banget dengan pengeluarannya. Kok mendadak "BD" (banyak duit).



"Ya nih, tumben-tumbennya. Habis dapat arisan ya?" sahut Fredy menimpali perkataan Wahe.



"Begini lho guys, bonus aku untuk episode Pocongku Ada Lima, sudah keluar. Dan aku tahu dari tampang-tampang kalian, pasti hari ini pada mepet semua Khan uang jajannya? Apalagi Liesman bersaudara ini, sampai gundul semua rambutnya, pasti deh buat beli sampoo saja no money. Buat jajan... aaahhhaaaiii... hehehe.." puas banget Robert bisa menyindir Liesman bersaudara ini.



"Eh Dot, enak saja kamu kalau bicara! Kami gundul itu, bukan gak mampu beli sampoo. Gaya rambut gundul plontos ini akan jadi trend center gaya rambut masa depan. Catat itu!" jawab Jean Liesman yang gak mau kalah ngomong dengan Robert.



"Betul Jean, menurut teori Charles Darwin dan teori perputaran bintang-bintang tentang gaya rambut gundul ini memang sudah diprediksikan jadi number one di dunia" Andersen Liesman menambahkan penjelasan yang lebih rumit lagi kepada Robert.



"Jadi mau gak kalian aku traktir?" lirik Robert kepada Liesman bersaudara.



"Ya mau dong... hehehe..." jawab Liesman bersaudara ini kompak.



\*Gayanya tadi... cceekkk... cceekkk... ternyata mau juga. Dasar botak!" Winoto ikut-ikutan bicara. Membela Robert.



"Semuanya 55 ribu, Dot," ucap Cak Gondrong yang sudah selesai mentotal semuanya.



"Nih 55 ribu. Thanks. Masuk sekolah dulu." Robert lalu pergi meninggalkan warung kopi Giras Cak Gondrong, dibarengi dengan sohib-sohibnya juga.



"Dot, thanks ya," kata Winoto.



"Dot, aku juga ya, thanks." Wahe pun mengucapkan terima kasih kepada Robert.



"Aku juga, thanks. Semoga kamu gak kapok bayari kita semua, ok?" Gak ketinggalan Fredy juga mengucap terima kasih.



"Dot, thanks ya. Tambahin dong buat beli sampoo!' Selain mengucap terima kasih, rupanya Jean Liesman juga memelas meminta bonus.



."Oh buat beli sampoo ya!? Baik... baik... apa sih yang gak buat kalian... my best sohib. Ini berapa?" tanya Robert kepada Liesman bersaudara sambil menunjuk selembar uang Lima puluh ribuan.



"Lima puluh ribu Dot," jawab Jean Liesman yang sangat girang karena dipikirannya pasti akan dikasih 50 ribu oleh Robert, cuma buat beli sampoo. Untung banyak nih.



"Kalau yang ini berapa?" Kali ini Robert menunjukan selembar uang Seratus ribu rupiah kepada Liesman bersaudara.



"Seratus ribu Dot." Kali ini giliran Andersen Liesman yang menjawab pertanyaan dari Robert. Dan pikiran Andersen pun sama persis dengan pikiran Jean Liesman, kakaknya.



"Pinter! Dan ini buat kalian." Robert kemudian menaruh kembali dua lembar uang yang tadi ditunjukan kepada Liesman bersaudara. Dan mengeluarkan selembar uang lagi kepada duo gambreng ini. Lalu segera Robert meninggalkan mereka berdua.



"Haaaaa! Seribu rupiah! Dasar gendut, jelek, pelit kamu Dot!" teriak Jean Liesman kepada Robert setelah menerima selembar uang yang ternyata cuma Seribu rupiah.



"Hehehe... memangnya aku ini bapakmu apa!?" Sekali lagi Robert mengerjai duo gambreng ini.



"Dot, terima kasih," ucap Cak Gondrong kepada Robert.



Serentak para manusia-manusia aneh ini, naik ke motor masing-masing dan siap menyalakannya. Tapi sebuah pemandangan yang sangat-sangat jarang terjadi telah dihadirkan didepan mereka semua. Ralat, bukan jarang tapi belum pernah terjadi.



Pintu gerbang SMA Perjuangan sudah terbuka lebar. Banyak sudah murid-murid yang sudah datang ke sekolah. Bersamaan dengan datangnya para siswa-siswi itu, sebuah mobil mewah buatan Jerman masuk ke dalam halaman SMA Perjuangan. Mobil hitam mulus berlambang lima lingkaran itu masuk sembari membunyikan klaksonnya.



Rekor orang yang terpesona akan kecantikan Natalie, terpecahkan pagi hari ini juga. Gak terhitung berapa banyak mata yang melihat masuknya sebuah mobil mewah ini ke halaman sekolah SMA Perjuangan.



Yang sudah didalam sekolah, ataupun yang baru datang, matanya langsung tertuju ke arah mobil tersebut. Yang masih diluar pun juga begitu. Seperti Wahe dan sohib-sohibnya itu.



Rata-rata guru SMA Perjuangan itu kalau ngajar pakai motor. Kepala sekolahnya pun pakai motor kalau ke sekolahan. Satu-satunya guru yang pakai mobil ke sekolah, cuma Bu Sutaji, guru pelajaran Tata negara. Itupun mobil kapsul jaman-jaman Koes plus bersaudara masih jaya di dunia musik Tanah air. Jadi belum pernah terjadi sebelumnya, ada mobil sedan super mewah masuk halaman sekolah SMA Perjuangan.




"Ya, keren banget. Kira-kira siapa yang datang ke sekolah kita ya pagi ini. Pejabat?" Wahe menimpali.



"Bukan Pejabat, He. Itu seperti mobilnya Gangster-gangster yang ada difilm. Yakuza tuh yang datang!" Fredy memberikan jawaban atas pertanyaan Wahe barusan.



"Yakuza dari Hongkong! Dari modelnya, Itu pasti mobilnya Panglima TNI. Khan Pak Wiratno mantan Marinir. Kebetulan beliau lewat sekolah kita, ya mampir. Say hello gitu," tutur Jean Liesman mencoba meluruskan semua prediksi yang ada. Padahal sama saja... sama-sama ngawur poll.



"Menurut aku, kalian semua salah! Itu yang datang ke sekolah kita, James Bond. Gak salah lagi pasti dia. Soalnya mobilnya mirip sekali dengan mobil yang dipakai pada film terakhir. Judul film apa gitu? Emmmm... kok lupa ya aku!" sahut Robert yang merasa paling pinter sendiri. Memang nih bocah kalau lagi banyak doku, ngomongnya banyak, tapi kalau pas kangker (kantong kering), jangankan bicara, wajah saja sampai ditutupi kardus snack.



"Oh ya... judulnya "Lirikan si Buta." Winoto menjawab dengan mantap pertanyaan Robert. Gak Robert, gak Winoto... sama. O'on.



"Semua masih abu-abu. Kita lihat saja, siapa yang keluar dari mobil itu, ok? saran bijak Fredy.



Didalam mobil sedan mewah itu, seorang wanita memberikan nasihat kepada dua gadis yang duduk disampingnya.



"Andien, Ajeng, kita sudah sampai. Dan ingat, di sekolah ini Pak de kalian yang jadi Kepala sekolahnya. Jangan buat masalah, jangan buat malu keluarga kita. Terutama kamu, Andien. Apapun masalah kamu dengan Papa kamu, Tante minta tolong ke kamu, ya sayang." Dibelainya wajah keponakannya yang bernama Andien itu dengan lembut oleh Tante Maya.



Tanpa membalas perkataan Tantenya, Andien langsung membuka pintu mobilnya.



"Ajeng, ayo keluar, cepat!" perintah Andien kepada adiknya.



"Ya... sebentar kakak," sahut Ajeng



"Cepetan dong! Lelet banget kamu ini!" Andien yang suasana hatinya penuh dengan amarah, dengan nada agak tinggi, mulai cari-cari kesalahan kepada adiknya sendiri.



"Ya kakak... sebentar. Jangan marah-marah. Masih pagi. Gak baik," jawab ramah kepada Andien. Karena Ajeng tahu penyebab kakaknya jadi begini. Dan Ajeng memakluminya. Benar-benar Andien beruntung punya adik kandung seperti Ajeng.



"Cerewet! Cepetan!" Masih saja membalas keramahan adiknya dengan nada yang sama.



Lalu tubuhnya digerakkan kekanan, kekiri. Matanya melihat ke sekeliling SMA Penjuangan. "Ini sekolahan kok kuno banget bangunannya," gumam Andien dalam hati setelah melihat bentuk bangunan SMA Perjuangan.



Memang bentuk bangunannya kuno SMA Perjuangan itu. Tapi nilai sejarahnya, waohhh... jangan ditanya...



Tapi rupanya Andien tidak menyadari bahwa banyak mata yang memperhatikan dia dari jauh.



"Siapa ya dia? Cantik sekali," kata salah satu siswi SMA Perjuangan.



"Ya siapa? Artis mungkin ya? Cantik banget," sahut siswi yang lainnya.



Banyak kasak kusuk diantara siswa siswi SMA Perjuangan melihat kedatangan Andien ke sekolah mereka. Dan mereka benar... Andien itu Cantik sekali.



Kemudian dari mobil sedan mewah itu, keluar seorang pria berpakaian rapi, sepatu hitam kinclong mengkilat, rambut pendek klimis. Itu Pak Acheng, sopir keluarga Andien, yang asli Tasikmalaya. Jadi bukan Chinese. Mentang-mentang namanya Acheng, langsung divonis Chinese. You're wrong baby.



Lalu Pak Acheng melangkah ke belakang menuju pintu mobil, dimana Tante Maya duduk. Dan membukakannya.



"Silahkan Ibu Maya..." Pak Acheng dengan sopan dan ramah mempersilahkan Tante Maya untuk keluar dari mobil.



"Demi Hokage ke empat, Cantik sekali tuh cewek!" puji Fredy setelah melihat Andien yang keluar dari mobil mewah itu.



"Mahkluk Tuhan paling \*\*\*\*! Akhirnya musim paceklik cewek kece di sekolah ini... berakhir sudah. Thanks God!" Wahe mengakhiri doa singkatnya di pagi hari ini dengan berterimakasih kepada Tuhan Sang Pencipta Mahkluk \*\*\*\* yang baru saja dilihatnya itu.



"Oh Roh Nenek Moyang, Gadis itu cantik sekali. Berikanlah dia buat cucumu ini yang sudah bertahun tahun menjomblo. Please... Roh Nenek Moyang..." Robert yang beragama Kong Hu Chu itu pun berdoa kepada Roh Nenek Moyangnya. Dan tiba-tiba terdengar suara berbisik ke telinga Robert. Suara dari Roh Nenek Moyangnya.



"Cucuku, dia tidak pantas untukmu..." bisik Roh Nenek Moyang lirih sekali.



"Heeee! Gak pantes!" kaget juga Robert mendengar jawaban kilat dari Roh Nenek Moyangnya.



"Terus... pantesnya aku sama siapa dong, Roh Nenek Moyang?" tanya Robert penasaran kepada Roh Nenek Moyang.



."kUDA!" jawab Roh Nenek Moyang singkat, tegas, jelas dan tepat. Setelah memberi jawaban yang 100% akurat, Roh Nenek Moyang langsung pergi entah kemana. Mungkin mau bobo lagi, Khan jam kerjanya malam... hehehe...



Memang itulah kenyataannya. Para sohib Andi pun terpesona oleh kecantikan Andien. Hidung mancung, mata agak sipit, kulit putih bak mutiara, Rambut panjang ikal bergelombang, tinggi sekitar 165cm plus bodynya langsing tapi berisi. So perfectly as a young girl.



Namun walau mempesona dan membutakan mata, Andien menyimpan banyak kekecewaan. Kekecewaan yang dapat merangsang adanya amarah besar, siap menghantam siapapun yang membuat suasana hatinya kacau.



"Mudah-mudahan, kamu bisa berdamai dengan semua ini, Andien..." harap Tante Maya dalam hati sebelum keluar dari mobil sedan yang mewah itu.



Suasana hati boleh panas tapi kepala harus tetap... adem.



Lanjut Bung Eet... Let's Rock



"Kuakui kau memang manis,


tapi kau Iblis,


kau pikir kaulah segalanya....



Untuk dimaklumi,


gak juga,


untuk ditakuti,


walau mempesona,


membutakan mata,


tapi bisa kubalas kau,


lebih kejammm...."