Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
WILL NOT GIVE UP



"Panggilan untuk peserta berikutnya, saudara Fredy Krisbiantoro dari Dojo Satria Nusantara dan saudara Henry karonggeng dari Dojo Tanaka Brothers, diharap mempersiapkan diri segera. Kami beri waktu tiga menit." Sebuah pengumuman tiba-tiba tersiar dari mikropon milik panitia pertandingan.



"Eh... sudah... sudah, gak usah dibahas lagi. Fredy mau tanding tuh," kata Andi setelah mendengar pengumuman tadi.



"Ya... betul Om, kita fokus saja lihat Fredy," sahut Bastian.



"Eh, jangan cuma fokus ke Fredy! Fokus juga ke Kakek Guntur! Jangan sampai, do'i buat kacau lagi seperti yang sudah-sudah." Wahe mengingatkan sohib-sohibnya.



"Oh ya... iya. Apa dari kalian ada yang melihat Kakek Guntur?" tanya Andi kepada sohib-sohibnya.



"Belum Om, dari tadi, kita belum melihat kedatangan Kakek Guntur," tandas winoto.



"Ya, tolong ya, teman-teman! Kasihan Fredy, kalau dia harus gagal lagi. Dia berlatih sangat keras buat pertandingan ini," pinta Lana, kekasih Fredy kepada sohib-sohib kekasihnya itu.



"Ok! Kalau begitu, kita bagi tugas. Aku, Robert, Winoto dan Wahe akan berkeliling. Berpencar. Kamu dan Bastian tetap disini, sambil mengawasi juga. Beri tanda kalau ada yang melihat Kakek Guntur, ok?" Andi memberi instruksi kepada sohib-sohibnya. Dan memang kedatangan Kakek Guntur ini adalah sebuah tragedi yang jangan sampai terulang kembali.



"Siappp Om," jawab mereka serentak.



Dan kemudian, mereka pun segera bergerak. Berpencar. Memastikan Kakek Guntur ini datang atau tidak.



"Kamu siap, Fred?" tanya Bang Karpov. Guru karate di Dojo Satria Nusantara.



"Gak Bang. Aku takut! Jujur, aku takut Bang," jawab Fredy jujur tentang apa yang dirasakannya.



"Bagus! Berarti kamu masih manusia. Fokus ya Fred! Kami semua mendukungmu!" Bang Karpov memberi semangat kepada Fredy. Anak didiknya.



"Fredy! Semangat Sayang! Ini aku sudah datang!" Lana berteriak, memanggil nama kekasihnya itu sambil melambaikan tangan dan memberinya semangat juga.



"I love you, Fredy!" teriak Lana lagi. Memberi semangat dan dukungan untuk kekasih tercinta tanpa malu-malu.



"Fred! Semangat ya! Kami semua ada disini! Hajar dan kalahkan dia, Fred!" Bastian juga ikut memberi semangat dan dukungan untuk sohibnya itu



Fredy yang sedang mengatasi rasa takutnya, hanya melihat dan tersenyum kecil mendengar semua perkataan itu. Baik dari Lana, kekasihnya atau pun dari Bastian, sohibnya.



"Ok! Semua sudah siap! Maju kalian berdua! Saya ingatkan bertarung fair play! Tidak boleh memukul dan menendang \*\*\*\*\*\*\*\*, paham!" Wasit pertandingan menyuruh mereka berdua maju dan mendengarkan semua instruksinya.



"Paham!" jawab mereka semua



"Ok! Kembali ke sudut masing-masing!" Kata wasit pertandingan itu.



Sebelum membalikan badan, Henry mengatakan sesuatu kepada Fredy.



"Aku akan patahkan semua tulang kamu! Ingat itu, anak kecil!" kata Henry yang sengaja ingin menjatuhkan mental Fredy sebelum dimulainya pertandingan yang sesungguhnya. Full body contacts.



"Kamu siap!?" tanya Wasit pertandingan kepada Henry.



"Kamu siap!?" tanya Wasit pertandingan kepada Fredy.



"Pertandingan dimulai!Let's go!" kata Wasit pertandingan, yang langsung mundur beberapa langkah kebelakang. Memberi ruang yang cukup untuk para petarung ini.



"Ttteeengggg!" Lonceng pun telah berbunyi. Ronde pertama dimulai.



Begitu bel pertandingan berbunyi, Fredy langsung menyerang Henry dengan pukulan dan tendangan beruntun.



"Jeedasss... jeedasss... jeedasss!"



Namun rupanya, pukulan dan tendangan Fredy, tidak ada artinya buat Henry.



Dengan mudah, Henry menangkis pukulan dan tendangan Fredy yang kuat dan. mematikan itu. Dan....



"Ceeeprakkkk!"



Fredy kecolongan, sebuah tendangan lurus, mendarat tepat dimuka penggemar Bruce Lee ini. Dan Fredy pun tersungkur.



"Aaakkkhhh... jeeebrruukkk!"



"Cuihhh... dasar lemah! Potongan saja mirip Bruce Lee, payah!" hina Henry buat lawannya yang tersungkur itu. Padahal baru beberapa detik berlalu, tapi dengan mudahnya Henry membuat Fredy tersungkur.



"Aaakkkhhh! Sayang! Bangun! Jangan nyerah! Hajar dia!" Lana terkejut melihat kekasihnya jatuh tersungkur dengan cepat. Dan tetap memberikan semangat buat Fredy.



"Huukkk!" Fredy memang belum menyerah. Dengan kedua tangannya sebagai penyangga, Fredy berusaha bangkit berdiri.



Melihat Fredy jatuh tersungkur, Wasit pertandingan langsung menghampiri dan memberi hitungan kepada Fredy.



"Satu. dua, tiga, empat, li..."



Dan sebelum sampai hitungan ke lima. Fredy pun bangkit berdiri. Fredy menggoyang-goyangkan rahang dan kepalanya.



Tidak seberapa keras memang, tendangan Henry. Tapi begitu saja sudah membuat Fredy tersungkur dan pusing sekali kepalanya.



Wasit pun memegang kedua tangan Fredy. "Kamu tidak apa-apa!? Masih mau lanjut!?" tanya Wasit pertandingan sambil memastikan kondisi fisik Fredy.



"Saya tidak apa-apa. Saya mau lanjut," kata Fredy yang memang tidak mudah menyerah ini.



"Ok! Kamu siap! Let's go!" Wasit pertandingan memberi aba-aba untuk melanjutkan pertandingan.




"Bagus! Ayo kesini! Pukul aku! Tendang aku! Ayo maju sini, Bruuuusss...syettt!" Dengan tangan terbuka dan dengan kata-kata yang menyakitkan telinga, Henry berusaha memancing emosi Fredy. Dan... sudah pasti Fredy terpancing emosinya.



"Kurang ajar! Hhhhiiiiaattttt!!!"



"Fredy! Jangan emosi!" teriak Bang Karpov dari luar garis pertandingan.



Tapi semua sudah terlambat. Fredy menyerang dengan sekuat tenaga. Memukul, menendang, tapi tak ada satupun pukulan dan tendangan Fredy mengenai Henry.



"Ha, cuma segitu kemampuanmu! Membosankan! Akan aku remukan tubuhmu, jabrik!" hina Henry kepada Fredy, yang memang sedang diatas angin.



Tapi Fredy tidak peduli dengan ocehan Henry. Kembali menyerang, setelah beristirahat sejenak. Capek, nyerang berkali-kali, tapi luput terus.



"Hhhiiiaaattt!!"



"Jeedasss... jeedasss... jeedasss!



Dengan tiba-tiba, Henry memutar tubuhnya. Dan dengan cepat dan kuat, menghantarkan tinjunya yang besar itu tepat di pipi kanan Fredy.



"Ccceeeppprrrokkk!!!"



Dan Fredy pun tersungkur kembali. Terhempas dengan mulus di lantai kayu tempatnya bertanding. Pelindung gigi Fredy sampai terlepas keluar mulutnya.



Begitu kerasnya pukulan Henry sehingga membuat bibir dan hidung Fredy mengeluarkan darah segar.



"Jjjjeeeebrrrukkk!!!"l



Wasit pun langsung menghentikan pertandingan untuk sementara.



"Kamu, kembali ke sudutmu!" perintah Wasit pertandingan kepada Henry.



"Makanya, Keong! Kalau masih sabuk coklat, jangan lawan sabuk hitam. Gak selevel O'on.



"Fredy!" Bang Karpov selaku Guru beladiri Fredy langsung sigap, mendekati anak didiknya ini dengan cepat.



"Fredy!!!" Tidak cuma Bang Karpov yang terkejut dan panik. Lana pun juga ikut panik melihat kekasihnya jatuh tersungkur dengan dahsyat.



Lana berteriak keras dan langsung berlari. Menerobos kerumunan orang yang menonton pertandingan itu dari jarak dekat.



"Semua mundur! Beri ruang! Beri ruang!" perintah Wasit pertandingan melihat Bang Karpov dan Lana ikut mendekat.



Teriakan Lana yang keras tadi, membuat para sohib-sohibnya yang tadi nya kurang fokus pada pertandingan itu, langsung mengarahkan pandangan mereka ke arena pertandingan.



"Fredy!!! Hoiii... Fredy tersungkur!!! Ayo bantu!!!' teriak Winoto Kepada teman-temannya. Dan mereka langsung bergerak ke arah arena pertandingan untuk melihat kondisi Fredy. Sohibnya.



Semua pada panik, kecuali Andi. Bukannya dia tidak kuatir. Tapi menurut Andi, Fredy itu tahan banting dan gak mudah menyerah plus dikalahkan semudah itu. Jadi harus tetap ada yang fokus mencari Kakek Guntur. Karena ini... more dangerous.



Semua memang pada panik, melihat Fredy jatuh tersungkur tertelungkup dan tidak langsung bangkit. Tapi Andi berusaha tenang. Tetap fokus pada tujuan semula yaitu mencari Kakek Guntur.



Dan akhirnya, ditemukan sebuah ide, bagaimana caranya menemukan Kakek Guntur, sekaligus mencegahnya untuk melihat pertandingan.



Andi pun lalu berjalan kearah pintu masuk satu-satunya yang dijaga oleh dua orang security. Dengan memasang muka cemas, Andi berusaha memancing respon dari dua orang security itu.



Dan benar juga perkiraan Andi, salah satu security akhirnya merespon tingkah dramanya itu.



"Cari siapa, Mas? Kok saya perhatikan tengak-tengok, seperti lagi mencari seseorang," tegur security itu.



"Eh... itu Pak, cari Kakek saya. Bapak lihat gak? Kakek-kakek bawa ayam masuk kesini tadi," tanya Andi Kepada security


itu.


"Oh, cari Kakeknya, Mas! Setahu Bapak, tidak ada Kakek-kakek yang masuk kesini. Kan kalau masuk, pasti melewati Kami berdua. Apalagi bawa ayam segala. Belum... belum ada, Mas," jawab security itu.



"Oh, begitu ya Pak. Baguslah kalau begitu. Soalnya Kakek saya itu sudah Pikun, Pak. Jadi saya kuatir saja. Kalau dia datang, malah gak ketemu saya," balas Andi Kepada security itu.



"Tenang saja, Mas. Nanti kalau Kakeknya Mas datang, pasti Bapak cari Mas. Sekarang Mas, masuk lagi dan menikmati menonton pertandingan didalam. Silahkan," kata security ini mempersilahkan Andi untuk melanjutkan menonton pertandingan didalam gedung.



"Ya Bapak. Terima kasih. Nanti kalau bertemu Kakek saya, tolong disuruh nunggu saja di pos security. Lagian Kakek itu ngapain bawa-bawa ayam segala. Ya namanya orang sudah Pikun, betul kan Pak!" Setelah berbasa-basi sebentar, Andi pun. segera kembali kedalam gedung Go Skate.



Didalam gedung, sudah terdengar, Wasit pertandingan memberikan hitungan kepada Fredy.



"Satu, dua, tiga, empat..." Wasit pertandingan pun mulai memberi hitungan. Baik Bang Karpov, Lana, dan sohib-sohib Fredy memberi dukungan dan menyemangati cowok penggemar Bruce Lee ini.



"Fredy!!! Bangun!!! Jangan menyerah!!!" teriak Bang Karpov dari luar arena pertandingan.



"Ayo Fred, bangun!!! Hajar dia, Fred!!!" teriak Bastian.



"Fred, bangun sayang! Aku disini sekarang! Bangun! Dan kita pulang saja! Kamu gak jadi juara, gak apa-apa! Bangun sayang!" Lana menyemangati Fredy dengan cara dan tujuan yang berbeda. Yang penting, Fredy bisa selamat. Beres.



"Ayo Fredy!!! Bangun!!! Ingat janjimu, Fred!!! Kamu harus menang!!!" teriak Robert.



"Lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, se..." Didetik-detik terakhir, Wasit pertandingan memberikan hitungan. Sebelum hitungan ke sepuluh selesai diucapkan. Fredy yang jatuh tertelungkup, tiba-tiba mengangkat lengan kirinya, dengan jari tangan membentuk sebuah salam tiga jari. Salam Rocker sejati.



Prediksi Andi, memang jitu. Bahwa gak mudah buat ngalahin Fredy. Dan itulah kesamaan dari The Eight Elemen. Tidak mudah menyerah dan tidak akan menyerah apapun yang terjadi.