
Memang benar kata Cak Kan, bahwa Andien menghentikan mobilnya dan sepertinya memang sedang ada trouble pada mobil itu.
"Ya... ini kenapa lagi sich! Sial banget malam ini!" gerutu Andien sambil keluar dari mobilnya.
"Benar khan! Sial banget! Bannya bocor ternyatai Uhhh... uhhh... ada saja! Sepi lagi disini!" gerutu Andien.
"Mau minta tolong ke Bapak pemilik warung itu, malas, sudah kejauhan nich kalau harus jalan kaki. Telpon bengkel saja kali! Mungkin ada yang ngasih layanan dua puluh empat jam. Coba searching di google." Andien berkata sendiri, mencoba tenang, mencari solusi.
Baru saja Andien mau mengambil hapenya dari dalam mobil, tiba-tiba datang menghampiri Andien, sebuah motor buntut yang ditunggangi oleh cowok berkumis.
Begitu sampai ke posisi mobil Andien berhenti. Andi pun lalu segera turun dari motornya. Berjalan tenang ke arah Andien dengan membawa kacang Sukro yang sudah dia janjikan.
"Kenapa mobilnya?" tanya Andi.
Andien yang mengetahui kedatangan Andi, tidak menjawab pertanyaan Andi dengan ramah, tapi malah marah-marah. Repot ya... teeerrrlllaaallluuuu...
"Ngapain kamu datang!? Kamu gak on time! Aku nunggu kamu lama! Dasar pembohong! Sudah pergi sana! Aku gak butuh bantuan kamu!" Andien seakan melampiaskan kesialannya kepada Andi. Marah-marah terus.
Tapi Andi tetap tenang. Dan menyadari kalau memang dia salah.
"Ya maaf. Aku tadi ada urusan. ini kacang Sukro kamu." Andi mendekat dan memberikan kacang Sukro itu kepada Andien.
Andien melihat sinis kepada Andi. Diterima kacang Sukro itu dengan kasar, lalu melemparkannya ke sungai yang ada dibelakangnya.
"Hei ingat ya pembohong! Aku gak butuh lagi kacang Sukro itu! Cepat kamu pergi! Atau aku tonjok kamu seperti kemarin!" Andien sepertinya benar-benar marah. Tidak tahu apa yang menyebabkan do'i marah sampai sebegitunya kepada Andi.
Tapi anehnya, Andi tidak marah. Meskipun jerih payahnya dan niat baiknya tidak dihargai oleh Andien.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Sekarang mana dongkrak dan kunci rodanya. Sini biar aku bantu!" tanya Andi dengan niat tulus tanpa modus.
"Kamu tuli ya! Aku sudah bilang, tidak butuh bantuan kamu! Pergi! Atau aku tonjok kamu sampai berdarah lagi!" ancam Andien. Serius.
Namun perkataan Andien yang kasar itu tidak membuat Andi menghentikan niat baiknya. Karena dia pikir, disini sepi, jadi Andien butuh bantuan untuk bisa segera pulang ke rumah. Simple khan pemikiran Andi.
Tanpa berlama-lama mikir, Andi berinisiatif untuk mencari dongkrak dan kunci roda itu sendiri didalam mobil Andien.
Jadi Andi dengan santainya, berjalan maju melewati Andien, menuju ke pintu mobil itu. Dan tiba-tiba...
"Ccceeeppprrrokkk!"
Tinju Andien meluncur cepat ke wajah Andi. Dan tepat pula. Darah mengalir keluar dari hidung Andi. Padahal hidung Andi masih belum sembuh benar, gara-gara kemarin ditonjok sama cewek yang sama. Andien.
Mukanya memar. Tidak berteriak kesakitan. Andi menahan rasa sakit itu. Tetap menuju ke pintu mobil, meskipun sempat terhenti sejenak, karena ditonjok tiba-tiba oleh Andien.
Dengan hidung yang masih mengeluarkan darah, Andi masih tetap pada tujuan semula. Membantu Andien.
"Pasti dibawah jok ini kan?" kata Andi setelah membuka pintu mobil Andien.
Andien tidak bisa berkata apa-apa lagi. Andien hanya terdiam. Dia benar-benar tidak mengira kalau Andi tidak menghindar dari pukulannya yang keras itu. Dan dia juga tidak mengira kalau Andi tidak marah dan masih mau membantu dirinya.
"Ccceekkkblegerrr... ccceekkkblegerrr... ccceekkkblegerrr!"
Suara petir tiba-tiba hadir di sekitar tempat mereka berkonflik. Dan setelah petir memberi pengumuman, gak pakai lama, hujan pun langsung dengan derasnya.
Andi segera mengambil dongkrak dan kunci roda yang memang ada dibawah jok itu. Dan selanjutnya menuju bagasi mobil itu untuk mengambil ban serep.
Ditengah hujan yang lebat, dalam keadaan hidung yang masih mengeluarkan darah, Andi mengganti roda mobil Andien yang bocor itu secepat mungkin.
Melihat semua yang dilakukan Andi, Andien pun merasa bersalah. Matanya melihat, betapa Andi tulus membantunya. Dan bukan ucapan terima kasih yang didapatkan Andi, tapi sebuah pukulan telak yang membuat hidung cowok berkumis ini berdarah dan wajah yang memar.
Andien memandang Andi dari belakang. Dilihatnya, beberapa kali Andi mengusap darah yang keluar dari hidungnya, sambil memasang dongkrak dan mengganti ban mobil yang bocor itu dengan ban serep.
Tak terasa air mata Andien pun mulai berjatuhan membasahi wajah cantiknya. Ditengah hujan yang lebat, Andien merasakan rasa bersalah telah memperlakukan orang yang ingin menolongnya dengan semena-mena.
Wajahnya lalu menunduk. Andien larut dalam rasa bersalahnya kepada Andi. Air matanya mulai deras mengalir membasahi pipinya. Sederas hujan malam ini yang membasahi tubuhnya.
"Ken... kenapa kam... kamu tidak menghindar? Kenapa kamu tidak balik membalasku? Kenapa kamu tidak marah? Kenapa kamu masih saja mau menolongku? Ya Allah, jahat sekali aku, Andi hanya mau menolongku, kenapa aku malah menyakitinya. Ya Allah, maaf, ya Allah. Maafkan aku... Andi." Dalam isak tangisnya, tanpa disadari oleh Andien, kalau dia telah menyebut nama Andi dua kali.
Isak tangis Andien lirih terdengar, Andien benar-benar menyesali perbuatannya. Tetap menunduk dan menangis ditengah derasnya hujan malam ini.
"Ya sudah selesai dech, sekarang kamu bisa langsung pulang," kata Andi sembari mengangkat badannya. Karena dari tadi dia jongkok terus. Pegal semua plus kehujanan plus kena tonjokan maut. Komplit sudah. Kayak jamu. Komplit.
Dan ketika Andi membalikan badan ke arah Andien, cowok berkumis ini mendapati Andien yang masih tetap menunduk. Menangis, menyesali perbuatannya.
"Hei... kenapa kamu menangis? Apa aku menyakiti hati kamu? Maafkan aq y. Aku janji g akan menyakiti kamu lagi, ok?" kata Andi yang mengira Andien menangis gara-gara perbuatannya.
"Ken... kenapa kam... kamu masih mau me... menolong ak... aku? Padahal ak... aku telah jahat sama kamu," tanya Andien dengan Isak tangisnya dan masih tetap menundukan kepala.
"Oh... karena itu kamu menangis! Hei... apapun yang kamu lakukan kepadaku... You Are... My Angel. Andien Putri Indrajit. Jadi gak mungkin aku marah sama kamu," Andi memegang dagu Andien, disingkapkan rambut Andien kebelakang. Lalu dihapusnya air mata Andien dengan tangannya dan menatap mata Andien dan mengatakan dengan lembut bahwa Andien adalah bidadari bagi dirinya.
Memang itu yang si Om ini rasakan, ketika dia melihat Andien untuk pertama kali. Jadi ya jelas, mau ditonjok berkali-kali pun, Andi gak akan bisa marah kepada Andien. Karena siswa kelas IIIA3 ini telah jatuh cinta kepada siswi baru kelas IIIA1 yang super cantik ini.
"Maafin aku ya. Sakit ya?" Andien kaget mendengar apa yang baru saja dia dengarkan. Matanya menatap ke mata Andi, meminta maaf atas yang dilakukannya tadi.
"Ya. Tapi aku ini cowok. Jadi sudah biasa menahan rasa sakit. Jangan dipikirin ya. Kamu cantik Andien Putri Indrajit. Jangan menangis lagi ya," kata Andi dengan masih menatap mata gadis cantik yang ada sangat dekat didepannya.
Dihapusnya darah yang mulai berhenti dari hidung Andi, sambil berkata, "Maafin aku y."
Mata Andi menatap mata Andien dengan lembut, keduanya saling memandang dengan jarak yang sangat dekat.
Entah disekitar ada Setan atau Malaikat, tapi yang pasti, wajah Andi pun mulai menunduk pelan mendekati wajah Andien. Mendekat, semakin mendekat.... dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Andien
"....💋...."
Andien seakan tahu, apa yang akan dilakukan cowok yang memang telah membuat perasaannya gak karuan ini. Dan matanya pun terpejam perlahan ketika bibir Andi mencium bibirnya dengan lembut.
"I love u, Andien Putri Indrajit," kata Andi setelah nekat mencium bibir Andien.
Andien benar-benar tidak bisa menggerakan lidahnya. Jantung Andien berdetak cepat, disaat yang sama, dirinya juga merasakan kebahagiaan dihatinya. Perasaan aneh yang baru pertama kali dirasakannya.
Dan baru pertama kali juga, ada cowok yang berani mencium dirinya. So that is the first kiss for her. Ya namanya saja Bonek, so welcome to Surabaya, Andien.
Andien masih tertegun dengan peristiwa yang mengejutkan sekaligus indah baginya.
"Sekarang kamu pulang ya. Besok kita bicara di sekolah, ok?" Andi meminta Andien untuk pulang dan membukakan pintu mobil Andien.
Dan Andien masih tetap sama, seperti yang sudah-sudah. Selalu patuh kalau Andi yang meminta. Dihipnotis nich yee...
"Iya," jawab Andien yang segera masuk kedalam mobilnya.
Setelah Andien masuk kedalam mobil, Andi segera menutup pintu mobil itu kembali.
Andien yang sudah duduk di kursi mengemudi tidak segera menyalakan mesin mobilnya.
Didalam mobil, sejenak Andien berkata dalam hatinya, "Ya Allah, Andi mencium bibirku dan mengatakan bahwa dia mencintai aku. Thanks U Allah, and I love him too Ya Allah."
Tangis Andien sudah tidak terdengar lagi. Hatinya sekarang bahagia sekali. Dan yang pasti sekarang dia sudah punya seorang pacar yaitu Andi Bayu Samudra.
Dan entah siapa yang harus disalahkan, Setan atau Malaikat? Tiba-tiba, Andien membuka pintu mobilnya kembali, memanggil Andi dan....
"Andi!" teriak Andien memanggil Andi.
"Ya Ndien." Andi yang mendengar dirinya dipanggil oleh Andien, langsung membalikan badannya.
Andien pun berlari mendekatkan dirinya ke Andi, memegang lengan Andi dan langsung mencium bibir Andi.
"....💋...💋...❤️...."
Ditengah hujan yang lebat, Andi langsung memegang pinggang Andien dan membalas ciuman Andien. Dan mereka pun berciuman untuk beberapa saat.
"i love u too, Andi Bayu Samudra," kata Andien setelah melakukan aksi yang gak kalah nekat dengan Andi. Padahal bukan Bonek lho Andien ini. Ketularan jadi Bonek rupanya.
"Kamu juga langsung pulang ya, love u," kata Andien kepada Andi.
"Ya. Pasti. Cepat kamu pulang, dan langsung istirahat," balas Andi.
"Ya." Andien segera membuka pintu dan menyalakan mesin mobilnya. Dan langsung pergi meninggalkan Andi yang masih berhujan-hujan riah. Memastikan tidak terjadi apa-apa dengan Andien.
"I love u, Andien.Insyaallah, aku gak akan buat kamu menangis. Ya Allah, terima kasih. Jadikanlah Andien, menjadi yang pertama dan yang terakhir bagi hamba dengan seijinMu." Andi menatap langit, tangannya terbuka, memohon kepada Sang Penguasa Alam Semesta, Allah SWT, untuk cintanya.
Semua yang ada di bumi dan di langit diatur oleh Allah SWT. Termasuk juga peristiwa yang baru saja terjadi. Seperti tidak masuk akal. Tiba-tiba hujan sangat deras dan sangat sepi. Tidak ada satu motor atau mobil pun yang melintas di jalanan tempat peristiwa itu terjadi. Plus Andien yang kelupaan dengan misi rutinnya yaitu membagikan es teh yang baru saja dibelinya dari Cak Kan.
Tapi seperti kata pepatah, "Semua tidak seperti yang terlihat."
Waaoohhh... what'll be going on? Kita lihat saja nanti....